Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Berita Duka



Mbah Putri dan Mbah Kakung duduk terdiam di sofa. Setelah makan malam memang Atmanegara berencana mengajak ngobrol mereka berdua.


Sejak pagi Atmanegara sudah sibuk meninjau proyeknya bareng Rion. Karena tujuan utamanya kemari adalah ingin membereskan kekacauan itu. Selain itu ia ingin bicara dari hati ke hati dengan ayah ibunya.


Dua kabar yang mungkin akan membuat mereka sedih.


Violin dan Dion juga hadir disana.


Pam dan Sofia?


Jangan ditanya, dah kabur ke Malioboro sejak sore.


Mbah Putri tampak terpukul mendengar kabar kematian Maharani, mantu kesayangannya. Ia terisak sedih.


Juga menyalahkan Atmanegara, karena baru memberitahu setelah beberapa Minggu Maharani dikuburkan.


Setidaknya ia ingin melihat terakhir kalinya wajah Rani. Atau jika bisa jasad Rani dikuburkan saja disini, biar mereka tetap dekat.


Tapi justru itu yang di takutkan Atmanegara. Ia takut ibunya sedih berkepanjangan. Orang tua seumuran mereka harus bahagia.


Semenjak Rani menikah dengan Atmanegara, kedudukannya sudah bukan lagi menantu, tapi anak kandung. Atmanegara mah lewat! Apalagi posisi Rani yang yatim-piatu. Ditambah bapak ibunya memang menginginkan anak perempuan. Jadilah seluruh kasih sayang mereka berikan untuk Rani.


Bukannya orang rumah tidak tahu mengenai kematian Rani, semuanya tahu kecuali Mbah Putri. Semua asisten juga dilarang bicara apapun .


Coba Mbah suka nonton infotainment atau berita, ia pasti langsung tahu. Tentu saja perceraian Violin dan kematian Maharani masuk hot news.


Tapi Mbah lebih suka menghibur diri dengan tanaman cabenya. Mantengin layar TV bikin pusing katanya.


Tangan keriput Mbah Kakung mengelus lembut punggung istrinya, menenangkan. Beliau tahu sejak awal, tapi sama seperti Atmanegara, istrinya pasti akan histeris jika di beritahu saat itu juga.


Jadi ia biarkan Atmanegara sendiri yang menyampaikan setelah keadaan reda dan tenang. Setelah situasi dan kondisi terkendalikan.


Dion melirik Atmanegara, semalam mantan mertuanya itu bilang akan memberitahu Simbah tentang perceraiannya juga.


Dion menolak, dengan dalih informasi ini terlalu bertubi-tubi bagi Mbah, takutnya malah nambah pikiran.


Alasannya diterima Atmanegara.


Sekalian saja Dion minta ijin Atmanegara untuk mendekati Violin lagi.


"Memang buah jatuh nggak jauh dari pohonnya." cibir Atmanegara semalam. Kopinya habis, ini cangkir yang ke dua. Ia menyesapnya pelan selagi hangat.


"Sama-sama nggak tahu diri." lanjut Atmanegara sambil menyulut ujung rokoknya.


Terdengar sinis, Dion sudah hafal tabiat Atmanegara. Ini yang membuatnya nggak sakit hati sama sekali. Justru sinis seperti ini membuat Atmanegara terlihat masih welcome dengan kehadiran Dion.


"Ku harap Violin lebih bijak memilih calon suami selanjutnya sih."


Dion menoleh, dia merasa tersindir, "aku kompeten loh pah." protesnya.


Atmanegara menaikkan alisnya, "oh ya? Lalu yang kemarin itu apa? Lari dari tanggung jawab? Seperti pengecut saja!"


Tepat sasaran.


Dion menghela nafas, "kan kedepannya bisa diperbaiki lagi kesalahan yang lalu."


"Yakin banget Violin mau sama kamu lagi."


"Aku lihat Vio belum dekat dengan siapa-siapa." yakin Dion meski ia agak ragu dengan pak dokter yang di pemakaman waktu itu.


"Bagaimana kalau kamu kecolongan, hm? Atau bagaimana seandainya aku sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuk Vio? Bisa apa kamu?"


"Makannya ini ijin ke Papa biar nggak kecolongan dan nggak dijodohin ke yang lain."


"Masalah perjodohan sih bisa ditangguhkan, tapi kalau kamu kecolongan, itu kamu yang bodoh."


"Bisa di usahakan Pah, selama janur kuning belum melengkung."


"Kalau aku sih nggak akan ada kesempatan kedua bagi pecundang." Atmanegara mengepulkan asap rokoknya ke udara.


Simbah terbatuk-batuk membuyarkan lamunan Dion. Violin grecep meraih air minum dan menyodorkan untuk Mbah.


