Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sofia Anna



Nama lengkapnya Sofia Anastasia Tholense. Dari nama marga yang tersemat di belakang namanya, sudah dipastikan ia adalah seorang Noni.


Nenek buyutnya sama-sama kompeni yang jauh-jauh datang dari Belanda ke Indonesia.


(Compagnie : kompeni : kedatangan kongsi dagang Hindia timur atau Vereenigde Oostindie Compagnie (VOC))


Singkatnya mereka beranak pinak hingga lahirlah Sofia. Seorang Noni yang lahir di Batavia. Bapak emaknya sepasang pengusaha textil terbesar di Bandung. Tempat Violin mengambil bahan untuk produk Barbara Brand.


Seorang wanita cantik berkulit putih cenderung pucat, dengan rambut ikal sebahu berwarna emas kecoklatan. Matanya berwarna biru teduh.


Tinggi badanya 170 cm, dengan tubuh kecil, dada kecil dan bok*ng yang juga kecil.


Jika dibuat manekin, akan tampak seperti boneka Barbie. Kecil, ramping dan juga sok kuat.


Sedang tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit. Sekujur tubuhnya penuh luka lebam. Kulitnya yang pucat menambah lukanya semakin jelas terlihat. Sudah dua jam Sofia tertidur seperti itu. Ia baru saja dipindahkan ke bangsal.


Vio dan Pamela menatapnya nanar. Akhirnya apa yang mereka takutkan benar-benar terjadi hari ini.


"Waktu dia bertingkah tak seperti biasanya, seharusnya gue paham dia tidak sedang baik-baik saja." Gumam Pamela.


Violin menoleh menatap Sofia. "Terakhir kali bertemu di cafe, dia dandan agak menor, gue rasa lebam itu sudah ada."


"Nggak bisa bayangin, andai gue telat lima menit aja..." Pamela tidak melanjutkan ucapannya. Mulutnya tiba-tiba kelu dan bulir bening itu kembali turun tanpa permisi.


Violin memeluk bahu Pamela.


"Lalu dimana dia sekarang?" Violin menanyakan keberadaan Daniel.


"Udah diamanin polisi, waktu Surti telfon, aku langsung hubungi Mas Angga." Pamela menghela nafasnya, berat.


Angga adalah kakak Pamela, ia bekerja di kepolisian.


Setahun yang lalu secara diam-diam Pamela berinisiatif memberikan nomor teleponnya kepada asisten rumah tangga Sofi. Nomornya dan Vio, agar jika terjadi lagi hal seperti ini, mereka bisa menghubungi salah satunya.


Setahun yang lalu, dengan sadar Daniel juga berlaku kasar terhadap Sofia. Hanya karena Sofia capek dan menolak berhubungan suami istri, Daniel mencekik leher Sofia lalu memukul dadanya sampai dua tulang rusuk kirinya retak.


Entah apa yang ada di otak Daniel, dengan tidak tahu malu menangis dan memohon ampunan dari Sofia.


Sofia sudah melaporkan tindakan Daniel, sampai waktu Daniel ditetapkan sebagai tersangka, dengan tiba-tiba dan mengejutkan Sofia mencabut laporannya dan memaafkan Daniel atas perbuatannya.


Pam dan Vio curiga Sofia diancam. Mengingat tabiat Daniel yang temperamen dan tidak tahu diri.


Tapi Sofia meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja. Ia bahkan mengaku jika sedikit banyak Daniel berlaku kasar karena kesalahannya juga. Daniel pun mengaku ingin berubah. Ia menyesal atas tindakannya.


Vio dan Pamela sempat kecewa akan jalan damai yang dipilih Sofi. Sekuat apapun mereka meyakinkan Sofi bahwa pelaku KDRT itu sulit untuk berubah, Sofia tetap pada keputusannya. Kembali kepada Daniel. Jadi, apa mau dikata? Itu sudah keputusannya.


"Dasar bodoh!" Umpat Pam. "Andai lo dengerin gue." Ia menghela nafasnya dalam.


