Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Pelan-Pelan Saja



"Bro..." Mahendra menepuk bahu Atmanegara yang berdiri termenung menatap foto pernikahannya dengan mendiang istri. Foto itu berbingakai kayu jati dan berukiran di setiap sudutnya. Menghiasi tembok di ruang tengah rumah megah itu.


Maharani terlihat tersenyum bahagia melihat ke arah kamera.


Atmanegara tersenyum kecut. Wajahnya nampak lelah. Matanya terlihat sayu dan lelah.


"Lihatlah, Maharani tersenyum manis sekali." Ucap Atmanegara. Ia kembali menatap foto itu.


"Sekarang apa yang bisa aku lakukan tanpa Rani?" Suaranya tercekat. Mati-matian ia menahan air matanya yang berontak ingin keluar.


"Dia pasti bahagia kalau kamu disini ikhlas melepas kepergiannya." Mahendra mencoba membesarkan hati sahabatnya.


"Bagaimana bisa semudah itu? Aku sudah berjanji membuatnya hidup seribu tahun lagi." Atmanegara terkekeh sambil menangis. Belum genap satu hari ia ditinggal Rani, hidupnya terasa kosong tanpa arah tujuan.


Mahendra mengangguk memahami, "Saat Arum meninggalkan aku, saat itu kondisiku sama sepertimu, bro. Aku ingin mati saja nyusul Arum." Kenang Mahendra.


Atmanegara melirik, "Cih, kau bahkan menghamili Bella, b4ngs4t!" Maki Atmanegara.


Mahendra terkekeh, "Tapi Arum tetap cinta pertamaku. Dan Bella adalah cinta sejati ku."


"Sumpah pingin muntah bro, mending kamu pulang deh, lebih baik aku sendiri." usir Pak Atma kasar.


"Kau butuh teman, bro. Aku akan tetap disini. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak di inginkan." Mahendra malah menyilangkan kakinya santuy.


"Kamu pikir aku bakal apa?"


"Berjaga-jaga aja, hehehe..."


"Sial, seharusnya aku yang meletakkan karangan bunga itu di depan rumahmu, bukan sebaliknya." Gerutu Atmanegara kesal. Ia melihat deretan karangan bunga yang terpampang di depan rumahnya. Banyak sekali sampai anak buah Rion memajangnya sepanjang jalan, sebagian lagi mereka letakkan menumpuk dengan yang lainnya, saking banyaknya.


"Hmm sepertinya Tuhan akan memberiku umur yang lebih panjang. Apa mau dikata?" sahut Mahendra songong.


"Kamu ngomong gitu setelah bertemu Bella lagi?!" Atmanegara menyulut rokoknya.


"Dan kamu diam saja meski tahu keberadaan Bella. Cih, tega sekali! Padahal aku kelimpungan setengah mati. Sahabat macam apa kamu?"


"Yang penting dah ketemu, kan?"


"Lalu apa maksudnya lingerie merah itu?"


"Pemanasan, bro!"


"Ck, membuatku pusing saja. Ku sentuh saja dia ketakutan." Mahendra menghalau asap rokok Atmanegara yang nyelonong mampir ke hidungnya. Dasar nggak ada empati sama sekali dengan penderita jantung sepertinya.


"Itung-itung nyicil, jadi sewaktu-waktu kepingin ada alatnya."


"Sinting!" Maki Mahendra.


"Yang harusnya kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana menjelaskan ini ke Dion dan Jeffry." Atmanegara menasehati.


"Itu urusanku, kamu urusi saja hidupmu kedepannya. Aku tak yakin kau akan bertahan tanpa Rani." Cibir Mahendra meremehkan.


"Ck, kau lihat saja nanti. Akan ku ambil Mega proyek milik Dion yang lagi jalan setengah itu."


"Nggak usah ngancem deh, perut kita tergantung Dion nih." Mahendra melirik sebal.


Atmanegara terkekeh, "Kau didik Jeffry biar bisa bantu kakaknya. Biarkan Dion sedikit santai. Sekalinya sibuk anakku yang jadi korban." Atmanegara menggerutu sambil membuang asap kembali dari mulutnya.


"Hmm... Sepertinya aku harus gerak cepat." Gumam Mahendra.


"Ya harus, kamu sudah buang waktu kelamaan."


"Cih, kamu juga yang nambahin lama ."


"Hehehe, aku tau juga baru-baru ini. Saat Jeffry mepet ke Vio."


Mahendra memicingkan matanya menatap Atmanegara, "Jeffry ke Vio? Serius?!"


