Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Cemburu



Sengaja banget Violin nyuekin Dion sepanjang sisa malam. Dia benar-benar menikmati suasana itu. Ngobrol seru bareng anak-anak muda itu


Saling lempar jokes konyol.


Nyanyi bareng sambil rebutan Pizza dan cola (Vio beneran order online dong).


Dion sendiri cuma duduk masam di bawah pohon cemara yang kebetulan memang ada bangku kayu dibawahnya, sambil melipat lengan.


Yang membuat Violin cukup terkejut adalah ternyata anak-anak itu bukan anak-anak 'biasa'.


Sebagian besar memang anak nelayan, tetapi pendidikan mereka nggak main-main.


Bima sendiri masih mengejar pendidikan Pascasarjana kedokterannya di UGM.


Yang paling kecil diantara mereka ada yang masih SMA dan juga seorang atlet renang namanya Mira.


Atau yang pegang gitar Bayu, anak muda melek bisnis. Sambil kuliah sambil mengembangkan usaha bubuk cabe keringnya.


Juga Salsa, si ceria ini suka bikin konten yang mengedukasi pertanian di lahan pasir.


Juga masih banyak anak hebat lainnya lagi.


Satu yang membuat Vio takjub adalah mereka kompak tidak akan meninggalkan desa ini. Tekad kuat untuk membangun dan memajukan kampung halamannya ini.


Patut banget diacungi jempol, mengingat masih banyak anak-anak dari desa yang berbondong-bondong mencoba peruntungannya di kota besar.


Jika semua anak muda meninggalkan kampungnya, lalu siapa yang akan memajukan desa ini?


Padahal potensi untuk sukses masih terbuka lebar. Mereka bisa jadi bos, juragan atau pengusaha lebih kerennya.


Di obrolan yang satu ini Dion terlihat tertarik, akhirnya ia ikut gabung, sambil ngemil ikan bakar ia juga sempat memberikan tips dan trik ala Dion yang mana sudah nggak diragukan lagi pengalamannya.


Akhirnya mereka berbaur, saling berbagi, tanya jawab juga sama-sama memotivasi.


Baru setelah lewat tengah malam mereka bubar, kembali ke rumah masing-masing. Nggak lupa selfi dulu bestiii...


Kata Salsa ini pertama kalinya mereka disini sampai lewat tengah malam. Biasanya sebelum jam sebelas dah diusir bapak-bapak yang ronda.


Astaga, anak-anak ini, merek belum tahu, jam sebelas di ibu kota, anak-anak muda masih nungguin midnight sale. Nggak mau kalah sama emaknya.


Disini jam sebelas dah diusir pulang sama bapaknya.


***


Mbah Putri bernama asli Nawangsih Panuntun, tinggi kurus dengan kulit bersih yang alami. Diusianya yang sudah lanjut ini beliau lebih senang bertani. Berkutat dengan tanamanya daripada ikut arisan PKK.


Dia selalu excited saat ada yang memanggilnya Mbah. Padahal menurut Vio Mbah Putri lebih cocok dengan panggilan Oma.


Bukan karena panggilan Mbah nggak bagus, tapi melihat fisik mbahnya, yah tahulah ya antara Mbah dan Oma.


Juga memasak adalah hobinya. Meski ART dirumah ini kelewat banyak, sekitar sepuluh orang. Mbah tetap memasak sendiri untuk Mbah Kakung.


Pakai tungku berbahan bakar kayu, bukan kompor gas atau kompor listrik.


Jadi di rumah ini dapurnya dipisah antara dapur bersih dan dapur kotor.


Jangan tanya dapur kotor buatan Atmanegara seperti apa. Yang jelas tungkunya aja dibuat menyerupai perapian ala-ala eropa.


Ada meja rendah dengan bahan kayu jati dan bale-bale berlapis emas.


Kendi tempat air minum, bejana, kuali semuanya didatangkan dari pengrajin tembikar terbaik kota Jogja.


Kebayang kan? Asap aja minder mau lama-lama di dalam dapur.


Berlebihan?


Memang!


Namanya juga Atmanegara. Dia menepati janjinya untuk tidak menghilangkan kenangan, tapi menggantinya dengan yang lebih berkelas.


Jujur saja Atmanegara kurang suka mengingat kenangan masa kecilnya yang sulit, kecuali bagian saat menunggui ibu memasak di dapur.


Ia akan meringkuk di bale-bale sambil mengawasi ibunya.


Ia selalu rindu.


Lidahnya nggak bisa bohong, makanan yang dimasak dengan kuali diatas tungku kayu bakar memang mempunyai cita rasa sendiri.


Disajikan diatas piring tembikar, dimakan dengan tangan.


