
"Bu... "
"Hmm... "
"Ibu... "
"Opo to, Le?" Bu Isa terpaksa mengalihkan konsentrasinya dari nampan berisi butiran kacang hijau yang sedang ia sortir.
Dari semalam Jeffry terlihat aneh. Mondar-mandir keluar masuk rumah.
Sebentar duduk memandang wajah ibunya yang terlihat sendu karena keasyikan nonton sinetron sampai mewek. Lalu keluar lagi sambil melamun di pojokan teras.
Sampai Bu Isa terlelap tidur pun Jeffry masih galau.
Ajakan ronda Pak RT pun ia abaikan. Padahal biasanya ia paling rajin kalau di suruh nge ronda.
"Jeffry mau nanya." Ucapan Jeffry ngegantung banget.
"Kamu nanyak? Kamu bertanyak-tanyak?" Sahut Bu Isa. Ia meliuk-liukkan bibirnya menggoda Jeffry. Banyolan khas anak alay yang nggak lucu sama sekali. Malah bikin pingin nampol, sumpah.
Jeffry mencibir.
Dari semalam Bu Isa sebenarnya sudah curiga dengan tingkah Jeffry. Anak ini ingin mengutarakan sesuatu tapi bingung mau mulai darimana.
Sengaja ia diamkan. Takut juga sebenarnya kalau Jeffry mulai nanya-nanya soal bapaknya lagi. Mau di jelasin dari mana dulu coba? Masak iya bapaknya bangkit dari kubur?
Apa jangan-jangan Mas Hendra sudah menemui Jeffry, ya? Duuh, Bu Isa tambah gugup. Ia kembali sok sibuk dengan kacang hijaunya.
"Apa bapak punya saudara kembar?"
Sebenarnya Jeffry paling takut membuat ibunya sedih. Tapi ini mengganggu pikirannya banget sejak semalam. Jadi dia memberanikan diri mengungkit masalah ini.
Bu Isa memejamkan matanya sebentar. Fixs Mas Hendra pasti sudah menemui anak ini.
"Kenapa tiba-tiba nanyain bapak, hm?" tanya Bu Isa. Ia mencoba menjimpit kacang hijau yang sudah berwarna hitam dan bolong di bagian tengahnya. Susah sekali karena tangannya sedikit gemetar.
"Atau ada saudara lain dari bapak yang ibu tahu?"
Bu Isa menyerah dengan kacang hijau. Butiranya semakin tak terlihat karena fokusnya terganggu.
Ia menghela nafas dan menghampiri Jeffry.
"Semalam waktu beres-beres di bengkel, ada bapak-bapak yang ngobrol sama Bang Roni. Awalnya nggak terlalu peduli, nggak kenal juga. Dan lagi bapak itu kelihatannya orang kaya. Tapi temen bengkel banyak yang bilang mirip aku." Jeffry bicara sambil memperhatikan mimik muka ibunya. Terlihat biasa aja sih.
"Di dunia ini kan banyak orang dengan wajah mirip. Bahkan katanya ada tujuh yang sama persis."
Jeffry memiringkan kepalanya, "Ibu tahu kan maksudku?" Jawaban Bu Isa tidak memuaskan ke-kepo-an Jeffry.
"Ibu nggak tahu, Le. Ibu tidak kenal dengan saudara-saudara bapakmu." Bu Isa tidak berbohong, ia memang tidak mengenal keluarga Mahendra, kecuali Arum dan Dion.
Jeffry ingin bertanya lagi, tapi keburu dipotong ibunya.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Bahkan di tempat kerja ibu, ibumu ini di bilang mirip Irish Bella loh."
"Itu sih maunya ibu." cibir Jeffry.
"Cantik, kan? Hm?" Bu Isa memutar daster longgarnya.
Jeffry terkikik, "Ibu wanita paling cantik di dunia ini. Jangankan Irish Bella, Tante Vio aja lewat."
"Eeehh..." Ibu menoleh menatap Jeffry.
"Kata Pak RT kamu sering mepet-mepet ke rumah Mbak Vio itu ya?"
"Nggak sering Bu, jangan curigaan deh."
"Koe tidak sedang dalam misi apapun to?" Bu Isa mendekatkan wajahnya sampai condong pas di depan Jeffry.
Jeffry memalingkan wajahnya yang ketangkap basah tersipu malu, ia salting. Ibunya benar-benar peka banget dah ama isi hatinya. Memanglah insting seorang ibu nggak pernah salah.
