
"Bapak gimana sih kok lupa? Tumben bisa lupa sama cuan." Rion ngomel-ngomel disamping Atmanegara. Ia kesal karena big boss-nya itu sekarang lebih banyak menghabiskan waktu diluar pekerjaan daripada urusan kantor.
Alhasil Rion yang kalang kabut sendiri. Sekarang ia sedang protes karena sudah kelewat batas.
Atmanegara menghirup rokoknya santuy. Ia anggap omelan Rion seperti rengekan anak kecil yang ngambek minta seblak pedes tapi dikasihnya yang level satu. Auto nggak selera lanjut makan lagi.
"Problem yang mana sih?" tanyanya sambil melirik muka Rion yang masam. Ia sebenarnya sudah tahu mengenai masalah pembebasan lahan pabrik barunya yang di pesisir selatan itu.
"Saya nggak yakin bapak nggak tahu?" Sinis Rion.
Sumpah ia capek dan kepalanya pusing. Sudah seminggu sejak istri big boss meninggal ia kurang tidur, nggak sempet pulang untuk istirahat dan lagi kebutuhan biologisnya tidak sempat tersalurkan. Membuat kepalanya nyut-nyutan nggak karuhan.
Ia butuh endorfin.
Atmanegara menyesap lagi rokoknya. Ia manggut-manggut sambil mempelajari laporan Rion.
"Apa tim lapangan sudah maksimal? Ini masalah sepele loh, kenapa ujungnya alot begini? Yang di Condet aja mulus." Atmanegara menyindir Rion. Ia tidak suka kegagalan.
Rion sudah malas menjawab. Lagian semua sudah ia kirimkan lewat email. Kurang jelas bagaimana lagi?
"Seperti yang saya laporkan sebelumnya Pak, ada pihak-pihak terkait yang mencoba menggagalkan proyek ini. Saya amati tempat ini dekat daerah bapak, mungkin ada masukan untuk penyelesaiannya?"
"Hmmm... kalau harus saya, lalu apa gunanya saya gaji kalian?" Atmanegara mengetuk-ngetuk jarinnya di paha.
Rion menggerutu. Ia sebal dengan jawaban boss-nya yang congkak. Tapi kalau dipikir, bener juga sih. Hufff...
"Yaudah itu dulu pak, saya permisi, masih banyak pekerjaan." Rion balik badan berniat meninggalkan ruangan Atmanegara. Ia benar-benar butuh wanita saat ini.
"Hei Rion..." panggil Atmanegara. Rion menoleh malas.
"Kalau kamu bosan, silahkan buka lowongan pekerjaan." Tantang Atmanegara. Diskusi belum menemukan titik terang tapi Rion pamit pergi seenaknya. Minta ditampol nih anak.
"Jadi harusnya gimana, pak? Saya beneran butuh istirahat neh, bapak yang bener aja dooonggg..."
"Gitu aja rewel, merajuk. Yang laki dong!"
"Saya bukan bapak loh yang bisa kerja macam robot." Sungut Rion.
"Yowes, besok kita tinjau lapangan. Hari ini kamu bisa istirahat. Pagi saya mau harus siap semuanya." putus Atmanegara akhirnya.
"Ck, dari tadi kek."
"Lemah kamu, makanya nikah jangan cuma kawin mulu!"
"Eeerrr..." geram Rion. Ia tidak lagi mengindahkan ocehan bosnya.
"Nggak usah sampai pagi check in nya!" Seru Atmanegara.
"Bapak boleh ikut loh." tawar Rion julid.
"Saya nggak kayak kamu."
"Saya kayak apa, Pak?"
"Kayak kucing, kawin mulu!"
"Hehehe. Makasih Pak!"
Dan Rion pun berlalu.
Atmanegara meraih ponselnya, ia menscrol nomor Maharani yang masih ia simpan. Meski ponsel Rani hanya ia simpan di laci meja kerjanya di rumah.
Biasanya kalau pulang kampung, Rani yang paling antusias. Walaupun ini masalah pekerjaan, dia pasti akan ikut.
Alasannya adalah karena ia sudah tidak mempunyai orang tua, jadi ia benar-benar menyayangi mertuanya seperti orang tuanya sendiri.
"Bahagialah kamu di surgaNya, sayang..." Bisik Atmanegara, ia tersenyum, meski kedua matanya memanas. Sekilas ia mengelus deretan nomor yang tertera di layar.
