
"Lo lihat, kan? Baru aja cere udah gandeng brondong ajaaa. Iyuuuhhh...."
"Harusnya lo perhatiin, tu anak ganteng banget gilak!"
"Pak Dion juga ganteng, kaya lagi. Terus itu bocah punya apa?"
"Punyanya gedong kali cyiinnn..."
"Hahahaha... Gila lo, udah main buka-bukaan aje."
"Secara kan udah sebulan lebih nganggur. Hahaha..."
"Sssttt... bodyguardnya lewat!"
Ciwi-ciwi yang lagi asyik ngegibah langsung kicep begitu Juno melewati mereka dengan membawa sarapan.
Juno sengaja duduk didekat gerombolan cewek mulut lemes biang gosip. Inilah yang membuat Juno malas makan di kafetaria. Padahal makanannya lumayan enak-enak, tapi suasananya yang bikin kuping panas. Biang gosip berceceran dimana-mana.
"Hati-hati, CCTV digedung ini dilengkapi sound audio terbaik. Tahu kan siapa Bu Violin?" Desis Juno disela-sela suapannya, lebih kepada berbicara dengan dirinya sendiri tapi dengan suara yang keras. Tatapannya pun hanya memandang nasi uduk sarapannya.
Satu persatu terlihat menjauh dari tempat duduk Juno. Tentu saja mereka paham siapa yang sedang mereka gibahin dan berurusan dengan Atmanegara adalah mimpi buruk. Tapi tetep aja Violin adalah sasaran empuk mulut gatel yang kurang digaruk.
Apalagi para wanita yang merasa iri dengan anak tunggal Atmanegara itu. Mereka melampiaskan dengan menghujat dengan sadis. Tentu saja hanya berani menghujat dibelakang, lebih untuk kepuasan batin saja.
Pagi ini gedung Marina Group dihebohkan dengan kedatangan anak sang owner, si artis yang diantar berondong ganteng pake motor. Violin yang tidak pernah terlihat naik ojek pun membuat geger satu gedung. Apalagi predikat baru yang disandangnya, janda kembang! Single dan available. Wow...
Ada yang kekeuh itu adalah ojek, tak sedikit pula yang bilang berondong 'selingannya' Violin doang.
Violin sih cuek, dia terbiasa ditempa gosip. Ia bukannya tidak tahu dirinya jadi tranding. Jangankan jalan berdua brondong, jalan bareng kucing aja bisa jadi bahan gosip.
"Jadi sekarang hobi baru naik ojol, Bu?"
Violin yang sedang mengeringkan rambut menoleh saat Juno tiba-tiba muncul dari balik pintu toilet pribadinya. Bener-bener nih laki minta ditimpuk pakai hairdryer. Nyelonong aja nggak pake permisi. Untung Vio sudah memakai pakaian kerja lengkap.
Ia terpaksa mandi lagi demi kenyamanan jiwa raganya. Bisa-bisa bad mood seharian. Gila aja asap kendaraan nemplok dimana-mana.
"Ck, mobilku di bengkel." Jawab Violin acuh, ia menyimpan kembali hairdryer ditempatnya lalu berjalan menuju walk in closet yang terhubung langsung dengan toilet, berniat mencari anting-antingnya.
"Lagian dia bukan ojol." lanjut Vio.
Juno menaikan alisnya sebelah, "bukan ojek online berarti ojek pengkolan? Di CCTV sepertinya nggak pake jaket ojol."
"Mulai kepo ya, kamu!" sinis Vio.
"Satu gedung heboh loh. Sampai aku cek sendiri rekaman CCTV. Pantes aja heboh, ternyata ada adegan drama helmnya. Romantis juga anak itu."
"Hiperbola, sumpah!" Violin melempar tisyu bekas kearah Juno. Asistennya itu hanya terkekeh. Ia mengekor dibelakang Vio.
"Semalam mobilku mogok dia yang nolong. Pagi ini ban bocor dia juga yang nolong. Seharusnya itu tugasmu. Bukan tugas dia." Violin membolak-balik kertas yang menumpuk diatas mejanya.
"Lama-lama tugasku makin nggak sesuai job desk. Bolehlaaah intensif naik." Gumam Juno.
Dikontrak tertulis yang Juno tanda tangani diatas materai tidak ada rincian harus mengurusi ban bocor atau mobil mogok. Tapi sejak pertama kali menjadi asisten Violin, tugasnya bahkan mengurusi pembelian lingerie dan sparepart kewanitaannya.
"Hey, itu sepadan dengan gajimu, ya!"