Ia selalu merindukan rasa makanan itu. Apalagi buatan ibunya. Kata orang, masakan ibu selalu enak.


Karena di buat dengan cinta. Bumbu rahasia yang nggak di dapat di restoran manapun.


Beliau ini introvert, jelas sekali. Tapi begitu kenal baik sebenarnya Mbah Putri ini lumayan cerewet sih, Hehehe...


Berbanding terbalik dengan Mbah Kakung yang ramah dan supel. Wajahnya selalu terlihat tersenyum meski sedang dalam mode silent.


Rambutnya masih hitam dengan uban satu-dua. Awalnya Vio pikir rambut Mbah di cat makanya awet hitamnya.


Tapi kata Mbah Putri itu hitam alami. Wah... OTW minta resep ke Mbah.


Atmanegara adalah perpaduan keduanya. Tubuh tinggi dengan otot kering yang liat, dengan kulit bersih khas Indonesia, rambut hitam alami, jelas fisiknya lebih ke bapaknya.


Kalau sinisnya sih masih jadi misteri, entah waktu nyidam ibunya kepingin apa sampai mulut anaknya jadi tajem gitu.


Masa lalunya tidak ada yang tahu, kecuali bapak ibunya.


Seperti sekarang ini, pagi hari waktu Atmanegara dan rombongan berpamitan.


Mbah Putri Nawangsih Panuntun menciumi muka anak semata wayangnya didepan semua orang.


Yang mana ini adalah pemandangan baru bagi Violin, anaknya sendiri.


Bapaknya terlihat biasa saja, juga Rion yang sepertinya sudah sering melihat pemandangan ini.


Tapi tidak bagi Vio.


Ia bagai menemukan sisi lain Atmanegara. Ada kehangatan menyelubungi dadanya melihat bapaknya selama ini dibesarkan dengan cinta kedua orangtuanya.


Ia melirik Rion yang berdiri tak jauh darinya.


"Apakah benar selama ini Papa selalu mengabaikan Mama, Om?" Violin bertanya tanpa mengalihkan matanya dari pemandangan epic di depannya ini.


Ia pernah dengar, seorang lelaki yang mencintai ibunya tidak akan pernah tega menyakiti pasangannya.


Yang Vio tahu selama ini hubungan Mama-Papanya kurang baik. Mama sibuk arisan, Papanya gila kerja. Seperti mereka punya dunia masing-masing.


Rion tersenyum sinis dibalik kacamata hitamnya.


"Yang aku tahu, tidak ada pria sebucin Papamu di dunia ini." jawabnya, matanya mengarah ke objek yang sama dengan Violin.


Violin menatap Rion dengan pandangan bertanya-tanya.


"Ibarat bisul, Papamu nempel terus kemana Mamamu pergi. Susah di ilanginnya, udah gitu bikin gatel. Andai Mamamu bisa di masukin saku, tentu itu yang bakal bapak lakukan."


Jidat Vio semakin berlipat.


"Tapi selama ini mereka terlihat sibuk masing-masing."


"Itu yang kamu lihat?"


"Bahkan beberapa kali aku..." Hampir Violin keceplosan soal dirinya yang beberapa kali melihat Mama jalan bareng mantan mertuanya.


Ucapan Violin nggantung begitu saja.


"Mamamu arisan berlian ke Swiss, kalau pas bapak nggak disekitar situ, itu nggak bakal terjadi Vio."


"Juga mereka mengabaikanku..." Lirih Vio sambil menunduk, ia agak malu mengeluhkan hal ini saat usianya sudah setua ini.


Tapi yang bisa menjawabnya mungkin saja hanya Rion.


Bagaimana bisa Atmanegara mengabaikannya? Lihatlah bagaimana Mbah Putri dan Mbah Kakung menyayangi bapaknya itu. Tak bisakah ia belajar dari Mbah?


Rion itu memposisikan tubuhnya berdiri tegap didepan Violin, tangannya yang tersimpan disaku celana berpindah ke kepala Vio, mengacak lembut rambut Vio.


Bagi Rion yang sudah sangat lama jadi dedengkot Atmanegara, Vio masih saja ia anggap anak kecil. Seperti keponakannya sendiri.


"Sebentar lagi kamu akan risih dengan kasih sayang bapak." Rion tersenyum hangat.


"Mereka menyayangimu dengan caranya, percayalah..."


Hanya itu jawaban Rion. Ia meninggalkan Vio ditempatnya kemudian masuk kedalam mobil.


Dari sudut matanya, Rion melihat Dion mengawasi mereka dengan rahang mengeras.


Rion menyeringai puas.


Tanpa ia sadari ada mata lain yang memandang tak suka ke arah mereka.


***