Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Taruhan



"Kenapa musti hari senin sih? mendadak pula!" Pekik Vio panik.


"Kemarin di Jogja kamu nggak bilang apa-apa lho ini." lanjut Vio.


Ponselnya ia jepit diantara bahu dan telinganya. Tangannya lincah memilah dokumen diatas meja.


Dion menghubunginya pagi ini, sesaat setelah Vio mengganti sendal bulunya dengan heels, bersiap ke ruang divisi marketing.


"Hmm, cuma akad biasa sih, sebenernya. Kalau memang nggak bisa datang, nggak masalah. Papa pasti paham "


Diseberang Violin terdiam. Kata-kata Dion terdengar biasa, tapi kenapa Vio tersinggung sih?


Violin menghela nafas menenangkan hatinya. Hormonnya sedang tidak stabil, dari semalam bawaannya sensi mulu.


Piring kotor diatas meja aja ia omeli, padahal piring itu bekas ia makan Indomie.


Tau lah wanita kalau menjelang menstruasi.


"Jadi butuh aku datang apa nggak sebenernya?" geram Vio.


Dion langsung pasang radar bahaya.


"Setengah jam lagi, tunggu di lobi!" Ucap Dion cepat.


"Nggak. Aku datang bareng Juno." tolak Vio. Ngapain juga ngrepotin orang, toh Juno juga di undang. Ia bisa duduk tenang sambil istirahat tanpa harus ngobrol basa basi. Juno hafal bos-nya sedang berada di tanggal tanggal sensitif.


Jangankan itu, tanggal Violin datang bulan aja Juno hafal. Siapa lagi yang ribet nyariin pembalut kalau bukan Juno.


Rangkap banyak kan kerjaan si Juno? Luar dalam, depan belakang, atas bawah.


"Aku on the way!" Sahut Dion serius tanpa menunggu jawaban Vio, ia mematikan panggilannya.


Violin menatap ponselnya, lalu mengedikkan bahu sekilas.


Akad pak Hendra masih lima jam lagi, tapi Dion sudah on the way kesini. Baru juga Vio mau bilang masih ada kerjaan, udah main tutup aja.


Jadi sesantai itu sekarang kerjaan Dion? Kemarin kemana aja?


Kita lihat sesabar apa Dion nungguin Violin. Dulu waktu pacaran hal seperti ini yang Violin suka. Saat menikah, justru inilah yang sangat dirindukannya.


Sekarang...


Entahlah, sepertinya ia sudah biasa saat sudah tidak ada lagi perhatian untuknya.


Perhatian seperti hal mewah untuk Vio. Ia sudah tidak berani lagi berharap terlalu tinggi. Saat jatuh, sakitnya berkali-kali.


Ia tidak membenci Dion, ia hanya kecewa. Amat sangat kecewa.


"Bu, ada pak Dion." bisik Nadia saat meeting kelar.


Violin tidak merespon, ia malah berbelok ke pantry. Ada Fandi lagi bikin kopi. OB ganteng anak kuliahan.


"Satu, Fan!" Violin mengacuhkannya telunjuknya. Ia duduk di kursi bersandar tembok.


Fandi mengacungkan jempolnya.


"Nih Bu, kopi special." Fandi menyodorkan cangkir berisi kopi buatannya.


Violin mengrenyit lalu menatap kopi didepannya itu.


"Apanya yang spesial? Ini kopi yang biasa saya minum, kan?" Violin mengendus cairan pekat itu.


"Iya Bu, special karena saya buatnya dengan sepenuh hati. Hehehe..."


"Yak ampun, dirayu berondong. Kelarin skripsi dulu baru ngerayu janda." Juno yang nongol langsung ngeplak lengan Fandi pake serbet.


"Namanya usaha, Pak." sahut Fandi sambil melipir membawa kopinya keluar pantry.


Juno duduk di bangku depan Vio.


"Butuh gorengan?" tawar Juno.


"Nggak, gue butuh daging."


"Ck, ada apa sih dengan daging? Kemarin Merry seharian mintanya daging. Yang ini daging juga. Noh bento gue sashimi."


