Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Jeroan



Jeffry mematikan mesin motornya di tengah lintasan sirkuit didepan aspal bertuliskan FINISH. Ia sudah menyelesaikan sesi latihannya sore ini.


Ini bukan pertandingan, hanya latihan biasa. Ada beberapa temannya juga yang ikut latihan. Sisanya cuma duduk-duduk nonton.


Dulu Jeffry suka balapan liar. Meski lebih asyik dan menantang tapi resikonya besar. Bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi juga nyawa orang lain.


Dan lagi ia malas berurusan dengan polisi. Apa kata ibu kalau sampai ia tertangkap pihak yang berwajib? Bisa-bisa dimutilasi ke planet mars. Jeffry lebih takut menyakiti ibu daripada menyakiti pak polisi, eh...


Yah, meski menyewa sirkuit juga nggak murah, tapi masih bisa diusahakan lah. Daripada mengusahakan nyawa yang sudah terlanjur melayang, Jeffry bukan Tuhan.


Dulu ia pinjam motor Bang Roni atau sesekali sewa motor disini kalau punya uang lebih.


Tapi sekarang ia bisa main sepuasnya dan bebas memilih motor mana yang ia inginkan. Berkat siapa lagi kalau bukan Mas Dionnya itu.


Jeffry melirik Dion yang sejak tadi duduk manis diatas tribun. Cih, bahkan yang punya sirkuit aja menyempatkan diri menyapa kakaknya.


Seumur-umur mainan motor disini, baru sekali Jeffry bertemu yang punya sirkuit. Lah Dion, baru masuk langsung disambut yang punya tempat.


Ajegile...


Bagaimanapun juga, Jeffry tidak bisa membenci Dion. Laki-laki itu banyak mengajarkan bermacam-macam hal kepadanya.


Oiya, omong-omong ini sudah Minggu ke tiga ia berpisah dari kekasihnya, Sofia. Praktis selama itu pula Jeffry ikut Dion.


Sekarang ia sudah tidak belajar tentang mesin fotokopi lagi. Dion benar-benar menggemblengnya soal manajemen. Karyawan kantor sudah tahu soal ini, jadi mereka tidak bisa lagi meminta Jeffry membuatkan kopi.


"Good job, boy." Dion datang sambil bertepuk tangan kecil. Lalu menyimpan tangannya disaku.


"Catatan waktumu naik bertahap. Tandanya kamu konsisten. Bagus!" Puji Dion.


Jeffry melepas stiker di hidungnya, ia menyimpan senyuman kecil. Rasanya aneh ada yang memuji dari keluarga sendiri. Mungkin jika ibu yang mengatakan itu, Jeffry bisa nangis guling-guling.


Sayangnya sampai saat ini ia belum berani ngomong apa-apa ke ibu.


"Bagaimana kalau kita lakukan penawaran..." Dion menggantung ucapannya.


"Penawaran?" Jeffry mengrenyit.


"Sebenarnya Papa mulai bertanya perkembanganmu di kantor. Aku sih yakin semua berjalan mulus. Sayangnya si tua itu minta bukti secepatnya.


Setahun yang lalu kita mengajukan kerja sama dengan PT Brilian Anggunjaya. Perusahaan ini bergerak dibidang konstruksi. Proyek kali ini adalah sebuah bandara internasional. Kita akan coba masuk ke pasokan furniturenya."


Jeffry mulai paham arah pembicaraan ini. Khas pebisnis, itu yang sedang dilakukan Dion saat ini.


"Presentasi terakhir tiga hari lagi, aku ingin kamu yang maju. Masih ada waktu untuk mempelajari meskipun mepet, tapi inilah tantanganya. Kamu suka tantangan, kan?


Kita lihat bagaimana adrenalinmu bekerja kali ini. Anggap saja seperti saat kamu memacu kuda besi itu." Dion menunjuk motor Jeffry dengan dagunya.


Jeffry masih diam mendengarkan. Ia ingin tahu apa keuntungan yang akan didapatnya jika memenangkan tender ini.


"Ini Mega Proyek, Jeff. Jika presentasi perdanamu gagal..." Dion menggeleng-gelengkan kepalanya. "...it's over. Kedepannya akan lebih sulit bagimu."


"Tapi kalau berhasil?" Tanya Jeffry tak sabar.


