
Pagi hari yang indah. Seorang anak muda tak henti-hentinya tersenyum sepanjang jalan.
Semua orang yang berpapasan disapanya. Hari ini ia kelewat ramah, sampai-sampai mbog jamu gendong langganan ibunya heran.
"Kae mau anakke Bu Isa, to? Lah kok ndengaren ngguyu mbek aku? Lha wong biasane nang ngomah misuh wae yen aku mrono. (Itu tadi anaknya Bu Isa, kan? Lha kok tumben senyumin aku? Biasanya ngomel mulu kalau aku kesana)
Begitulah kira-kira gerutuannya si mbog jamu gendong.
Walau jalanan macet parah seperti biasanya, tapi bagi pemuda itu bagaikan anugrah terindah karena ia bisa berlama-lama dengan wanita cantik di jok belakang motor maticnya.
Sesekali ia melirik spion. Memastikan wanita yang diboncengnya aman. Sekalian juga memastikan bahwa wanita itu nyata, benar-benar ada di belakangnya, membonceng miring dengan sebelah tangannya melingkar erat di pinggang Jeffry.
Yak ampuuuunnnn, berasa mimpi dipeluk artis idolak. Hihihi
Berbeda dengan Jeffry, hampir sepanjang jalan Vio menggerutu. Ia yang terbiasa bergelut dengan jalanan macet ibu kota namun duduk dengan nyaman di dalam mobil yang wangi, full AC dan full music, harus mendengar berisiknya bunyi knalpot dan polusi kendaraan disekitarnya. Apalagi saat berhenti lampu merah, ingin rasanya Vio melompat dan lari mencari taxi.
Vio yakin saat ini wajah mulusnya sudah cemong, hitam penuh dengan asap kendaraan. Huffftt...
"Jeff, itu ada sela, kamu nyelip gih biar cepet." Violin menunjuk sela antara mobil pickup dan bis sekolah didepannya saat lampu merah.
"Bahaya, Tan. Itu sempit banget loh, motor aku nggak muat." Kelit Jeffry.
"Itu muat dua motor ituuu!" Violin gemas sendiri. Jeffry bahkan hanya jalan 40 km/jam.
"Nggak ah, bahaya!" Jeffry ngeyel.
"Kamu yakin nggak nambah kecepatan? Oke aku turun sini deh. Tuh depan ada taxi. Aku bisa naik ojek juga." Vio mulai ngambek. Nggak tahan banget rasanya. Badanya mulai lengket dan bau-bau aneh terasa menempel.
"Eh, taxi jam segini penuh semua. Tukang ojek juga bahaya loh, Tan." Jeffry mulai kelabakan.
"Pegangan yang erat, habis lampu merah ini aku langsung gas deh." Akhirnya Jeffry harus merelakan waktu mereka yang dipersingkat dengan ngebut.
Violin beneran pegangan erat di pinggang Jeffry. Kali ini extra erat dengan bonus agak menekan dadanya di punggung Jeffry. Maksud hati biar Jeffry kesakitan, tapi malah ternyata keenakan. Yang ada senyum anak itu malah semakin lebar. Dapet bonus euy!
Perjalanan dari rumah ke kantor yang biasnya hanya sejam pas lagi macet, dirasa Vio molor jadi dua jam. Padahal sih nggak, hiperbola aja.
Lain halnya dengan bocah tengil itu. Sejam pun dirasa lima menit, kurang lama.
"Thanks ya, Jeff." Ucap Violin saat sampai didepan gedung Marina Group. Ia turun dari motor sambil mencoba mencopot helm. Yak, susah!
Dua menit, masih susah.
"Ini copotin! Kamu kenapa malah senyum-senyum nggak jelas gitu sih?" Violin mulai kesal. Pagi ini ia buru-buru malah orang yang menolongnya model si Jeffry. Ampun dah!
"Iihh, Tante bilang dong kalau mau dicopotin biar kelihatan mesra kayak Dilan."
"Dilan gundulmu! Cepetaaann!"
"Iya iyaaa..." Jeffry membantu Vio melepas helmnya. Memang kancingnya agak seret sih.
"Dah, aku masuk. Thanks." Pamit Vio. Ia menyerahkan helm itu ke tangan Jeffry lalu setengah berlari memasuki lobi. Hels tujuh centi-nya terdengar nyaring mengetuk lantai granit lobi Marina Group.
