Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Anak Ibuku



Jeffry benar-benar malas mandi pagi ini. Bukannya karena dia lagi libur ngantor (bahasa untuk pergi kerja ke bengkel ala ibu, biar jadi doa katanya. Segitu inginnya ibu melihat Jeffry jadi orang kantoran)


Tapi karena hari ini ibu sengaja mengajaknya ke rumah Pak Hendra. Ibunya kerja shift siang, jadi mereka berangkat pagi hari.


Sejak subuh sudah ada mobil mewah nangkring di depan rumah mereka, lengkap dengan sopirnya juga.


Cih, berlebihan sekali bapaknya itu. Jeffry mendadak mules. Ia tidak biasa diperlakukan spesial selama hidupnya.


Pak sopir sampai tidur di teras, bangun-bangun sudah ada kopi dan gorengan yang disuguhkan Bu Isa.


Sampai jam tujuh lewat lima menit, ibunya datang menyeret Jeffry ke kamar mandi, ia gemes karena Jeffry tak kunjung pergi mandi.


"Kalau lama nanti ibu yang mandikan!" ancam Bu Isa. Refleks Jeffry menutup pintu kamar mandi dan mandi dengan kilat.


Guyur guyur bentar pake gayung baru warna pink gambar bunga sepatu yang ibu beli dari pedagang ember keliling, sikat gigi, basahin rambut dikit biar lebih meyakinkan, beres. Ia keluar dari kamar mandi dan berakting kedinginan.


Ibunya hanya menoleh sebentar saat ia hendak menyimpan lauk di dalam lemari makan. Harus diamankan soalnya banyak semut dirumah ini.


Dengan kilat juga Jeffry memakai celana jeansnya yang paling bagus, lalu kaos oblong warna sage yang lagi trend itu. Rambut gondrongnya dibiarkan terurai bebas. Ia kurang suka pakai pomade seperti Dion yang selalu klimis. Pomade bikin rambutnya lepek karena ia lebih sering terkena debu dan matahari.


"Celanamu itu ada nggak yang nggak sobek?" Bu Isa mengamati penampilan Jeffry.


"Ini yang paling bagus Bu, yang lain sobeknya sampai pantat loh."


"Lah, mbog ya dibawa ke tukang jahit to le."


"Nggak papa Bu, malah adem dipakenya, soalnya ada jendelanya. Hehehe..."


"Kamu nih, lebaran kemarin ibu belikan yang warna hitam itu kayaknya belum pernah kamu pake?" Bu Isa ingat membelikan celana Jeffry waktu belanja sayur ke pasar. Kebetulan ada pakaian promo, beli satu dapat satu. Celana Jeffry seratus rebu dapat satu plus celana kolor satu. Mayan kan?


Jeffry berlagak mengunci pintu sambil mikir, tu celana dah ia berikan ke si Anton, anaknya pak RT yang masih SMA tapi badannya tinggi se Jeffry. Dipake Anton untuk pentas seni karawitan di sekolahnya kemarin.


Ingat aja sih si ibu, kan Jeffry kurang suka celana kain.


"Lupa narohnya Bu, besok coba tak cari dulu."


"Bocah enom wes lupa lupa, punya celana yang bagus kok pake yang sobek, bla bla bla..."


Jeffry memandang ibunya sendu, akankah omelan ini ia dapatkan lagi esok hari? Ia pasti akan rindu nyanyian surga ini.


Ibu...


Ia hanya menyerahkan ibunya ke lelaki lain, tapi kenapa rasanya ibu meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Hey, ayo masuk!" Ibu menyadarkan lamunan Jeffry untuk segera masuk ke dalam mobil. Pak sopir sudah ngantuk nungguin dari subuh.


Jeffry meraih tangan ibunya lalu memeluk dengan hangat.


Bagai tahu kegundahan anaknya, Bu Isa mengelus punggung Jeffry penuh kasih.


***


"Bu, kenapa sih dulu ibu harus kabur waktu hamil? Kan jelas pak Hendra mau tanggung jawab." Satu pertanyaan yang Jeffry tahan akhirnya meluncur dalam perjalanan menuju rumah Mahendra.


Dia bukan bermaksud protes, dia hanya ingin tahu alasan ibunya.


Bu Isa menghela nafas, "waktu kami menjalin hubungan, masih ada Mbak Arum, mamanya Dion. Ibu merasa sudah salah menghianati beliau. Andai kamu tahu sebaik apa Mbak Arum ke ibu."


Pandangan mata Isabella menerawang.


"Tapi ibu mengorbankan hidup loh jatohnya."


Sambil tersenyum ibu memandang wajah Jeffry, "ibu tidak pernah merasa berkorban, ada kamu semangat hidup ibu."


Uluuh uluuhh... co cwiiittt, Jeffry meleleh.


