
Malam harinya, saat Violin selesai memakai cream malam dan beranjak memeluk selimut, tiba-tiba ia teringat Damar.
Bagaimana bisa?
Ya... karena aneh, bapaknya terang-terangan tertarik mengincar Damar, padahal tahu pria itu penyuka sesama jenis.
Violin mencium adanya konspirasi disini.
Ia jadi penasaran.
Siapa sebenarnya Damar ini?
Diraihnya ponsel diatas nakas, menghidupkan kembali dan langsung mengetikan kata kunci dikolom pencarian.
DAMAR EHRLICHMANN
Dan judul headline dengan huruf kapital yang mencolok langsung menghiasi layar ponsel Violin.
PUTRA MAHKOTA RUDOLF EHRLICHMANN GAY
BUKTI DAMAR EHRLICHMANN ADALAH GAY
TIDAK DISANGKA, INI ORIENTASI SEKSUAL SEORANG DAMAR EHRLICHMANN
BERPRESTASI TAPI SAYANG, DAMAR...
TERKUAKNYA MISTERI DIBALIK RUDOLF GROUP
Violin mengrenyit, berita macam apa sih ini?
Kenapa wartawan sekarang lebih suka mencari borok daripada menulis prestasi yang menginspirasi?
Violin sendiri sering jadi tranding di media semacam ini. Paling parah waktu itu saat perceraiannya dengan Dion belum terendus masyarakat. Media berlomba-lomba membuat karangan bebas.
Judulnya headline amat kontroversi. Kalau yang ini kata Sofia, yang paling aktif di sosmed soalnya.
Vio sih, nggak peduli.
Para pengusaha macam dirinya bukan artis, mereka juga bukan pekerja seni. Bagaimanapun kehidupan mereka tidak pantas dikuliti seperti ini.
Pun untuk pekerja seni juga, terserah bagaimana kehidupan mereka yang penting kan bagaiman prestasi dan bagaimana mereka menghibur masyarakat.
Yang begini ini yang di manfaatkan oleh orang-orang yang pingin tenar dadakan. Tinggal bikin kontroversi, netizen langsung terpancing. Viral deh.
Ini karena masyarakat juga yang kasih panggung. Dihujat sana sini, tapi di undang ke sana sini juga. Nanti tau-tau bisa beli rumah, jadi kaya. Netizen juga yang kepanasan. Lucu.
Vio membuka salah satu artikel yang katanya memberikan bukti Damar gay.
Ada foto yang diambil dari jarak jauh, dua pria yang sedang bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek dipinggir pantai. Memang difoto mereka terkesan sedang berciuman.
Violin men zoom gambar itu. Salah satu pria memang memiliki gesture tubuh Damar.
Tapi foto ini diambil dari jarak jauh. Bagaimana bisa mereka yakin ini adalah Damar? Hebat sekali paparazi jaman sekarang.
Violin memiringkan kepalanya.
Damar orang yang punya kuasa, mana mungkin ia membiarkan berita-berita yang nggak bener tentang dirinya beredar luas seperti ini?
Jelas-jelas ini berita ini mencoreng wajah keluarganya juga. Merusak kredibilitas perusahaan. Apa Om Rudolf juga diam saja?
Soal berita Violin selingkuh saat ketangkap kamera paparazi, saat itu dirinya sedang bermain di pantai bersama Jeffry. Rion langsung grecep. Dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, Rion mengultimatum media bersangkutan untuk menghapus artikel itu.
Apalagi ini harga diri Damar yang dipertaruhkan.
Tunggu... kecuali ini memang disengaja. Mereka sengaja menggiring opini masyarakat. Membiarkan masyarakat berfikir bahwa Damar benar seorang gay.
Apa tujuan Damar sebenernya?
"Cuy, boleh masuk?" Tiba-tiba Sofia nongol diambang pintu kamar Violin. Ngagetin banget tiba-tiba nongol macam jurik.
"Aaaa... Kapan balik? Kok nggak kabar-kabar sih?" Violin melompat memeluk sahabatnya itu.
Kangen banget sebulanan nggak ketemu, cuma bisa say hi pas video call doang. Itu aja jarang banget, Vio sibuk, Sofia juga, Pam apalagi.
Mereka melompat-lompat diatas kasur sambil berpelukan.
"Helooo... Lo nggak sadar gue disini udah dari sore? Udah sempet mandi, tidur juga malahan."
"Serius?"
Sofia mengangguk, "btw ni rumah sepi amat, Pam kemana?"
