
Violin melirik Dion, ia tahu pria ini sedang mati-matian menahan amarah. Bertolak belakang dengan Rob yang stay cool, stay calm.
Siang ini memang Vio ada janji makan siang bareng Dion. Nggak nyangkanya Dion datang sepagi ini. Padahal mereka janjian ketemu di tempat.
Ah... sudahlah, kita lihat apa yang akan terjadi.
Meski sudah sering menahan ego, tapi kali ini Dion merasa bukan hanya ego yang ia tahan tapi juga hatinya yang teramat sakit.
"Apa kalian ada hubungan?" Geram Dion. Ia ingin jawaban pasti dari mantan istrinya itu dan juga dokter ini. Sialnya Robert benar-benar saingan berat untuk Dion.
"Tentu saja ada." Sahut Robert percaya diri.
"Aku masih berharap kalian hanya sebatas teman, tidak lebih." desis Dion.
Robert beranjak dari duduknya lalu berdiri gagah berhadapan dengan Dion. Violin memijit pelipisnya di pojokan.
"Apa ada yang salah jika kami menjalin hubungan? Violin wanita single, saya juga. So, why not?"
Rahang Dion mengeras. Ia beralih menatap Vio.
"Aku keberatan. Vio... coba kamu jelaskan." titah Dion.
Violin menghela nafasnya sebelum menjawab, "Robert sahabatku, kamu tahu itu kan?" Jawab Violin singkat.
"Apa yang membuat kamu keberatan Tuan Dion?" Pancing Robert, misinya adalah memancing emosi Dion. "Kalau tidak salah hubungan kalian hanya sekedar mantan, kan?" Tambah Rob lagi.
"Violin sudah setuju memulai lagi semua dari awal, jadi mohon pengertiannya Dokter Robert." Ucap Dion.
Rob tidak menanggapi ucapan Dion, ia malah berpaling menghampiri Violin.
"Bolehkah aku tetap maju selama belum ada janur kuning melengkung?" Tanya Rob langsung di hadapan Violin.
Violin memejamkan matanya.
"Rob, denganmu aku nyaman, tolong jangan rusak persahabatan ini."
Dion tersenyum simpul. Sedang Rob menghela nafas berat.
"Apa aku sudah ditolak lagi untuk yang kesekian kalinya?" Tanya Rob tak percaya.
"Dan Dion..." Vio menatap Dion. "Rob sahabatku, jika kamu tidak bisa menerimanya ada di kehidupanku, maka kutarik kembali kata-kataku. Maaf kita cukup berteman saja. Silahkan kalian pulang, aku ingin istirahat."
Vio sudah pusing dengan semua ini. Kali ini keputusannya sudah bulat, ia hanya ingin sendiri.
"Vi, nggak bisa gini dong. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Dion menahan lengan Vio.
Vio melepaskan tangan Dion dan berlalu pergi meninggalkan dua orang pria itu di depan rumahnya. Ia masuk kedalam kamar dan menguncinya rapat-rapat, seperti hatinya.
Rasanya lebih nyaman sendiri seperti ini. Ia lelah mengurusi ***** bengek percintaan.
Tiba-tiba ia rindu ayahnya.
Vio meraih ponselnya di atas nakas dan menggeser nomor Atmanegara. Pada dering ke tiga...
"Halo Vio, kamu baik-baik saja, kan?"
Violin terdiam, ia menangis dalam diam.
"Halo? you okay?" Suara Atmanegara terdengar cemas.
Violin mengambil nafas, "Pah..." Suaranya bergetar.
"Papa kesitu!"
Tut!
Panggilan langsung mati. Violin menelungkupkan kepalanya, ia menangis.
***
"Waahh, apa-apaan ini? Tinggal selangkah lagi tapi Vio malah membuatnya berakhir sampai disini." Ucap Dion, ia masih tak terima dengan keputusan Vio.
"Semua gara-gara kamu." Dion menunjuk Rob sebal.
Robert terkekeh, "kita sama-sama kalah, bro. Jangan saling menyalahkan. Mending kita lunch bareng aja yuk."
"Cih, nggak sudi." tolak Dion sarkas.
Robert menepuk bahu Dion, "baiklah gue duluan. Take care, bro." Pamitnya. Ia melangkah meninggalkan Dion. Rob terlihat lebih lapang dada karena ia sudah sering ditolak Violin.
"Tunggu..." Cegah Dion, Rob menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Dion.
"Skuy lah... gabut gue."
"Cih..."
***
Dua puluh menit kemudian Atmanegara terlihat berjalan tergesa-gesa keluar dari dalam mobilnya.