Bu Isa melotot, "Jangan bikin malu, Jupri!"
"Loh wajar, kan Bu? Ibu doain aja biar lancar." Jeffry menaik turunkan alisnya.
"Astaghfirullah, ibu nggak suka yo koe aneh-aneh. Kita memang hidup pas-pasan, tapi kalau sampai kamu gesek-gesek di tembok orang kaya, tak usir kamu dari sini. Sopo koncomu yang jaga lilin, hah?"
Jeffry garuk-garuk kepala, "Bu, Jeffry itu suka sama Tante Vio, bukannya mau ngepet!"
Jeffry nyelonong pergi setelah mencium pipi ibunya yang masih bengong.
****
"Sayang, bikin apa?" Juno mengecup pelipis Lina lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Masak seadanya Mas, belum sempat belanja juga kan dari kemarin?"
Di atas meja makan sudah tersedia nasi, cap cay sayur, udang saus Padang dan kerupuk.
Lina cukup takjub mendapati isi kulkas Juno yang lumayan ada sayuran dan udangnya juga. Nggak cuma stok mie instant yang berderet di kabinet atas.
Juno terkekeh, "biasanya nggak selengkap ini. Aku biasa makan nasi kecap pake kerupuk doang soalnya."
Lina melepas tangan Juno yang melingkar di pinggangnya, lalu melirik ke belakang.
"Iya tapi GoFoodnya Rawon lah, Soto Betawi lah, Ayam betutu, Gurame bakar Taliwang. Yang begitu dibilang seadanya? Malu ama gaji, Mas."
Juno meringis, "Gini nih, senangnya punya istri, ada yang masakin tiap hari, nggak perlu GoFood deh." Juno masih mengekori Lina kesana kemari. Membantu menyiapkan alat makan dan menuang minuman.
"Bayar ART juga pasti dimasakin." Sahut Lina. Ia mengelap ujung piring saji yang belepotan saus dengan tisyu.
Juno menangkap tangan Lina, lalu menariknya perlahan, sampai dada Lina menempel ke dada Juno. Tangan Juno memeluk pinggang Lina posesif.
Ia berbisik nakal di telinga Lina, "nggak ada yang se enak kamu, sayang." Desah Juno sambil menggigit kecil cuping telinga Lina.
Lina kegelian, ia memukul dada Juno.
"Jangan gini terus, Mas. Kita belum halal."
"Hmm, sabar ya. Besok kita langsung ke KUA aja biar cepet urusannya." Janji Juno. Kecupannya sudah turun sampai leher.
Lina mendesah, membuat Juno semakin semangat. Ia mengangkat tubuh Lina dan mendudukkannya diatas kabinet. Membuat kepalanya leluasa terbenam di dada Lina.
"M-Ma-Mas... " Cicit Lina. Tangannya mencengkram rambut Juno kuat-kuat saat lidah Juno bermain lincah di pucuk dadanya.
"Mas, makan dulu." Ucap Lina terengah-engah. Ia sampai gemetar menahan sensasi denyutan di pangkal pahanya.
"Hmm... main course nya ada di sini." Gumam Juno dari sela-sela paha Lina. Ia sedang sibuk mencicipi belahan buah diantara paha mulus kekasihnya.
"Aku lapar!" Lina menarik wajah Juno, membuat pria itu menghentikan aktifitasnya dan mendongak menatap Lina.
"Padahal aku cuma pingin makan kamu." Ucap Juno dengan pandangan mengiba.
Lina mengecup bibir Juno sekilas dan tersenyum, "Masih banyak waktu. Setelah menikah, aku milikmu, Mas. Seutuhnya." Ucap Lina. Ia turun dari kabinet dan duduk manis di kursi makan menunggu Juno.
Pria itu membasuh mukanya berkali-kali, kaosnya sampai basah dia area dada. Terlihat sekali ia mati-matian menahan hasrat. Mukanya sampai merah, tapi ia mencoba tetap stay cool dan duduk dengan gelisah di dekat Lina.
Lina mengambilkan nasi dan lauk ke piring, dan menyodorkannya di depan Juno.
Sekali lagi Juno menahan tangan Lina.
"Sekali saja, sayang." Ucap Juno mengiba. Ia benar-benar tidak tahan.
Lina menggeleng sambil tersenyum. Juno menelungkupkan kepalanya di atas meja, frustasi.
****