
Violin melangkah gontai memasuki rumahnya.
Sepi.
Didepan tadi ia langsung menyuruh Dion pulang, tanpa basa-basi sekedar menawarkan kopi atau ngobrol.
Ia lumayan capek hari ini.
Dan juga sedang malas basa basi.
Sofia bilang keluar bentaran, entah kemana anak itu tanpa Vio dan Pam. Kali aja nemu gebetan pas di acara Mahendra tadi.
Syukurlah kalau bener. Vio ikutan lega. Berangsur-angsur trauma Sofia mulai sembuh. Dan itu bagus.
Kalau Pam, entahlah...
Harusnya mereka pulang semobil bertiga, malah akhirnya berpencar gini.
Dion berkukuh mengantar Violin, alasannya karena ia yang menjemputnya tadi di kantor.
Mau nolak tapi nyari-nyari Pam-Sofia nggak ketemu juga. Ditambah bujukan pak Hendra agar Dion tetap mengantar Vio pulang. Mau nggak mau Violin pasrah.
Apalagi melihat bapaknya masih sibuk ngobrol.
Meski Atmanegara adalah pilihan terakhir untuk numpang pulang, tapi better lah daripada pulang semobil sama Dion.
Bukannya apa-apa, Vio takut khilaf.
"Ehem..."
Violin yang baru saja duduk, refleks menoleh mendengar deheman seorang pria. Radarnya langsung waspada.
Atmanegara muncul dari dapur menenteng sekaleng beer zero alkohol merk ternama. Ia berjalan santai ke arah Violin.
"Nggak heran deh." Cibir Vio sambil melepas heelsnya. Ia lega mengetahui itu bapaknya. Bukan orang asing atau maling.
"Sejak kapan, Pa?" Tanyanya basa basi.
"Sejak tadi." Sahut Atmanegara.
"Naik super jet kesininya? Cepet amat."
"Nggak, Papa naik buroq."
"Cih, garing."
"Hehehe..."
Mereka lalu terdiam. Ini pertama kalinya Atmanegara mengunjungi putrinya secara khusus tanpa Maharani.
Ia canggung, musti mulai darimana.
Biasanya selalu ada Maharani di antara mereka. Rani yang mencairkan suasana kaku ini.
"Rumah ini di huni tiga janda loh, Pa."
"Hmm, iya tahu. Ini cuma mampir."
"Wah, akhir-akhir ini sepertinya banyak waktu luang, ya?" Sindir Vio.
"Papa sengaja meluangkan waktu. Sofia mungkin pulang agak larut dan Pam kemungkinan tidak pulang malam ini. Jadi aku ingin berkunjung ke rumah putriku."
Violin menunduk. Ia teringat ibunya. Dulu ibunya yang sering menyebutnya 'putriku'. Sekarang sebutan itu terasa aneh keluar dari mulut Atmanegara.
Violin terharu. Matanya memanas.
"Apa Papa kesepian?" Vio memiringkan kepalanya menatap sang ayah.
"Nggak juga, masih ada Rion."
Munafik sekali bapak satu ini. Hatinya kosong dan ia masih pura-pura baik-baik saja.
Tapi bagaimanapun semua butuh proses. Vio tahu Atmanegara sudah menurunkan semua egonya untuk datang kesini sendirian.
"Aku lihat Papa Hendra bahagia dengan pernikahan ini. Mungkin Papa bisa coba mencari pendamping baru biar nggak gabut-gabut amat." Saran Vio. Jujur ia nggak terlalu yakin dengan sarannya ini.
Atmanegara menatap putri semata wayangnya itu, lalu tersenyum kecil. Ia menegak minumannya sedikit lalu menghela nafas.
"Bella itu sudah lama ada di hidup Hendra. Kalau sekarang mereka ditakdirkan berjodoh itu bonus bagi si tua Bangka tak tahu diri itu."
Violin masih diam mendengarkan sembari menatap siluet bapaknya. Nggak salah ibunya sering memanggilnya mas Edward. Atmanegara bak vampir, masih cocok jadi kakaknya Dion.
Apalagi otot lengan dan perutnya yang masih terjaga.
"Nggak semua hal yang sudah hilang itu bisa diganti, selamanya tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibumu dihati ini." Atmanegara melengos. Astaga, darimana kata-kata itu? Sejak kematian Rani kenapa ia jadi mirip pujangga yang hatinya gampang mellow.
Violin termenung.
Bapaknya benar, tidak semua hal bisa diganti sesuka hati.