"Nggak mau ikan mentah, maunya steik Wagyu Hokkaido."


"Gue panggilin bentar."


"Eh, di pesenin maksudnya?"


"Nggak, noh si Wahyu lagi nyapu tangga darurat."


"Wagyu! Bukan Wahyu, Bambaaanngg!"


"Hehehe ..."


"Dia nggak mau dipanggil Lina. Gue sih nggak masalah, mau Lina, mau Merry, asal nggak Wahyu aja." jawab Juno sambil nyomot toples kue kering di depannya.


Violin manggut-manggut, pasti Merry trauma berat pakai nama itu. Violin ikut mengambil kue yang dipegang Juno.


"Hmm, enak loh. Kastangel siapa nih?" komentar Violin di gigitan pertama.


"Fandi yang bikin, katanya buat ngisi waktu luang." sahut Juno kurang yakin. Masalahnya si Fandi yang katanya lagi ngelarin skripsi, masih sambil kerja jadi OB juga, mana ada waktu luang coba? Kecuali bikin skripsinya sambil ngadon kue.


"Beneran enak, bisa dipasarkan sih menurut gue. Bilangin si Fandi suruh bikin tester banyakan. Pasti banyak yang suka."


"Kalau tester sih gue juga demen." cibir Juno.


"Ya asal lo nggak tahu malu aja dah makan tester tapi nggak mau beli." Balas Vio.


"Cih, naif lo! Di gedung ini mana ada yang nolak gratisan? Giliran suruh beli kabur duluan."


"Nggak semua kaliiii... " Violin tetep kekeuh.


"Ini kenapa jadi ributin kuenya si Fandi sih? Noh laki lo nungguin dari tadi. Lupa kan gue." gerutu Juno.


"Gue nggak punya laki Junet."


"Ehem..." tau-tau Dion nongol di pantry. Violin melengos sambil menyesap kopinya.


"Eh bro, duduk." Juno menggeser kursi kosong disebelahnya. Dion mendekat lalu duduk sambil menyilangkan kakinya santai.


"Kata Bu bos sih maunya bareng gue, bro." Juno melirik Violin yang makan kue tanpa expresi.


Dion melempar senyumnya sambil menatap Violin. Pandangannya hangat, seolah menunggu Violin meeting dua jam bukan waktu yang lama.


Ditambah malah di tinggal asyik nggibahi si Fandi di pantry pula.


"Nggak masalah, kita bisa satu mobil. Tinggal pakai mobilku atau punyamu?" Jawab Dion kalem.


Juno dan Vio saling lirik.


"Ogah gue jadi nyamuk." Juno melenggang pergi. Violin merutuk dalam hati, sialan si Junet.


Dion menatap Violin.


"Aku butuh makan." Ucap Violin akhirnya. Sedari pagi memang belum ada makanan yang masuk ke lambungnya selain kopi buatan Fandi dan kastangel ini.


Dan sekarang ia beneran laper. Sampai kepalanya migrain efek kelaparan.


"As you wish..."


Jawaban Dion buat Vio merinding. Mungkin karena lapar ya gengs.


***


"Lo lihat kan cuy? Mereka dah cere loh! Ngapain coba pak Dion dua jem rela nungguin Bu Vio?"


Bisik-bisik julid mulut karyawan gedung ini.


Setelah heboh kedatangan Dion, kini tambah heboh lagi saat melihat Dion pergi bareng Violin naik mobil yang sama.


"Eh ya udah sih namanya mantan nggak bisa lepas hubungan gitu aja kan?" sahut lainnya.


"Lah ya kan kali udah dibuang trus di pungut lagi? Gue sih ogah!"


"Kalau itu Dion sih gue rela jadi istri pungut."


"Cih, Dion yang ogah ame eluuu..."


"Gimana kalau kita taruhan, bakal rujuk nggak tuh orang?"


"Eh fiks kalo gue tim rujuk dong. Nih cepek!"


"Rujuk gue!"


"Kagak bakal dah. Nih!"


"Rujuk cuy!"


"Nggak mungkin."


"Ikut gue!"


"Dosa lu pada!"


"Diem kaga?"


"Au ah gelap!"


***