
Jeffry memandang Sofia dalam remang sisa-sisa cahaya senja. Siluetnya bak dewi yang ada dalam dongeng-dongeng anak sebelum tidur.
Sofia nyaris tak punya cela. Kulitnya, wajahnya, badannya, semua indah. Sempurna menurut standar kecantikan wanita negeri ini.
Tapi...
Wanita ini rapuh.
Ia tidak sekuat Violin ataupun Pamela. Membuat orang-orang yang gampang iba macam Jeffry merasa ingin melindungi.
Tapi tidak bagi orang-orang yang gelap mata seperti Daniel. Baru mendengar ceritanya saja rasanya emosi Jeffry sampai ubun-ubun.
Bagaimana bisa makhluk selemah ini di sakiti?
Laki-laki macam apa yang beraninya menganiaya perempuan? Apa dia tidak lahir dari rahim seorang wanita?
"Bang sat itu sudah di Bui, lalu kenapa Tante nggak pulang aja ke rumah?" Tanya Jeffry.
Sofia sempat cerita jika hubungannya dengan orang tuanya renggang gara-gara Daniel.
Sofia menunduk sedih.
"Bagaimana bisa aku pulang? Aku terlalu malu mengahadapi mereka." lirihnya.
Jeffry tersenyum iba.
"Kata ibuku, jika ada orang tua yang marah sama anaknya, itu karena mereka sayang. Tidak ada orang tua yang benar-benar marah kepada anaknya. Karena baik buruknya anak, Tante tetaplah anaknya."
"Tapi aku sudah mengecewakan mereka terlalu dalam, Jeff..."
"Pintu maaf selalu terbuka. Apalagi Tante sudah menerima konsekuensinya. Aku yakin orang tua Tante menunggu Tante pulang."
Sofia memiringkan kepalanya, "benarkah?"
"Percayalah..." Jeffry mengulurkan tangannya, "mau ku temani?"
***
Tidak pernah terfikir dalam benak Sofia untuk berani-beraninya membangkang dari orang tuanya. Sejak kecil hingga remaja ia anak yang manja.
Tumbuh dan besar di tengah-tengah keluarga yang bahagia dan penuh cinta. Hidupnya normal-normal saja layaknya remaja pada umumnya.
Lalu semua berubah ketika Daniel hadir di hidupnya. Mereka satu universitas beda fakultas.
Daniel mengajari hal-hal yang belum pernah Sofia lakukan. Hal-hal terlarang yang mengasyikkan. Terasa seru karena hal baru bagi Sofia.
Anak baik-baik yang di kenalkan dengan apa itu dunia malam, miras hingga se xs bebas.
Sofia semakin terlena saat keperawanannya ia serahkan dengan sadar untuk Daniel malam itu. Ia bagai kerbau dicucuk hidungnya. Semua yang Daniel mau, ia berikan. Sampai mengabaikan nasihat orang-orang yang menyayanginya.
Mereka menikah tanpa restu orang tua Sofia, sedang keluarga Daniel memilih acuh.
Sofia pikir setelah menikah ia akan bahagia. Masuk dua bulan pernikahan memang semuanya terasa indah. Tapi setelah itu Daniel mulai kasar, ia main tangan.
Sedikit saja Sofia berbuat tak sesuai keinginannya, Daniel marah. Tak segan menjambak bahkan memukuli Sofia.
Tapi Sofia tetap bertahan dan menutupi semua ini, seolah semua baik-baik saja.
Kalau ingat itu, ia hanya ingin menangis. Mengutuk dirinya yang bodoh.
Sekarang ia sudah jatuh ke kubangan penuh lumpur, ia malu.
Masih untung Violin dan Pamela masih menganggapnya sahabat.
Sofia mengetatkan pelukannya di pinggang Jeffry.
Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, terasa sampai ke tulang. Tapi ia sudah bertekad untuk pulang malam ini.
Jeffry benar, tidak ada salahnya mencoba. Jika nanti ditolak, masih ada Jeffry yang membawanya pulang ke rumah Violin lagi.
Saat Sofia meraih tangan Jeffry, saat itulah keberanian itu tumbuh. Ia tidak ragu lagi.
Disinilah ia sekarang, berdiri canggung di depan sebuah rumah yang ia rindukan. Saksi bisu kehangatan dan kasih sayang orang tuanya.
"Waaahh, apakah rumah orang kaya pagernya harus setinggi ini?" Gumam Jeffry yang akhir-akhir ini sensitif sama hal-hal berbau kemewahan.
Sofia tak menggubris ocehan Jeffry, ia terlalu sibuk mempersiapkan hatinya.