"Sirkuit ini milikmu." Jawab Dion yakin. "Beserta isinya."


Jeffry menengadahkan kepalanya. Penawaran yang menggiurkan sebenarnya. Tapi entah mengapa ini terlalu berlebihan.


"Bisa milih reward sendiri nggak?"


Dion menyeringai, ia tahu adiknya ini akan memilih sesuatu yang lebih sederhana.


***


Sejak hari itu, Jeffry lebih serius belajar dengan kakaknya. Dirinya benar-benar tertantang menaklukkan proyek ini, proyek perdananya.


Semua orang harus tahu, dia bukan anak-anak yang bisa dipandang sebelah mata.


Ia sudah membayangkan jika nanti berhasil, pasti ibu akan memeluknya dengan bangga, dengan berlinang air mata bahagia.


Dan juga Antonio, calon bapak mertuanya.


Ehem...


Bayangin aja dulu yang indah-indah biar semangat. Kalau mikirin kalah, nanti mindsetnya jelek, malah biasanya jadi kenyataan. Nehi lah yaa...


Walau penat, capek, nguras emosi, tapi Jeffry tidak akan mundur.


Dion sendiri cukup terkejut dengan kegigihan Jeffry. Pasti ada sesuatu yang penting yang sedang diperjuangkan anak ini melebihi harga sebuah sirkuit.


Tiana masuk keruangan Dion dengan menenteng tas kresek putih. Mukanya cemberut, pokoknya asem banget dilihatnya.


Ia menghampiri Jeffry. "Nih..." lalu meletakkan kresek itu di meja Jeffry.


Jeffry yang sedang fokus kelaptopnya jadi terganggu.


"Apa nih?" Tanyanya sambil membuka kresek.


"Waaahh... ketoprak." Seru Jeffry senang begitu melihat isi dalam kertas minyak yang disodorkan Tiana. Matanya langsung berbinar-binar, bak melihat emas intan permata.


"Makasih ya Tante. Tumben sih baek beneeerrr..." Puji Jeffry sambil menyuap sesendok ketoprak kedalam mulutnya.


"Itu satu doang?" Tanya Dion yang heran dirinya nggak dapet bungkusan.


"Ck, itu titipan Pak. Tadi penjualnya nanyain Jeffry, beberapa hari nggak beli ketoprak anaknya kemana? Aku bilang sibuk. Eh, malah nitip sebungkus buat dikasih Jeffry cuma-cuma. Omong-omong kamu apain penjualnya itu sampai bela-belain nitip segala?" Tiana menatap Jeffry curiga.


Jeffry mesem-mesem, "biasanya kalau anak baek itu emangnya rejekinya lancar sih." Gumam Jeffry kepedean.


"Dih, nyusahin iya." Cibir Tiana sambil berlalu pergi.


"Mas, mau?" Jeffry menawarkan ketopraknya ke Dion, ia tidak terlalu menghiraukan Tiana.


Wajar wanita itu agak sensi ke Jeffry, sudah tiga hari ini pekerjaannya bertambah rempong dengan kehadiran Jeffry yang bolak-balik ngumpulin data soal proyek bandaranya Brilian Anggunjaya.


Dion menggeleng sambil tersenyum. "Makanlah, kamu memang butuh sayur-sayuran."


Jeffry melirik kakaknya itu, "bukan karena sudah pesen makanan yang aneh-aneh kan?"


"Ini nggak aneh Jeff, namanya ris de veau. Makanan khas Prancis." Jelas Dion sambil membuka kotak makanannya.


Jeffry melongok sebentar lalu bergidik, makanan apa lagi ini? Dia suka geli dengan menu-menu makanan Dion, suka aneh-aneh. Benar-benar nggak masuk spec mulut Jeffry sama sekali.


Yang sushi si ikan mentah lah, gong bao ji ding si ayam kung pao, bratwurst si sosis panggang, kimchi si kol pedas. Ditambah lagi yang ini apa tadi? Ris de veau? Duh, susah ngomongnya. Mulut Jeffry ampe keriting.


Ngomong aja jeroan Prancis, kan lebih mudah?


Dion terkekeh sambil memakan potongan pankreas sapi muda yang ditumis dengan jamur itu. Rasanya creamy dan gurih, enak sekali.


***