Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Gagal Latihan



Jeffry sibuk berbicara di ponsel dengan Antonio, bapaknya Sofia. Ia maksa minta ijin meski Sofia bilang nggak perlu.


Sofia merasa ia sudah dewasa, ngapain minta ijin segala? Hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan setelah mengenal Daniel si bengal.


Tapi bagi Jeffry ini penting.


Bagaimanapun saat seorang wanita menjadi janda, otomatis ia kembali menjadi tanggung jawab orang tuanya. Jeffry membawanya, juga harus atas ijin yang punya.


Jadi kalaupun terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, tidak sepenuhnya ia yang disalahkan.


Antonio tentu saja mengijinkan. Ia juga tidak segan memuji perilaku Jeffry. Nilai plus nambah lagi tertempel di jidat Jeffry. Tambah ganteng kan? Cakeeepp...


Perjalanan ke Sentul yang sebenarnya nggak makan waktu lama, jadi molor gara-gara apalagi kalau bukan macet. Ditambah hari libur akhir pekan.


Untung Jeffry pake motor, mayan lah selip sana sini, agak menghemat waktu.


Awalnya Sofia menawarkan mobilnya, tapi langsung ditolak Jeffry. Gila aja, mau sampai sana jam berapa?


Sebenernya Sofia juga nggak keberatan kalau harus naik motor . Malah lebih asyik. Terakhir ia bonceng motor sama Merry ke pasar pas Merry masih bekerja di rumah Vio.


Untungnya tadi dia pakai celana jeans dan sepatu kets. Tapi jaketnya kelupaan, alhasil ia memakai jaket Jeffry yang kebesaran di badannya, pakai masker berlapis, kaos tangan dan wajib pakai helm standard SNI.


Engap banget, sumpah.


"Jeff, ini nggak pake sarung aja sekalian?" Kelakar Sofia sambil tertawa.


Jeffry cengengesan membayangkan Sofia mengenakan sarungnya.


Untung pake masker dan helm, jadi kan wajah mesumnya ini nggak terlalu keliatan jelas. Hehehe...


"Biar safety, Tan." Dalihnya sambil memakaikan helm di kepala Sofia.


Dan alasan lain Jeffry tetap milih pake motor daripada mobil, selain bisa selap selip adalah sensasinya.


Motor tidak menciptakan jarak bagi pengendara dan penumpangnya. Jika pakai mobil belum tentu Jeffry bisa merasakan dipeluk bidadari seperti ini, kan?


Sepanjang jalan, hati Jeffry berbunga-bunga, tangan kurus Sofia erat memeluk pinggangnya. Dadanya menempel sempurna di punggung Jeffry.


Keputusan Jeffry sudah tepat kali ini. Hehehe...


"Hei, bro!" Seorang laki-laki seusia Jeffry menyapanya saat laki-laki itu memarkirkan motor.


"Oii..." Balas Jeffry.


"Siape nih, bro? Bening beneeerrr..." kelakar pemuda itu.


"Suee lo!" Jawab Jeffry sambil mengacungkan tinjunya.


"Hahaha... Awas jagain Jeff, fans lo bejibun nungguin didalam." Sahut seorang pemuda lain yang kebetulan lewat.


Jeffry tak menjawab, ia menggandeng Sofia masuk ke tribun.


Semua mata langsung memandang mereka.


Tidak, bukan ke Jeffry. Tapi ke Sofia.


"Eh, siapa tuh cewek?" Bisik salah satu dari gerombolan ciwi-ciwi.


"Astaga, digandeng Jeffry doooong..." Pekik yang lain.


"Yang setia bertahan disini aja nggak ada satupun yang nyantol. Tuh cewek dari mana datangnya tiba-tiba udah main gandengan ajaaa..."


"Fiks guys, gue pingin pingsan!" Cewek ini sibuk kipas-kipas kepanasan.


"Jangan disini, ngerepotin lo!"


"Ssstt... perhatiin deh, high class banget nggak sih tuh cewek? outfitnya aja branded semua."


"Eh iyaa, beneeerrr... kira-kira anak mana tuh?"


"Stylish banget nggak sih?"


Yang lain manggut-manggut setuju.


"Tunggu guys, gue kayak nggak asing deh. Coba perhatiin..."


Gerombolan cewek itu fokus menelisik Sofia, dari ujung sepatu sampai ujung rambut.


