
Rion setengah berlari memasuki mobil, di dalam Atmanegara menunggu sambil mengecek pergerakan IHGS di tabletnya.
"Langsung kirim ke rumah Mahendra!" Titah Atmanegara begitu Rion memasang sabuk pengaman. Muka Atmanegara menunjukkan kejahilan.
"Ck, dasar childish." Gumam Rion.
"Biar nggak tegang, Rion. Hahaha... Kamu pilih yang paling hot, kan?"
"Silahkan di cek, Pak." Rion mengulurkan tas berlogo merk terkenal.
"Ck, tampang pemilih sepertimu, tau lah aku."
"Tadi nanya..." Cibir Rion. Ia meletakkan lagi kotak itu di kursi sebelahnya.
"Ngomong-ngomong Vio ada di dalam." Lapor Rion.
"Hmm, GPS nya sih diparkiran ini." Atmanegara manggut-manggut mengamati tabletnya.
"Lain di mulut, lain di hati." Sindir Rion. Atmanegara hanya melirik sebal.
****
Bella menatap taman yang tertata indah di samping rumah besar milik Mahendra. Penuh dengan bunga beraneka warna dengan rumput hijau yang terpotong rapi. Terlihat segar dan memanjakan mata.
Sayang sekali, di dalam rumah ini terasa mati. Semua mewah, hanya seakan tidak ada nyawa di dalamnya.
Bella berdiri terpekur di depan jendela kayu besar berukiran klasik. Sesekali menghela nafas dan menyeka pipinya yang lembab karena lelah menangis.
Ia tidak menyangka takdir mempertemukannya kembali dengan Mahendra. Setelah bertahun-tahun lamanya ia berkutat dengan perasaan bersalahnya kepada Arum dan mencoba berlari sejauh mungkin dari kenyataan.
Orang sebaik Arum pasti sekarang sedang tersenyum di dalam surga sana, beruntung sekali dia.
Ia melipat kembali kertas surat dari Arum dan memasukkan kedalam saku depan bajunya.
Mahendra berdiri bersandar di meja makannya yang agak tinggi. Ia memperhatikan Bella dari belakang.
Sudah begini sejak setengah jam yang lalu. Bella masih saja betah berdiri disana.
Perlahan Mahendra menghampiri wanita itu. Ingin memeluknya dari belakang untuk menuntaskan kerinduannya selama ini, tapi ia cukup tahu bahwa Bella masih membuat jarak dengannya. Meski surat dari Arum membuat pertahanan Bella sedikit kendur, tapi Mahendra akan menunggu sedikit lagi.
"Arum memintaku untuk memberikan ini saat aku menemukanmu." Mahendra menyodorkan kotak kecil berlapis beludru.
Bella menerimanya dengan ragu. Ia membuka dengan perlahan. Sebuah cincin kawin.
"Itu bukan cincin kawin Arum, ia membelinya khusus untukmu. Dia sendiri yang memilihnya. Pakailah saat kamu siap menggantikannya." Lirih Mahendra. Meski ia mengharapkan Bella, tapi ia juga tidak ingin memaksanya.
Bella mengambil cincin itu lalu menerawangnya.
Cantik.
Arum tau Bella suka hal yang simple dan sederhana. Cincin ini mewakilinya.
"Bagaimana seandainya aku sudah menikah?" Tanya Bella, ia kembalikan lagi cincin itu kedalam kotak dan memasukkan kedalam kantong.
Mahendra menyeringai, "tidak ada cincin yang melingkar di jarimu. Dan lagi sudah ku konfirm dengan pihak Medika."
Bella mencibir.
"Jadi, kapan kamu akan membawaku bertemu anakku?"
"Aku bilang bapaknya sudah meninggal." Bella memalingkan mukanya.
"Astaga, kamu membuat aku mati." Mahendra tersenyum masam. "Dia percaya?"
"Sejak lahir anak itu tidak punya bapak. Jika Mas ingin diakui, silahkan berusaha sendiri untuk mendekatinya."
"Kamu mengijinkan?" Suara Mahendra penuh harap.
"Aku tidak pernah melarang. Tapi untuk urusan diterima atau tidak, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Itu haknya Jeffry."
"Jeffry... Nama yang bagus." Mahendra manggut-manggut, "Jika Jeffry menerimaku, apa kamu juga akan menerimaku lagi?" Ia mencoba mendekati Bella.
"Aku cukup bahagia hidup berdua saja dengan Jeffry." Bella menunduk. "Lagi pula kita sudah terlalu tua untuk mulai berumah tangga."
"Jangan buru-buru mengambil keputusan, tunggulah sampai aku bisa meyakinkan Jeffry."
"Aku nggak janji Mas."
"Tidak apa-apa. Asal jangan lagi menghindariku. Aku tidak tahu akan hidup berapa lama lagi, biarkan aku menebus semua kesalahanku."
Bella memandang wajah Mahendra, jujur ia juga merindukan pria ini. Tapi hati kecilnya masih saja meninggalkan rasa bersalah untuk Arum. Walaupun di dalam suratnya, dengan terang-terangan Arum melamar Bella untuk Mahendra.
Biarlah dia ingin melihat Mahendra sedikit lagi, dan juga soal Jeffry, sebenarnya ia lebih takut akan reaksi Jeffry nantinya.
"Apa dia kuliah?" Tanya Mahendra. "Apa selama ini kalian kesulitan?" Lanjutnya.
Bela menoleh, jelas selama ini ia kesulitan. Untuk makan saja kadang ia harus berhutang. Tapi apakah pria kaya ini akan mengerti jika ia jelaskan?
Akhirnya Bella hanya tersenyum kecut.
"Jeffry bekerja di bengkel. Dia bilang tidak ingin kuliah."
"Kenapa tidak kuliah? Itu akan mempermudah urusan kedepannya."
Ingin sekali Bella melempar kotak beludru yang ia genggam dalam saku ke jidat Mahendra.
"Dia cukup tahu diri untuk tidak menambah beban Ibunya." Akhirnya hanya kata-kata ini yang keluar dari mulut Bella.
Mahendra terhenyak mendengar jawaban Bella ia seperti disadarkan bahwa selama ini Jeffry kesulitan hidup tanpa dampingan seorang ayah.
"Maaf..." Bisik Mahendra.
"Aku yang memilih jalan ini Mas. Sudahlah, semua sudah terjadi." Pupus Bella. "Boleh aku pulang sekarang? Jeffry pasti mencariku."
"Sebentar, aku antar." Cegah Mahendra.
Lalu terdengar langkah kaki mendekat.
"Maaf Pak, ada paket." Mbok Mirah tergopoh-gopoh dari arah depan, ia mengulungkan tas karton dengan brand terkenal.
"Aman kok, Pak." Ujar Mbok Mirah sambil senyum-senyum nggak jelas. Ia melirik Bella sekilas.
Meski agak bingung Bella membalas dengan menganggukkan sedikit kepalanya.
Dengan kening berkerut Mahendra menerimanya.
Ia mengintip sedikit isi bungkusan itu, sebuah kain sutra halus warna maroon menggoda. Sepasang panty dan bra berwarna senada dengan tali spageti dan menerawang tentu saja.
Refleks ia langsung menutup kembali bingkisan itu sambil sedikit melirik Bella. Untung saja wanita itu sedang sibuk mengamati taman.
Dalam hati ia merutuk Atmanegara. Sialan!
*****