Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Pilihan



"Pilih yang kamu suka, selanjutnya Dion yang urus."


Mahendra menyodorkan beberapa kertas ke hadapan Jeffry. Berisi beberapa rekomendasi Universitas unggulan dalam dan luar negeri.


Mereka kelar sarapan dan Bella masih sibuk di dapur dengan Mbok Mirah. Suasana dapur jadi riuh karena Mbok Mirah klop sekali dengan Bella. Banyak resep masakan yang sudah mengantri untuk mereka coba.


Dion menunggu ekspresi adik barunya ini.


Jeffry melirik kertas-kertas itu tanpa menyentuhnya. Ia menatap Mahendra.


"Ehem, sorry Om, eh Pak... Mungkin ada sedikit salah paham disini." Jeffry membetulkan letak duduknya jadi lebih santai.


Ia melipat kakinya sehingga dengkulnya nongol dari balik celana jeans belelnya yang robek itu.


"Setelah menikahi ibu, bukan berarti saya harus mengikuti aturan anda, kan?"


Dion menahan nafas. Dari jawaban Jeffry, fiks ini bakal jadi pe er berat untuknya, seperti kata Violin.


Anehnya Mahendra tersenyum lembut, seolah ini bukan masalah besar.


"Tentu saja, kamu bebas melakukan apapun keinginanmu. Tapi yang harus kamu ingat, kamu adalah anakku, tanggung jawabku. Kamu dan ibumu."


Jeffry mengusap janggutnya.


"Masalah harta, kamu akan mendapat bagian yang sama dengan Dion. Semua aset keluarga ini, kalian berdua yang akan mengelola."


Jeffry yang nggak paham soal harta dan aset hanya manggut-manggut sok tahu.


Selama hidup hartanya yang paling berharga adalah ibu dan rumah kecil yang ditinggalinya itu.


Jadi mana tahu dia soal aset keluarga Mahendra yang fantastis.


Yang ada di pikirannya saat ini harta dan aset Mahendra yang terlihat adalah rumah dan mobil.


"Boleh saya menolak, Pak?" Sahut Jeffry.


"Berikan alasannya." Mahendra menautkan jari-jarinya, menunggu jawaban Jeffry.


"Saya rasa saya cukup tamak kalau harus di manja dengan harta keluarga bapak. Saya masih punya kendaraan dan tempat tinggal. Dan pekerjaan juga. Selanjutnya untuk kelangsungan hidup tentu saya akan berjuang sendiri. Keinginan saya cuma satu, tolong bahagiakan ibu."


"Jadi kamu menolak kuliah dan membantu Dion?" tanya Mahendra lebih spesifik.


"Saya tidak ahli di bidang bisnis."


"Kamu bisa belajar, itulah gunanya kuliah."


"Otak saya cuma duit, Pak."


"Loh, sama."


"Juga saya nggak pintar, otak saya suka nge lag kalau disuruh mikir berat."


"Bisnis itu soal strategi, Jeffry."


"Tapi saya maunya berdiri di atas kaki saya sendiri, tanpa campur tangan orang lain."


"Oh ya? Apa balapan juga bisa tanpa kamu pinjam motor Roni?"


Refleks Jeffry menatap Mahendra, tajam.


Mahendra tersenyum lagi.


"Harapan ibumu begitu tinggi, Jeff. Jadilah anak penurut. Kamu di takdirkan sebagai pewaris, bukan perintis."


"Apa bapak mengancam saya?" Jeffry terlihat kesal.


"Saya tidak mengancam, tapi memberikan pilihan. Silahkan kamu pikirkan. Saya tidak memaksa."


Cih, tidak memaksa tapi ngancem. Dasar licik. Dion bergumam dalam hati.


"Saya tetap akan tutup mulut selama kamu kuliah dan siap membantu Dion. Harapan kita begitu tinggi kepadamu, Nak."


Jeffry mulai gusar. Mahendra dengan mudah memegang kartu AS nya. Dia bisa apa?


Perlahan Jeffry beranjak dari duduknya, "beri saya waktu buat mikir. Saya permisi."


Ia melenggang lesu keluar dari ruang kerja Mahendra.


Ia tak bersemangat. Batinnya kini berperang hebat.


"Papa terlalu kasar." tegur Dion waktu Jeffry sudah menutup kembali pintu ruang kerja Mahendra.


Orang tua itu menaikan alisnya, "Papa memberikan pilihan. Bukannya menjerumuskan."


"Iya, tapi pake ngomongin balapan? Itu kartu AS nya lho, Pa. Jeffry bisa-bisa membenci kita."