Dari luar Jeffry asyik berdadah-dadah sampai tubuh Violin menghilang.
"Ehem..." Dehem seseorang berseragam security dibelakang Jeffry. Ia menatap Jeffry intens sambil memelintir kumis panjangnya. Wajahnya garang membuat Jeffry sedikit mengkeret.
"Eh, Pak Toni. Mari Pak... Hehehe." Pamitnya sambil menunduk sopan.
Orang yang disapa mengerenyit heran, "Heh kamu! Sini kamu!" Panggilnya galak. Jeffry yang hendak tancap gas jadi berbalik dan menepikan motornya disamping pos satpam.
"Sarapan belum, Tong?" Tanya Pak Toni. Ia mempersilakan Jeffry duduk didekatnya. Di dalam pos itu ada dua rekan Pak Toni yang sedang ngopi ditemani gorengan. Jeffry menyapa mereka singkat. Dari name tag nya sih Joko dan Andi.
"Sudah Pak." Jawab Jeffry.
"Dah santai aja, nih ngopi dulu." Pak Toni menyodorkan segelas kopi susu sachet dan sepiring gorengan yang sepertinya masih hangat. Jeffry jadi tergoda.
"Waahhh... cocok ini Pak." Jeffry mencomot mendoan.
"Kamu kang ojeknya Bu Violin?" Pak Toni mulai menyelidik Jeffry yang tampangnya diatas rata-rata kang ojek pengkolan kebanyakan.
Bukan kang ojek biasanya nggak ganteng lho ya, mereka ganteng menurut versi masing-masing. Tapi dari kacamata Pak Toni, Jeffry yang masih muda dengan style bad boy semprul slengekan kurang pas aja jadi tukang ojek.
Jeffry mengelap jari bekas minyak dengan tisyu, lalu menjabat tangan Pak Toni, "kenalin Pak, calon pacarnya Tante Vio." Ia berucap dengan pongah.
Krik kkrik kriikk...
Semua terdiam.
Krik kkrik kriikk...
Pak Toni dan teman-temannya saling pandang.
Lalu...
"HAHAHAHAHAHAHAHA..."
Semua tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut masing-masing. Bahkan teman Pak Toni yang perutnya paling buncit sampai meneteskan air mata saking gelinya.
"Nemu bocah ini dimane sih ini? Lawak bener! Hahaha..."
"Elu sunat aja belom kering, Tong. Kagak usah kejauhan ngarepin Bu Vio! Hahaha..."
"Punya ape lu, hah? Hahaha..."
Jeffry menyisir rambut ikalnya dengan tangan. Bukannya keder malah tambah songong muka tu bocah. Sepertinya ia terbiasa dihujat. Hmmm...
Lalu Jeffry ingat sesuatu. Sepertinya bisa ia tanyakan kepada bapak-bapak ini. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Pak Joko.
"Oh iya, ngomong-ngomong gosip soal Tante Vio yang sudah menikah, apa bener Pak?" Bisik Jeffry lirih. Kok jadi deg-degan ya nunggu jawabannya.
"Gosip darimana?" Security yang bernama Pak Andi menjawab pertanyaan Jeffry.
"Itu fakta, bukan gosip!" Lanjutnya lagi. Seketika hati Jeffry mencelos.
"Kamu ini gimana sih, Tong? Katanya calon pacarnya Bu Vio." Pak Toni mencibir sambil tertawa, padahal mulutnya penuh dengan bala-bala.
Jeffry nyengir kuda.
"Dah lanjut aja, Le. Aku kok sueneng sama semangat anak muda sing koyongene." Ujar Pak Joko yang dari tadi hanya diam.
"Tampangmu oke, tapi Bu Vio nggak cuma butuh tampang. Wong mantan suaminya yang kaya, yang guantenge kayak Arjuno aja yo tetep cerai. Weess, pokoknya koe maju, tak dukung!" Pak Joko memberi semangat.
Jeffry tentu saja semringah mendengar Tante Vio-nya ternyata janda kembang. Baginya nggak masalah mau perawan atau janda, justru ini tantangannya. Sangat mudah baginya merayu anak gadis orang, tapi merayu janda kembang yang penuh pesona seperti Violin? Hmmm...
Caiyooo Jeffry!!!