Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Pendekatan



Atmanegara menatap kepergian Dion dari jendela kamarnya yang memang menghadap halaman depan. Entah mengapa hatinya lega luar biasa mengetahui fakta Violin pulang ke rumah ini.


Ini keinginan terakhir Maharani. Dan keinginannya yang kekeuh menginginkan Vio pulang sendiri ke rumah ini, tanpa diminta.


Namun kenyataan bahwa anak itu pulang, mungkin karena ibunya telah meninggal membuat Atmanegara sesak.


Salahkan langkah yang di ambilnya kali ini? Ia belum pernah tidak percaya diri seperti ini sebelumnya.


Kali ini ia gelisah dan merasa bersalah tentunya.


Pengajian baru saja selesai, Mahendra dan Dion langsung pamit pulang. Begitu juga dengan yang lainnya.


Violin juga langsung masuk kedalam kamar. Kamar yang entah sudah tidak ia masuki berapa lama. Masih tetap bersih karena mbok Mirah tak pernah absen membersihkannya.


Violin menghela nafas di ujung ranjang. Perasaannya campur aduk tak karuan.


Setiap sudut kamar ini mengingatkan Vio akan mendiang Mamanya.


Gorden itu Mama yang milih, kasur ini, sprai ini. Vio mengelus perlahan sprei katun berwarna putih ini. Air matanya tiba-tiba saja mengalir tanpa permisi.


Anak mana yang tidak bersedih ketika ditinggal pergi ibunya untuk selama lamanya?


Yang membuat ia masih mencerna semua ini adalah ia tidak tahu sedikitpun tentang sakit ibunya. Belum lama Rob bilang, ibunya hanya mengeluh sakit di dada. Sakit yang seperti apa? Sudah berapa lama? Mengapa secepat ini?


Pintu kamar Violin terbuka perlahan. Sengaja Vio tidak menguncinya. Atmanegara berdiri diambang pintu, tangan kanannya memegang handle pintu, tangan kirinya tersimpan disaku celana.


Violin melirik sekilas.


"Boleh masuk?" Ucap Atmanegara, tanpa menunggu jawaban Vio, ia duduk di meja rias sampingnya.


Vio berdecak, khas bapaknya sekali, bertingkah semaunya. Kenapa juga repot-repot minta ijin?


"Papa minta maaf." Kalimat pertama Atmanegara terdengar aneh di kuping Vio. Ia sampai berpindah posisi duduk menghadap bapaknya.


Wajah tua itu telihat tulus. Pandangan matanya menatap Vio dengan sendu. Tidak seperti biasanya.


"Apa sebenarnya yang ingin Papa bicarakan? Bukankah aku tidak berhak tahu apapun?" Tepat menusuk jantung bapaknya.


"Papa tahu papa salah, untuk itu Papa disini. Sedikit banyak ku rasa kita harus bicara." Sahut Atmanegara. Ia sudah kehilangan Rani, dan tidak ingin kehilangan Vio juga. Rasanya lelah sekali jika harus sendiri tanpa Rani. Apalagi tanpa Vio, anak semata wayangnya.


Violin hanya terpekur. Ia bingung harus bicara darimana dulu, saking banyaknya uneg-uneg yang ingin ia tumpahkan. Membuat dadanya penuh sesak.


"Papa tidak berani berharap kamu memaafkanku secepatnya setelah semua ini. Tapi Papa minta sebentar saja kamu tinggal disini, dekat denganku lebih dekat dan lihatlah Papa. Semua ini Papa dan Mama lakukan untuk menjagamu."


Violin melengos. Drama apa lagi kali ini yang bapaknya buat.


Atmanegara beranjak berdiri, lalu menghampiri Violin.


"Kali ini Papa mohon, tetaplah disini." Atmanegara menyentuh puncak kepala Vio sebelum berlalu pergi.


Bagai melihat sisi bapaknya yang lain, Vio begitu terharu, hatinya menghangat. Ia memegang kepala bekas tangan Atmanegara lalu menangis lagi.


****


"Sumpah kayak main film drama." Sinis Dion, ia menyugar rambutnya. Benar-benar speechles mendengarkan cerita Mahendra.