Mahendra menghela nafas, "Suatu hari anak itu akan mengerti. Lagian Papa nggak melarang dia balapan. Asal di tetap kuliah dan konsisten belajar dengan kamu."


Dion memijat pelipisnya, "itu urusan Papa, ya?! Aku males ikutan."


***


Perlahan Jeffry melangkah menuruni anak tangga depan rumah megah bapak barunya.


Jeffry mengedarkan pandangannya.


Ia merasa begitu kecil diantara pilar-pilar kokoh yang menyangga rumah ini. Berapa kira-kira tingginya ini? Kenapa terasa hampir menembus langit? Pikir Jeffry konyol.


Pandangan Jeffry turun ke lantai. Betapa baju yang dikenakannya terlihat kucel diantara lantai granit yang di pijaknya, mirip kain pel.


Ia menyugar rambut dan menengadahkan kepalanya. Detik selanjutnya dia tersenyum getir.


Seharusnya saat ini dia merasa senang. Ibu sudah ada yang menjaga. Dan ia seperti dapat lotre, bapaknya kaya. Dia mau apa mungkin Mahendra bisa memberikannya.


Seperti mobil Dion yang terparkir manis itu, Jeffry melirik mobil hitam Dion.


Apa dia minta motor balap aja ya? Daftar mamber VVIP di sirkuit biar bisa latihan rutin tanpa di persulit.


Tapi...


Hufff...


Jeffry menghela nafasnya.


Apa ia mampu menuruti keinginan Mahendra untuk membantu Dion?


Benar kalau ia terbiasa memutar otak biar dapet duit untuk beli beras biar ibu nggak ngutang lagi di warung sembako. Tapi mutar otak di kerajaan bisnis sebesar itu, apa ia mampu?


Sebuah tepukan lembut di bahu menyadarkan lamunan Jeffry.


Dion berdiri gagah disamping Jeffry, tampak keren dengan kacamata hitamnya. Kedua tangan Dion tersimpan di kedua saku celana.


Jeffry memandang silau. Dion nampak seperti Apollo, dewa paling tampan di mitologi Yunani kuno, tampan dan bercahaya.


Apa ia akan tampak segagah ini jika memakai suit dan sepatu mahal seperti yang di pakai Dion?


Berapa kira-kira harga kacamata itu? Apa bisa untuk beli pagar rumahnya yang sudah berkarat dan rodanya patah?


Apa nanti ia akan dihormati juga seperti Dion yang setiap lewat semua orang akan menunduk?


Apa ibu akan bangga jika ia seperti itu?


"Om, boleh pinjam kacamatanya?" Celetuk Jeffry.


Meski agak bingung dengan permintaan Jeffry, toh Dion tetap mengulurkan kacamata itu dan memberikannya ke Jeffry.


Dion pikir Jeffry akan ngomongin hal lain. Mungkin bertanya pendapatnya soal permintaan Papa.


Cukup mengejutkan anak ini malah minta kacamata.


"Rasanya sama aja kayak kacamataku yang dirumah. Kenapa ini bisa mahal, sih?" Gumam Jeffry sambil mencoba kacamata itu.


"Darimana kamu tahu itu mahal?" Sahut Dion.


"Ya kalik Om Dion pake yang murahan!"


"Ck, jangan panggil Om, aku kakakmu."


"Eh sorry , suka refleks."


"Itulah gunanya punya duit banyak, Jeffry. Kalau kamu kaya, punya harta dan tahta, barang semurah apapun akan terlihat mahal jika itu menempel di badanmu."


Dion mencoba menjelaskan dengan sederhana.


Jeffry manggut-manggut.


"Kamu suka sedekah?" Tanya Dion.


"Orang sedekah nggak perlu diceritakan, riya' itu namanya."


"Saya cuma nanya, jawab aja."


"Ya suka lah, sedekah kan banyak untungnya."


"Sedekah apa yang paling sering kamu berikan?"


"Senyum." Jawab Jeffry sambil nyengir.


Dion menepuk jidatnya.


"Aku miskin, mana kuat sedekah selain senyum dan tenaga."


"Hmmm... oke aku ganti pertanyaan, sedekah apa yang paling besar yang pernah kamu berikan?"


"Uuummm... apa yaa..."


Dion tersenyum simpul, "Kalau kamu punya harta, jangankan duit, rumah kamu sedekahkan juga nggak bakalan berasa berat...


"Setidaknya kalau kamu punya duit, kamu bisa berguna bagi sesama." lanjut Dion sambil berlalu.


Jeffry tercenung.


***