"Setelah ini ibu harus janji akan bahagia." ucap Jeffry sungguh-sungguh.


"Kita akan bahagia le, bukan hanya ibu, kamu juga."


Isabella terhenyak, diraihnya tangan Jeffry.


"Tidak akan ibu biarkan kamu hidup sendirian apapun alasannya, sampai waktunya tiba kamu bisa mandiri. Jika kamu maksa lebih baik sekarang kita pulang."


Tidak ada keraguan dalam ucapan Isabella. Anak yang ia perjuangkannya mati-matian ini adalah anaknya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kecuali kehendak Tuhan.


Mahendra terkekeh saat Isabella mengungkapkan kegalauan hati Jeffry saat mereka sudah duduk santai di bangku taman didekat kolam renang.


Cuaca agak mendung jadi tempat ini terasa lebih adem meski di outdoor, lengkap ditemani kue basah bikinan Mbok Mirah


"Apa yang kamu pikirkan boy? Kamu anakku, porsimu dan Dion sama. Malah Dion sudah excited banget loh. Jangan pernah berfikir kamu hanya datang meminta bagian." Jleb. Ucapan Mahendra tepat mengenai sasaran. Ia tahu kemana arah pikiran anak ini. Anak muda labil yang egonya masih tinggi model Jeffry, seperti dirinya dulu.


Jeffry melengos, "Pak, aku ini anak ibu, nasabku di ibu. Jangankan warisan, untuk menyandang BIN Mahendra saja aku nggak punya hak."


Oke, Mahendra semakin paham arah kegalauan Jeffry. Cukup kaget juga Jeffry tahu masalah hukum agamanya. Belum tahu dia, bengal bengal begini Jeffry rutin ikut pengajian, meski sambil nahan kantuk.


"Lalu bagaimana dengan Dion yang juga menyandang bin ibunya?"


Jeffry menatap mata Mahendra, orang tua itu malah tersenyum.


"Posisi kalian sama. Tapi apa mau dikata? Aku hanya punya kalian berdua. Harta dan tahta tidak lagi penting bagiku, hanya satu, tolong berjanjilah akan mengurus bapak dan ibumu ini sampai kami mati dengan bahagia." Mahendra menegaskan ucapannya. Ia meraih tangan Bella yang hanya duduk diam menyimak disampingnya.


Tampaknya ibu cukup tersentuh.


Berbeda dengan Mahendra yang tanpa canggung mengecup punggung tangan wanita cantik berhijab itu di depan Jeffry, Bella malah kikuk, ia malu dilihat anaknya.


"Pah, serius dooongg. Tahan dulu kenapa sih?" suara protes Dion dari tablet di meja yang sengaja Mahendra letakkan. Dia pikir Dion harus dengar pembicaraannya hari ini dengan Bella dan Jeffry. Jadi Mahendra melakukan video call sejak tadi.


Ibu dan Jeffry malah nggak ngeh sama sekali.


Biar nggak capek juga menjelaskan ke Dion yang memang sedang di Jogja saat ini. Keponya Dion melebihi emak-emak kompleks soalnya.


"Kamu ni, Papa mau nikah hari ini loh. Siri dulu deh mumpung Jeffry sudah setuju. Kalau kelamaan Papa takut khilaf lagi."


Jeffry berdecak, ia belum bilang setuju loh ini tadi.


"Emangnya setelah siri masih mau gelar pesta juga?" selidik Dion. Di layar ia terlihat sedang mencukur jambangnya.


"Papa sih terserah ibu kamu ini." Mahendra melirik Bella.


Bagi Mahendra yang penting sah karena ia sudah pernah menikah sebelumnya. Tapi ia juga menghargai keinginan Bella, karena ini pernikahan yang pertama untuknya. Jika Bella menginginkan pesta maka itu yang akan terjadi.


"Nggak usah Mas, udah tua, malu." tolak Bella.


"Kamu tetap cantik."


Bella tersipu.


"Udah deh Pah, nggak masalah nikah sekarang, Dion jadi takut kalo modelnya begitu."


Mahendra tertawa, "sebelum anak-anak papa kumpul, pernikahan itu tidak akan terjadi. Papa nggak mau ada salah faham."


"Ck, sok-sokan nunggu anak-anak tapi udah mupeng gitu." gerutu Dion di ujung sana.(Mupeng : Muka Pengen)


"Hahaha..."


Bagaimanapun sebagai orang tua, Mahendra menghargai anak-anaknya. Ia sama sekali tidak ingin ada perseteruan ataupun salah faham. Karena nanti mereka juga akan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anaknya.


Ia sudah tua, tidak masalah bersabar sedikit lagi. Yang terpenting Bella sudah di sisinya.


"Ngomong-ngomong kamu nginep di hotel mana? kok view nya papa kayak familiar?"


Dion terkekeh.


***