Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Gila Semua



"Eehh gilaaaa... gue merinding sumpaaahh!" Pam keluar dari balik pintu nyamperin Vio.


"Gue bilang apa? Damar itu bahaya!" Sahut Sofia. Ia menatap Violin prihatin.


Pam dan Sofia ngintip dari awal sampai akhir obrolan Vio dan Damar tadi.


"Lah gue bisa apa? Dia sendiri loh yang kesini." Violin terduduk lemas di kursinya.


"Model pria begitu, hot nggak sih di ranjang?"


"Pam, otak lo nggak dimandiin sekalian tadi?" Sofia sewot. Temannya ini bener-bener nggak bisa jauh-jauh dari se la kangan.


"Nanya doang kaliii, eh tapi sexy loh Vi. Caranya mandang kamu tuh greget gimanaa gituuu..."


"PAAAAMM!!!" Jerit Sofia dan Vio barengan sambil mendelik galak.


Pam menutup kedua telinganya dengan jari.


"Kenapa gue jadi mikir kalau sebenarnya Damar ini punya six sense ya?" Gumam Violin.


Pam menjentikkan jarinya, "Nah, itu juga yang ada diotak gue. Dia misterius dan penuh tantangan. Gue suka!"


Sofia melirik Pam, "semua aja yang model begitu lo demenin." Cibir Sofia.


"Dih, suka-suka gue."


"Tau rasa lo kena santet beneran."


Tiba-tiba semua terdiam mendengar kata santet yang keluar dari mulut Sofia lalu kompak menatap Violin.


"Bahaya nggak sih lo nolak Damar tadi?" Tanya Pam serius.


"Ngg Viooo, mending lo cerita deh ke bokap lo. Biar pengamanan lo diperketat." Saran Sofia. Maksudnya adalah pengamanan dari hal-hal mistis juga.


Violin mengibaskan tangannya. "Ck, nggak usah dipikirin."


"Ya nggak bisa Vi!" Sofia ngintilin Violin masuk kedalam. "Ini udah masalah serius loh. Gimana kalau seminggu lagi Damar beneran datang ngelamar lo secara resmi?"


"Nggak mungkin."


"Kalau beneran gimana? Terus lo tolak, terus Damar malu. Akhirnya beneran disantet..." Sofia menangkup kepalanya sendiri. Dirinya nggak bisa bayangin itu terjadi.


Violin tertegun, seumur-umur ia nggak pernah bersinggungan dengan hal mistis seperti itu. Tapi Noni Belanda satu ini malah bikin Vio keder juga.


Ia merogoh ponselnya dikantong, lalu langsung menghubungi Atmanegara.


***


Pagi hari di parkiran gedung Marina Group.


Seperti biasa, Violin melangkah santai meneteng tas kecilnya.


Agendanya hari ini tidak terlalu padat, setelah jam sebelas ia berencana langsung ke kantor Atmanegara.


Dari semalam bapaknya itu susah banget dihubungi. Vio kirim pesan singkat ke Rion, katanya bapak lagi sibuk.


Vio tanya apa Papa di kantor? Rion bilang sedang dinas luar, besok pagi sudah di kantor lagi.


Hmm, emang minta disamperin bapak satu itu. Demennya datang nggak diundang, pulang nggak diantar. Duh, maap ye Pak, bukan jelangkung kok, swearr...


Beberapa pegawai yang kebetulan papasan, menyapa Violin ramah. Vio membalas sekedarnya.


Ponselnya berdering.


Damar calling...


Langkah Violin terhenti seketika. Radarnya langsung waspada.


Ia ragu antara mau diangkat atau tidak. Ia memilih mendiamkan saja, sambil terus berjalan perlahan. Pandangannya menyapu sekitar, takut tiba-tiba Damar ada di depannya.


Dan benar saja...


Pria itu berdiri menyender disalah satu pilar dengan keadaan ponsel menempel di telinga kirinya. Sedang memandang lurus ke arah Violin.


Sejenak Vio membeku, tapi ia sadar. Damar harus dihadapi. Semakin dihindari, pria ini semakin gila. Ia juga bukan wanita pengecut. Dengan percaya diri yang tinggi, Violin menghampiri pria itu.


"Hai Mar, pagi-pagi sudah disini? Jarak kantor kamu lumayan jauh loh." Sapa Violin ceria. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Vio harap sih semalam Damar lagi iseng doang.


