Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Pindah



Sabtu sore yang cerah. Langit dengan pongahnya memamerkan lembayungnya yang indah. Burung-burung mulai berterbangan kembali kesarangnya.


Pemandangan yang tidak pernah Violin nikmati selama hidupnya.


Ia suka alam, ia suka segala hal tentang keindahan Sang Pencipta.


Ia berdiri di depan balkon lantai dua rumah barunya.


Senyumnya terukir bahagia. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. Berharap impiannya untuk tinggal dirumah ini dengan bahagia tidak sia-sia.


Rumah modern minimalis berlantai dua yang sudah ia rombak menjadi sedemikian rupa sehingga nyaman, menurut versinya. Dengan halaman yang luas dan asri.


Taman dan pohon, lengkap dengan bunga dan rumput-rumputnya.


Saat masih tahap renovasi, sekali dua kali ia kesini, banyak tetangga yang ramah menyapa hangat kepadanya.


Untuk sementara Sofia tinggal dengannya. Sepulang Sofia dari rumah sakit, ia sempat adu urat dengan Vio dan Pam, ngotot tetap ingin tinggal dirumahnya sendiri.


Pada akhirnya, tengah malam sekitar jam setengah dua, hampir pagi, Surti menelpon Vio dengan suara gemetar ketakutan.


Suaranya hampir tak terdengar. Tetapi suara jeritan dan lolongan dibelakangnya jelas sekali ditelinga Violin.


Tanpa pikir panjang Vio melesat menuju rumah Sofia.


Sofia ditemukan Surti dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang gemetar hebat, bertambah dengan peluh yang membanjiri tubuhnya yang mepet di pojokan dapur, ketakutan.


Katanya ia hanya ingin mengambil minum di dapur, tetapi rasa traumanya kepada Daniel ternyata begitu besar menghantui bawah sadarnya.


Ia menjerit dan menangis di tempat dimana Daniel terakhir kali menghajarnya.


Violin mendekapnya dan membawanya pulang malam itu juga.


Nggak mungkin juga ke rumah Pam, kan? Tau sendiri lakinya. Hem...


Dan disinilah mereka sekarang.


Rumah baru, perabot baru, furniture baru, semua serba baru, masih segel-an pabrik.


Taman depan dan belakang rumah yang juga baru selesai ditata dan dibuat senyaman mungkin untuk pemiliknya.


Ada ayunan tali, gazebo kecil di belakang dan juga kolam ikan koi lengkap dengan pancurannya. Vio membayar mahal untuk kenyamanannya ini.


Yang terlihat mencolok dirumah itu adalah tembok dan pagar rumah yang lebih tinggi dari rumah lainnya.


Vio tau siapa pelakunya. Makanya pas pertama kali ia melihat tembok tinggi dan congkak itu berdiri mengitari rumahnya, orang pertama yang ia hubungi adalah Rion.


"Om, balikin pagar rumahku!" Jerit Vio waktu itu sambil memijat pangkal hidungnya.


"Demi keamanan dan kenyamanan bersama, Vi." Jawab Rion tenang.


"Loh, nggak bisa dong. Yang bakal tinggal disini saya, bukan Om!"


"Ini perintah bapak. Maaf saya matikan."


Tuuuttt....


Violin menatap ponselnya gemas. Lalu pandangannya beralih ke tembok pagar rumahnya.


Beberapa pekerja masih terlihat menyelesaikan tahap finishing. Orang-orangnya Rion nggak bakal mudah untuk di usir. Apalagi ada embel-embel 'perintah bapak'. Biar hujan badai pu ting beliung pun akan mereka terjang. Seloyal itu mereka.


Sudah tidak mengherankan lagi bagi Vio, walaupun ia membeli rumah diam-diam diujung dunia pun pasti bapaknya tahu.


Bisa jadi pekerja yang sedang terlihat sibuk mengecat itu adalah salah satu mata-mata bapaknya.


Huuufffttt...


