
Plakk!!!
Tangan itu mendarat sempurna di pipi kiri Panji. Lina terengah-engah menahan emosi di dadanya. Tangannya sampai nyut-nyutan saking kerasnya. Ia sengaja mengerahkan seluruh tenaganya agar otak pria ini geser ke lantai sekalian.
Ia sudah mencoba bersabar menghadapi mulut Panji yang jelas-jelas merendahkannya.
Dari mendengar ocehannya tentang appron, lalu menawarinya menjadi wanita simpanan, sampai membooking Lina malam ini di hotel.
Terakhir waktu Lina akan menyajikan masakannya, ia menunduk untuk mengambil piring di trolley lalu tiba-tiba tangan besar itu meremas *4**4* Lina dengan sengaja.
Kesabaran Lina habis.
"Aku pikir kamu pria berpendidikan yang terhormat, tapi ternyata tidak lebih dari sekedar pria mesum nggak ada otak. Bangs*t kamu!" Hardik Lina. Sejenak ia melap tangannya yang memerah. Lalu melangkah meninggalkan Panji.
Lina siap jika harus dipecat dari restoran ini, ia tidak peduli.
Hari berganti hari, tidak ada complain apapun dari Panji. Lina pikir pria itu sudah pergi jauh mencari mangsa lain. Tapi ternyata...
"Hai hunny..." Suara itu dalam dan berat. Lina mengerjap mencoba membuka matanya. Kepalanya berat dan badannya sakit semua. Seperti habis dipaksa maraton berkilo-kilo meter jauhnya.
Ia ingat tadi saat pulang kerja dua orang pria tinggi besar membuntutinya. Karena keadaan jalan yang ramai, Lina santai saja. Ia yakin pria itu tidak akan berani menggangunya.
Lalu sekarang ia berada disebuah kamar besar yang mewah. Ranjang yang empuk dan...
Sebuah tangan menindih perutnya. Lina menatap kebawah, wajah Panji berada tepat di atas dadanya.
Flashback off
Juno mengepalkan tangannya erat-erat, matanya memerah menahan amarah. Sedang Lina sudah bersimpah air mata. Ia tidak mampu melanjutkan lagi ceritanya.
Bagaimana kesuciannya terenggut dengan paksa oleh pria bejat bernama Panji.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu bisa laporkan ini ke polisi!" geram Juno.
"Dan mencoreng namaku, Mas? Semua orang akan tahu dan selamanya aku akan dilecehkan. Aku seorang gadis dan sudah tidak lagi suci, siapa yang sudi melihatku tanpa nafsu? Dan Panji pasti memakai uangnya untuk menekanku." Sahut Lina, ia memeluk tubuhnya sendiri. Ketakutan itu menghantuinya selama ini, belum lagi orang tuanya yang pasti akan menanggung malu seumur hidupnya.
"Aku tidak hamil aja itu sudah cukup bagus." Isak Lina.
"Kamu menghilang begitu saja, aku mencarimu seperti orang gila. Lalu kamu datang dengan semua kenyataan ini." Juno mendesah kasar. Ia bimbang, hatinya menjerit tak terima.
"Aku minta maaf, Mas."
Juno terdiam, begitu juga Lina. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah agak tenang, Lina memberanikan diri menggenggam tangan Juno.
"Terima kasih untuk semua kebaikan Mas selama ini, aku wanita beruntung pernah dekat denganmu. Jangan jadikan ini beban mas, aku yang salah. Aku yang merusak semuanya." Ucapan Lina terjeda, bulir air mata kembali turun. Ia berharap Juno memberi respon. Tapi laki-laki itu hanya diam menatap Lina dengan sendu.
"Mas berhak bahagia. Carilah wanita baik-baik, aku pamit dulu."
Lina beranjak dari kursi. Ia ingin menangis sekeras-kerasnya. Dadanya sesak, ia tak kuasa jika harus berada disini lebih lama lagi.
Dengan pakaian seadanya dan alas kaki kebesaran yang ia ambil dari kamar mandi Juno, Lina melangkah meninggalkan rumah itu.
Sepanjang jalan ia menangis meratapi nasibnya. Lengan bajunya sampai basah, penuh air mata. Ia hanya jalan kaki, mengikuti kemana kakinya melangkah tanpa tahu arah. Sampai ia lelah, sampai bajunya tak lagi basah.
Lina sudah tidak mengharap lagi Juno menyusulnya atau tidak. Pelan-pelan ia akan mencoba mengikhlaskannya meski sulit.
Walau kadang hatinya tak terima, karena sedemikian berat beban yang ia tanggung untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Lalu ia bisa apa? Hanya pasrah menunggu keajaiban itu datang dihidupnya yang sudah hancur ini.
Harapannya bernaung hanya Violin. Ia akan jujur kepada wanita itu. Jika masih untung, Vio akan menerimanya kembali, atau jika apes ia harus siap angkat kaki dari rumah itu.