Lalu ia mengusap nomor Violin.
"Ya?" Sahutan dari seberang. Atmanegara mengerang tak suka dengan kata sambutan anaknya itu.
"Besok Papa mau ke Jogja, kamu boleh ikut."
Ajakan macam apa ini? Seolah-olah Violin yang sudah lama merengek diajak.
Vio meletakkan pena kesal. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan kesabaran. Jujur ia belum terbiasa meladeni bapaknya ini.
Bagaimana ibunya dan Rion bisa tahan selama ini, ya?
"Tumben?"
"Hmm, sekalian tengok Simbahmu."
Violin terdiam mendengar kata Simbah. Bapak ibunya memang mengajarinya memanggil orang tua Atmanegara dengan sebutan Mbah, Mbah Kakung dan Mbah Putri. Panggilan khas orang Jogja kepada nenek kakeknya.
Seperti apa mereka sekarang? Sehat, kah? Lama sekali sejak terakhir ia kesana. Ia bahkan lupa saat umur berapa.
Sebenarnya ia ada janji dengan Pam dan Sofia. Mereka berdua kompak protes tentang Vio yang jarang pulang.
"Boleh aku ngajakin Pam Sofia?"
"Sebenarnya Papa ada kerjaan, disana kamu bisa lebih dekat dengan Mbahmu. Kalau ngajak mereka ya jelas kamu bakal main tok di Jogja."
"Nanti Mbah tak ajakin main."
"Mbahmu nggak kuat muterin Mall."
"Kan ke Malioboro, Pa."
"Apalagi Malioboro."
"Jadi gimana?"
"Asal stay di rumah, kalian boleh ikut. Kalau cuma mau keluyuran mending nggak usah."
Violin mencibir.
****
Diluar dugaan, si kembar sial malah jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Mau gueee... Yaaayy akhirnya kita liburan." Seru Sofia senang. Diantara mereka bertiga memang Sofia yang jarang keluar rumah. Harus dengan Pam atau nggak Vio.
Masih mending pas masih ada Merry, setidaknya dua hari sekali mereka belanja ke pasar.
"Lo berdua yakin? Ini kita nggak boleh keluyuran loh." Violin memicingkan matanya.
Ia pulang ngantor langsung nyamperin bocah dua. Sekalian ngambil pakaian ganti.
Sofia yang lagi mengedit video langsung menutup laptopnya dan ikutan packing.
"Rumah bapak lo deket pantai, kan? Lumayan laaahhh, anggap aja liburan, nge refresh otak bentar." Jawab Pam. Ia sudah rapi dengan pakaian kurang bahannya, bersiap pergi entah kemana.
"Lagian kan yang dilarang keluyuran elo, bukan kita." tambah Pam.
"Serah kalian deh, yang jelas awas kalau sampai bikin ulah." ancam Vio.
Pam terkikik, "Dah lah, cabut bentar gue." Pamit Pam sambil menyemprotkan parfumnya di area leher.
Pandangan Violin menyelidik, "nggak ketemu Panji, kan?" Ia curiga karena penampilan Pam kali ini mirip-mirip saat akan ketemu Panji dulu. Terlalu sexy dan menggoda.
"Dih, najis!" elak Pam.
"So?"
"Gue butuh something make me happy." Pam mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Yang bikin lo seneng cuma se xs, anjir!" pekik Violin.
"Lihat-lihat orangnya juga kaliii, gue bukan pela cur."
"Ck!"
"Bye Vio." Pamit Pam sambil mencolek dagu Violin, extra menggigit bibir bawahnya dengan gaya sexy.
"Jangan larut, kita pergi pagi-pagi loh."
Pam menjawab dengan tanda OKE dengan yakin.
Meski keesokan harinya ia benar-benar pulang telat banget. Saat Vio dan Sofia sudah bolak balik keluar masuk mobil, resah nungguin Pam karena panggilan ponsel yang di abaikan.
Sempat ingin cabut tanpa Pam tapi tak lama kemudian Pam terlihat keluar dari taxi online dengan kacamata hitamnya, berjalan anggun memasuki mobil Violin.
Senyumannya tersungging tanpa bisa ditutupi. Vio dan Sofia sampai berpandangan sebentar lalu menghela nafas barengan.
Fixs, semalaman Pam beneran dapet 'something happy' yang dia mau. Kelihatan banget dari raut wajahnya yang jelas-jelas menunjukkan kepuasan.
****