
Bella tersenyum senang saat kue kering buatannya selesai ia tata ke dalam beberapa toples.
Satu untuk di bawa Dion, satu untuk Jeffry dan satu lagi ia taruh di meja dapur. Untuk Mbok Mirah sudah beliau bawa ke paviliun beserta remah-remahannya.
Ia cukup antusias saat melihat peralatan masak almarhum Arum masih tersimpan rapi di gudang. Masih lengkap dan bagus.
Bella suka memasak, tapi mengingat peralatan di rumahnya dulu yang terbatas, hobi itu hanya sekedar hobi tanpa bisa tersalurkan.
Lalu saat melihat harta karun ini di gudang, rasanya ia menemukan bongkahan berlian yang tak ternilai harganya. Semuanya tampak berkilau dan mahal.
Jadilah dapur adalah tempat favoritnya.
"Mas..." Bella melambaikan tangannya saat melihat Mahendra berjalan hendak melewati dapur.
Mahendra mendekati istrinya.
"Coba, deh. Aaaa..."
Bella menyuapkan sepotong kecil kue kering hasil buatnya. Mahendra memakannya lalu mengrenyit.
"Nggak enak ya?" Bella mulai cemas.
"Sayang sekali..." keluh Mahendra dengan mimik muka sedih.
Bella buru-buru membereskan toples yang sudah di susunnya dengan rapi.
"Eh, mau di bawa kemana?" Cegah Mahendra.
Bella menghentikan langkahnya, "ini nggak enak, Mas. Weess, di buang aja." sahut Bella.
"Itu enak, sayaaanggg! Sayang sekali aku nggak bisa makan banyak, kan?" ucap Mahendra buru-buru sebelum toples-toples itu berpindah ke tong sampah.
Wajah Bella mendadak berbinar, "Benar, kah?" katanya senang.
"Memangnya tadi Mbok Mirah nggak ngicip?"
"Ngicip sih, dia bilang enak. Tapi kan Mas bilang 'sayang' tadi." protes Bella.
"Makanya dengerin dulu orang ngomong." Mahendra mencubit hidung Bella, gemas.
"Ehem..."
Mereka sama-sama menoleh ke arah Jeffry yang berdiri canggung menatap keduanya.
"Anu, Bu... Aku pulang dulu." Pamit Jeffry nggak enak, ia salah tingkah. Baru sekali ia melihat ibu semanja ini.
Selama ini ibu terlihat kuat dan nggak pernah menye-menye.
Di depan tadi niatnya mau langsung pulang, tapi teringat ibu, ia belum pamitan, takutnya ibu mencarinya. Tapi melihat adegan tadi sepertinya tadi nggak pamit nggak masalah deh. Ibu juga pasti nggak akan nyari.
Dada Jeffry berdenyut sedih. Ia benar-benar kehilangan ibu.
"Ayok, ibu antar ke depan." Bella meraih kantong berisi toples kue.
Jeffry mengangguk sekilas kepada Mahendra sambil berjalan menyusul ibunya.
"Jangan lupa makan, jangan begadang, nggak usah kelayapan malam-malam. Ibu bakal paksa tinggal disini kalau sampai kamu sakit." Ibu merepet sambil berjalan, mengantar Jeffry menuju motornya.
Jeffry diam saja sambil mengekor dibelakang.
"Kalau keluar rumah jangan lupa di kunci, jendela, pintu, semua di cek. Cek kompor dan air, jangan sampai lupa dimatikan."
Jeffry manggut-manggut.
"Paham to, Le?"
"Paham Bu."
"Jangan sampai lupa."
"Iya."
Bagaimana Jeffry bisa lupa kalau setiap bertemu ibu pasti dapat wejangan yang sama. Dan pasti sebentar lagi wejangannya adalah...
"Nggak usah macem-macem, awas bawa anak gadis orang ke rumah."
Jeffry tersenyum, ia memeluk ibunya.
"Iyaaa Buu, ibu jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit, aku pulang dulu." Bisik Jeffry lirih.
"Ck, ibu khawatir to Le. Mbog ya tinggal disini saja sama ibu, biar kamu ada yang ngurus."
"Jeffry sudah besar. Bisa ngurus diri sendiri. Ibu jangan khawatir."
Ibu cemberut.
"Ibu akan sering-sering ke rumah, kamu juga harus sempatkan kesini." Pinta ibu sambil mencantolkan tas kue ke motor Jeffry.
"Emm, Bu... Haruskah aku kuliah?" tanya Jeffry ragu-ragu.
