
Antonio menepuk punggung Jeffry untuk yang kesekian kalinya. Kali ini agak keras saking gemasnya.
Gemas?
Yaahh, memang se imut itu sih muka Jeffry, apalagi setelah tahu anak Mahendra. Tingkat keimutannya nambah 100 persen di mata Antonio.
"Dulu itu Hendra setengah mati nyari kalian, kamu dan ibumu. Beruntung sekali dia masih diberi kesempatan menebus kesalahannya dulu. Aku ikut bahagia untuknya." Antonio menunjukkan muka tulusnya.
Jeffry diam saja, cerita tentang ia dan ibunya begitu melegenda di ingatan teman-teman Mahendra. Berarti semua tahu siapa Isabella di hati Mahendra.
Sejauh ini yang Jeffry tangkap, tidak ada yang men-cap ibunya pelakor. Justru semua terlihat ikut lega akhirnya ia dan ibunya ditemukan.
Atau hanya Jeffry saja yang terlalu naif? Entahlah, ia belum belajar menghadapi pujian atau hinaan orang kaya.
"Astaga, bagaimana bisa kamu begitu mirip dengan Mahendra? Hahaha..."
Bilang mirip tapi pas awal ketemu hampir di gebukin. Jeffry nyengir, berkali-kali ia melirik Sofia yang sudah asyik cekikikan bareng ibunya.
Halooo...
Ini tadi nggak jadi mellow loh kisah pertemuan antara Cinderella dan orang tuanya.
Sofia di maafkan begitu saja tanpa drama, ibunya jelas bahagia. Bapaknya apalagi. Setelah hampir setahun putrinya kehilangan arah, akhirnya si princess sudah tahu jalan pulangnya kembali.
"Benar-benar Mahendra dapat paket combo. Hahaha... Bagaimana bisa aku tidak melihatmu saat pernikahan Hendra yang kemarin itu?" Antonio masih saja nerocos.
"Saya lihat kok, Om lagi asik makan cendol dawet durian kan?"
Antonio menempelkan jari telunjuknya di depan bibir sambil melirik istrinya.
"Sssttt..."
Tapi terlambat.
"Papa makan durian? Cendol dawet? Berarti pake santan juga dong? Papa gimana sih? Pantesan tengkuknya sakit nggak sembuh-sembuh. Kolesterol nggak turun-turun, ngeyel sih. Tau gitu biarin aja kesakitan." Mama merepet kesal. Bibirnya yang tipis dan mungil bergerak-gerak lucu.
"Papa nggak pake santan, Ma..." Antonio membela diri.
"Tetep aja durian juga nggak baik."
"Kan cuma sedikit, itu aja nggak kerasa. Tau tuh, si Hendra pesen catering dimana ngasih duriannya dikit banget. Nggak kerasa loh Ma, sumpah."
"Tau ah, si Papa susah dibilanginnya. Sakit aja manjanya minta ampun. Papamu itu Fia bla bla blaa..."
Antonio melengos. Mulai deh ngadu ke anaknya. Setahun nangis-nangis minta balikin Sofia, udah balik aja sekarang dia yang dicuekin.
"Boy..." Antonio menepuk pundak Jeffry. "Percayalah, wanita seperti itulah yang benar-benar mencintaimu dengan hatinya."
Jeffry meringis.
"Saya punya satu yang model begitu, Om."
Antonio melotot kaget, "Apa Sofia seperti itu juga sama kamu?"
Lah, kok jadi Sofia?
***
"Aku tahu kamu pasti datang." Senyum Dion terkembang lebar melihat Violin membuka pintu kerjanya. Ia menyambut kedatangan Violin dengan bahagia.
Vio berjalan anggun menghampiri meja kerja Dion lalu meletakkan bag itu di atas meja.
"Sorry ganggu, cuma mau mengembalikan barangmu. Sepertinya orang jewelry salah kirim." Ucap Vio tenang. Ia menghampiri sofa dan duduk melipat kakinya dengan luwes tanpa dipersilahkan.
Siang tadi di kantor Juno misuh-misuh saat kembali ke ruangannya.
Tanpa dosa hampers kiriman Dion sudah nangkring manis diatas meja.
"Nadiaaa... urusin ini doooong! Sakit mataku lihat beginian!" Omel Juno. Sebenernya bukan sakit mata, lebih tepatnya sakit hati. Kan dia juga pingin kasih hampers mevvah beginian ke bini. Sayang aja berlian merah dan batu zamrudnya terlalu WOW untuk ukuran kantong Juno.
Sementara sabar dulu dah, adanya mawar merah yang di florist. Itu aja Merry dah girang banget.
"Tolong dong Pak, saya nggak tahu lagi musti simpan dimana." Muka Nadia sudah mode ngemis iba maksimal.
"Ck, nyusahin aja." Gerutu Juno sambil menyambar barang mahal itu dan menyodorkan langsung ke muka Vio.
"Nih, enyah atau gue bagi-bagi beneran nih." ancam Juno.
Violin hanya melirik sebentar, lalu sibuk lagi dengan keyboardnya.
"Terserah." Ucapnya acuh.
Sekarang Juno yang speechless.
"Vi, ini tuh mahal banget loh. Tau nggak sih Lo? Banyak cewek yang pingsan kalau di kasih beginian. Kalo Lo nolak atau nggak suka, ya balikin dong. Jangan nyusahin kita."
Dibelakang Juno, Nadia manggut-manggut membenarkan ucapan Juno.
Violin risih, "Ck, taruh situ aja, sih. Ribet banget. Nad, cariin bag, biar gue lempar ke laut sekalian."
Disinilah Vio sekarang, 'melempar' barang yang bikin keki seluruh kantor. Kecuali si Malik yang bawaannya pingin ngutil satu kelopak aja.
Dion membuka kancing suit nya lalu duduk. Ia menatap Violin dalam diam.
"Aku tahu kamu bisa beli itu, bahkan yang lebih mahal sekalipun. Tapi Vi... tidakkah kamu melihat ketulusan di dalamnya?"
Hening.
Violin membalas tatapan Dion. Matanya menyiratkan kekecewaan.
"Kupikir kamu yang paling tahu siapa aku..." Suara Violin serak. "Ini menyakitiku, Dion."
"Kamu tahu aku terpaksa menceraikanmu saat itu, kan?"
"Lalu sekarang? Dengan mudahnya kamu meminta aku kembali?" Dada Vio sakit.
"Please, Vi... sekaliii saja, tolong kasih aku kesempatan itu."
"Pernikahan itu bukan permainan, yang bisa dengan mudahnya kamu sambung dan putuskan begitu saja. Benar aku masih sayang kamu, tapi..."
"Kita bisa mulai lagi dari awal. Jadikan aku layak untukmu lagi. Aku akan buktikan." Dion berlutut di depan Violin, ia meraih tangan wanita pujaannya itu dan menggenggamnya erat.
Violin tidak mengelak, ia membalas tatapan Dion.
"Please Vi... One more time." Mohon Dion parau.
***