
"Sarapan, Mas."
Jeffry menyodorkan sepiring nasi goreng ham sapi kehadapan Dion. Diperjelas ham sapi takutnya reader ada yang nanya, itu Jeffry makan ba bi tor?
Kagak cuy!
Perlu sebut merk nggak nih? Hmm, nggak usah ye? Otor kagak diendorse juga soalnya. Hehehe...
Dion melirik piring didepannya, sambil menggulung hand wrap. Ia baru saja menyudahi olahraganya. Tapi Jeffry malah berbuat onar dengan menyodorkan nasi goreng itu. Mana kelihatannya enak gitu. Apalagi Jeffry mencampurkan kacang polong juga disana. Tambah berwarna-warni kan bentukannya?
"Dimakan, jangan cuma dilihatin. Kagak bakal kenyang." Tegur Jeffry yang sejak tadi memperhatikan kakaknya itu sambil asyik nyuap nasi goreng kedalam mulut.
Dion melirik Jeffry, antara pingin nampol sama pingin makan juga. Memang suka sengaja ini anak, bawa makanan keruang gym, pas banget Dion selesai gym pula.
Akhirnya Dion nyerah, ia menyuap sesendok nasi goreng.
Enak.
Dion menyendok lagi, begitu sampai habis.
"Enak nggak?" Jeffry memajukan mukanya.
"Percuma juga olahraga, sarapannya nasi goreng." Gerutu Dion, nggak nyambung banget sama pertanyaannya Jeffry. Nanya apa jawabnya apa.
"Lah, dia merasa berdosa." Cibir Jeffry.
Lalu bel pintu berbunyi.
"Bukain Jeff, mungkin Robert. Aku mandi dulu." Dion melenggang masuk ke kamarnya.
Hari ini memang Dion ada janji main futsal bareng Rob. Awalnya mau ketemu langsung di GOR, tapi tiba-tiba Rob menawarkan diri nyamperin Dion ke apartemen karena ternyata searah. Dion sih nggak masalah.
Jeffry meraih piring kosong bekas Dion makan, mampir ke pantry bentar naruh piring baru lompat kedepan. Sigap Jeffry membukakan pintu.
"Eh, Pak dokter, masuk Pak." Jeffry melebarkan pintu.
Rob menepuk bahu Jeffry, "Morning Jeff, mana kakakmu?" tanyanya sambil nyelonong masuk kedalam.
"Lagi mandi, tunggu aja. Minum apa, Pak?"
Robert terkekeh, "luwes sekali kamu ya?" pujinya dengan sikap Jeffry yang sigap melayani tamu.
Jeffry nyengir aja. Yang begini dibilang luwes, jadi bagaimana sebenarnya orang-orang kaya ini menyambut tamunya ya?
"Oiya, atau mau sarapan? Masih ada sisa nasi goreng sedikit kalau Pak Dokter mau."
Rob menaikan alisnya, "kamu yang masak, atau Dion?"
"Cih, Mas Dion... mana sempat masak? Apa-apa beli Jeff, DO aja Jeff, take away Jeff..." Bibir Jeffry monyong-monyong menirukan Dion kalau sedang mode memerintah.
Robert terkekeh, ia berjalan menuju pantry mengikuti Jeffry. Lalu duduk manis menunggu Jeffry menyiapkan nasi goreng. Ia cukup tertarik mencoba masakan bocah ini.
"Mau ditambahin kacang polong atau jagung manis, Pak?"
"Kacang polong aja boleh."
Sebentar kemudian sepiring nasi goreng ham siap didepan Rob.
"Waahhh, kelihatannya enak." Puji Rob sambil meraih sendok.
Eh, beneran loh. Rob mengacungkan jempolnya.
Jeffry tersenyum puas.
"Apa nih dateng-dateng makan." Cibir Dion yang baru saja keluar kamar sambil meneteng tas olahraga.
