Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Flashback 1



"Lo yakin?" Violin memegang bahu Sofia yang sudah agak tenang setelah minum.


Sofia mengangguk yakin, "gue cuma kaget doang, bentar lagi baikan." Sahut Fia, ia mengambil nafas lagi untuk menenangkan dadanya.


Mereka masih ada di restoran hotel, tempat Pam menggerebek suaminya. Sesaat setelah Vio dan Fia keluar, Pam mengirimkan pesan singkat ke ponsel Violin.


Restoran hotel. Gue nggak lama.


Sambil menenangkan Sofia, mereka menunggu Pam keluar. Sebenarnya tanpa Pam minta, Vio dan Fia pasti tetap akan menunggu. Mereka takut terjadi apa-apa.


"Vi, Pam pasti baik-baik aja kan?" Sofia menggenggam tangan Vio. Ia tampak khawatir.


"Lo nggak kenal siapa Pamela Sarasvati?" Violin balik bertanya. "Gue takutnya Panji yang keluar tinggal nama."


Sofia manggut-manggut. Ia meminum lagi air mineralnya.


Violin meraih ponsel dan mengusap nomor Juno.


"Hmmm..." Sapa Juno dari sebrang.


Violin mengrenyitkan jidatnya, "Kamu nggak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, kan?" Selidik Violin.


"Ingat ya, status Merry masih karyawaku. Ia dibawah yuridiksiku."


Terdengar decakan Juno, "Aku bukan maniak macem Panji si4lan itu!" Dengus Juno kesal. Pikirnya sedang kacau tapi Violin malah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Bagus!"


Tuuutt...


"Enaknya kita makan dulu deh." Ujar Violin setelah meletakkan ponselnya, ia melambaikan tangan memanggil waiters.


"Lo mau apa, Fi?" Tanya Violin, ia sibuk memilih menu.


"Kayaknya yang manis enak, gue banana split aja deh, biar adem ati. Panas gilak!" Desis Sofia, wajahnya nampak kusut dan lelah.


"Full AC masih panas aja." Gumam Vio, ia menunjukkan pesanannya ke waiters lalu beralih menatap ponselnya. Ia meninggalkan banyak kerjaan di kantor hari ini.


"Eh, Vi..." Sofia menyenggol tangan Violin.


"Emak lu bukan, sih?" Tanya Sofia.


Refleks Violin mengalihkan pandangannya, ke arah tatapan Sofia.


Terlihat berjalan beriringan keluar dari private room restoran ini mamanya dan mantan mertuanya, Mahendra.


******


Tuuuttt...


Begitu bunyi suara tanda terputusnya panggilan Violin.


Juno memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celana, lalu menyesap rokoknya dalam-dalam.


Juno menyugar rambutnya yang awut-awutan tak karuan. Ia sedang berdiri mencoba menikmati matahari terbenam ala metropolitan di balkon lantai dua rumahnya.


Ya, rumahnya. Rumah yang ia siapkan untuknya dan Lina saat sudah menikah nanti.


Juno termasuk pria yang susah jatuh cinta. Jika tidak suka, ia tidak akan coba-coba.


Banyak wanita yang mendekat karena tertarik dengan tampang Juno yang rupawan, tapi banyak pula yang memilih mundur pelan-pelan sejak dari awal karena terang-terangan ditolak Juno.


Tapi dengan Lina, Juno merasakan ada magnet kuat yang menariknya mendekat. Sejak pertama sampai dengan kejadian dikamar hotel tadi. Dan sekarang Juno galau.


Ia bukannya pria suci, sesekali ia juga nonton film dewasa. Tapi menyentuh wanita yang tidak ia suka, mana mungkin ia bisa?


Lalu dengan jelas melihat posisi Lina, Ya Tuhaaannn...


Lagi-lagi Juno meraup mukanya dengan tangan. Pose itu masih terpatri jelas dalam ingatannya.


"Mas..."


Juno menoleh, Lina berdiri di belakangnya. Bau sabun menguar jelas dari tubuhnya, rambutnya basah dan ia masih memakai pakaian yang sama dengan yang tadi.


Kemungkinan wanita itu sempat mandi, namun karena tidak ada baju ganti, terpaksa ia memakai lagi bajunya.


Lina terlihat kikuk, ia memilin ujung bajunya.


"Boleh aku ngomong?" Tanya Lina.


Tidak ada respon, Juno masih memandangi Lina dengan nanar.


"Mas?!" Lina melambaikan tangannya mengaburkan pandangan Juno.


"Eh, ya?!" sahut Juno.


"Duduk sebentar, aku mau ngomong." Ulang Lina lagi. Juno tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju kursi yang ada di balkon. Kursi itu memang sengaja ia taruh disitu karena ini adalah spot favoritnya untuk merokok.


Walaupun alasan tepatnya bukan itu, ia ingin saat berkeluarga nanti, ia dan Lina bisa bercengkrama di tempat ini berdua. Sambil mengobrolkan banyak hal, memandang anak-anak mereka bermain di sebelahnya sambil menikmati kudapan bikinan istri. Ah...


Membayangkan anak-anak, kenapa hanya pose Lina di kamar hotel itu yang ia ingat.


"Aku ndak tahu harus bagaimana membalasnya. Dan maaf..." Lina menundukkan wajahnya, ia terlalu malu. Lina tau Juno kecewa, ia cukup sadar diri.


"Bisa kamu jelaskan bagaimana kamu mengenal Panji dan bagaimana bisa terjadi hal semacam itu?" Suara Juno dingin.


