
Violin mondar mandir didepan pintu rumahnya saat seseorang turun dari atas motor dan menghampirinya. Pria itu menunduk hormat lalu berbisik.
Violin tersenyum lega, ia menyelipkan lembaran uang merah ke tangan pria itu.
"Jatah gorengan." Kata Vio. Lalu secepat kilat pria itu menghilang di kegelapan malam dengan motornya.
"Gimana, Vi?" Pam muncul dari dalam dengan menenteng minuman kaleng beralkohol rendah.
"Ada dirumah Jeffry. Lega gue, dah biarin si Junet urus sendiri. Capek banget gue hari ini, pengen tidur." Violin melangkah masuk sambil mengirim pesan singkat ke ponsel Juno.
Pam masih duduk di teras sambil menikmati rokoknya. Ia tidak bisa tidur. Jelas pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ia hanya mencoba tenang dan tidak termakan emosi.
Sebenarnya ia bisa saja dengan mudah memaafkan Panji. Toh ia juga bukanya tidak pernah tidur dengan laki-laki selain Panji. Tapi itu dulu waktu ia masih free.
Sejak bertemu Panji, ia hanya berhubungan dengan pria itu. Apalagi Panji termasuk posesif dan cemburuan walaupun masih membebaskan pergaulan Pam.
Mereka sama-sama suka hal baru, terutama urusan ranjang. Sejauh ini hanya Panji yang mampu memuaskan Pam.
Dan Pam pikir ia sudah mampu memuaskan Panji, sampai saat tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Panji memperlakukan Merry.
Jujur Pam malah insecure melihat Merry. Bagaimana Panji sampai berusaha menculiknya. Sampai segitunya. Apa sebenarnya yang Merry punya?
Urusan penampilan, jelas Pam lebih cantik, lebih terawat, lebih body goals, lebih semuanya.
Apakah ini jawaban mengapa Panji menyuruhnya memakai alat kontrasepsi?
Pam tidak keberatan saat Panji memintanya memasang alat itu tepat setelah mereka menikah, toh ia juga belum menginginkan kehadiran anak dekat-dekat ini. Dan sekarang ia baru sadar, selama ini ia hanya dijadikan alat pembuangan sp3rm4 saja bagi Panji.
Pam menegak minuman kalengnya sampai tandas lalu meremas kaleng itu kuat-kuat. Sampai telapak tangannya sakit.
Lalu terdengar ribut-ribut dari luar. Terlihat Juno menggendong Merry dengan gagahnya. Diikuti Jeffry di belakang. Merry terlihat meronta minta diturunkan.
"Udah nyampe nih, buruan pulang kamu." Ucap Juno sambil mengedikkan dagunya mengusir Jeffry.
"Nah, gini kan jadi percaya." Sahut Jeffry sambil menepuk bahu Juno sok akrab.
"Oke, gue cabut bro! Mari tanteee..." Jeffry melambaikan tangannya kearah Pamela. Pam hanya tersenyum tipis.
Juno sudah menurunkan Merry dari gendongannya, ia memapah wanita itu.
"Mbak Pam..." Desis Merry saat melihat Pam bersedekap menatapnya. Tatapan itu membuat Merry salah tingkah dan akhirnya hanya berdiri diam saja sambil menunduk. Ia memilin ujung bajunya dengan gelisah.
Beberapa Minggu mengenal Pam, sedikit banyak Merry tahu wanita ini sangat arogan dan senang bersikap semaunya. Lalu sekarang Merry merasa seperti maling yang ketahuan mencuri. Padahal tidak ada barang curian dalam genggamannya.
Ia sudah bersiap andainya Pam menggaruk mukanya dengan kuku-kukunya yang tajam dan berkilau itu. Atau menggamparnya dengan brutal, menjambak bahkan memutilasi dirinya, Merry akan diam saja.
Paling tidak Juno akan melindunginya, kan?
Pam menghela nafasnya lalu perlahan menghampiri Merry. Ia memeluk wanita itu erat.
Merry melotot. Ini diluar ekspektasinya. Ia bingung. Tapi pelukan hangat Pamela terasa begitu tulus.
"Terima kasih sudah baik-baik saja..." Bisik Pam di pundak Merry. Mata Merry menghangat, ia menangis lagi. Betapa luasnya hati Pamela. Perlahan Merry membalas pelukan itu.
Juno diam saja menyaksikan drama didepannya.
Pam mengurai pelukannya, lalu beralih menatap tajam ke arah Juno.
"Nggak bakal gue biarin lo deketin Merry lagi, dasar laki-laki nggak ada otak! Pulang sana! Merry butuh istirahat."
"Hei, urusan gue belom kelar!" Sahut Juno saat Pam memapah Merry dengan sabar kedalam rumah.
