
Seperti apa semua ini tertulis
Aku tak mengerti
Saat asa dan hampa bersama
Aku hanyalah rona
Pendar-pendar yang tercipta
Seakan hilang tak bermakna
by Jenk Kelin
Violin menatap tetesan hujan yang mengembun di jendela kantornya. Pandangannya menerawang jauh. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Ia hanya merasa kosong.
Sepulang dari kantor pengadilan tadi, Rob mengantarnya ke kantor Barbara Brand. Bahkan ia memastikan Violin masuk dengan selamat kedalam ruangannya.
"Bro..." Juno menyenggol lengan Rob meminta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan bosnya itu.
Rob mengedikkan bahunya, lalu menyodorkan kertas berwarna kuning kepada Juno. Pria itu langsung mengerti.
"Nitip ya bro, gue balik duluan. Kalau perlu pastikan dia pulang kerumah dengan selamat." Pamit Rob. Ia menyerahkan kunci mobil Vio dan tas bento berwarna pink bergambar Patrick star.
"Tumben Violin bawa bekel?" Gumam Juno sambil berjalan menyusul Vio.
"Wah wah waaahh... congratulation ya bu Vio. Welcome to freedom!" Juno meletakkan kunci dan akta cerai di meja Violin. Tapi ia membuka kotak bento dengan sigap.
Merry sengaja membawakan dua box bento nasi kuning karena Violin yang meminta. Niat hati ingin makan bareng Rob malah mood-nya rusak gara-gara Mama dan bapak mertuanya.
Merry yang iseng karena belum tahu jika majikannya adalah janda kembang malah sengaja membawakan box berwarna pink dan biru. Ia pikir pasti Vio ingin memberikan bento itu untuk pacarnya.
Violin melirik sekilas dan kembali tak peduli dengan tingkah asistennya itu. Emang karyawan nggak ada akhlak ya model Juno begini.
"Waw... catering mana nih, Vi?" Ia mecubit potongan sosis lalu memakannya.
"Emmm... rasa sosis sapi, yah?" ucap Juno konyol. Emang bener-bener minta ditimpuk, kan?
"Cuci tangan dulu, Junet!" Omel Vio.
Juno membuka kedua telapak tangannya di depan Vio, "bersih dong, weekk!"
"Jorok lo!" Vio bergidik.
Juno malah beralih mengambil sendok lalu menyuapkan sesendok besar nasi kuning yang sudah di mix dengan teman-temannya.
Juno tertegun, ia menghentikan kunyahannya. Ia seperti mengenal rasa masakan ini.
"Kenapa berhenti? Inget emak lo juga?" Tanya Vio menyelidik.
"Ehem..." Tenggorokan Juno tiba-tiba kering, ia meraih tumblernya dan meneguk air dengan cepat.
"Entahlah, rasa ini seperti familiar." Juno melanjutkan suapannya. "Memangnya ini beli dimana sih?"
"Gue yang bikin."
Juno menegak lagi air minumnya, seret banget jawaban Vio.
"Cih, kadal aja nggak bakal percaya omongan lo." Cibir Juno. "Masak Indomie kornet telur aja nggak bisa, apalagi bikin nasi kuning komplit begini."
"Sueee lo."
Vio meraih sendok dan ikut mencicipi masakan Merry. Beneran enak dong. Akhirnya mereka berebut box bento Patrick star itu.
"Elah bocah." Cibir Malik yang baru saja lewat depan pintu bosnya yang tidak tertutup rapat.
******
Violin melirik jam tangannya, pukul sepuluh malam. Ia celingak celinguk dijalan sepi menuju rumahnya.
Belum terlalu malam sebenarnya, tapi kenapa sepi gini sih jalanan? Tinggal deket lagi ke arah rumahnya lalu tiba-tiba mobilnya macet. Mana nggak ada orang lewat.
Tadi waktu pulang ia menolak tawaran Juno yang menawarkan diri untuk mengantar. Ia meyakinkan Juno bahwa dirinya baik-baik saja. Sekarang malah dirinya yang ketiban sial.
Huft...
Lalu ia memilih menutup kap mobil dan duduk diatasnya. Ditekannya nomer Juno.
Tidak aktif.
Oke mungkin ponsel Juno kehabisan daya. Lalu ia menscrol kontak lainnya. Nomer Rob.
Diluar jangkauan.
Bagus, semua tidak aktif jika sedang dibutuhkan.