"Jeffry biar tinggal sama gue, bro." Kelakar Rob sambil melap mulutnya setelah minum.
"Ada udang dibalik bakwan." Balas Dion sambil menyipitkan matanya.
"Hahaha..."
"Cabut yuk, ah." Dion melenggang.
"Siap juragan." Sahut Jeffry sambil mencuci piring bekas dokter Rob makan.
Diam-diam Robert menyelipkan lembaran merah kesaku celana Jeffry.
"Buat jajan." Bisik Rob sambil mengacak-acak rambut Jeffry lalu berlalu menyusul Dion.
Jeffry melongo. Etdah, bocah banget apa tampang gue nyampe dikasih uang jajan segala?
Ia melap tangannya, penasaran banget berapa kira-kira uang jajan dari Pak Dokter ya?
Satu... dua... tiga...
Alamaakkk, sejuta dooong. Auto buka warung nasi goreng aja deh.
***
Dion melempar tasnya ke jok belakang mobil Robert, memasang sabuk pengaman lalu duduk manis disamping Rob.
"Apartemen lo lumayan jauh juga kalau ke kantor." Robert penasaran, padahal Dion punya beberapa unit yang dekat kantor. Kenapa musti pilih yang jauh sih? Belum macetnya.
"Apartemen itu favoritnya Violin."
Rob terkekeh sambil memutar kemudinya. "Move on dong bro." Cibir Rob.
"Nggak semudah itu." Sahut Dion.
"Yah, kalau wanitanya sekelas Violin sih, emang susah." Rob setuju.
"Aku dengar Pak Atma punya beberapa kandidat." lanjut Robert.
Dion melengos. Ia sudah tahu soal Atmanegara yang mencoba peruntungan putrinya.
Dari Letjen TNI yang baru saja dilantik, konon Pak Jendral ini seorang duda anak dua, istrinya meninggal tiga tahun yang lalu karena kanker payudara.
Lalu tak ketinggalan seorang pemuda pewaris batubara. Yang ini Dion kenal, dulu mereka sempat satu sekolahan tapi beda circle.
Yang ketiga seorang Dirut pemilik hotel dan restoran.
Terakhir Dion sempat kaget pas tahu Atmanegara mencoba menjodohkan anaknya dengan seorang gay.
Damar Ehrlichmann.
Dikalangan pebisnis siapa yang tidak mengenal pria ini. Tergolong anak 'baru' tapi performanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia terkenal cukup ambisius dan arogan.
Rudolf Group yang hampir runtuh pun bisa berdiri tegak bahkan lebih kuat ditangan Damar.
Apa ini yang membuat Atmanegara menyukainya? Mereka mempunyai ambisi yang sama.
Tapi catatan minusnya, beredar kabar Damar ini gay. Bukti juga sudah tersebar luas di jejaring sosial.
Apa ada kemungkinan Vio mau dengan pria semacam ini?
Apa yang Atmanegara pikirkan sebenarnya? Orang tua itu tidak mungkin sembarangan memilih orang. Yang Dion takutkan, perhitungan Atmanegara meleset kali ini.
Dion meraup wajahnya.
"Jika aku menyerah, itu karena Vio tidak merubah apapun tentangku dihatinya. Tapi kamu? Setidaknya pernah ada cinta di hati kalian berdua." Lampu merah sudah berganti menjadi kuning, Robert menekan pedal gasnya pelan.
"Pak Atma juga bukan Tuhan, dia bisa saja salah. Entah mengapa aku lebih senang mendengar Violin bersamamu." Lanjut Rob lagi. Ia jelas-jelas menunjukkan dukungannya untuk Dion.
"Jadi sekarang kita sekutu nih?" Gurau Dion.
"Tidak semudah itu. Kalau tanding kali ini Tim-mu menang, kita sekutu. Tapi kalau kalah... Jangan harap."
"Cih, sombong sekali."
"Hahaha..."
***