Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Pujaan Hati



"Mas, temani Sus Bell istirahat di kantin, ya?" Lirih Arum. Mahendra baru sampai di bangsal saat Arum usai menjalani kemoterapinya yang ke sembilan.


Ia terlambat lagi karena harus sekalian menjemput Dion ke sekolah. Untung ada suster Bella yang menemani Arum.


"Nggak, aku mau disini." Mahendra menarik kursi mendekat ke ranjang Arum. Ia menggenggam tangan kurus itu, terasa dingin.


"Banyak teman seprofesi Bella di kantin, ia pasti risih kalo aku temani." Jari-jari Mahendra merapikan tutup kepala istrinya dengan lembut. Rambut Arum sudah rontok karena kemo. Kulitnya juga mulai menghitam dan layu.


"Mas harus tanggung jawab dong sama kesehatan Bella, pastikan dia makan dengan baik, kalau Bella sakit bagaimana bisa merawat aku!?" Arum merajuk, ia pura-pura cemberut kesal.


"Mamaaaa...." Suara cempreng Dion, anak itu menghambur ke pelukan Arum. Ia masih memakai seragam sekolah dasar lengkap dengan tas dan sepatu.


"Hai, jagoan." Dion dan Arum melakukan toast.


"Mah, Dion lapar. Tadi di sekolah Dion nggak makan, mau makan disini sama Mama Papa." celoteh Dion riang.


Arum tersenyum lembut, "Sayang, temani makan Papa sama Sus Bell di kantin, mau?"


Dion melirik Bella yang sedang merapikan peralatannya diujung ruangan.


"Mama ngantuk berat nih, habis diobati Pak Dokter. Gimana dong?" Arum memasang wajah ngantuknya.


"Tapi nanti ajari Dion bikin pe-er ya, Mah." Tawar Dion. Mata bulatnya bersinar semangat.


"Kan Mama harus istirahat, nanti biar Sus Bell yang bantu, mau?"


Mata Dion meredup, ia ingin Mamanya.


"Nanti biar Papa yang bantu." Sahut Mahendra. Dion melirik Papanya.


"Nggak, Dion nggak ngerti teorinya Papa, ribet. Dah yok sama Sus Bell aja." Dion beranjak mendekati Bella.


Ia membisikkan sesuatu di telinga Bella, kemudian cekikikan berdua. Dion menggandeng tangan Bella.


"Papa nggak usah ikut, aku mau pacaran di kantin sama Sus Bell." Ucap Dion. Mahendra pura-pura mendelik.


"Siapa yang ajarin pacaran-pacaran? Anak kecil nggak boleh, ya!" tegur Mahendra.


"Ya udah Papa ikut nggak?"


"Tentu saja Papa ikut, iya kan Pa?" Arum yang menjawab. Ia sedikit mendorong lengan Mahendra agar segera menyusul Dion dan Bella.


"Iya iyaaa, Papa ikut. Kompak banget sih, emak sama anak." Gerutu Mahendra. Ia mengecup kening Arum sebelum pergi. Bella tersipu melihat pemandangan itu.


Sejak awal ia mengagumi Mahendra. Pria itu romantis sekali, juga sangat penyayang keluarganya. Sesibuk apapun, Mahendra pasti menyempatkan mendampingi Arum, meski kadang suka molor, tapi ia tetap datang.


Bella ingin suatu hari jika berumah tangga, ia mendapatkan suami seperti Mahendra.


Aahh... mungkin hanya angannya saja. Kenyataannya siapa yang mau dengan perawat udik sepertinya, kan?


Arum memandang kepergian mereka dengan sendu. Bibirnya terbersit senyuman tipis, tapi matanya berkaca-kaca. Buru-buru ia menyeka dengan selimutnya.


Arum adalah pasien leukimia agresif yang Bella rawat disaat-saat awal ia bekerja sebagai perawat.


Kangker darah itu sudah menggerogoti tubuh Arum sedemikian hebatnya. Membuat badanya semakin kurus, pucat dan kerap kesulitan bernafas.


Arum dengan sabar melewati pengobatan demi pengobatan, ia berjuang melawan penyakit demi Dion dan suaminya.


Adakalanya Arum ingin menyerah, tapi melihat Dion yang masih kecil dan Mahendra yang setia menemaninya, semangatnya tumbuh lagi, ia harus kuat.


Saat bertemu Bella, Arum sudah menjalani kemoterapi yang ke tujuh kali. Badannya semakin kurus dan kepalanya sudah botak. Ia bahkan mulai kesulitan mengingat. Ia terus menulis apa saja dibuku agar ia tetap ingat.


Sampai Bella datang menjadi perawatnya, ia mulai nyaman bercerita dengan Bella. Seolah menemukan teman baru yang menyenangkan. Ia tidak membutuhkan buku dan pena lagi, dengan senang hati Bella akan mengingatkan lagi tentang semua hal.


Arum menyukai Bella. Bella yang baik, cantik, keibuan dan juga sabar. Semua di diri Bella, Arum suka. Dalam waktu singkat Bella dan Arum menjadi akrab seperti kakak adik.


Arum pikir ia sudah menemukan seseorang yang akan ia berikan amanah menjaga anak dan suaminya.


