
"Jadi siapa Isabella?" Vio mengembalikan buku menu kepada waiters setelah memesan makanannya.
Sebenarnya ia agak terkejut dengan kabar menikahnya pak Hendra yang terkesan dadakan ini.
Andai Mahendra masih perjaka ting-ting, nikah dadakan kayak gini pasti jadi gunjingan heboh ibu-ibu kompleks.
Wah, pasti MBA nih (Married By Accident).
Tuti Wibowo nih (ku hamil duluan, sudah tiga bulan...) auto nyanyi, ye kan?
Berhubung ini Mahendra, yang mana umurnya sudah masuk katagori lansia, maka topik hujatannya diganti.
Nggak inget umur!
Nggak mau kalah sama anaknya!
Udah bau tanah masih aja ngebet nikah!
Hmmm...
Kalau yang menjadi pertanyaan Violin, wanita mana kira-kira yang dengan cepat mencuri hati mantan mertuanya itu?
Yang Vio tahu selama jadi menantunya, pak Hendra terlihat menjaga jarak dengan wanita.
Dion dan Vio pernah iseng menjodohkan Papanya dengan seorang janda rekan bisnis Dion.
Cantik, baik, keibuan dan juga kaya raya.
Jangankan tertarik, tersenyum saja pak Hendra enggan kalau bukan demi kesopanan.
Hanya dengan Mamanya Vio, Mahendra terlihat luwes. Yang mana ini jadi pemicu kecurigaan Violin kalau mereka ada affair.
Padahal antara Atmanegara-Maharani dan Arum-Mahendra sudah berteman akrab sejak lama.
Violin melipat lengannya diatas meja, menunggu jawaban Dion.
"Kamu ingat aku pernah cerita tentang Sus Bell? Suster yang merawat Mamakku dulu?"
"Sus Bell? Suster Bella maksudnya?"
Dion menjentikkan jarinya. Dan mengalirlah cerita dari mulut Dion.
Violin manggut-manggut antara mendengarkan cerita Dion dan menikmati daging wagyu yang sumpah lumer banget di mulutnya.
"Hmm... pada akhirnya perempuan juga yang dirugikan." ia menyuapkan potongan terakhir ke dalam mulut.
"Tapi sepenuhnya juga bukan salah si pria. Kadang mereka ingin merangkul tapi disalah artikan." sahut Dion sambil menghabiskan jus mangganya.
Violin menaikkan alisnya, "nggak ada wanita normal yang mau merusak rumah tangga orang lain. Kecuali dia Pela cur. Akupun akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi Isabella."
"Jangan salah, Mamakku kasih lampu hijau untuk hubungan itu."
"Satu yang kamu lupa, pernahkah ada yang bertanya bagaimana sakitnya hati Mamahmu? Tidak ada satu wanita pun yang rela di madu, Dion. Apalagi di saat-saat terakhir hidupnya."
"Oke!" Dion mengangkat tangannya. "Jadi tetap salah laki-lakinya kan?" lanjutnya lagi. Dia ingin menyudahi argumen ini. Berdebat dengan wanita yang lagi sensi nggak bakal akan ada ujungnya.
"Ini bukan tentang siapa yang benar siapa yang salah, toh semua sudah terjadi." Gerutu Violin agak nge-gas.
"Buat pelajaran aja, kalau ternyata nggak ada laki-laki yang bisa di percaya di dunia ini." Vio menegak habis air mineralnya.
Dion menyandarkan punggungnya di kursi dan merilekskan bahunya saat mendengar pernyataan Violin.
"Kamu memukul rata semua laki-laki loh jatuhnya." protes Dion halus.
"Loh memang benar kan? Nggak sedikit juga laki-laki yang nggak jijik menjilat ludahnya sendiri."
Telak.
Rahang Dion mengeras. Mukanya memerah, antara geram dan malu. Jelas-jelas baru saja Violin mengatainya.
Dion memajukan wajahnya tepat didepan wajah Violin lalu berbisik pelan, "kamu tahu aku kurang suka basa basi, jadi apa ada larangan aku menjilat ludahku itu lagi, hm?" ia memiringkan kepalanya menunggu respon Vio.
Violin menatap kedalam mata Dion, ia menaikan dagunya, menantang Dion dengan matanya.
"Beri aku tanda, maka aku akan maju atau akan mundur selamanya." desis Dion pelan dan jelas di telinga Violin.
Dion menarik wajahnya, lalu membayar bill dan menarik tangan Violin keluar dari restoran.