"Hehehehe..." Juno melirik jam tangannya. "Lima menit lagi ditunggu Tim marketing di ruang meeting, aku duluan. Mau siapin snack di pantry." Pamit Juno.
"Nge-cek aja, sapa tau snacknya kurang"
"Snacknya nggak bakal kurang, kan kamu yang nyuruh lebihin."
"Eh, ketahuan! Kabuuurrr..." Juno ngacir pergi.
Lalu baru saja Vio meraih map kuning dan bersiap menuju ruang meeting, Juno kembali lagi masuk ruang kerjanya.
"Eh, itu kata Nadia, di lobi ada tamu." Ucap Juno.
Violin mengrenyit, "ini kinerja kalian gimana, sih? Tamu di jam kerja pagi hari? Dan terjadwal ada meeting. Harusnya resepsionis grecep ngusir dengan alasan halus. Kenapa malah dipersilahkan, sih?" Gerutu Vio. Otaknya mulai mengingat-ingat jadwal resepsionis yang jaga pagi ini.
"Sorry, Vi. Nggak ada yang berani ngusir mantan bokap lo." Bisik Juno, ia bergegas meraih map kuning ditangan Violin dan langsung melipir ke ruang meeting.
Violin tertegun. Mahendra menemuinya. Apa mungkin waktu di rumah sakit kemarin ia melihat Vio? Atau Robert mengatakan sesuatu kepada Pak Hendra?
Dengan cepat Vio bergegas menemui mantan mertuanya itu.
Mahendra terlihat pucat dan lebih kurus dari terakhir kali Violin melihatnya dari dekat. Matanya tampak cekung, ditambah ubannya yang semakin banyak membuatnya nampak lebih tua dari Atmanegara, padahal mereka seumuran.
Yang tidak berubah adalah senyum Pak Hendra masih tetap hangat. Ia menyambut tangan Violin yang mengecup punggung tangan ringkihnya itu lalu mengelus kepala mantan menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Papa apa kabar?" Violin mempersilahkan Mahendra duduk.
"Baik, Nak. Seperti yang kamu lihat." Mahendra tersenyum.
"Kalau boleh tahu, ada apa Papa tiba-tiba kemari? Kenapa nggak kasih kabar dulu? Violin bisa kok sesekali main ke rumah."
Mahendra menatap Violin dengan sendu.
"Papa tau ini mengganggu pekerjaanmu, tapi ijinkan sebentar saja Papa meminta maaf atas nama Dion." Mahendra berucap lirih, ia menundukkan kepalanya dihadapan Vio. Penyesalan teramat sangat mendera batinnya.
Violin ikut sedih, ia menyaksikan bagaimana gagahnya Mahendra saat masih sehat. Dan kini bagai senja yang meredup perlahan-lahan. Penyakit itu bagai menggerogoti tubuhnya.
Perlahan Violin meraih tangan Mahendra dan menggenggamnya.
"Yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah lagi, Pa. Vio akan coba ikhlas. Yang tidak akan berubah adalah Vio akan tetap menjadi anak perempuan Papa selamanya." Bisik Vio. Meski ia hancur sehancur-hancurnya, tapi bagaimanapun juga ia tidak akan tega menyakiti hati orang tua ini.
Mahendra adalah mertua terbaik bagi Violin. Ia tidak pernah mencampuri urusannya dan Dion. Saat ia dan Dion selisih paham, Mahendra akan selalu mengelus kepala Violin menenangkan. Kedekatannya bahkan melebihi dengan Atmanegara.
"Maafkan Papa, Nak. Dion bahkan baru menyampaikan jika kalian pisah baru kemarin malam. Maafkan Papa yang tidak bisa mendidik Dion menjadi suami yang baik untukmu." Mata Mahendra memerah tapi mata Violin sudah berair.
Mahendra menghapus air mata Vio dengan tangannya.
Mahendra amat menyayangkan perceraian ini. Violin menantu yang baik. Wanita yang cerdas dan sopan. Vio juga merawatnya dengan baik. Dion lah yang bodoh melepaskannya.
"Nak, Papa tidak tahu kapan bisa bertemu kamu lagi. Papa mohon hiduplah dengan bahagia, itu akan mengurangi rasa bersalahku." Bisik Mahendra. Ia menunduk sedih. Dadanya serasa sesak menahan air mata.
"Tolong jangan bersedih la..."
Mahendra belum selesai melanjutkan ucapannya, namun Violin sudah menghambur memeluknya dengan wajah bersimpah air mata.
*******