"Lo nggak lihat jam berapa? Mau gue panggilin security?" Ancam Pam galak.
Akhirnya Juno mengalah, ia pergi setelah Pam menutup pintu dengan kasar. Mirip emak-emak yang ngomel saat anak gadisnya telat diantar pulang.
Setidaknya Lina sudah ketemu. Juno bisa bernafas lega. Ia tahu ia salah, setelah Lina berlalu dari hadapannya saat itu, seolah hatinya serasa diremat dan dicabut dengan paksa. Sakit sekali.
Juno seperti ditampar oleh kenyataan bahwa ternyata rasa sayangnya kepada wanita itu lebih besar dari egonya.
Tidak...
Ia tidak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.
*****
"Mas..." Maharani mencolek suaminya saat Atmanegara selesai memasang sabuk pengaman di pinggangnya.
Ia menunggu Rani di parkiran saat istrinya itu pamit ke toilet. Dan lagi ada Mahendra yang masih mengobrol dengan relasinya di dalam. Jadi ia menitipkan Rani saat keluar nanti.
Mereka baru selesai dinner di restoran salah satu hotel di pusat kota memenuhi undangan Mahendra.
Mahendra menyampaikan permintaan maafnya karena ulah Dion. Ia juga menyesal tidak memberikan didikan yang benar untuk putranya.
"Nggak usah sok-sokan nasehati ankmu, rumah tanggamu saja nggak beres." Jawab Atmanegara waktu menanggapi ucapan penyesalan Mahendra.
Maharani sampai tersedak kuah ramennya mendengar jawaban Atmanegara. Ia menyenggol kaki Atmanegara sambil melotot.
Tapi dasar arogan, bukannya melembutkan ucapannya malah tambah menjadi.
"Gimana Bella sudah ketemu?" Lanjut Atmanegara lagi. Giliran Mahendra yang tersedak minumannya. Maharani buru-buru mencubit paha Atmanegara.
"Kamu memang paling bisa memojokkan aku, bro." Mahendra terkekeh. Jika Atmanegara masih begitu santuy bercanda dengannya, berarti diantara mereka tidak ada yang perlu di bahas lagi.
Bagaimanapun keadaan rumah tangga Violin dan Dion, mereka sepakat tetep bersilaturahmi seperti sebelumnya. Toh anak-anak sudah dewasa, tahu memilah mana yang baik mana yang buruk. Dan urusan mereka adalah tanggung jawab masing-masing.
"Tadi di dalam sepertinya aku lihat Violin lho, Mas." Ucap Rani sambil merapikan dress-nya.
"Salah lihat kali." Ujar Atmanegara santuy sambil mengarahkan kemudinya keluar menuju jalan raya.
"Iihh, nggak mungkin Mas nggak lihat, si paling jeli." Cibir Maharani.
"Ck, biarin aja sih. Anak nakal itu sepertinya sudah nggak butuh kita, Ma." Sahut Atmanegara.
"Ia mirip sepertimu, siapa lagi disini yang keras kepala?" Maharani melirik suaminya.
"Yeaahh... buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya." Atmanegara tersenyum tipis. Inilah yang membuat ia dan Violin tidak sepaham, mereka sama-sama keras kepala.
"Besok aku mau kerumah Vio, ya mass..." Rayu Maharani.
"Kan udah sering lewat depan rumahnya itu. Ngapain lagi?"
"Masak lewat doang sih? Mampir yaaaa... yaaa Masss..."
"Nanti kalau dia sudah pulang kerumah. Habis itu terserah Mama mau nginep disana juga boleh." Atmanegara kekeuh.
"Tinggal pencet suruh pulang apa susahnya sih?"
"Nggak! Biarin dia pulang sendiri tanpa disuruh."
"Kalau gitu kapan pulangnya?!" Maharani cemberut. Ia membuang muka, menatap pemandangan luar jendela samping yang masih macet seperti biasa.
"Nanti kalau aku mati, baru Mas tau, aku..."
Belum sempat Maharani melanjutkan kata-katanya, Atmanegara sudah meraih tengkuknya dan membungkam mulut Rani dengan bibirnya.
Hanya ini cara satu-satunya agar Maharani tidak merengek untuk mengunjungi Violin lagi. Atmanegara bukannya melarang, ia hanya takut.
Lalu bunyi klakson bersahutan membuat Atmanegara melepaskan bibir itu. Maharani ngap-ngapan.
"Kamu akan hidup seribu tahun lagi, aku pastikan itu." Ucap Atmanegara tegas, ia kembali fokus ke jalanan.
"Cih, kamu bukan Mas Edward yang bisa bikin aku hidup seribu tahun lagi." Cibir Maharani.
*******