
Di dunia ini apa yang membuatmu bahagia?
Apakah saat kamu kaya, banyak harta, bisa membeli apapun yang kamu suka?
Apakah saat bercanda bersama teman-temanmu dan tertawa bersama?
Apakah saat masih bisa melihat dan merasakan kasih sayang orang-orang di sekitarmu?
Atau saat kau dapatkan sebungkus nasi untuk mengganjal perutmu hari ini?
Definisi bahagia itu tercipta tergantung keadaannya. Jangan paksa bahagiamu seperti bahagianya, begitupun sebaliknya.
Kunci bahagia itu adalah saat kita bisa bersyukur atas apa yang kita punya. Jika kita belum bisa mensyukuri apa yang di takdirkan Tuhan untuk kita, carilah orang-orang yang ada di bawah kita, orang-orang yang lebih susah dari kita. Disitulah kita akan mengerti arti syukur yang sesungguhnya.
Seperti Atmanegara, hari ini bukan hari spesial. Tapi hari ini akan selalu ia ingat di sepanjang hidupnya nanti.
Mungkin Maharani telah pergi, Kehilangan Maharani adalah pukulan terberatnya. Tapi masih ada Violin bersamanya. Buah cintanya dengan Rani.
Ia bersyukur kini Vio mulai membuka diri. Tak lagi sungkan menggenggam tangannya, tak malu merengek ataupun tertawa-tawa disampingnya.
Walau masih sering berdebat ini itu, tapi Atmanegara sadar sifat Vio tak jauh berbeda dengannya. Ini yang membuat mereka dulu jarang terlihat akur.
Sekarang lihatlah, Violin sudah dewasa. Dia akhirnya menyadari bahwa keluarga adalah tempat yang akan ia tuju untuk kembali.
Senyum Atmanegara terkembang lebar melihat anaknya begitu lucu dengan sifat kekanak-kanakannya. Bagaimanapun Violin adalah wanita, ia manja dengan segala kelebihannya.
Vio berlari kecil saat menemukan penjual permen kapas. Di kepalanya bertengger bando kelinci putih yang manis. Rambutnya yang dikucir kuda bergerak kiri kanan mengikuti langkahnya. Ia begitu bahagia, layaknya menemukan harga saham yang naik hari ini.
Siang ini setelah makan siang di mekdi, Atmanegara mengajak Vio berkeliling Dufan.
Dulu mekdi adalah tempat yang paling ingin Vio datangi bersama keluarganya. Atmanegara mewujudkannya hari ini.
Meski junk food, tapi demi putrinya ia makan dengan lahap. Toh ia tidak akan mati hari ini jika cuma makan sepotong fish fillet burger, sekotak kentang goreng dan segelas cola. Ia juga mencoba sedikit McFlurry Oreo milik Violin.
Di Dufan mereka langsung mencoba beberapa wahana permainan.
Hal kedua yang begitu ingin Vio lakukan dulu saat masih kecil. Pergi ke Dufan dengan kedua orang tuanya. Tapi Atmanegara terlalu sibuk. Hingga abai soal kebahagiaan anaknya.
Benar ia mati-matian cari cuan untuk keluarganya, tapi ia lupa jika masa kecil anaknya hanya sekali dan tidak bisa di ulang lagi.
Ia bersyukur di usianya sekarang ini masih bisa mewujudkan impian Violin, bermain ke Dufan. Meskipun sudah tidak ada lagi Rani di sisinya.
Yang membuatnya risih tentu saja dengan adanya beberapa paparazi yang menguntit di beberapa titik.
Violin kurang suka berurusan dengan kamera wartawan, begitu pun Atmanegara. Kecuali untuk urusan bisnis.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dengan wajah peranakan Rusia mensejajari langkah Atmanegara saat Vio asik memilih motif permen kapas.
Pria ini memakai kaos putih, celana kolor pendek dan sandal jepit. Khas turis yang sedang liburan. Ia menyimpan tangannya kedalam saku celana.
"Lapor Pak, semua beres. Saya dan tim akan mengawasi dari jauh." Ucap pria itu dengan logat Rusianya yang khas. Mereka layaknya teman yang sedang ngobrol.
"Hmm... Apa belum ada kabar dari Lion?" Tanya Atmanegara. Lion adalah nama ketua tim Alpha milik Atmanegara. Yaitu satuan pengamanan khusus bentukannya.