Banyak sekali kejutan hari ini, setelah kabar Mama Vio yang begitu tiba-tiba. Lalu di perjalanan pulang dari pengajian, Mahendra membeberkan fakta tentang Sus Bell yang mendadak kembali setelah menghilang beberapa tahun yang lalu.


Sus Bell-nya yang pernah dekat dengan Dion. Yang sempat menggantikan peran seorang ibu untuk Dion. Dulu ia mana tahu? Dia masih seorang bocah SD waktu itu. Yang Dion ingat hanya kebaikan Sus Bell. Tapi sekarang semuanya terasa jelas.


Jelas apa arti pandangan mata Mahendra kepada Sus Bell waktu itu.


Bukankah ini yang Dion inginkan? Melihat Papanya bersemangat kembali setelah sekian lama ia menyarankan untuk mencari pendamping menggantikan Arum, ibunya.


Ternyata alasannya adalah Sus Bell.


Dan kini mereka ada di depan sebuah toko perkakas rumah tangga, sedang mengamati bengkel di depan yang masih terlihat ramai. Dion mengabulkan permintaan papanya untuk mulai mendekati Jeffry, adiknya.


Astaga... ia punya adik.


Dion memijat pangkal hidungnya.


Bengkel yang ini lumayan modern, berkonsep minimalis dengan cafe kecil di dalam. Free WiFi dan salon juga sepertinya.


Model bengkel yang bikin customer nya betah berlama-lama nunggu antrian.


Dion perhatikan anak muda jaman now yang lebih banyak mendominasi.


Dion melirik bapaknya yang masih duduk tenang sambil mengamati keadaan di bengkel.


Bella hanya mengatakan jika Jeffry bekerja di bengkel ini. Tidak ada foto atau petunjuk lain dari Bella. Yang membuat Mahendra semakin penasaran, seperti apakah bentukan anaknya itu?


Apa seperti Dion yang manly? Atau seperti Mahendra yang lembut? Mungkin juga mirip Bella? Aaahh... ia sudah tidak sabar.


"Hmm... cukup menarik." Gumam Dion sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di stang kemudi.


Matanya awas mengikuti gerak-gerik seorang pemuda yang sedang berjalan keluar bengkel.


Wajah tampannya yang tengil terlihat mencolok. Style khas bad boy semprul selengekan dengan rambut sedikit gondrong.


Sekali lihat, Dion langsung mengenali anak itu. Begitupun Mahendra, Jeffry mirip sekali dengannya. Meski tonjolan otot tubuhnya belum terbentuk sempurna, tapi gurat kejantanannya begitu nyata.


Jeffry terlihat kusam khas anak bolang bau matahari. Tapi banyak mata para gadis yang menetap lapar ke arah Jeffry. Entah mereka beneran service ke bengkel itu ataukah hanya ingin tebar pesona ke Jeffry.


Mahendra terkekeh kecil, "Dia lebih tampan dariku."


"Hmm... bocah." Sahut Dion.


"Kamu bisa membantunya menjadi lebih dewasa. Ia masih dalam tahap pencarian jati diri." Lanjut Mahendra.


"Kenapa harus aku? Papa dong, gimana sih?!" protes Dion. Kenapa ini jadi tanggung jawabnya coba?


"Dia akan banyak bantu kamu, loh. Setidaknya kamu bisa sedikit bersantai menikmati masa dudamu. Hehehe..."


Dion mendengus. Sebenarnya ia paling malas berurusan dengan bocah ingusan. Apalagi model pembangkang macam Jeffry itu. Pasti repot banget ngajarinnya.


Pekerjaannya sudah banyak, masih ditambah urusan bocah. Hufftt...


Lalu Dion melirik bapaknya dan akhirnya menghela nafas. Baiklaaahhh, demi melihat senyum di wajah orang tua ini.


"Ck, aku terima. Tapi Papa dulu yang mulai. Sisanya urusanku."


Mahendra menyeringai, "deal." ucapnya puas. Ia melepas seatbelt, membuka pintu mobil dan berjalan mantap ke arah Jeffry.


"Yak ampun orang tua itu benar-benar..." Dion menggelengkan kepalanya sambil menyeringai.


*****


Happy Ied Mubarak readers, Maapkeun otor yang jarang update ini. Terima kasih yang masih setia nungguin yak. Kalian luar biasaaaa😘