Jadi Vio hanya melewatinya saja, berdebat pun percuma. Besok biar sekalian saja ia bawa bogem sendiri buat memangkas tembok itu, tekatnya.


Kembali ke sore hari ini di rumah baru Violin.


"Sofiiii... Kenapa kamu pilih yang pink, sih?" Pam menjerit histeris melihat taplak meja makan.


Sofia yang sedang memasukkan sarung bantal sofa, melongok ke dapur, dimana Pam berkacak pinggang seperti biasanya.


"Kan biar matching. Nih..." Jawab Sofia sambil mengacungkan bantal sofa yang baru saja selesai ia pasang dengan warna soft pink motif Piggy.


"Astaga, Vioooo! Rumah lo beneran di sulap jadi play group loh sama dia." Adu Pam.


Vio hanya mesem-mesem kalem. Ia paling suka melihat kegaduhan duo sohibnya ini.


"Ck, biarin aja. Itung-itung terapi kejiwaan." Bisik Violin.


Sofia melirik galak, "gue denger, woooyy!" Dilemparnya bantal sofa ke arah Vio dan Pam yang terlanjur ngacir ke taman belakang rumah.


Mereka berlarian memutari halaman dengan tawa lepas, seolah tanpa beban di pundak masing-masing.


Melepaskan penat yang menghimpit di dada dengan tawa.


Lalu terkapar di atas rumput setelah kelelahan.


Harumnya rumput hijau, dengan khas campuran tanah. Ditambah gemricik air kolam, entah bagaimana terasa menenangkan pikiran mereka.


Lalu Sofia meraih tangan kedua sahabatnya lalu menggenggamnya erat. Tatapan matanya menyiratkan ketulusan.


"Thanks for everything." Desis Sofia lirih dengan mata berkaca-kaca, namun bibirnya terukir senyuman indah.


Vio dan Pam saling menatap dan tersenyum, lalu mereka berpelukan diatas rumput taman.


"Aaahh leganyaaaa..." Teriak Sofia keras-keras.


Vio menutup telinganya dengan tangan dan ikut tertawa.


Vio melongo, "tumben sih, kamu peduli omongan orang?!"


Sofia manggut-manggut.


"Nih tembok dibangun bapaknya Vio pake peredam suara dengan material unggulan, produk number uno. Dijamin tetangga nggak bakal ada yang ngeh kita mau salto, guling-guling, teriak-teriak, ngakak-ngakak." Bisik Sofia.


"Tuh, cek aja diatasnya, pasti lengkap. Ada penangkal petir, sensor anti maling, anti peluru dan radiasi. Beuh, lengkap pokoknya." Ucap Sofia sambil mendongak menatap ujung atas tembok di depannya.


"Cih, lihat aja besok, gue bakal pangkas nih tembok." Vio mengacungkan jari telunjuknya.


"Kamu kenapa sih, Vi? Enakan juga gini, lebih privacy." Sofia mulai ceramah. Ia yang trauma bertemu dengan laki-laki jadi takut untuk mulai bersosialisasi lagi. Dengan adanya tembok tinggi ini secara tidak langsung memberikan ketenangan untuknya.


"Setuju gue!" Pam menimpali. "Lo seharusnya sadar, elo itu anaknya siapa? Dan bapak lo pasti udah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal terjadi kalau dia nggak sigap darurat."


Violin garuk-garuk kepala.


"Nggak usah kebanyakan mikir, udah bokap lo buat gue aja. Nggak bersyukur, Lo!" Pam mencibir.


"Bentar deh gue pikirin mau tuker tambah pake apaan."


"Woy! Durhaka lo!"


"Hahaha..."


Lalu bel berbunyi dari depan pagar.


Pam menatap Violin. "Lo ngundang orang?" Tanyanya.


Violin menggeleng.


"Pesen makan, mungkin?"


Violin menggeleng lagi.


"Gue buka deh." Pam beranjak berdiri lalu membersihkan pantatnya dengan tangan untuk menghilangkan debu yang menempel di dress-nya.