"Neng Pia? Ini teh beneran Neng Pia? Ya Allah Gusti, Neng Piaaaa..." Mang Asep berseru tak percaya melihat majikannya kembali.
Asep buru-buru membuka gerbangnya lebar-lebar. Saking excited nya, Asep lupa kalau Jeffry cuma bawa motor jadi nggak usah semua gerbangnya di buka.
"Ibuu... Bapaaakkk... Neng Piaaa pulang, Paakk... Buuu..." Asep jejeritan.
Sofia menepuk pundak Asep.
"Mang, pake interkom aja. Mama nggak bakalan dengar."
Asep menepuk jidatnya, "Lupa Neng. Hayu atuh masuk heula." (Ayo, masuk dulu)
Sofia menoleh ke arah Jeffry. Jeffry membalas dengan senyum menenangkan.
"Masuklah..." Ia mengedikkan dagunya, mempersilahkan Sofia masuk.
"Tapi..."
"Aku tunggu disini." Janji Jeffry.
Sofia mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia berjalan menghampiri Jeffry, meraih tangannya dan membawanya masuk kedalam rumah.
***
Rumah orang tua Sofia, tentu saja tidak jauh berbeda dengan rumah orang kaya pada umumnya. Hanya saja rumah ini terasa sekali kehangatannya.
Tidak begitu besar, hanya terdiri dari dua lantai. Tapi tetap saja lebih besar dari rumah Jeffry.
Kelihatannya ibu Sofia senang berkebun. Diluar rumah banyak berbagai macam tanaman hias. Juga di dalam rumah, hampir setiap sudutnya ada tanaman yang sengaja diletakkan untuk hiasan. Atau mungkin ada fungsi lainnya.
Jeffry kurang mengerti soal tanaman. Ia hanya diam saja menikmati keindahan rumah ini.
Tangannya masih dalam genggaman Sofia. Tangan wanita ini semakin dingin. Jeffry berasa menggandeng batu es.
"Fia... Fiaaaa..." Pekik ibunya Sofia sambil tergesa-gesa menuruni anak tangga. Matanya sudah basah air mata.
Sofia menggigit bibir menahan gemuruh di dadanya. Rasanya seperti pengakuan dosa yang tak termaafkan. Genggamannya di tangan Jeffry makin kuat. Jeffry sampai meringis.
Antonio juga terlihat mendekat dari arah ruang kerjanya dengan langkah lebar-lebar. Sofia semakin takut.
Jeffry mengelus lengan Sofia, menenangkan.
Langkah Anna melambat, ia seperti takut mendekati putrinya. Berkali-kali pandangan matanya beralih dari Sofia ke suaminya. Seperti menunggu ijin dari Antonio.
Antonio menatap tajam. Bukan kepada Sofia, tetapi pemuda yang ada di sebelahnya. Tangannya sudah mengepal kuat.
Sekarang bukan hanya Sofia yang deg-degan. Jeffry pun jadi salting dipelototin begitu. Berasa maling anak gadis orang kan?
"Berandalan mana lagi yang kamu bawa, Fia?! Belum cukup kamu dipukuli Daniel?"
Suara Antonio menggelegar di setiap sudut rumahnya. Matanya merah menahan amarah.
Nyali Sofia menciut.
"Ini Jeffry, Pa. Bukan berandalan." Cicit Sofia takut-takut. Ia mencoba membela Jeffry. Bagaimanapun juga, ia bisa sampai disini berkat Jeffry.
Nafas Antonio naik turun.
Jeffry tahu keadaan ini akan semakin rumit jika tidak segera diluruskan. Belum juga berdamai, sudah bersitegang lagi cuma gara-gara Sofia membawa laki-laki berpenampilan sontoloyo macam dirinya.
Celana sobek, jaket kulit, sepatu kets bulukan, rambut acak-acakan, komplit kan?
Perlahan Jeffry melepaskan genggaman tangan Sofia. Lalu mendekati Antoni bak seorang gentleman.
Ia mengulurkan tangannya.
"Salam kenal Om, saya Jeffry."
Antonio mengabaikan tangan Jeffry. Baginya tidak penting siapa pemuda ini, pertanyaannya adalah kenapa anak ini ada bersama anaknya?
Jeffry mengangkat alisnya, sepertinya memang harus songong dikit berhadapan dengan orang macam bapaknya Sofia ini.
"Om kenal Dion Mahendra?" Tanya Jeffry sambil menarik kembali uluran tangannya.
Antonio tidak menjawab, ia hanya memiringkan kepalanya, seolah bertanya, 'apa maksud lu?'
"Saya adiknya."
***