Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Girls Day



Hari ini adalah girls day nya para jendes. Pam sudah berdandan sedemikian rupa sehingga, ah... sudahlah. Intinya nggak akan ada yang tidak menoleh saat melihatnya.


Sofia tetep dengan style kalem ala princess. Tetap sopan meski body sexy nya tetap tak bisa di sembunyikan walau pake sarung sekalipun.


Dan Violin...


Pam mendelik melihat pakaian Vio, "ganti nggak?" Hardiknya galak.


"Apa sih?" Sahut Violin cuek, ia malah merapikan rambutnya keatas dan mengikatnya asal.


"Gue berasa emak lo!" Pam masih ngotot. Ogah banget dia melihat kaos putih berlogo NVD dan celana hotpants jeans yang di pakai Violin. Apalagi sepatu kets itu.


"Beneran lo mau hang out bareng kita apa ngecengin brondong?" Sofia setuju dengan Pam kali ini.


"Anggep aja kita keluarga, elo emak gue, Sofia kakak gue." tunjuk Vio ke Pam dan Sofia bergantian. "Dan gue anak bungsu yang imuuttt..." Violin meletakkan tangannya di bawah dagu sambil mengerjap-ngerjapkan mata bak boneka.


"Cih!" Pam melempar tisyu kearah Vio sambil ngakak.


"Ck, buruan ah siang niiihhh." Sofia nyelonong keluar duluan.


"Jangan lupa pintunya, Merry-nya lagi diculik si Junet." Seru Violin dari samping mobil.


Pam menutup pintu sampai terdengar bunyi Tiitt.


"Ribet amat, pintu dah smartlock juga. Lama-lama elo kan yang mirip emak-emak." Gerutu Pam, masih sempat-sempatnya ia memoles blush-on sambil jalan ke mobil.


"Pam..."


Tepat saat Pam menundukkan kepalanya untuk masuk kedalam mobil, Panji menahan lengannya.


Pam menoleh, ekspresi wajahnya terlihat B aja, "excuse me?" Tanyanya dengan sok angkuh. Sejak kapan juga nih cumi disini.


"Give me ten minute, please!" Panji memohon. Pam mengangkat alisnya.


"Buat apa? Kamu bukan lagi prioritas buatku." sahut Pam, ia melongokkan lehernya melihat sopir Panji, jarinya memberi tanda mobil ini mau lewat, nggak usah ngalangin jalan.


"Pam... so sorry!" Rayu Panji, ia setengah berlari mengejar mobil Violin.


"Mamam tuh cinta!" Rutuk Pam sebel.


Sofia dan Violin saling pandang.


"Gila, bisa ya lo bye gitu aja." Sofia beneran salut sama Pam, entah Pam yang sudah kebal atau memang terlalu masa bodoh.


Pam benar-benar memposisikan Panji begitu tak berharganya. Mungkin begitu cara ia membalas sakit hatinya.


"Entar gue cari yang lebih baik dari Panji, nggak perlu yang 'tahan lama' yang penting bisa 'lama banget'." Pam mengarahkan kemudinya ke jalan raya. Ia memasang kacamata hitamnya sambil tersenyum licik.


Violin meringis, "gila mulut lo, harus banget bahas s3lakangan?"


"Lah harus dong, gunanya nyari laki kan itu-itu juga."


"Nomor satu kenyamanan, Pam." Sela Sofia nggak mau kalah. "Abis itu perhatian..."


"Jangan lupa cek isi dompet, nggak papa nggak ada duitnya, yang penting kartunya banyak."


"Kartu kredit maksud lo?Hahaha..."


"Salah lo semua! Nomor satu ya urusan ranjang, kalau itu puas pasti nyaman."


"Anjaaayy slogan loooo... Hahaha...."


"By the way, bisa nggak sih kita nanya ke pihak hotel gimana caranya Panji bisa lepas?" Sofia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di paha. Serius dia kepo yang satu itu.


"Gue telpon nih?" Tantang Violin.


"Hmm... kalo elo yang telpon, mau lihat CCTV pun dikasih, Vioooo."


"Dah deh, mendadak bad mood nih bahas kuya satu." Pam sewot. Vio dan Sofi cekikikan.