Violin memang belum mempunyai asisten rumah tangga. Baru kemarin ia menghubungi pihak penyedia jasa. Mereka berjanji dalam Minggu ini akan mengirimkannya sesuai dengan kriteria yang di inginkan Vio.


Vio dan Sofia mengikuti Pam menuju ke halaman depan.


Pam mengintip dari celah pagar, agak menunduk untuk memastikan. Takutnya orang jahil yang iseng mencetin bel. Bongkahan dadanya terlihat tumpah kedepan.


"Pssstt... Ada banyak orang diluar." Bisik Pam.


Violin mengrenyit, lalu berjalan kesamping gerbang menuju pintu kecil dan membukanya.


"Permisi mbak." Sapa salah satu bapak setengah baya yang memakai peci hitam.


Violin mengangguk, "Ada apa ya, pak?" Tanya Vio dengan pandangan waspada sebab bapak itu berjumlah lumayan banyak. Sekitar sepuluh orang, diantaranya ada juga remaja-remaja putra. Pesis orang demo, atau jangan-jangan ini yang di sebut penggrebegan?


Sofia langsung ngacir kedalam, masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Ia ketakutan.


"Maaf mengganggu istirahatnya. Saya ketua RT kompleks ini. Dan ini ketua RW, juga anak-anak karang taruna." Bapak peci hitam memperkenalkan diri.


Pamela muncul dari belakang badan Vio. Bapak ketua RT dan anteknya langsung salah tingkah melihat body Pam. Hawa disekitarnya langsung terasa panas.


"E-e-eh, ini... Anu mbak, mungkin mbaknya lupa lapor untuk pendataan penghuni baru."


Violin melirik Pam meminta bantuan. Tanda ia tidak paham masalah lapor melapor.


Jangankan ngurus laporan, yang ada setiap hari ia yang teriak-teriak minta laporan.


Pam apalagi, ia hanya mengedikkan bahu tanda nggak ngerti juga.


"Besok kami urus ya pak, kami mau istirahat dulu. Capek kelar beberes." Usir Pam halus.


Terlihat beberapa ibu-ibu berjalan menghampiri mereka.


"Baik kami tunggu ya mbak, silahkan beristirahat. Maaf jika mengganggu." Pamit pak RT yang sepertinya masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


Sampai suara cempreng ibu-ibu berdaster mengejutkan mereka.


"Bapak gimana sih, suruh manggil biar cepet malah ngobrol."


Ibu itu sepertinya istri pak RT. Dandanannya terlihat cetar walau hanya memakai daster lebar untuk menutupi tubuh gempalnya. Mukanya terlihat judes. Atau mungkin karena make up-nya yang ketebalan?


Ibu itu menghampiri Violin dan Pamela saat rombongan bapak-bapak meninggalkan mereka.


"Aduuuhhh maapkeun ya neng, ini si bapak disuruh manggil buat kumpul kok malah berdiri wae disini. Hayuk atuh ikut kita liwetan di pos ronda ujung sana." Ajak si ibu dengan logat khas sundanya. Tangannya yang bergerincing karena kebanyakan memakai gelang emas menunjuk-nunjuk kearah tempat pos ronda yang dimaksud.


Pam terlihat tak terlalu suka. Berbeda dengan Vio yang terlihat antusias menyambut ajakan si ibu.


"Kita boleh ikutan bu?" Tanya Vio semangat.


"Boleh atuh, Neng. Sok...!" Jawab si ibu.


"Gue nggak ikutan ya, Vi. Nggak tega ninggalin Sofi sendirian." Pam berbalik badan masuk rumah.


Vio jadi nggak enak sendiri. Perlahan ia melepas pegangan tangan si ibu.


"Maaf ya bu, mungkin lain kali saja." Tolak Vio halus.


"Ya sudah, saya duluan ya, Neng."


Vio menganggukan kepalanya lalu menutup pintu perlahan sambil membayangkan nasi liwet, lalapan, ikan asin, sambel terasi, kerupuk. Duh, lapeeeerrr...


***