Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Rahasia Merry Part 2



Juno menyilangkan kakinya sambil menatap Lina. Pandangan yang sulit diartikan. Semua rasa bercampur baur menjadi satu.


Disatu sisi ia lega luar biasa, disisi lain ia tak suka dipertemuan kali ini melihat Lina dipeluk laki-laki lain.


Apalagi Panji, pria beristri yang terlihat bahagia dalam rumah tangganya dan Juno mengenal baik siapa Pamela. Apa mungkin selama ini ia menyimpan api dalam sekam? Dan ini yang sedang coba Juno tanyakan.


Setelah insiden tadi, Panji berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Pandangannya sinis seperti mengejek Juno.


Juno menitipkan motor Lina di pos security, lalu menggandeng Lina yang ketakutan dan membawanya pergi.


Dan disinilah mereka, warkop milenial yang buka 24 jam. Gen Z menyebutkan Cafe gaul. Terlihat beberapa pembeli yang sedang sarapan roti dan Caffein. Juno memilih privat room, yang hanya ada mereka berdua. Tidak ada yang melihat.


Pesanan Juno sudah diantar dari tadi, tapi tidak ada yang menarik selain menatap wanita dihadapannya ini.


Lina hanya menunduk dengan memeluk dirinya sendiri. Wajahnya pucat dan ia tidak berani menatap Juno.


Juno menghela nafas, sebenarnya ia tidak sabar ingin bertanya banyak hal. Tapi melihat kondisi Lina, sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Jadi ia menggeser duduknya tepat disebelah Lina lalu meraih tangan wanita itu.


Dingin sekali, seperti menggenggam es. Lina hanya menunduk.


Juno meraih dagu Lina agar tegak menghadapnya. Ragu-ragu Lina menatap mata Juno. Fixs rasa rindu didada Juno yang membuncah, yang ia tahan selama bertahun-tahun mengalahkan rasa kesalnya kepada wanita ini. Wanita yang berani-beraninya menghilang dari hidupnya.


Perlahan Juno mendekatkan bibirnya, Lina masih diam. Lalu ia mengecup sedikit, Lina tetap diam. Lalu saat ia mencoba mencecap, Lina malah menangis.


Ya Tuhan, Juno maraup mukanya frustasi.


"M-Ma-Mas... aku mau pulang." Bisik Lina lirih. Suaranya hampir mirip cicitan.


"Kamu nggak ingin menjelaskan sesuatu? Setelah sekian lama?"


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Lina. Selebihnya ia hanya menunduk takut.


Juno menghela nafas, "makanlah, setelah itu aku antar pulang!" Bisik Juno lembut.


Mereka sarapan dalam diam, dengan pikiran masing-masing.


Setelah selesai membayar bill, Juno mengantarkan Lina kembali. Ia ingin tahu dimana Lina tinggal, setidaknya ia tidak akan kehilangan jejak lagi kali ini.


"Aku tak turun di pos satpam aja, Mas." Cicit Lina. "Sekalian ambil motor."


"Aku antar sampai rumah, urusan motor biar diantara security." Jawab Juno. Lina kembali terdiam.


"Didepan situ belok kiri." Lina memberi petunjuk jalan. Juno mengarahkan kemudinya mengikuti arahan Lina.


"Rumah yang pagernya tinggi itu." Tambah Lina lagi.


Mendadak Juno menghentikan mobilnya, sampai kepala wanita itu terpental kedepan, Juno melotot menatap Lina.


"Kamu tinggal bareng Violin?" tanya Juno.


"Eh, Mas Juno kenal mbak Vio-ku?" tanya Lina balik.


Yak ampun, panggilnya udah mbak Vio-ku aja. Sedekat itukah mereka? Bagaimana bisa Juno tak tahu apa-apa?


Otak Juno buffer, ia mencoba mengingat-ingat pernahkah Vio menyebut nama Lina saat dengannya?


"Aku bekerja dirumah Mbak Vio jadi pembantu." jelas Lina. Matanya yang besar itu mengerjap jenaka. Tapi kata 'pembantu' itu jelas mengganggu telinga Juno.


"Merry? Merlina? Astaga!" Juno meraup mukanya. Kenapa selama ini saat Violin menceritakan tentang asisten rumah tangganya ia beneran nggak ngeh kalau Merry itu adalah Lina. Padahal jelas ciri-ciri yang di gambarkan Vio. Harusnya ia tanggap sejak awal.