Damar memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


"Aku harus pergi sebentar lagi, ku harap kamu pikirkan lagi lamaranku semalam. Vio, jaga dirimu baik-baik." Damar menyentuh lengan Violin sekilas.


Damar hendak berbalik ketika Vio menahan langkahnya.


"Tunggu... Mar, bisa kita hanya berteman saja?" Tawar Violin. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Damar.


"Semalam kita sudah berteman seperti keinginanmu, hari ini kita pacaran. Tunggu seminggu lagi kita menikah."


Violin hampir frustasi, " Ini bukan lelucon, Damaar!" Pekiknya.


"Aku serius Vio. Kamu perlu bukti apalagi?"


"Nggak perlu! Sana pergi!" Hardik Vio sambil merengut. Wajahnya ditekuk sepuluh kali lipatan.


Damar malah tersenyum, "Good girl..." Puji Damar sambil mengacak kepala Vio lalu langsung pergi lagi entah kemana. Vio harap sih ke neraka sekalian.


Sumpah ya, ni laki nggak ada tawar menawar sama sekali.


Jalan satu-satunya Vio harus menemui Atmanegara, secepatnya. Dia nggak bisa nih diginiin.


***


Atmanegara hanya manggut-manggut mendengar ocehan anaknya yang kelewat menggebu-gebu. Seluruh emosi Vio tumpahkan kehadapan bapaknya ini.


Atmanegara menyimak curhatan Vio, tapi juga sibuk mantengin komputer. Ia cukup multitalent menghadapi hal semacam ini. Dulu Rani juga sukanya gitu. Tapi kalau Rani langsung ngambek, mematikan komputer seenaknya dan lanjut ngomel lagi.


Yah, persis seperti itu juga anaknya.


Atmanegara menatap sebal kearah Vio. Komputernya baru saja dimatikan dengan paksa.


"Yang bener aja dong Pa, aku lagi ngomong lho ini." protes Violin kesal. Anaknya itu melipat tangannya didepan dada.


Oke, Atmanegara mengalah. Ia mengetikkan sesuatu diponselnya, mengirimnya ke Rion lalu fokus ke Vio.


"Oke, jadi apa yang menjadi halangan kamu menerima Damar?"


"Astaga, Paaa... Vio nggak suka Damar. Kita tidak saling mencintai."


"Cinta itu karena terbiasa. Jalani saja dulu nggak ada salahnya."


"Salah, karena Damar mintanya langsung nikah."


"Wah, bagus! Ini yang Papa tunggu."


Violin melotot galak.


"Papa lupa kalau dia gay?" desis Vio mencoba ngomporin bapaknya.


Atmanegara tersenyum simpul. "Kalau dia tertarik sama kamu, berarti dia lurus dong?"


"Papa nggak takut aku hanya dijadikan tameng buat nutupin aibnya itu?"


"Ngapain harus kamu? Kalau mau, anak itu lebih dari mampu menutupnya sendiri."


Violin mendekatkan wajahnya ke muka bapaknya, matanya menyipit penuh curiga.


"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Aku mencium adanya konspirasi disini." selidik Vio lirih, ia mengamati air muka bapaknya.


Atmanegara terkekeh, "Damar sudah memintamu ke Papa baik-baik. Dengar Vio, cobalah kenali Damar dulu. Selain Dion, Papa akan tenang jika kamu dengan Damar."


"Alasannya?" Violin menipiskan bibirnya.


"Papa nggak mau kebanyakan alasan. Makanya Papa pernah minta, jangan tolak Damar jika ia mendekat. Kamu harus tahu dan rasa sendiri seperti apa sebenarnya anak itu."


Berasa kue kali disuruh raba, dirasa, diicip.


"Ck, sama aja Papa menjual aku ke dia."


"Hush, mulutmu kalau ngomong."


"Ya terus ini apa?" Violin merentangkan tangannya, protes.


"Suatu saat kamu akan berterima kasih ke Papa."


"Cih, pede..."


"Hehehe, oh iya, mulai tadi malam keselamatan kamu jaminan Damar."


"Paaa!" Pekik Vio makin nggak masuk akal.


"Dia sendiri yang minta. Ya Papa persilahkan, lumayan hemat biaya sih."


"Lihat aja kalau sampai Vio mati ditangan Damar, Papa bakal nyesel seumur hidup."


"Nggak sampai seburuk itu, sayang. Hahaha..."


***