Yang Lina tau, Pam adalah sahabat baik Violin. Ia takut Pam membencinya, dan biasanya atas nama persahabatan, pasti Vio akan mendukung penuh sahabatnya.
Dari tadi hanya kang ojek yang datang menawarkan jasanya, tapi Lina menolak, ia tidak membawa uang sepeser pun. Tasnya yang berisi ponsel, uang dan lain-lain hilang entah dimana.
Ia hanya sempat bertanya arah ke alamat rumah Violin. Beruntung ia berjalan ke arah yang benar, hanya jaraknya masih sangat jauh, kata kang ojek tadi.
Lina menghela nafas, ia berhenti disebuah ruko yang sudah tutup untuk beristirahat. Ia haus sekali, tenggorokannya kering. Dan lagi ini sudah larut malam.
Sepertinya duduk di emperan sebentar tidak masalah, kakinya butuh diluruskan. Lina memijit-mijit betisnya yang sakit. Terasa sedikit nyaman.
Untuk melanjutkan perjalanan sepertinya tidak mungkin, ia haus, lelah, lapar dan juga ngantuk. Seharian ini belum ada makanan yang masuk ke perutnya.
Lalu matanya menangkap onggokan kardus kosong disamping ruko. Ia memutuskan untuk beristirahat saja disini.
Buru-buru Lina menghampiri si kardus, namun karena gelap ia tidak melihat ada lubang yang lumayan dalam didekat situ. Kakinya terprosok, ia memekik kaget.
Perlahan Lina mencoba mengangkat kaki kanannya, ia meringis menahan sakit. Sepertinya kakinya terkilir.
Lagi-lagi Lina hanya bisa terduduk dan menangis tergugu. Ibarat sudah jatuh tertimpa plafon, sakitnya berlipat-lipat.
Ia mencoba menguatkan hatinya, menguatkan jiwa raganya.
Setelah agak tenang, perlahan ia mencari pegangan. Lalu meraih kardus itu dan berjalan tertatih-tatih kembali ke tempatnya semula.
Ia menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Sepertinya malam ini ia harus bermalam di emperan toko ini dulu. Yang penting ia bisa istirahat.
Lalu sebuah motor matic berhenti tepat dihadapannya saat ia sedang bersusah payah menggelar kardusnya.
"Mbak rendang?!" Sapa pengendara motor itu setelah mematikan mesin motornya. Lina mengrenyitkan dahinya, refleks ia mundur dan hampir terjengkang kalau saja pria ini tidak menarik tangannya. Radar Lina waspada, bisa saja orang ini suruhan Panji, kan? Pikir Lina.
Lalu pria itu membuka helmnya, "Mbak rendang, kan?" tujuknya.
Lina ingat, anak ini adalah anaknya Bu Isa, tetangga rumah Violin yang pernah ia kirim rendang waktu itu.
"Jupriii?!" Pekik Lina senang, ia menangis lagi melihat Jeffry. Entahlah, inginnya ia tertawa senang, tapi yang keluar malah air mata.
Akhirnya setelah berjalan cukup jauh, ada juga orang yang mengenalnya. Ini bagai oase di padang Savana. Mungkinkah ini tangisan bahagia?
"Eh, Mbak kok nangis sih?" Jeffry jadi salah tingkah. Takutnya ia dikira ngapa-ngapain lagi.
Lina mengibaskan tangannya, "Aku nangis seneng liat kamu." Jelas Lina.
"Iya tapi kayak habis tak pukulin lho Mbak. Tuh lihat air matanya meronta-ronta." Jeffry menunjuk pipi Lina.
Buru-buru Lina me-lap mukanya dengan ujung lengan baju.
"Mbak darimana sih? Jam segini rawan lho mbak, banyak preman seliweran." Jeffry celingak-celinguk kanan kiri.
"Kakiku sakit, ndak bisa jalan. Tolong anterin pulang, yo?"
"Ini kesleo mbak, sampai bengkak gitu loh. Udah buruan naik, ayok kita let's go!"
Jeffry membantu Lina naik ke boncengan motornya. Ia memposisikan tangan Lina melingkar diperutnya biar nggak oleng. Lina tidak menolak, selain karena sudah lelah, ia juga ingin segera bertemu dengan kasurnya.
Kondisi Lina terlihat memprihatinkan. Jeffry takut pas dijalan wanita ini melamun atau malah nangis lagi. Jadi ia berusaha berkendara pelan-pelan.
Terbukti beberapa kali tangan Lina mengendur dan hampir jatuh kalau saja Jeffry tidak mengetatkan lagi pegangan wanita itu.
Ada apa sebenarnya? Ini berbeda dari sosok Mbak rendang yang ditemuinya pertama kali. Saat itu wanita ini terlihat energik dan ceria. Lalu tadi hampir saja Jeffry tidak mengenalinya kalau saja ia tidak menajamkan pandangannya.
Jeffry yang dalam perjalanan pulan penasaran melihat seseorang di depan ruko. Ia memutuskan menghampiri wanita yang terlihat menangis pilu didepan ruko itu.
Ia jatuh iba.