Sepanjang perjalanan mereka diam. Dada Vio tentu saja bergemuruh. Dion jelas masih menginginkannya. Tapi jual mahal, tarik ulur dengan sengaja.
Vio yang tadinya merasa 'dibuang', sekarang jadi bimbang.
Breng sek kamu Dion! Rutuk Vio dalam hati.
***
"Ajak Vio masuk, Ibumu ada dikamar." Ucap Mahendra saat Vio dan Dion sampai di kediamannya.
Wajah sumringah Mahendra membuat Violin lega, terakhir bertemu saat itu Mahendra terlihat layu. Berbeda 180 derajat dengan hari ini. Mahendra dengan kondisi terbaiknya. Wajah yang bercahaya dan tampak lebih hidup.
Di ruang tengah sudah siap penghulu dari KUA dan asistennya sedang melengkapi dokumen.
Lalu beberapa keluarga dan kerabat.
Juno sudah duduk manis sambil makan manisan dipojokan bareng Merry. Mentang-mentang pengantin baru, nempel terus kayak bisul.
Dan si kembar sial, Pam dan Sofia. Pam dengan muka ditekuk, nggak seperti biasanya. Juga Sofia yang menunduk menekuri ponselnya. Mereka dengan pikiran masing-masing.
Juga Atmanegara yang asyik berbincang dengan seseorang. Kelihatannya mereka sedang membicarakan tentang harga tanaman hias yang mulai merangkak turun.
Janda bolong sudah nggak laku, apalagi gelombang cinta.
Wah, ada Robert juga disana, Violin berbinar. Dengan riang melangkah mendekati Rob.
"Hai baby..." Sambut Rob nggak kalah semringah. Ia menyambut hangat pelukan Violin.
Dion langsung melengos tak suka. Nggak habis pikir kenapa juga papanya harus ngundang dokter ini.
"Hai Rob, sendirian aja?" Tanya Vio.
"Oh nggak, tadi bareng kepala perawat juga, rombongan dari rumah sakit. Entahlah sekarang dimana."
Violin mengrenyit, sedekat itu pak Hendra sampai mengundang kepala perawat dan rombongan?
Rob menyapa Dion, mereka berjabat tangan sebentar.
"Vio, ayo katanya mau ketemu Ibu." Dion sudah nggak tahan lama-lama melihat keakraban Violin dan Rob. Dan apa itu, lama banget pegang tangannya Violin. Huh!
"Oh iya, have fun ya Rob, aku ke atas dulu." Vio melambaikan tangannya sekilas lalu melangkah mengekori Dion.
"Kelihatannya kamu care banget sama pernikahan ini?" Tanya Vio sambil menaiki anak tangga.
Dion tersenyum, "aku dapat jackpot. Nanti kamu juga tahu." jawab Dion.
Violin manggut-manggut.
"Ibu di dalam, mungkin masih di rias. Aku ke toilet dulu." Dion meninggalkan Violin di depan pintu kamar.
Perlahan Vio membukanya, melongokkan kepalanya sedikit.
Ini kamar tamu, yang dipakai saat ada tamu menginap. Dulu Violin suka tidur di sini pas lagi sebel sama Dion.
Meski pagi harinya saat bangun Vio sudah menemukan dirinya telan jang di kasur kamarnya lagi.
Berselimutkan tubuh kekar Dion. Yang...
Yak ampuun, Vio menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Kamar ini masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Hanya warna sprei dan gorden, dari warna putih dan sekarang soft pink. Mungkin mbog Mirah menyesuaikan suasana kali ya.
Okeee, perlahan Vio melangkahkan kakinya kedalam lagi. seorang wanita bergaun putih sedang duduk membelakangi Violin. Brokat panjangnya menyentuh lantai menambah kesan anggun pemakainya.
Ia sedang dirias, dua MUA menggarap wajah dan rambut. Dua lainnya mengurus gaun dan sepatu juga perintilannya.
Wangi khas pengantin menguar jelas didalam kamar. Wangi melati dan kantil yang berbaur menghasilkan aroma sakral yang kuat dan misterius.
Violin memiringkan kepalanya, ia menelisik pantulan wajah si pengantin di cermin.
Cantik sekali. Seperti namanya, Isabella.
Tapi tunggu...
"Tantee?!"
Tepukan pelan di bahu Violin sedikit membuatnya tersentak. Violin menoleh.
"Jeffry?"
****