
"Ini serius sebulan, Pa?" Sofia memandang bapaknya tak percaya. Ia dilarang bertemu atau berhubungan dengan Jeffry selama itu.
Bagaimana bisa?
Pacaran baru anget-angetnya dah nggak boleh ketemu aja.
Antonio meminta pengertian anaknya soal Jeffry.
"Papa juga nggak tega, Fia. Papa tahu Jeffry anak baik. Tapi biarkan dia mandiri dulu secara finansial."
"Om Hendra juga keterlaluan!" Sofia geram saat Papanya menjelaskan rencana Mahendra.
Ia iba ke Jeffry, pasti sekarang anak itu lagi galau.
"Tapi Papa setuju jika ini demi kebaikan Jeffry."
"Iya tapi caranya yang salah."
"Hmm, Mahendra mungkin lebih tahu. Kita lihat saja nanti hasilnya..."
"Ini jatuhnya nyiksa aku juga loh, Pa."
"Sebulan saja sayang, Papa janji cuma sebulan, setelah itu kamu boleh bertemu Jeffry kapan saja."
Sofia menyilangkan tangannya.
"Kamu pingin liburan kemana? London? Paris? maybe Tokyo? New york? or Hollywood? Tawar Antonio.
"Aku mau kerumah grootmoeder." (nenek dalam bahasa Belanda)
"Oke deal, sore ini kamu berangkat ke Amsterdam."
Sofia menekuk mukanya.
***
Jeffry memandang langit malam ini. Ia berbaring dibangku taman tengah kota sambil memeluk botol jus buah yang isinya masih setengah.
Pingin minum beer kok nggak terbiasa, takutnya mencret. Level lambung Jeffry cuma sekelas es jus soalnya.
Ia menghitung bintang yang bertaburan bahagia malam ini. Mereka bebas berkelap-kelip semaunya, tapi jika matahari mulai muncul, mereka tak lagi terlihat.
Apa kini ia seperti bintang itu? Boleh bebas asal terbatas.
Sebenernya tidak ada yang salah dengan keinginan Mahendra. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Itu yang sedang bapaknya upayakan.
Tapi bukankah kenyamanan orang itu beda-beda. Apa gunanya hidup kalau kita tidak bisa menikmati. Katanya hidup cuma sekali.
Dan menjadi orang kantoran adalah impian ibunya dulu, bukan impiannya. Sekarang tambah dukungan bapaknya. Kurang kompak gimana lagi mereka?
Hufff... Baiklaaahhh...
Ia akan mencoba menuruti keinginan Mahendra, kita lihat akan jadi apa kelak. Dirinya dengan kemampuan otaknya yang pas-pasan ini.
Jeffry duduk lalu meneguk sisa minumannya sampai habis.
Ia melirik ponsel, belum ada kabar dari Sofia.
Jeffry lunglai, dimana wanita itu?
Sedang apa dirinya?
Apa dia juga merindukannya?
Apa Sofia baik-baik saja?
Astaga, ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Sofia.
Jeffry meraup mukanya, sumpah ia bingung setengah mati.
"Jeff..."
Seseorang memanggil namanya, Jeffry mendongak.
Dion berdiri sambil menyimpan tangannya disaku celana. Kakaknya ini masih memakai suit lengkap, rambutnya masih klimis, baunya juga masih semerbak mewangi.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Dion mengamati sekeliling. Taman sudah sepi dan ini hampir tengah malam.
Dion baru saja pulang lembur, kerjaan kantor lagi gila-gilaan. Ia melihat motor Jeffry terparkir dibahu jalan. Dion ingin tahu apa yang dilakukan anak itu ditaman jam segini.
Jeffry diam saja.
Dion duduk disebelah Jeffry.
"Ada apa? Kamu bisa cerita."
"Mas Dion sama aja kaya bapak."
Dion mengrenyit, "maksudnya?"
"Sama-sama egois."
"Hahaha... Kamu lucu."
Hawa mulai serius, Dion merapatkan bibirnya. Sepertinya kali ini bapaknya agak keterlaluan. Jeffry anak yang cukup humoris, kalau dia ketus, pasti ini sudah melampaui batas.