Muka Lina memerah, ia paling benci mengingat Panji. Tapi Juno harus tau alasannya. Ia tidak ingin ada salah paham. Meski Juno tidak bisa menerimanya kembali, setidaknya ia tidak bermaksud menyakiti pria ini.


Lina menghirup oksigen dalam-dalam, ia menyiapkan hatinya untuk bercerita.


"Saat itu...."


Flashback on


Lina berjalan menyusuri lobi hotel Marina Bay Sands saat sebuah tangan kekar menahan lengannya. Ia mengrenyit, mencoba mengingat siapa pria dihadapannya ini.


Pria ini begitu tampan dan mapan. Terbukti ia berada di hotel termevvah di negeri singa ini . Juga pakaiannya terlihat parlente, bukan dari brand kaleng-kaleng. Harga jam tangannya saja bisa bikin nafas Lina mpot-mpotan.


Banyak pelanggan restoran tempatnya bekerja yang modelnya seperti lelaki didepannya ini dan ia kesulitan untuk mengingatnya.


"Excuse me?" Tanya Lina. Ia memakai bahasa Inggris karena tampang pria ini khas peranakan Eropa. Sejenak ia melirik lengannya yang masih dipegang dengan erat.


Yang membuat Lina takut adalah mata laki-laki ini yang memandangnya seperti ingin memakannya hidup-hidup. Bulu kuduknya meremang.


"Ups, sorry!" Jawab pria itu. Ia melepaskan pegangannya, lalu mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.


"Aku Panji, nice to meet you Miss Merlina."


Hanya orang ke-pede-an yang kenalan aja belum sudah bilang nice to meet you. Tapi Lina tetap tersenyum ramah, ia menundukkan badanya sedikit dan mengabaikan tangan Panji.


"Wah, saya merasa terhormat anda mengenal saya."


Panji tersenyum kecut, lalu memasukkan tangannya kedalam saku celana.


"Jangan merendah, saya fans berat kamu loh." Panji mengerling, Lina jadi semakin merinding.


"Sekali lagi terima kasih, Pak. Maaf saya buru-buru, permisi." Sekali lagi Lina membungkukkan badanya, berpamitan.


Dengan sigap Panji menyelipkan kertas di tangan Lina. Lalu melangkah pergi terlebih dahulu meninggalkan lobi.


Secarik kertas dengan deretan nomor ponsel dan... nomor kamar.


"Wah..." Lina meradang, ia tersenyum sinis menatap kertas itu sebelum meremasnya.


Meski ini bukan pertama kalinya ia digoda pria, tapi Panji yang pertama terang-terangan menganggap Lina wanita gampangan. Hellooo, ia seorang chef, tukang masak, bukan wanita panggilan.


Hari itupun berlalu. Lina menjalani hari-harinya seperti biasa. Dengan cepat ia melupakan pertemuannya dengan Panji. Ia bahkan amat bahagia karena pria yang disukainya akhirnya melamarnya.


Lalu...


Hari itu ia mendapat tamu spesial. Orang ini memberikan tips tinggi untuk mencicipi masakan Lina. Tentu saja teamnya begitu excited karena mendapat tip besar diawal.


Customer ini menginginkan private room dan ia mengajukan special request, ia hanya ingin Lina yang melayaninya, dari memasak, menyajikan hingga menemaninya makan, tidak dengan yang lain.


Lina yakin ini aman, karena ini bukan yang pertama ia mendapatkan pelanggan seperti ini, Lina pun menyanggupi.


Siapa sangka orang itu adalah Panji. Lina sempat terkejut saat mendapati laki-laki itu tersenyum congkak di sofanya. Tapi Lina harus profesional, kan?


"Hai..." Sapa Panji, Lina hanya tersenyum menanggapi. Saat teamnya selesai menyiapkan segala sesuatunya, mereka bergegas keluar meninggalkan Panji dan Lina didalam.


"Aku menunggu lama waktu di Singapur, loh. Nggak nyangka aku diabaikan." Kalimat pembuka Panji sudah membuat Lina sebal.


"Oh ya? Saya merasa anda tidak memesan makanan waktu itu." Jawab Lina.


"Saya memesan dessert manis." Sahut Panji, ia menggigit bibir bawahnya dengan sengaja, "yaah, mungkin saat itu belum rejekiku untuk memakan dessertnya. Mungkin hari ini?"


Lagi-lagi Lina mengabaikan ucapan nakal Panji, ia hanya tersenyum, "Maaf pak, saya mulai, ya?!" Lina mulai sibuk dengan pan-nya.


Panji mendekat, ia menumpukan tangannya ke meja, lalu dengan sengaja mendekatkan wajahnya.


"Kamu cantik sekali Chef Lina." Bisik Panji.


Lina tersenyum. Ia menambahkan lada ke dalam masakannya.


"Aku akan merasa sangat terhormat andai saja bisa melihatmu memasak hanya dengan memakai appron, pasti sexy sekali." Rayu Panji, suaranya mendesis menggoda, matanya yang tajam menatap lapar ke dada Lina.


Refleks Lina menoleh menatap wajah Panji, ia mulai gerah berada disini.


"Wow, jadi itu fantasi anda, Pak?" Lina tersenyum mengejek. Ia sengaja memainkan pisaunya dengan lincah lalu memotong daging dengan sekali goresan.


Panji memundurkan badanya, ia terkekeh.


"Astaga, menggemaskan sekali, aku semakin ingin memakanmu."


"Bapak bisa duduk saja? Biar saya selesaikan tugas saya." Lina mulai jengah.


Panji terkekeh , "sebenarnya ada pekerjaan menarik yang ingin saya tawarkan dengan bayaran berkali-kali lipat lebih besar dari gaji seorang excecutive chef. Bagaimana?"


****