Ia nyetir sendiri kali ini, ngebut dikit biar cepet nyampe.
Untuk pertama kali Violin menghubunginya saat dalam keadaan sedih. Atmanegara bahagia, akhirnya perlahan Vio mulai mengingatnya sebagai sosok seorang ayah yang pasti akan melindungi putrinya dalam keadaan apapun, tanpa sungkan, tanpa ego lagi.
Atmanegara tahu ini masalah hati. Tadi pagi masuk laporan ada pertengkaran kecil dirumah ini. Ada Robert dan Dion. Keduanya pergi tanpa Violin. Tak lama setelah itu Vio menghubunginya.
Violin sudah agak tenang saat Atmanegara menemukannya di taman belakang rumah. Anak itu sedang menatap ikan yang berenang di kolam buatan sambil melamun.
Saat menyadari kedatangan ayahnya, Vio langsung menghambur kedalam pelukannya.
Meski agak bingung, Atmanegara diam saja. Ia mengelus kepala anaknya dengan lembut. Lalu mereka duduk di bangku anyaman di dekat kolam.
"Itu rumah kamu, dasar anak nakal." Atmanegara tersenyum, ini benar-benar moment yang sangat berharga di hidupnya.
Rani, lihatlah... anakmu masih saja anak-anak.
"Apa Om Rion sekarang tinggal di rumah kita?"
"Iya, sejak mamamu meninggal, Rion tinggal di rumah. Papa nggak suruh, Rion sendiri yang mau."
"Pasti Papa kesepian."
"Mana mungkin Papa kesepian? Kan ada Rion. Akhir-akhir ini aja dia jadi sedikit nyebelin."
"Oya? Kan memang dari dulu nyebelinnya."
"Hmm... iya juga ya?"
"Hehehe..." Vio dan bapaknya terkekeh bersamaan.
"Ayo Papa bantuin packing." Atmanegara mengurai pelukannya. Ia menggandeng Vio masuk kedalam rumah.
"Ngomong-ngomong kemana teman-temanmu, Vi? Sepi sekali..." Tanya Atmanegara.
"Serius Papa nggak tahu?" Vio menatap bapaknya.
"Loh nggak semua hal Papa tahu loh. Cuma yang berhubungan sama kamu aja."
Violin melipat tangannya didepan dada, "Jangan bohong deh."
"Sumpah, Papa cuma tahu si Pam..." Atmanegara menutup mulutnya. Ia membuka pintu kamar Violin.
"Darimana Papa tahu? Padahal anak itu nggak bisa dihubungi dari semalam." Cecar Vio.
"Sudah biasa kan Pam nggak pulang?"
"Iya, tapi ini aneh loh Pa, akhir-akhir ini kayak yang sebel gitu dia sama aku."
"Memangnya kalian berantem?"
"Enggak sih..." jawab Vio ragu. Ia merasa baik-baik saja dengan Pam.
"Nanti pulang juga baikan, sudahlah..."
Violin manggut-manggut.
"Sofia sudah balik ke rumah Om Antonio, Papa tahu?"
"Oya? Syukurlah, Papa ikut senang."
"Kayaknya Papa udah tahu deh."
Atmanegara menghela nafas, " Papa bukan cenayang, Vio."
Violin terkekeh. Ia meraih tas kecil di atas nakas.
"Ayok, Pa!"
"Ada yang mau di bawa lagi?"
"Ummm... ini aja cukup." Violin menggandeng bapaknya, mereka berjalan beriringan.
"Apa Papa masih suka main voli?" Tanya Vio, ia ingat Atmanegara suka sekali main voli.
"Kadang-kadang sih, Papa masih sibuk jadi belum main voli lagi."
"Tapi aku mau main voli di rumah."
"Katanya nggak suka voli?"
"Yaudah tenis aja, biar nggak kalah sama artis-artis ibu kota itu."
"Iya, nanti lantai paling atas yang dekat ruang gym Papa ubah jadi lapangan tenis."
"Aku mau mabar loh, Pa."
"Mabar sekampung juga muat itu."
"Tapi Papa sukanya voli, terus aku main sama siapa nanti?"
"Nanti kamu ajarin Papa tenis ya. Biar kita bisa main bareng."
Violin diam.
"Pah..."
"Hmmm..."
"Aku tetap anakmu kan?"
Atmanegara tersenyum.
Lihatlah Rani, putri kita ternyata sangat manja. Dia mirip sekali denganmu.
Atmanegara mengelus rambut Vio, "Selamanya kamu adalah putri kecil Papa."
Violin mengeratkan pelukannya.
***