Lebih baik menghubungi derek dari bengkel saja lah, putus Vio.
Ia menscrol lagi.
Dan nihil, ia tidak menyimpannya. Dulu saat masih tinggal dengan Atmanegara, ada orang khusus yang bertugas mengecek rutin koleksi kendaraan bapaknya dan semua mobil di garasi. Untuk mengisi bahan bakar pun termasuk pekerjaan mereka. Saat menjadi nyonya Dion Mahendra pun sama.
Lalu mana pernah Vio merasakan kendaraan yang tiba-tiba macet begini? Inikah yang dinamakan hidup mandiri? Kenapa seribet ini? Violin cemberut.
Ia memutuskan bertanya ke embah segala embah, yaitu Mbah Google.
Yup, dapat nomor bengkel yang buka dua puluh empat jam yang terdekat dari tempatnya ini.
Lalu sebuah tepukan dipundak mengagetkan Violin.
"Tante mau ngapain? Maling ya?" Suee benerrrr, tampang glamor macam Vio dikira maling.
"Kagak! Gue mau nyulik para bocah macam elu!" Jawab Vio sebal.
"Waw... mau dong diculik." Seloroh bocah itu. Vio taksir umurnya masih dua puluhan. Tampangnya masih baby face dan modelan yang jika tersenyum saja bisa menular ke lawan bicaranya.
Termasuk tampan dengan tinggi badan menjulang. Vio hanya sebatas dadanya. Kulit bocah itu agak kecoklatan, mungkin karena sering terkena sinar matahari. Entahlah, lampu jalan malam hari kebanyakan sering menipu.
Bocah itu menyugar rambut ikalnya yang agak gondrong.
"Mobil ini macet, kamu ngerti mesin nggak?" Dengan ragu-ragu Vio mencoba peruntungannya, berharap bocah ini bisa membantu. Satu-satunya orang yang lewat hanya dia, mau gimana lagi?
Anak itu memandang mobil hitam Vio lalu bersiul. Dengan pandangan mengagumi sambil tangannya mengelus body mobil itu.
"Gilak, sexy banget nih Maybach!"
Violin memukul tangan anak itu.
"Aww... ssshhh." si bocah meringis sambil mengibaskan tangannya.
"Sebentar saya cek dulu kap nya, Tan."
Violin agak menyingkir, memudahkan anak itu mengecek mesin mobilnya.
"Nggak ada yang berasep macam Kunti yang datang tiba-tiba." Gumam anak itu. Lalu ia mengecek air aki-nya, aman.
Vio mengelus tengkuknya yang tiba-tiba meremang mendengar anak itu menyebut-nyebut nama salah satu setan legend dari bangsanya. Hampir tengah malam ini woy!
"Boleh pinjam kuncinya, Tan?" Anak itu menengadahkan tangan kanannya. Refleks Vio menyerahkan kunci itu. Bocah itu masuk kedalam mobil Violin, sedetik kemudian keluar dan mengembalikan lagi kunci ke Vio.
"Mobilnya sih keren, tetep aja nggak jalan kalau nggak ada bensinnya. Tante beneran nggak nyuri nih mobil kan?" Anak itu masih curiga.
Violin berdecak, apa sih yang ada dipikirannya hari ini? Bahkan sampai kehabisan bahan bakar pun nggak dia sadari. Duh, mana masih lumayan lagi jarak ke rumahnya. Mana coba yang jual?
"Tante tunggu sini, aku nyari dulu yang jual eceran, ya?!" Bocah itu menuju motor maticnya bersiap tancap gas.
Sejak kapan coba ada motor disitu? Perasaan tadi datang jalan kaki. Atau Vio yang nggak ngeh? Duh kok jadi takut sih.
Ragu-ragu Vio menahan lengan bocah itu.
"Tunggu. Ngggg... boleh saya ikut?" tanyanya ragu-ragu.
Bocah itu menaikkan alis tebalnya. "Tante? Saya nggak naik mobil atau kereta kencana loh? Yang ada pulang-pulang masuk angin kalau nekat bonceng motor ini."
"Ck, nggak usah lebay. Udah jalan!" Vio langsung nangkring di jok belakang. Tangannya mencengkram pundak si bocah.
"Duh Tan, bisa nggak pegangannya di pinggang aja biar lebih romantis. Saya bukan kang ojol lho ya."
Violin mencubit pinggang bocah itu kuat-kuat.