Saat menjalankan misi, nama tim lah yang mereka pakai.
Seperti pria Rusia ini, namanya lainnya adalah Eagle. Ia pandai mengendus sasaran dengan matanya bahkan di tempat ramai sekalipun.
"Dua hari Lion tidak ditemukan pergerakannya, Pak."
"Bocah gendeng!" Atmanegara mengumpat.
"Jangan terlalu tegang Pak, anggap saja Lion sedang ngopi. Beberapa hari terakhir dia seperti setan kelaparan, bawaannya makan orang terus."
"Siap Pak. Kami bisa ngopi sebentar kan?"
"Hmmm..."
Eagle memberi kode untuk permisi menjauh dari Atmanegara, ia melenggang santai menuju tim-nya yang sebagian sudah ngopi cantik dengan anggunnya. Pekerjaan mereka beres, paparazi sudah terkondisikan dan tidak ada ancaman lainnya yang berarti. Tinggal mengamati kedua bos-nya yang sedang liburan.
"Pah, ini lucu kan?" Vio menunjukkan permen kapasnya yang berbentuk kepala kelinci, seperti bandonya.
Atmanegara mencomot telinga kelinci permen itu dan memakannya.
"Papaaa... kenapa di makaannn." Protes Vio geram.
"Loh, ini memang untuk dimakan, kan?" Atmanegara heran, salahnya dimana coba?
"Iya tapi ini lucu. Jadi jelek kan kupingnya ilang satu?" Vio cemberut.
Yak ampuun, wanita. Kenapa semua serba salah, sih?
"Papa belikan lagi, sama yang jual sekalian kita bawa pulang." tawar Atmanegara.
Violin tetap cemberut.
***
Rion mencumbu leher Pamela yang terbuka bebas saat wanita ini sedang menggeliat di atas ranjang. Ia menyibak selimut tebal itu dan menangkup kedua dada Pamela yang kenyal.
Ia tidak bisa puas setelah semua yang Pamela lakukan. Ingin lagi dan lagi.
"Bee... aku mau lagi." Desah Rion. Suaranya berat, ia menahan hasrat memasuki tubuh wanita sexy disampingnya ini.
"Rahangku masih pegal, Bear..." Tolak Pamela. Ia mengantuk, semalam Rion susah banget keluarnya. Sampai pagi, sampai Pam hampir nyerah.
"Ayolah, sekali lagi. Setelah ini kita pulang, aku nggak akan kuat kalau harus di sampingmu terus." Tawar Rion, ia meremas dada Pamela gemas.
Sudah dua hari mereka bersama dan ini malah menyiksanya. Pam melarang Rion memasuki dirinya. Ia menuntut sebuah ikatan yang membuat Rion bergidik ngeri.
Ikatan itu bernama pernikahan.
Ini lebih mengerikan dari pada mendengar nama Atmanegara. Di dunia ini tidak ada yang Rion takuti selain Atmanegara. Tapi ternyata ia salah, masih ada satu lagi, yaitu pernikahan.
Pam akan tunduk dan melakukan apapun yang Rion mau tapi setelah mereka menikah.
Segitu pentingnya kah menikah? Rion tidak mengerti kenapa harus ada pernikahan? Toh mereka bisa saja hidup bahagia tanpa menikah.
Lihat saja orang-orang yang sudah menikah lalu berujung perceraian. Sama saja, malah mereka saling menyiksa, saling menyakiti. Kenapa harus dibuat ribet sih?
Rion frustasi. Masih jauh lagi perjalanannya. Yak ampuun, dia sudah nggak tahan.
Tapi Pam berbaik hati memuaskannya dengan jalan lain. Masih ada tangan, dada dan mulutnya.
Dua hari Rion di service habis-habisan sampai tangan Pam pegal, dadanya merah dan rahangnya kaku.
"Sayaaang, kamu benar-benar menyiksaku." Erang Rion serasa hampir gila.
Pamela memeluk dada Rion, ia menghirup aroma tubuh Rion dalam-dalam, "ya udah, ayok kita menikah biar cepet."
"Aaarrrggghhh...." Rion memukuli kepalanya sendiri.
Pamela terkikik geli sambil meraih bra nya yang terlempar diatas sofa.
***