Ibu menatap Jeffry.
"Tadi Pak Hendra bilang mau membiayai kuliah Jeffry." Jeffry terdiam. Pingin bilang dengan syarat tapi lidahnya kelu. Bagaimanapun ia tak ingin ibu terlalu memikirkan perasaanya.
Dari jawaban ibu sepertinya ibu tidak tahu rencana Pak Hendra.
Ia sengaja menanyakan soal kuliah karena ingin melihat reaksi ibu, apakah ibu senang atau sebaliknya.
"Ibu tahu nilai-nilai kamu pas-pasan semua. Tapi Le, kuliah itu juga penting. Dimana-mana orang berpendidikan itu jalannya mudah. Nyari kerjaan juga enak."
Jeffry diam saja. Balapan nggak perlu kuliah, kan? Punya bengkel juga nggak perlu kuliah. Batin Jeffry.
"Ibu nggak maksa, tapi semua demi masa depanmu. Tolong dipikirkan lagi "
"Iya Bu. Ibu masuklah, Jeffry pulang ya." Jeffry mencium punggung tangan ibunya lalu bergegas menaiki motor.
Bu Isa melambaikan tangan menghantarkan kepergian Jeffry.
Lalu saat berbalik, Mahendra sudah berdiri di belakangnya.
"Astaga, Mas! Ngagetin aja." Bella mengelus dadanya.
Mahendra meraih tangan istrinya.
"Sudah sewajarnya anak laki-laki harus berani mengambil keputusan, ia harus memilih antara masa depan atau egonya." ucap Mahendra, ia membimbing istrinya, perlahan mereka berjalan beriringan, kembali masuk kedalam rumah.
Pandangan Bella menerawang.
"Aku takut Jeffry salah jalan, Mas. Apalagi kalau anak itu tinggal sendirian seperti ini. Aku jadi susah mengontrolnya."
"Tenanglah, kamu sudah kerja keras mendidik Jeffry selama ini. Sekarang giliranku menjaganya. Aku sudah persiapkan yang terbaik untuknya."
Bella terdiam.
Ia jadi teringat tentang permintaan Mahendra tempo hari yang memintanya berhenti bekerja.
"Emm... Mas, bolehkah aku tetap bekerja?"
Langkah Mahendra terhenti, lalu menatap manik mata Bella.
Dari hatinya yang paling dalam Mahendra hanya ingin menghabiskan sisa waktunya bersama wanita ini.
Hanya berdua.
Tidak ada yang mengganggu.
Termasuk te tek bengek masalah pekerjaan.
Menikmati sunset dan sunrise di tepi pantai sambil bergandengan tangan. Bella yang menyandarkan kepala di bahunya dengan manja dan ia yang akan siap menghalangi sinar matahari jika terlalu menusuk ke mata wanita pujaannya ini.
"Aku pasti bosan di rumah terus sepanjang hari." Bella cemberut.
"Hei, kita kan belum honeymoon." Mata Mahendra berbinar.
Boleh saja Bella mengeluarkan beribu alasan, tapi ia juga punya beribu cara membuat Bella melupakan pekerjaannya.
"Ck, sudah tua Mas. Malu sama anak."
"Anak-anak sudah dewasa, kita mau apa kalau nggak menikmati masa tua?"
"Tapi nanti kerjaanku..."
Mahendra mendengus kesal. Kerjaan lagi...
"Nanti aku bakal suruh si Atma sendiri yang memecatmu." Jawab Mahendra ketus. Ia berlalu meninggalkan Bella.
"Mas, jangan merajuk! Nanti aku gimana bayar listriknya kalau nggak kerja..." pekik Bella. Lalu ia tertegun, kebiasaan kalau ngomel sama Jeffry ya gini. Yang dibahas kalau bukan beras ya tagihan air listrik.
Yang Bella lupa, ia sedang ngomong sama Mahendra bukan Jeffry.
"Bu, jangan pusing masalah listrik. Sudah ada yang mengatur." Bisik Mbok Mirah pelan sambil meneteng keranjang cucian.
"Memangnya sebulan habis berapa Mbok?" Bisik Bella nggak kalah lirih.
"Dengar-dengar sih hampir segini." Mbok Mirah mengacungkan kedua jarinya.
"Dua ratus ribu?" tebak Bella.
"Ck, segini Buu..." Ulang Si Mbok.
"Dua juta? Hah mahal bener Mbok?"
"Duuhh Buuu... Dua puluh juta!"
"HAH?!"
Bella speechless.
***