"Hmm... tipe seperti Violin emang susah di abaikan. Buktinya nggak Dion nggak Jeffry mepetnya ke anakku."


"Setidaknya anakmu baik, nggak julid kayak bapaknya."


"Hahaha..."


Dion menatap wajah Violin yang tertidur pulas di sampingnya. Masih tetap cantik walau tanpa make up dan gincu. Mungkin Violin terlalu sibuk bersedih sampai lupa berdandan.


Tapi bagi Dion wajah yang natural begini yang ia suka.


Mereka masih di dalam mobil, Dion sengaja menepikan mobilnya di rest area terdekat.


Hujan yang bertambah lebat diikuti petir dan guntur bersahutan, membuat jarak pandang Dion terbatas.


Sebenarnya bukan hanya itu, ia juga ingin memandang wajah Vio sampai puas. Menuntaskan dahaga kerinduan kepada wanita ini. Mumpung orangnya masih tidur. Walau sekarang ia hanya bisa menatap, tanpa bisa menyentuh.


Memangnya apa yang ia harapkan selain masih bisa menjalin hubungan baik dengan mantan istrinya ini.


Dion menatap jerawat kecil nongol di jidat Vio, ia menghela nafas. Pasti berat bagi Vio, setelah perceraiannya, ia harus kehilangan Mamanya juga.


Dion ingin memeluk dan menguatkan Violin lebih lama lagi, tapi apa haknya? Sekarang ia bukan siapa-siapa.


Apakah ia menyesal meninggalkan wanita ini? Jawabannya adalah 'iya'.


Ia tidak ingin menyakiti Vio, tapi nyatanya ia tersiksa melihat Vio menghadapi semua ini sendiri.


Apalagi saat di pemakaman tadi, Dion melihat pandangan mata Dokter tadi berbeda saat melihat Vio. Ada banyak cinta disana.


Ia cemburu? Jelas! Makannya Dion sengaja nempel terus disamping Vio. Ia ingin menunjukkan teritorinya.


Hufftt... Bodohnya kau Dion, sudah membuang Vio sekarang berharap mendapatkannya lagi.


Vio seorang janda, masih cantik dan kaya. Pasti banyak kumbang yang mendekat, bukan hanya Dokter itu. Bisa jadi puluhan, bahkan ratusan pria yang pasti menginginkannya.


Dion memukul stang kemudinya, kesal sendiri membayangkan Vio dekat dengan laki-laki lain.


"Euumm..." Vio menggeliat. Sepertinya ia cukup terganggu dengan pukulan Dion di stang tadi.


"Eeehh... " Masih linglung Vio mengucek matanya, memastikan di sampingnya ini bukan Juno yang berubah menjadi Dion.


Masih tetap Dion.


"D-Di-Dion..." Gagap Vio.


"Aku bukan hantu loh, kok kamu kaya yang takut gitu." Goda Dion. Pipi Vio bersemu merah.


"Ngapain kita disini?" Violin celingukan memandang sekitarnya. Masih hujan dan mereka sedang di rest area.


Hah? Rest area? Saat hujan?


Kali ini bukan hanya pipi Vio yang memerah, tapi seluruh wajahnya berubah warna. Tiba-tiba ia seperti de Javu.


Ia dan Dion pernah di posisi ini. Saat masih suami istri. Saat sedang anget-angetnya. Jangankan di rest area, di ruang meeting, di lift direksi kantor pun mereka melakukannya.


Astaga... Violin memegang pipinya yang bertambah panas.


"Kamu sakit ya? Kok merah gitu mukanya?" Dion cukup khawatir melihat perubahan wajah Vio. Tangannya sengaja terulur memegang jidat Vio.


"Eh, oh... nggaaak. Cuma kayaknya aku capek banget. Pingin pulang aja." Elak Vio. Ia memegang tengkuknya yang tiba-tiba meremang sesaat setelah Dion menyentuhnya.


"Ke apartemen atau ke rumah Papa?"


"Ke rumah Papa aja, aku dah nggak di apartemen."


Dion mengrenyit, "kamu pindah?" tanyanya.


"Begitulah." Vio mengedikkan bahunya.


Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Dion tanyakan, tapi nyatanya ia hanya mengangguk-angguk sambil memutar kemudi. Kelihatannya Vio masih enggan bercerita lebih jauh.


Nggak ingin disangka terlalu kepo juga meski sebenarnya iya. Yang penting bagi Dion sejauh ini belum ada pria yang terlihat terlalu dekat dengan Violin selain Juno dan Dokter tadi.


Baiklaaahhh, pelan-pelan saja...


***