
"Pah, apa sih maksudnya ini? Nggak ada ya, lamar-lamaran. Aku nggak suka dipaksa!"
Violin menghampiri Atmanegara yang sedang memberi makan ikan arwananya yang berenang malas didalam akuarium megah itu.
"Loh, Papa nggak maksa. Damar kan yang mau? Papa sih, gimana kamu." Jawab Atmanegara, masih menaburkan makanan ikan meski si ikan cuma melotot doang.
"Gimana aku tapi rumah open house gini, nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba terima orang datang melamar. Papa sengaja bikin aku minggat ya?"
"Hush, ngawur kamu." Atmanegara menghentikan aktifitasnya, ia menghampiri sofa di dekat akuarium. "Sini duduk." ujarnya sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Meski dongkol, Vio nurut juga. Ia duduk disebelah bapaknya.
"Papa bukannya sembarangan memilih laki-laki, apalagi untuk menjadi teman hidupmu. Tentu kualitasnya terjamin ori."
Vio memiringkan kepalanya, ia menatap bapaknya penuh tanya. Tapi Atmanegara sengaja mengabaikannya.
"Aku menolak!" Tegas Vio dalam satu tarikan nafas.
"Papa tahu aku pernah gagal dalam pernikahan, aku nggak mau gegabah Pa, seumur hidup itu lama. Apa jadinya jika aku menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai?" Vio melipat tangannya didepan dada. Ia benar-benar kesal.
"Sekarang Papa tanya, apa jadinya pernikahanmu dulu, yang katanya dilandasi dengan cinta itu, hm?"
Vio melirik Atmanegara, percuma sebenarnya berdebat dengan pria tua ini. Tapi Vio nggak bisa dong diginiin, enak aja.
"Hancur, kan?" Tanya Atmanegara lagi. "Bagi seorang perempuan, nikahilah orang yang mencintai kamu, bukan yang kamu cintai."
"Damar nggak cinta aku, Pa!" Sela Vio sambil menunjuk dadanya dramatis.
Atmanegara malah tersenyum, "Cinta itu bukan ungkapan, cinta itu perbuatan."
"Cih, berani taruhan, Damar itu hanya mengincar harta Papa. Nanti ending cerita hidupku bakal sama kaya novel-novel online itu. Menikah karena dipaksa, akhirnya bapaknya mati, hartanya dibawa lari, aku hidup menderita dijalanan."
"Hahaha..." Atmanegara tertawa keras sekali, sampai air matanya keluar di ujung mata.
"Makannya jangan kebanyakan baca novel online Vio, penulisnya lupa kalau ada perjanjian pra nikah. Hahaha..."
"Apa kalau aku nikah sama Damar, Papa bersedia jadi jaminan?" Ini jalan terakhir Vio, mengancam bapaknya.
Atmanegara mencondongkan tubuhnya, tangannya terulur memegang ubun-ubun Violin.
"Atas nama ibumu, Papa bersumpah akan membunuh Damar dengan tanganku sendiri, jika ia berani menyia-nyiakanmu."
Bulu kuduk Violin merinding, ia melengos nggak berani menatap mata Atmanegara.
***
Violin duduk disebelah Damar dengan muka cemberut. Ia sama sekali nggak bisa senyum. Saat fotografer minta pun Vio nggak peduli.
Beda banget sama Damar yang tanpa diminta pun udah cengengesan.
Sesi lamaran baru saja usai. Dihadiri keluarga inti saja. Tapi sambutan Atmanegara terlalu berlebihan, seperti biasanya. Pakai fotografer, pakai MUA juga. Haduuuuhh... bapak kita satu itu memang lah.
"Mbak, senyum dikit dong, yak ampuun cantik-cantik nggak bisa senyum." Gerutu si mas tukang foto saat dirinya sudah kesal dengan ulah Vio. Mulutnya sampai berbusa loh ini.
Violin tetap cuek.
"Astaga Mbaaakk... kita tukeran posisi aja yuk?!" kata si Mas terakhir kalinya, ia sudah pasrah dengan hasil jepretannya nanti.
Bagusan juga dia yang bersanding dengan calon pengantin pria itu. Udah ganteng, ramah pula. Sayang yang cewek senyumnya mahal minta ampun.
Meski dandan cantik, tapi tanpa senyum juga nggak bakal bagus biar diambil candid juga.
Damar mengedipkan matanya, memberi kode Mas fotografer untuk stay camera.
Damar meraih kedua tangan Violin, lalu menatapnya. Mau tak mau Vio membalas tatapan Damar, gila mepet banget nih hidung.