Refleks Juno memeluk Lina erat sekali. Kali ini Lina tidak menolak, ia memegang pinggang Juno.


Jadi sebelum itu terjadi, lebih dulu ia yang menjauh pergi. Nggak nyangka, ternyata selama ini Juno mencarinya. Hati Lina menghangat.


Ponsel Juno bergetar, membuatnya terpaksa melepaskan pelukannya. Lalu berdecak saat tahu siapa yang menelpon.


Bos tengil calling...


"Kamu nggak lihat ini jam berapa, hah? Gila kamu, ya! Kesini kamu sekarang juga!"


Suara jelek Violin menggetarkan telinga Juno. Ia sampai harus menjauhkan dari pendengarannya. Lama-lama gendang telinganya bisa rusak keseringan dibentak. Untung bos.


"Aku didepan." Jawab Juno singkat. Ia melirik Lina, wanita itu menggelengkan kepalanya. Tapi Juno sudah bertekad.


Panggilannya terputus dari seberang.


Sebentar kemudian Violin keluar sambil bersungut-sungut. Wajah Lina tampak menegang.


Juno keluar dari mobil lebih dulu, lalu berputar membukakan pintu untuk Lina. Dengan posesif ia menggenggam tangan Lina kuat-kuat seolah takut akan lari.


Violin mengrenyit, "Merry? Bukannya kamu ke pasar? Kenapa bisa barengan?" pandangan mata Violin menyelidik keduanya. Lalu terpaku saat melihat tangan Juno yang menggenggam tangan Merry.


Mereka berjalan menghampiri Violin, Merry melepaskan tangannya, ia tak enak hati melihat majikannya. Lalu pamit masuk kedalam lebih dulu. Juno hanya bisa menatap tak rela.


Violin bersedekap, pandangannya mengintimidasi.


"Ck." Juno berdecak, ia menyeret pelan tangan Vio dan mendudukkannya di bangku penumpang sebelah Juno.


Lalu saat Juno duduk di kursi kemudi, Vio mendesis tajam, "bisa jelaskan apa yang terjadi disini Mas Arjuno Hyatt Khan?!"


*****


Violin mengetuk ngetuk meja dengan kuku jari telunjuk dan jari tengah secara bergantian. Kukunya yang cantik dicat warna pastel dengan taburan berlian asli.


Pandangannya menerawang menembus meja, seolah memikirkan sesuatu yang amat pelik.


Kondisi Juno didepannya tak jauh berbeda. Ia menelungkupkan kepalanya dengan lengan diatas meja.


Selesai meeting pagi ini, Violin menyeret Juno dan memaksanya membuka mulut tentang apa yang terjadi antara dia dan Merry. Juno menceritakan semuanya, termasuk tentang Panji yang memeluk Merry dengan paksa dijalan tadi pagi.


"Lalu, apa rencana kamu?" suara Vio memecah kegalauan Juno.


"Lina belum mengatakan apapun, aku akan coba selidiki sendiri dulu."


"Saranku sih, biarin Merry sendiri yang cerita. Kayaknya sih bukan kamu orang yang dihindarinya. Ada orang lain yang membuatnya ketakutan. Bisa jadi itu Panji. Astaga Panji..." Violin memijat pelipisnya, ia langsung teringat Pam.


"Jangan sampai Pam tau." erang Vio.


"Mending tau diawal, daripada ngambek karena kita tau duluan dan nggak ada yang berani ngasih tau?" Pendapat lain dari Juno membuat Vio manggut-manggut.


"Kita tunggu aja dulu penjelasan dari Merry." putus Vio. Ia sedikit meregangkan otot lehernya.


Juno berdiri sambil menatap jam tangannya, "Jadi hari ini, aku ijin setengah hari bisa, ya? Bisa dong! Iya kan? Iyaa dooong! Oke makasih bos!" Juno mecubit pipi Vio dengan gemas lalu melenggang pergi.


"Woy!" panggil Vio. Tapi Juno tetap berlalu.


"WOY!!" teriak Vio lagi. Juno tetap pergi, ia melambaikan tangan membelakangi bosnya.


"JUNEEETTT!!!"


"Iyaaa form cutinya nyusul!" sahut Juno.


"CUTI KAMU DAH HABIS YA!"