Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Win Win Solution



Malam ini Pamela berjalan anggun memasuki restoran hotel bintang lima. Tempat ia berjanjian dengan seorang pria melalui aplikasi pencari teman.


Ia belum pernah bermain aplikasi ini sebelumnya dan sedikit tertarik saat melihat review nya di toktok.


Awalannya sih iseng doang, skip skip skip dan hap, muncul foto seorang pria. Pam langsung tertarik meski foto itu diambil dari jauh dan hanya menampilkan kepala bagian belakang dan si pria menoleh sedikit, melukiskan siluet wajahnya yang menarik menurut Pam meski tertutup kacamata hitam.


Entah mengapa auranya begitu kuat di mata Pam.


Untung-untungan aja sih, Pam tahu kadang foto orang lain yang sengaja dipajang agar lebih menarik. Toh ia hanya iseng, jadi ia klik dan masuklah ke percakapan pribadi.


Bee : Hai...


Bear : Halo Bee... Can I call you?


Beuh, to the point dong, Pam suka tipe sat set kek gini.


Suara pria ini berat dan tegas. Tipe yang tidak suka dibantah dan juga mendominasi.


Tak lebih dari lima menit bercakap, say hi doang, si Bear mengaku sedang sibuk dan memutuskan sambungan telepon.


Meski masih penasaran dengan Bear, tapi Pam menahan untuk tidak terlihat murahan. Jadi ia pun memilih tidur siang sambil menunggu Bear kembali menghubunginya, mana tahu kannnn...


Sampai sore hari setelah Pam selesai mandi, ponselnya berbunyi, dari Bear.


Pam deg degan. Ampun deh, mirip ABG nggak sih? Atau dia yang memang dalam kondisi sedang ingin di perhatikan?


Sambil memegangi dadanya yang bergemuruh, Pam menjawab telepon itu.


"Malam ini kamu ada waktu?"


Dan disinilah Pamela sekarang duduk, di private room restauran reservasi dari Bear.


Ia mengenakan baju sexy seperti biasa, warna hitam yang elegan, pres body dengan lengan terbuka dan leher terexpose sampai dada, belahannya jelas terlihat menggoda.


Ngajakin ketemu aja di restoran hotel bintang lima gini, awal yang bagus sih, setidaknya pria ini pasti punya nilai lebih.


Pam masih melihat-lihat buku menu saat pria itu masuk.


Gagah, tampan, rupawan dan... Pam mengenalnya.


"Om Rion." Seru Pam kaget.


Rion tersenyum lebar, "Hai, Bee." Sapa Rion. Tanpa canggung Rion langsung duduk di depan Pamela.


Bau parfum khas yang menempel seharian di badan menguar jelas dari tubuh Rion. Pam langsung tahu Rion langsung kesini saat pulang kerja.


"Om Rion si Bear?" Pam masih mencoba memastikan.


"Menurutmu?" Rion balik nanya.


"By the way, aku juga kaget lho ternyata Bee itu kamu." tambah Rion. Ia nggak mau Pam salah paham, sedikit banyak wanita ini pasti tahu sepak terjangnya bekerja dengan Atmanegara.


"Tapi tampang Om kok biasa aja? Kayak yang seneng gitu."


"Loh, emang kamu nggak seneng ketemu saya?" Rion menaikkan alisnya santai. Ia membuka buku menu.


"Nggak nyangka aja, Om."


"Saya malah bersyukur wanita itu kamu."


"Kenapa?"


Pam langsung tersipu. Astaga, pro banget mulut si Om satu ini.


"Mending kita pesan dulu deh, biar diantar sekalian. Mau makan apa?"


Dan dua jam kemudian Pam dan Rion masih asyik ngobrol di restoran itu. Yang awalnya canggung sampai akhirnya merembet ke pribadi dan intim.


Sebenarnya lebih banyak Pam yang mendominasi obrolan sih, lebih tepatnya curhat masalah rumah tangganya dengan Panji.


Rion menanggapi sekedarnya, mau gimana lagi? ia sebenarnya yang lebih tahu Panji daripada Pam. Rion malah lebih banyak melirik belahan dada Cup D yang terpampang nyata di depannya ini.


