
Violin melipat lengannya sambil menatap hampers kiriman dari Dion yang terpajang manis di meja kerjanya, meski terlihat indah dan mahal tapi... ia malu! Sumpah.
Satu gedung hampir roboh mengetahui pagi-pagi empat orang polisi mengawal pegawai jewelry mengantar hampers yang hanya sebesar kaleng Khong Guan berselimutkan kain beludru merah yang halus ke kantor Barbara Brand.
Resepsionis sampai memohon pegawainya langsung yang meletakkan ini di meja Violin. Mereka sudah berekspektasi yang tidak-tidak.
Ngirimnya aja pake bawa-bawa polisi, gimana isinya? Kan horor...
Violin memijit pelipisnya.
Kalau memang mau ngasih hadiah, jangan di kirim ke kantor dong. Ini namanya pamer. Apalagi barang bernilai fantastis begini.
Malah jadi bahan omongan, kan?
Kecuali ini di sengaja.
Dan benar saja, baru juga Violin nyampe lobi semua mata sudah memandangnya. Semua sudah tahu isi hampers itu kecuali Vio.
Apa lagi ini?! Batin Vio sambil melenggang menuju lift direksi.
Ia sudah biasa di pandang dengan tatapan memuja, tatapan iri bahkan pandangan ingin membunuh. Kalau sudah begini bisa dipastikan telah terjadi sesuatu.
Tersangka utama kasus menyebarnya berita ini siapa lagi kalo bukan Malik si mulut lemes.
Bocah kemayu itu sampai diburu ciwi-ciwi kepo SEGEDUNG.
Bayangkan berapa tenant coba?
"Waaah, luar biasa si Dion." Komentar Juno untuk yang kesekian kalinya. Masih dengan expresi mengagumi yang berlebihan.
Atau memang sengaja mengejek Violin?
"Hati-hati jagain yang ini, Cup. Ilang satu aja kelopaknya kamu jual rumah buat ganti." Seru Juno kepada Yusuf yang lagi sibuk nyemprotin cairan pembersih kaca.
"Hororr amat sih, Pak? Takut nih. Tungguin ya keluarnya, saya duluan." Pinta Yusuf beneran takut terjadi apa-apa. Ia hanya butiran debu, bagaimana ceritanya bisa menggantikan emas permata? Hidup di kota aja nge-kos, apanya yang mau dijual coba?
"Buruan, mau meeting kita, tinggal niiihh..." Juno meraih laptopnya, ia sengaja menggoda Yusuf.
Yusuf kelimpungan, "aduuuhhh Pak, tungguin bentaran, nanggung nih. Saya takut tergoda!" ia mempercepat pekerjaannya. Semprot-semprot lagi, gosok-gosok lagi, lap-lap lagi. Kali ini kilat. Bodo amat bersih apa kagak.
"Ah, lama!"
"Bapaaakkk... Tungguuuuu!" Jerit Yusuf dah kayak di suruh jagain rumah hantu aja.
"Ambil satu kalau mau, Suf." Ucapan Violin menghentikan pekerjaan Yusuf.
Yusuf dan Juno menoleh ke arah Violin bersamaan. Bahkan Nadia yang dari tadi sibuk ngetik, refleks ikut menatap bosnya.
"Serius, kalian boleh ambil. Dibagi-bagi rata aja per kelopak."
"Wah, gila bos kita." Cibir Juno. Ya kali rela di bagi-bagi hampers luar biasa mahal begini.
Violin tak menghiraukan.
"Beresin ya, Nad. Selesai rapat saya nggak mau lihat ini di sini. Terserah kamu mau buang kemana." Ucap Violin tegas. Wajahnya serius.
Nadia jadi gemetar. Mau nyentuh aja nggak berani, sekarang malah di suruh buang. Ia mengkode Juno dengan matanya, meminta pendapat.
Juno mengedikkan bahu tak acuh. Ia mengekor Violin menuju meeting room. Tinggal Nadia garuk-garuk kepala bingung sendiri.
"Sstt... Cup, bawa ke pantry gih!" Bisik Nadia panik.
"Nggak berani Mbak." Yusuf bergidik ngeri. Ia buru-buru ngacir duluan.