Sofia yang malang. Dibuang orang tuanya demi memilih di breng sek Daniel. Beruntung Sofia cantik, ia adalah seorang beauty Vlogger yang jumlah viewersnya bisa menghidupi dan memenuhi gaya hidup Daniel.


Tak habis pikir, apa sebenarnya yang membuat Sofia begitu gigih mempertahankan Daniel. Pria pengangguran yang hanya bisa morotin istrinya. Hobi foya-foya, dugem dan mabuk-mabukan. Tak terhitung harta benda yang sudah ia gadaikan dan berujung Sofia yang mengurusnya.


Cinta memang buta, tetapi yang di lakukan Sofi adalah bodoh.


Vio dan Pam adalah orang pertama yang mendukung orang tua Sofi yang tidak menyetujui hubungannya dengan Daniel. Itulah yang menyebabkan orang tua Sofi dan Violin tetap berhubungan baik.


Pintu ruang bangsal diketuk. Seorang dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Sofia. Dokter itu membungkukan badanya sedikit untuk menyapa Violin. Violin balas tersenyum ramah.


"Pasien hanya dibius agas bisa beristirahat. Luka luarnya memang parah. Diperkirakan pelaku sempat memukul ulu hati pasien yang menyebabkan sesak nafas lalu pingsan. Semoga organ vitalnya baik-baik saja. Kita masih menunggu hasil rontgennya." Jelas dokter itu.


Kemudian Rob masuk ke bangsal dengan meneteng kantong plastik berlogo sebuah mini market.


"Oh, maaf... Saya akan keluar dulu." Ucap Rob menatap tak enak kepada dokter yang sedang memeriksa Sofia.


"Tunggu Prof, saya sudah selesai. Saya pikir anda sudah pulang." Dokter itu terlihat menahan Rob.


"Saya masih ada sedikit urusan disini, Dok." Balas Rob tak kalah ramah.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit dokter itu, ia terlihat membungkuk sedikit dihadapan Rob sebelum berlalu. Ia terlihat begitu sungkan didepan Rob.


Rob mengucapkan terima kasih dan mengantar dokter itu sampai pintu.


Sedetik kemudian Rob kembali masuk, ia berjalan menuju sofa tunggu.


Sambil meletakkan bungkusan plastiknya di meja, Rob melirik Violin dengan jengah. Wanita itu sudah melipat tangannya di depan dada dan menatap Rob dengan pandangan menyelidik.


Pamela menatap dua orang itu bergantian. Hawa panas disekitarnya langsung memancar.


Sebelum semua berubah menjadi kacau dan berujung salah paham, Rob menarik tangan Violin keluar dari bangsal.


"Ikuti aku." Rob melepaskan pegangan tangannya setelah menutup pintu bangsal.


Ia menjaga jarak dari Violin agar tidak terjadi salah paham jika pegawai rumah sakit lain melihatnya memegang tangan putri sang pemilik rumah sakit.


Tentu saja semua pegawai disini pasti mengenal Violin yang wajahnya sering muncul di infotainment ngalah-ngalahin artis ibu kota.


Dengan cemberut, Violin mengekor di belakang Rob, menyusuri koridor dan berbelok masuk ke dalam lift menuju lantai tujuh.


Violin diam saja. Membuat Rob salah tingkah, sekali-kali ia mencuri pandang ke arahnya.


Rob mengajak Violin masuk ke sebuah ruangan.


Tidak ada yang spesial dari ruangan itu. Layaknya ruang kerja lainnya. Cukup luas untuk ukuran ruang kerja yang seharusnya bisa digunakan untuk dua ruangan.


Wah waahh, tumben-tumbenan bapaknya kurang efisien mengalokasikan duit.


Violin mengamati ruangan itu. Wangi vanilla musk begitu segar menggelitik hidunnya. Sampai pandangannya jatuh di atas meja kerja.


Tertulis dengan jelas nama Rob di sana. Lengkap dengan printilan-printilanya.


Prof. DR. Dr. Roberto Thomas, Sp.BTKV


Violin memicingkan matanya, "Rob, jelaskan bagaimana bisa kamu bekerja di sini tanpa sepengetahuanku!?" Suaranya tipis dan mengancam.


Rob menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***