Wajahnya terlihat cemas, tentu saja ia takut berita ini memberi dampak buruk bagi kesehatan Mbahnya.


Tapi Mbah Kakung memberi kode dengan matanya semua akan baik-baik saja.


Vio sedikit lega.


"Kalian istirahat lah, Mbah mau ke kamar dulu." Mbah Kakung meraih tangan istrinya lalu berdua berjalan menuju kamar.


"Pa, kita istirahat dulu ya." Pamit Dion. Atmanegara menoleh tak senang.


"Istirahat ke kamar masing-masing." Tegasnya.


Dion menyeringai, "Violin nggak keberatan kok. Ya, kan?" tanyanya jahil.


"Apa?" Violin berlagak budeg, ia berlalu keluar. Ingin menikmati udara malam ini sebelum besok kembali ke laptop.


Hmm... apa nyusulin Pam Sofia aja, ya? Masih jam sembilan juga, masih terlalu sore untuk pergi tidur. Ah, tapi Malioboro pasti rame, sedangkan dia butuh ketenangan.


Pam mengirimkan video singkat, Violin tersenyum melihat berdua ikutan nyanyi di live music pinggir jalanan Malioboro. Cempreng banget tuh suara.


Seperti biasa, bukan Pam kalau nggak heboh.


Terlihat seru, entah mengapa Vio nggak tertarik. Ia menyimpan ponselnya di saku sweater lalu mengambil nafas dalam-dalam. Memenuhi rongga paru-parunya dengan udara bersih dan menghembuskannya pelan-pelan.


Dari kejauhan sekumpulan anak muda mencuri perhatian Vio. Mereka terlihat membuat api unggun di dekat perahu kayu yang terparkir tak jauh dari rumah Mbah.


Mereka mengitari api dengan bernyanyi gembira. Dua orang lainnya bermain gitar sambil tertawa-tawa.


Anak muda yang belum mengenal pahitnya dunia.


Vio tersenyum, benarkah?


Dulu saat masih seumuran mereka Violin masih kuliah, pusing karena tugas, nangis karena putus cinta, galau milih dress buat pergi kencan.


Kalau dipikir hal remeh temeh seperti itu nggak penting dibuat galau.


Sekarang lihat anak-anak nelayan itu.


Bisa jadi diantara mereka ada yang sudah menjadi tulang punggung keluarga. Terpaksa ikut melaut demi sesuap nasi. Atau yang sudah putus sekolah karena tak punya biaya.


Saat berkumpul dengan teman seperti itulah beban mereka terbagi. Tawa mereka seolah mengganti hari-hari berat yang di lewati.


Dulu kata Mbah Putri, Atmanegara juga seperti itu. Sudah banting tulang sejak remaja.


Masalah Vio yang nggak seberapa jadi semakin receh. Ia hanya sibuk mementingkan kebahagiaan sendiri.


Perjuangannya belum seberapa, rasa sakitnya pun tidak seberapa. Bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan bapaknya dulu? Sesulit itukah kehidupan mereka?


Vio mendadak melow. Ih, jadi pengen traktir mereka Pizza kan jadinya.


"Hai, mau gabung kesana?" Suara asing pria terdengar ramah di telinga Violin.


Violin menyambut uluran tangan pemuda itu.


"Bima." ia menyebutkan namanya.


"Violin." balas Vio. "Apa tidak apa-apa?" tanya Vio mengkonfirmasi ajakan Bima.


"Kenapa tidak, mereka temanku." Bima menggerakkan kepalanya, mengajak Violin jalan mengikutinya.


"Wah, makasih ya." Mata Vio berbinar, terlihat excited dengan ajakan Bima.


Pemuda itu tersenyum, ia merasa lucu melihat expresi Violin.


"Aku ikut!"


Vio dan Bima menoleh bersamaan, Dion terlihat berjalan menghampiri mereka.


"Aku boleh ikut, kan?" ulang Dion sambil menatap Bima. Sengaja ia menekankan pertanyaannya.


"Oh silahkan Mas, kebetulan nambah rame nambah asik. Masnya ini..."


"Dia temanku." sahut Vio cepat sebelum Dion ngomong yang nggak-nggak.


"Oh, saya Bima." Bima mengulurkan tangannya, Dion terlihat enggan menanggapi.


Agak kesal Violin menyenggol lengan Dion agar membalas uluran tangan Bima. Dion membalas dengan terpaksa.


"Yuk, keburu malam." Ajak Bima sambil berjalan mendahului Vio dan Dion.


Bima bukan tak tahu kalau Dion cemburu. Meski Vio hanya mengakui Dion temannya, tapi sepertinya hubungan mereka lebih dari itu. Bima cukup paham sih.


"Tunggu." Violin menyusul langkah Bima tanpa menghiraukan Dion. Sekilas Bima melirik Dion dan senyum yang sulit diartikan.


***