Tambah panas nggak sih? Ia dalam mode horny, eh malah dapat suguhan kek gini. Rion sampai melepas dasinya dan membuka dua kancing atas kemejanya.


Pam sendiri sedikit kaget sih ternyata Rion nggak sekaku kelihatannya. Ia malah lebih luwes memperlakukan wanita daripada Panji. Dan yang penting obrolan mereka nyambung.


"Udah hampir tengah malam nih Om, kayaknya aku harus balik dulu deh." Pam meraih tasnya. Ia bersiap berdiri saat lengannya di tahan Rion.


"Please stay..." mohon Rion. Pam melirik lengannya yang tetap di tahan Rion. Ia menelan ludah saat melihat jari-jari Rion yang besar menempel dikulitnya. Ia gagal fokus mengingat katanya ukuran seorang pria bisa dilihat dari jari tangannya.


Badan Pam langsung panas. Ia salah tingkah.


"Saya booking kamar di atas, dan sangat berterima kasih kalau kamu mau temani saya malam ini." Rion berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Pam. Ia mengelus bahu Pam pelan.


Justru gerakan ini membuat Pam merinding. Sejenak ia memejamkan mata menikmati sentuhan Rion. Seperti aliran listrik, semua sinyal di tubuh Pam langsung on.


Melihat Pam diam saja, Rion menelusuri lagi lengan Pam dengan jarinya pelan. Ia berputar di belakang tubuh Pamela, sedikit menunduk dan memeluk Pam dari belakang. Sampai pantat se mok Pam menempel di paha Rion.


Rion mengecupi bahu Pam yang terbuka dan menghirup aroma leher Pam dalam-dalam.


Pamela semakin memejamkan matanya, ia menikmati setiap sentuhan ini sampai tubuhnya menegang dan berdenyut di bagian intinya. Hampir saja ia memekik, tapi ditahannya dengan menggigit bibir bawah kuat-kuat.


Lalu saat Rion akan memegang dadanya, Pam sedikit menepis dengan hati-hati. Ia takut semakin terlena.


"Eh, besok aku harus ke Jogja pagi-pagi sekali Om. Mungkin sebaiknya sekarang aku pulang." Pamela terlihat kikuk. Disatu sisi ia ingin sekali 'mencicipi' Rion, tapi disisi lain ia takut di cap murahan. Mungkin akan lebih mudah kalau mereka dalam posisi tidak saling kenal.


Rion mengangkat alisnya, "Sama Violin, kan?"


"Eh, iya." Jawab Pam. Ia memegang tengkuknya canggung.


"Saya juga kesana besok dengan Pak Atma."


Pamela diam saja sambil berdiri canggung. Rion tersenyum, ini sinyal baik. Ia tahu sebenarnya Pam menginginkannya, sedikit lagi...


Rion tahu sudah lama Pam berseteru dengan Panji. Berarti sudah lama ia tidak disentuh. Respon tubuh Pam juga mengatakan begitu.


Sebenarnya Rion tidak ingin memanfaatkan posisi Pam. Tapi bukankah ini sama-sama menguntungkan? Mereka sama-sama membutuhkan.


Rion menarik tangan Pam agar lebih dekat ke arahnya. Ia sudah duduk di ujung meja saat mencumbu bahu Pam tadi.


"Aku tidak memaksa, aku hanya menawarkan solusi. Solusi untukmu dan juga untukku. Kalau kamu keberatan, aku akan hubungi wanita lain yang bisa menemaniku malam ini. Jujur aku sangat menginginkan itu saat ini." Mata Rion menatap langsung ke dalam mata Pam tanpa keraguan.


Pamela sedikit kaget dengan ucapan Rion yang cukup terbuka. Tidak sepertinya yang suda jelas-jelas menginginkan tapi masih saja jual mahal, begitu kan wanita?


Dan Pam merasa tak rela membayangkan Rion mencumbu wanita lain malam ini, jadi perlahan ia menghampiri Rion lalu duduk di paha kirinya.


Pam melingkarkan tangan kanannya ke leher pria itu, jemari tangan kirinya dengan lembut membelai bagian inti tubuh Rion. Pria itu langsung menengadahkan kepalanya dan mengerang sambil meremas dada Pam.


****