"Jeffry, apa kamu tahu siapa mantan istriku?"
Lah malah curhat, Jeffry melengos.
"Ya Tante Vio kan? Pameeerrrr..." Jeffry mencibir.
Dion tersenyum kecut, "Sudah jadi mantan, buat apa pamer?"
"Sejak kecil aku sudah dididik menjadi penerus tahta keluarga ini. Aku tidak punya waktu bermain-main. Hari-hariku belajar dan belajar. Sampai aku bertemu Violin. Wanita itu cantik, baik dan mandiri. Semua didirinya aku suka. Vio memberikan warna di hidupku yang monoton ini."
Kali ini Jeffry agak tertarik, ia menoleh menunggu cerita Dion selanjutnya
"Papa sakit beberapa bulan setelah kami menikah. Keadaan ini memaksaku tetap berdiri walau aku tak mampu. Aku mengorbankan semuanya termasuk Violin."
Dion menjeda ceritanya. Udara malam yang dingin seolah membuat hati Dion kembali mellow.
"Kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya mengorbankan sesuatu yang begitu berharga. Dalam hidup begitu banyak pilihan, tapi ada saatnya kamu nggak bisa egois."
"Bersyukurlah kamu pernah hidup bebas sampai saat ini, setidaknya kamu pernah merasakannya. Kamu lebih beruntung daripada aku."
Jeffry menatap rumput dibawahnya.
"Besok kamu mulai kuliah, baiknya istirahat." Dion beranjak dari duduknya.
"Ayo..." ajak Dion saat melihat Jeffry masih bengong ditempatnya.
Jeffry melengos, "Aku nanti saja..."
"Mulai hari ini kamu tinggal denganku."
Jeffry menunduk lagi, untuk urusan tempat tinggal saja sudah diatur sedemikian rupa.
Dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Mau gimana lagi? Duit di dompet tinggal sisa dua puluh ribu, mana cukup buat nyari kosan.
Akhirnya dengan langkah lunglai, Jeffry mengikuti langkah kakaknya.
***
"Jepriiii... dimana kamu?" wajah si ibu nongol dari layar ponsel tepat saat Jeffry baru saja masuk kamarnya di apartemen Dion.
Seharian Isabella mondar-mandir nelpon Jeffry nggak ada jawaban. Dapat kabar dari pak RT rumah mereka kebakaran saat Jeffry pergi kerja.
"Jeffry diculik buuuu... help meeee..." Jawab Jeffry lenjeh.
"Halah, nggak ada yang mau nyulik bocah semprul kayak kamu."
Jeffry pura-pura sakit hati, "Ganteng-ganteng gini banyak yang suka lho Bu, jangan salah."
"Iya, banyak yang suka. Suka pingin gebukin."
Jeffry terkekeh, "Ada apa sih Bu, kangen ya?"
"Seharian loh kamu nggak ada kabar, sampai jam segini baru angkat telpon ibu. Kemana saja kamu? Itu rumah kebakaran apa saja barangmu yang hilang?"
"Nggak ada Bu, Jeffry nggak punya barang berharga. Paling cuma hati doang ini yang ikut terbakar."
"Heleh, aleman! Terus sekarang tidur dimana? Pulang saja kesini jangan ngrepotin orang."
"Jeffry di rumah mas Dion Bu..."
"Jangan bohong, mana Masmu, ibu mau ngomong."
"Dih nggak percaya, orangnya lagi mandi."
"Ya sudah bawa ke kamar mandi hapenya."
"Ibu!"
"Heheh, bercanda. Yowes sudah tenang hati ibu. Kamu baik-baik disana, jangan ngrepotin Masmu. Awas bikin ulah yang nggak-nggak."
"Berarti bikin ulah yang iya-iya boleh kan Bu?"
"Langsung tak jewer kupingmu itu."
"Hehehe, iyaaa. Ibu tenang aja. Jeffry baik-baik saja disini. Sana istirahat, sudah malam." Usir Jeffry.
"Yo sudah, tak matikan yo."
"Iyoo..."
Tuutt!
Jeffry memandangi ponselnya yang sudah mati.
"Jeffry nggak baik-baik saja Bu..." lirih Jeffry sedih.
***