Vio hampir menoleh saat bibir Damar mengecup pipi Violin, wanita itu ternganga.
Mas fotografer ikut tersipu.
"Heiii..." Protesnya geram. Vio nggak berani teriak karena masih banyak orang disana.
Vio mencubit perut Damar.
Tau Vio nggak akan berani teriak kuat-kuat, Damar meraih pinggang Vio biar mepet ke tubuhnya. Nyari kesempatan aja sih.
Vio berontak, dia menginjak ujung kaki Damar pakai heels.
Berhasil lepas karena Damar meringis kesakitan, Vio hampir kabur saat tangannya ditahan Damar.
Si Mas fotografer tambah tersipu malu. Yak ampuun, romantis banget sih, bakalan epik nih hasil jepretannya. Si mas berjanji akan membuat versi video dengan backsound lagu India. Aw awww... Bagusnya kuch kuch ho ta hai apa har dil jo pyar karega, ya?
"Kamu niiihh, sabar Damar, ini baru lamaran." Rudolf menjewer telinga Damar kuat-kuat.
"Maunyaaaa... Coba tanya Vio mau nggak langsung akad?"
Vio terpaksa senyum, meski nggak ngomong apa-apa. Nggak sopan juga cemberut didepan Om Rudolf.
"Tuh kan, Vio nya mau." Seru Damar.
"Vio nggak bilang apa-apa, tuh." Sahut Rudolf.
"Ngomong tadi Pa, masak nggak denger."
"Sabar Damar, seminggu lagi."
"Apa??" Pekik Violin kaget, dia nggak tahu apa-apa, tiba-tiba seminggu lagi aja.
"Loh, Damar nggak bilang sama kamu?" Rudolf mengrenyitkan dahinya menatap calon menantunya itu.
Violin menggeleng dramatis, gila kepalanya langsung pusing. Ia butuh pegangan.
"Seminggu kelamaan, Papa sih." Damar masih berdebat dengan bapaknya.
"Justru itu terlalu cepat, persiapan pernikahan itu banyak. Memangnya kamu siap? Kasihan dong Violinnya."
"Damar sih siap, siap banget malah. Gimana Vi, besok akad?" Damar menoleh, menatap Violin.
Violin oleng, matanya meredup, kepalanya berat. Sumpah sekitarnya langsung gelap.
***
Cinta...
Benarkah adanya?
Bagaimana tahu ada cinta jika wujudnya saja tak ada.
Tak bisa disentuh, tak bisa diraba. Namun katanya bisa dirasa.
Cinta yang Violin tahu, hatinya akan berdebar jika dekat dengan cintanya.
Wajahnya tersipu jika dipandang oleh cintanya.
Perutnya berbunga-bunga jika cinta itu menyapanya.
Dulu dengan Dion, Vio pernah merasakan cinta itu.
Cinta...
Nyatanya ada, nyatanya bisa dirasa.
Lalu mengapa masih bertanya bagaimana rupa sang cinta?
Apakah itu ungkapan, atau perbuatan? Mana yang harus Vio percaya? Alangkah indahnya jika bisa mendapatkan keduanya, kan?
Serakah?
Memang iya!
Bagi orang yang pernah terluka, Violin ingin sekali serakah. Apakah bisa?
Malam ini ia melamun dipinggir ranjang rumah sakit. Selang infus bergelantungan ditangannya. Kebayanya pun sudah berganti dengan baju pasien.
Violin menghela nafas, ia ingin sekali serakah.
Tapi harapannya pupus saat menatap Damar yang sedang tidur menelungkup disampingnya berbantalkan lengan.
Harusnya ini adegan romantis, si wanita sedang sakit, si pria menungguinya dengan setia.
Tapi kenapa Vio jadi pingin nangis sih lihat muka Damar.
Gini amat dipaksa kawin tanpa bisa berbuat apa-apa.
Vio memiringkan tubuhnya mengahadap Damar, ia memejamkan matanya, perlahan ia mulai terisak.
Violin tak tahu jika Damar terlatih peka bahkan disaat tidur. Damar membuka matanya tanpa berpindah posisi. Ia menatap Violin yang menangis dalam diam.
Ia menunggu Vio sedikit tenang, diulurkan tangannya untuk menyingkirkan anak rambut Vio yang menutupi sebagian wajah cantik itu.
"Ssstt... don't worry, everything gonna be oke..." Bisik Damar, ia menepuk-nepuk lengan Violin pelan sampai wanita itu terlelap memeluk mimpinya.
***