"Ngopi cantik yuukkk..." Ajak Sofia.


"Nggak, gue mau nyari baju ke Mall." Sahut Pam. Pandangannya fokus ke jalanan.


Pam nyengir, "Sori gaes, gue perlu baju ganti. Males ngambil ke rumah si Kuya."


"Mendadak males gue!" Violin merebahkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya berputar malas.


"Iya nih, padahal pingin banget ke Dufan." Tambah Sofia.


"Dufan rame kalau weekend." Sahut Pam cuek.


"Ya kali jam kerja ke Dufan." Cibir Vio.


"Dah diem, gue yang bawa nih, nurut nggak?"


"Iyeee maaakkk..."


"Anjaaayy anak-anak gueee..."


*****


Dan di dalam emol saat belanja, Pam dan Sofia malah sibuk berdebat nggak penting. Violin milih nunggu sofa pojokan sambil asyik main game.


"Pam, ini terlalu s3xy!" Sofia memprotes baju yang di ambil Pam ke keranjang belanja.


"Apa sih, cuma buat di rumah juga." Pam mengambil kembali baju yang digantung Sofia.


"Malu kelihatan orang! Kan yang ronda suka keliling ambil jimpitan ke rumah."


"Anggep aja dapet bonus, kan?"


"Mending lo telanjang deh, nggak usah beli baju!" Sofi masih ngotot.


"Ck, lo pilih sendiri gih, nggak usah recokin gue!" Usir Pam.


"Ampuh dah ni anak bandel banget dibilangin." Gerutu Sofia. Ia bersungut-sungut meninggalkan Pam. Mending keluar beli minum.


Pam menempelkan jari telunjuknya di deretan lingerie jaring model terbaru.


"WOW... s3xy banget! Gue suka!" Pekiknya girang. Pada dasarnya Pam memang suka sesuatu yang s3xy dan berani. Pilihannya jatuh pada lingerie warna maroon.


Sebenarnya ia punya banyak warna terang begini. Warna-warna ini membuatnya terlihat semakin cantik, pas dikulitnya.


Ia meraih hanger baju itu. Namun seseorang menahan tangannya. Refleks Pam menoleh, bersiap ngomel karena barang incarannya direbut orang.


Tapi...


"Pam?" Desis orang itu. Pria tinggi dengan dada bidang yang hampir menempel di wajah Pam. Wangi maskulin eksklusif khas pria berkelas menyapa indra penciuman Pamela, ia langsung terpesona.


"Om Rion?" Bergantian Pam menatap wajah Rion dan lingerie di tangannya.


"Om mau yang ini?" Tanya Pam tak yakin. Yang ia tahu sih, Rion belum menikah ya. Mungkin untuk pacarnya?


"Iya, saya ambil ya. Maaf buru-buru." Rion langsung mencomot lingerie ditangan Pam dan langsung ke kasir untuk membayar tanpa memilih yang lain.


Pam mengamati sambil terpekur. Rion extra minta dibungkus pakai box dan si mbak-mbak kasir memasukkannya ke dalam tas berlogo toko mereka.


Sweet banget sih Rion, ngasih kado lingerie gitu. Eemm mungkin ia menginginkan gaya baru kali, ya? Pikiran jorok Pam langsung berkelana.


Kira-kira pria se eksklusif Rion sukanya gaya apa ya? Butterfly? Wheelbarrow? Crab? Missionarry? Standing up? Women on top? Spooning? D*ggy style?


Tapi dengan melihat warna lingerie yang dipilihnya tadi, ia pasti suka wanita yang agresif dan inisiatif.


Iiihh, kenapa jadi gemes sih. Pam meringis. Baru kali ini ia memperhatikan Rion dari dekat.


"Woooyy!" Violin menepuk pundak Pam. "Napa lo cengar-cengir? Mesum lo ya?" Ia menyodorkan es cappucino Boba extra cookies & cream. Pam langsung meminumnya.


"Cabut yuk ah, mending nongkican di cafe atas." Sofia mulai be-te nungguin Pam blanja. Ia melirik Pam yang menyedot boba-nya sambil senyum-senyum.


"Wah wah wah... beneran kesambet setan mesum nih anak." Ia langsung menyeret Pam.


******