Ia sadar beberapa tahun terakhir ia hanya menjadi beban suaminya. Kondisinya terus memburuk meski Mahendra sudah memberikan pengobatan terbaik.


Sedang suaminya adalah laki-laki sehat dan normal. Untuk kebutuhan biologisnya. Arum sudah tidak bisa lagi memberikan.


Sampai timbulah ide mendekatkan Bella dan Mahendra. Sebelum ia pergi, ia harus pastikan mereka sudah saling jatuh cinta.


*****


Pagi ini saat bangun tidur Mahendra merasa nyeri di bagian dadanya. Tidak seperti sebelumnya, setelah minum obat biasanya akan membaik. Tapi mendadak ia merasa gelisah yang berlebihan.


Dirumahnya yang besar ini, ia hanya hidup sebatang kara. Istrinya sudah meninggal sejak lama dan anak semata wayangnya memilih tinggal di apartemen.


Sejak Dion bercerai dari Violin, ia jarang pulang kerumah ini. Mahendra serasa merana tanpa adanya keluarga disisinya. Ia hanya ditemani Mbok Mirah dan suaminya, mereka sudah lama ikut Mahendra. Dan ditambah seorang supir pribadi.


Sepi sekali hidup Mahendra. Semua serba ada, ia punya segalanya kecuali keluarga.


Atmanegara sering menyuruhnya menikah lagi, tapi siapa juga yang mau dengan pria tua penyakitan ini?


"Kau kan kaya, banyak gadis-gadis muda diluar sana, tinggal tunjuk yang kau mau, beres!" Mulut Atmanegara memang suka asal. Bukan Atmanegara kalau nggak berlebihan dalam segala hal.


"Iya, setelahnya siap-siap kamu pasang karangan bunga didepan rumahku ini." Jawab Mahendra waktu itu.


"Ck, karangan bunga itu hanya prestise, lebih baik aku masukkan uang duka, lebih manfaat untuk Dion."


"Hmm, masih aja itung-itungan, cuma karangan bunga lho, bahkan kau bisa membeli setoko-tokonya. Dasar pelit!" Cibir Mahendra.


"Asas manfaat, bro. Hahaha..."


Ya, berdebat dengan Atmanegara memang tak akan ada habisnya.


Bukan Mahendra tak ingin lagi memiliki seorang pendamping. Sampai matipun hartanya tak akan habis ia makan, namun sampai mati juga ia tidak akan menikah lagi jika bukan dengan Isabella.


Satu nama dari masa lalunya itu yang sejatinya mengganggu ketenangannya. Menghantui setiap malam di tidurnya. Dimana dia? Mengapa keberadaannya sulit sekali dilacak?


Isabella.


Satu nama yang akan ia ingat seumur hidupnya. Cinta sejatinya yang menghilang.


Dan seperti mimpi disiang bolong, Bella ada di depan matanya.


Ia sekarang ada disampingnya, duduk dengan gugup diujung kursi besi khas rumah sakit, terang-terangan Bella menjaga jarak dengannya. Mahendra diujung satu dan Bella diujung satunya lagi.


Dadanya kembali berdenyut nyeri, mengapa saat sudah di depan mata pun wanita ini masih saja sulit ia raih.


"Dimana kamu selama ini?" Bisik Mahendra lirih. Ia harus menoleh 90 derajat untuk melihat wajah Bella dengan jelas.


Ia tetap saja masih cantik dan mempesona. Hanya hijab itu yang membuatnya berbeda. Bella nampak keibuan dengan balutan hijab.


Bella diam saja, ia hanya menunduk menatap ubin.


"Aku mencarimu kesana kemari. Tolong jangan pergi lagi." Lirih Mahendra, pandangannya sendu penuh kerinduan.


"Pergilah Mas, lupakan aku. Sampai mati aku tidak akan pernah sudi menjadi pelakor." Sahut Bella. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak melihat Mahendra atau hatinya akan berkhianat lagi.


Mahendra menghela nafas, "Arum sudah meninggal, satu bulan sejak kamu pergi meninggalkanku."


Refleks Bella menoleh kaget, "Apa? Mbak Arum apa Mas?" Suaranya bergetar.


Mahendra hanya menggeleng pelan.


"Ya Tuhaaannn... Aku sudah membunuh Mbak Arum, aku seorang pembunuh!" Bella menutup mukanya dengan tangan. Ia terisak nelangsa. Tangisannya terdengar pilu.


"Mbak Arum..." Panggi Bella.


Mahendra menggeser duduknya lebih dekat dengan Bella.


"Tidak... Bella... Dengarkan aku dulu!" Mahendra bingung, bagaimana ia menenangkan wanita ini. Ingin memegang tangannya ia takut ditolak, apalagi memeluknya.


"Tolong dengarkan..." Akhirnya dengan ragu Mahendra mengelus punggung Bella lembut. Tidak ada penolakan, tapi Bella masih saja menangis.


"Arum memang sudah menyerah melawan penyakitnya, ia juga menitipkan surat untukmu. Aku menyimpannya dirumah. Ikutlah, sekali saja. Setelah itu terserah kamu."


******