Lalu sedetik kemudian menjerit barengan, "SOFIA ANNA! OH MY GOD!!!"


"Gue ngimpi nggak sih?"


"Ayo minta foto!"


"Kuy lah!!"


Mereka berlarian menghampiri Sofia. Elah, dasar bocah.


Tapi belum lama Sofia dikabarkan come back dan mulai aktif lagi di sosmed setelah resmi menyandang gelar janda.


"Kak Fia, ini Kak Sofia Anna kan?" Salah satu dari gerombolan cewek yang sampai duluan bertanya kelewat antusias.


Sofia melepas kaca mata hitamnya, ia cukup kaget gerombolan cewek-cewek ini menyerbunya tiba-tiba.


Tunggu...


Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh...


Astaga lebih dari dua puluh orang mengerubungi Sofia.


Jeffry yang sebenarnya sudah bersiap menuju motornya jadi enggan meninggalkan Sofia sendirian.


Jeffry hapal cewek-cewek ini yang nggak pernah absen mengunjunginya di sirkuit saat latihan, juga yang aktif ngerecokin dia di bengkel.


Jeffry sendiri paham bagaimana bar-barnya mereka.


Jadi untuk meninggalkan Sofia disini sendiri sama aja menyerahkan ikan kepada segerombolan kucing lapar.


"Kak Fia, senyum dulu dong." Salah satu dari mereka mengarahkan kamera ponsel, yang lain nggak mau kalah. Semua ikutan minta foto.


"Astaga cantik banget gilak!"


"Oh my God, gue ngimpi apa semalem?"


"Kak kasih dulu tanda tangannya disini."


"Loh, ini dada kamu loh." Tanya Sofia bingung saat salah satu gadis memberinya spidol permanen dan memajukan dadanya yang terbuka lebar


"Iya, di sini Kak." Tunjuknya pas di atas payu dara kirinya. "Nanti pulang langsung mampir mau dibikin tato sekalian."


Sofia geleng-geleng kepala takjub, anak-anak jaman sekarang memang luar biasa tingkahnya, ia menggoreskan pena itu.


"Kak makan apa sih bisa cantik banget gini?"


"Masih nasi, sayaaannggg..." Sahut Sofia. Ia mengembalikan spidol kepada yang punya.


"Nasinya lauk apa?"


"Umm... kadang tempe, tahu, sayur asem, oseng kacang panjang, ikan asin...


"Iiihhh, samaaa... kok di aku tetep bures sih?"


"Itu sih bawaan orok!" Cibir temannya.


"Oiya Kak, kabar itu bener ya kalau Kak Fia sekarang janda?"


Sofia melirik Jeffry, ia mulai tak nyaman. Ia tidak suka masalah pribadinya diingkit lagi.


Jeffry tahu banget gimana rasanya, biasanya dia yang direcokin begini, sekarang ada Sofia ia aman, tapi Sofia yang kasihan.


"Ehmm eheeemm.." Jeffry sengaja berdehem keras-keras. Tapi gerombolan itu masih saja ribut macam tawon.


Kalau begini ceritanya, gimana ia bisa latihan? Yang ada nggak akan konsen ninggalin Sofia disini dengan keadaan seperti ini.


Sofia menunduk, mentalnya ternyata belum kuat menerima cibiran langsung seperti ini.


Kalau hujatan dikolom komentar dari netizen bisa ia abaikan. Tapi yang seperti ini, tentu saja langsung masuk ke hatinya.


Sofia memakai lagi kaca mata dan maskernya.


Jeffry sigap mengambil tangan Sofia, menggengamnya erat dan membimbingnya keluar tribun.


"Kak Fiaaa... satu lagi, hubungannya apa sama Jeffry?" Jerit cewek berbaju polkadot motif Sabrina yang kelihatan pusernya. Et dah, bagus nggak pake baju sekalian.


Jeffry menghentikan langkahnya. Matanya tajam menelanjangi mereka.


"Sofia pacar gue!"


Hening.


Mereka saling berpandangan satu sama lain, kemudian kompak tertawa terbahak-bahak.


"Ngaco deh, nggak lucu." ucap salah satu.


Sofia menatap Jeffry yang mukanya kini memerah.


Kalau Jeffry yang diserang itu sudah biasa, tapi Jeffry tak terima jika Sofia yang dilukai hatinya.


Fia melepas maskernya, dengan sedikit berjinjit ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Jeffry dan mengecup bibir perjaka itu dengan lembut.


***