"Itu karena Papa belum nemu lagi aja." lanjut Vio asal.
"Ck, Papa tahu kamu mulai risi kan tiba-tiba sering muncul di orbitmu?"
"Dih, planet kaliii..." Cibir Violin.
Tapi kata-kata Atmanegara memang tepat. Violin yang sudah kebal di cuekin jadi risih saat Atmanegara bersikap posesif kepadanya.
Dulu sikap posesifnya di batas Violin masih bisa 'nyaman'. Mungkin karena masih ada mamanya yang mengontrol ke absurd an bapaknya ini.
Tapi sekarang Atmanegara terlalu berlebihan menurut Vio.
"Rumah sekecil ini untuk kalian bertiga memangnya nggak sesak?" tiba-tiba Atmanegara menyinggung rumah Vio. Matanya beredar mengamati setiap sudutnya.
"Pah..." Vio mulai jengah, ia tahu arah pembicaraan ini.
"Kamu bisa tinggal dirumah kita. Biarkan Pam dan Sofia disini. Papa mulai khawatir, apalagi kalian semua janda."
"Jangan usil deh pa."
"Papa nggak usil, ini beneran sempit lho Vi, dirumah kamu bahkan bisa main sepak bola sesuka hati."
"Vio nggak suka sepak bola."
"Oke, volley, maybe."
"No, Papa!" Vio mendelik.
"Okeee..." Atmanegara mengangkat tangannya.
"Mending Papa pulang deh, aku mau tidur nih." Violin cemberut.
"Papa lapar loh ini, malah di usir."
"Ya udah, mampir warteg kan bisa."
"Kok jadi warteg sih? Kamu sering ya makan makanan warteg sekarang?"
Duh, ribet kan masalah makan doang. Violin menepuk jidatnya.
"Warteg depan itu enak, Pa. Tinggal jalan sebentar, bisa touchscreen langsung take away. Jadi nggak ribet."
"Warteg apaan pake touchscreen?" Gumam Atmanegara. Antara nggak percaya sama kepo. Ia meneguk habis minumannya, lalu meremat kaleng itu sampai tak berbentuk lagi.
"Papa mau delivery order, nih."
"Ya udah Papa pulang aja dulu, nanti delivery nya pas dirumah."
"Mau disini aja, biar kamu sekalian makan."
"Aku nggak lapar, Pa. Ini hampir tengah malam loh. Jam-jam haram buat makan."
"Cih, mana ada larangan makan jam segini?" Atmanegara mengutak-atik ponselnya.
Violin menghela nafas, tepat saat pintu depan terbuka dan nongol wajah Sofia.
"Haiii baby... nih aku bawain pecel le... "
Sofia tercekat melihat Atmanegara nangkring di sofa rumah nan sederhana ini. Berasa jomplang banget dah. Bagaimana bisa bapak satu ini terlihat 'mewah' di antara barang-barang Violin yang terbilang nggak murah.
Ruang tamu yang luas ini pun terasa sesak, seolah udara disekitar harus dihirup atas ijin Atmanegara. Fiiiuuuhhh...
"Eehh, si Oom, haii Om."
Sofia mendekat lalu mencium punggung tangan Atmanegara.
"Hmmm... " Atmanegara hanya bergumam tak jelas. Sofia kikuk sendiri.
"Nah kebetulan nih Sofia bawa makanan, Papa makan ini aja." Violin menyodorkan kantong plastik putih yang di bawa Sofia.
Atmanegara mengrenyitkan jidatnya, menatap curiga isi dalam kantong.
"Eh, iya Om, sebentar aku siapkan."
Sofia berlalu ke dapur sambil meneteng kantong plastik putih yang di bawanya tadi.
"Selera makan kalian makin aneh." Cibir Atmanegara.
"Itu cuma pecel lele, apanya yang aneh coba?" Violin bersungut-sungut menyusul Sofia ke dapur.
"Ya belinya di pinggir jalan." Atmanegara mengikuti.
"Restoran Papa juga dibangunnya di pinggir jalan, apanya yang salah?"
"Konsepnya yang salah."
"Kok nyalahin konsep? Salahin modalnya dooongg..."
Violin masuk kamar.
Sofia duduk bengong menatap perdebatan unfaedah antara bapak dan anak itu.
Atmanegara mencuci tangannya sambil bergumam tak jelas. Ia duduk dihadapan pecel lele yang sudah berpindah dari kertas minyak ke piring porselen mengkilat nan berkelas.
"Kamu temani saya makan."
Sofia menelan salivanya susah payah.
***