Nadia panik. Dimasukin laci nggak muat, di taruh kabinet takut jatoh. Kasih di mejanya, yang ada bawaannya pengen bawa pulang.
Eh, apa bawa pulang aja kali ya? Kan Bu Vio bilang buang. Artinya nggak kepake kan?
Tapi nanti kalau berubah pikiran di suruh balikin lagi gimana? Bu Vio kan sering gitu.
"Nad, makan nih seblak, masih satu. Saya udah kenyang." Suatu waktu saat itu pernah pas lembur Nadia di tawari seblak.
Lah siapa yang bisa nolak, coba?
Pas hampir tengah malamnya...
"Nad, seblak tadi masih satu mana? Laper nih pingin makan!"
"Kan ibu bilang suruh makan, ya tak makan lah, Bu. Lagian seblak kalau dingin mana enak?" jawab Nadia waktu itu
"Ck, kamu nih. Order lagi sana, yang pedes nampol!"
Untung ini kota besar, ye kan? Penjual seblak bertebaran 24 jam.
Nah kalau Hampers ini yang Nadia jual, terus pas udah mood minta dibalikin? Kagak ada yang jual coy! Harus pesen dulu.
Pesen pun kalau tampangnya Nadia nggak ada jewelry yang bakal percaya ia mampu bayar. Walopun emang kagak mampu.
Jadi mending nyari aman dah. Nadia celingukan bentar nyari tempat.
Eh, tunggu... ia tahu tempat yang pas dan pasti aman.
Buru-buru ia meraih hampers itu dan meletakkannya di suatu tempat yang paling aman di kantor ini.
***
Usai meeting Violin sengaja berjalan menuju roof top melalui tangga darurat. Meski lumayan gempor juga betisnya untuk sampai di sini. Tapi lumayan lah, itung-itung olahraga.
Olahraga tapi maksa. Untung pake sandal bulu, bukan heels.
Ia menyeruput kopinya lalu menghela nafas. Angin lumayan kencang menyapu wajahnya. Rambutnya yang di cepol ke atas dengan bagian depan menjuntai membingkai wajah semakin mempertegas rahangnya.
Gila, konsentrasinya buyar gara-gara sebuah hampers. Alih-alih jingkrak-jingkrak kegirangan, ia malah sedih.
Seikat replika bunga mawar merah yang kelopaknya terbuat dari berlian merah yang di buat per kelopak satu-satu.
Berlian merah termasuk berlian langka dari jenisnya. Harga per karatnya mencapai hampir 15 miliar.
Belum tangkai hijau dan daunnya yang terbuat dari batu permata zamrud.
Replika itu di ikat dengan benang emas yang indah sebagai pita. Lalu ditutup dengan kubah kaca. Eksklusif sekali.
Bukan Vio tak tahu arti dari zamrud disini, batu ini di anggap batu cinta. Warna hijaunya mewakili awal baru yang bahagia, cinta dan hubungan abadi.
Sedangkan mawar merah sendiri merujuk pada kasih sayang, cinta dan kekaguman.
Singkatnya hampers itu mewakili perasaan Dion yang benar-benar serius masih menginginkannya.
Tapi ini berlebihan!
Vio nggak butuh hadiah seperti itu.
Bukankah Dion tahu keinginannya?
Apa ini?
Ia bisa beli kemewahan semacam itu. Tapi untuk apa?
Malah mawar merah yang dipetik di pinggir jalan Vio lebih suka.
Tinggal petik dan bisa dinikmati keindahannya, nggak perlu di kawal keamanan. Nggak perlu was-was bakal ilang.
Ia merogoh kantong blazernya. Dibacanya lagi kartu ucapan yang terselip tadi. Lihatlah, tintanya aja tinta emas.
Just for beauty
From the beast
Cih, dia menyebut dirinya buruk rupa.
Vio memasukkan lagi kartu kecil itu. Lalu menyeruput kopi terakhirnya.
Yang begini di bilang serius, tapi dari tadi Dion tak kunjung menghubunginya.
Violin merogoh sakunya lagi, mencari-cari ponsel.
Nihil.
Ia baru ingat meninggalkan ponsel itu di meja kerjanya.
Pantas sejak tadi nggak ada gangguan. Pasti sekarang Juno yang kelimpungan. Vio terkekeh sendiri membayangkan wajah jelek asistennya itu.
***