Violin meringis, "dia lagi sibuk senam kegel sekarang ini."
"Hah? ngapaiinnn?" pekik Sofia.
"Hahahaha... sueee beneeerrr bocah. Emang udah dilamar ya? Kok gue nggak tahu?" Sofia kepo.
"Yaaa belum sih. Pam aja yang ngebet pingin nikah. Nggak tahan dia kelamaan dekat-dekat Om Rion."
"Hahaha, anak itu mana kuaaaaattt..."
Violin terkikik, "Pam itu hapal jalan menuju Roma, kalau nggak kuat masih bisa belok kiri. Hahaha...."
"Woy, gue denger ya. Apa lo pada gibahin gue?" Pam teriak dari arah kamarnya.
Violin menempelkan ujung jari telunjuk di bibirnya, "Ssstt... orangnya balik."
"Telat! Gue denger semua."
Pam menerobos masuk kedalam kamar, langsung melompat keatas kasur dan nyelip ditengah-tengah antara Vio dan Sofia.
"Gue kangen kalian banget sumpah." Pam memeluk kedua sahabatnya.
Violin mengrenyit, "badan lo bau Om Rion. Habis ngapain lo? Minggir." Vio menghalau tubuh Pam.
Sofia ikut-ikutan, meski dia nggak hapal bau Rion itu yang gimana.
"Mandi junub sana!" Hardik Vio. Dia yakin seribu persen, Pam habis 'iyaiya' sama Rion.
"Apa sih? Gue nggak ngapa-ngapain!"
"Lah, elu dari mana? katanya senam kegel?"
"Iya tadi senam, pulangnya dijemput suami."
"Puiihh, suamiiiii..." Cibir Vio geli.
"Habis itu ngapain?" Cecar Sofia.
"Ya pulang. Di mobil bentar tadi minta vitamin dikit."
"Nah kan, apa gue bilang?! Mandi buruan! Najis kasur gue!" Violin menendang pantat Pam.
Sofia malah menyeret tangan Pam dan mengeluarkannya dari kamar, biar cepet.
"Iyaaa, gue mandiiii." Pam ngacir ke kamarnya.
Violin dan Sofia ngakak barengan. Lalu Sofia terdiam sambil melihat ponsel Violin yang masih menyala.
Vio yang menyadari air muka Sofia berubah segera menghentikan tawanya.
"Vi, jujur ke gue, apa hubungan lo sama Damar?" Tanya Sofia tiba-tiba. Ia menunjukkan layar ponsel Violin yang masih menampilkan news tentang Damar.
Violin meraih ponselnya, "Nggak ada sih, kita baru kenal tadi. Penasaran aja soal... tunggu, kamu kenal Damar?" Violin menyipitkan matanya meminta penjelasan Sofia.
Sahabatnya itu memejamkan mata dan membuang nafasnya sebentar.
"Jangan berurusan dengan pria ini, dia... berbahaya..." Desis Sofia dramatis.
"Iya maksudnya bahaya, gimana sih?" Violin meminta penjelasan yang lebih spesifik.
"Damar ini dulu satu fakultas dengan Daniel. Nilai akademiknya bagus, dia juga jago debat. Ketua mapala yang kelewat ganteng. Mungkin ini juga penyebab kalau pas pendakian banyak makhluk astral yang demen doi.
Dua tahun pertama kuliahnya, nggak ada yang aneh. Lalu tiba-tiba anak itu pindah ke Jerman. Pas balik bikin geger karena ternyata orientasi seksualnya menyimpang.
Yang lebih hororr lagi, konon keluarga ibunya mainannya mistis. Yang gitu-gitu deh.
Gue takutnnya kalau elo sampe disantet." Sofia bergidik.
Violin melongo, lalu ngakak sambil guling-guling megangin perut.
"Fia, Fiaaaa... gue lebih takut tim audit daripada santet. Lucu banget sih lo?"
Wajah Sofia menegang.
"Please, kali ini elo harus dengerin gue. Kali ini aja Viooo... Gue beneran takut lo kenapa-napa."
Tawa Violin terhenti, Sofia benar. Meski logika menolak, tidak bisa dipungkiri juga hal-hal seperti itu beneran ada di sekitar kita.
Tapi masa iya, tampang seperti Damar mainannya santet? Lagian kan tertariknya sesama jenis, aman dong karena Violin bukan targetnya?
Lalu ponsel Violin berdering, nomor cantik berderet menghiasi layar ponselnya.
Sofia dan Violin saling berpandangan.
***