Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Salah Faham



"Aku pulang ya..." Pamit Jeffry ke Sofia.


Jeffry memutuskan tetap pulang meski sudah larut. Ia berpamitan dengan kedua orang tua Sofia.


"Disini banyak kamar, Jeff. Kamu bisa pilih salah satu. Ngapain kamu pulang? Biar aku telfon si Hendra." Begitu bapaknya Sofia menahan Jeffry untuk tetap tinggal.


"Eh, nggak usah Om, saya pulang aja. Takutnya digrebek warga. Hahaha..." Lelucon Jeffry ditanggapi bahagia oleh Antonio.


"Lho ya bagus, biar saya kawinkan kalian segera. Ayo, kapan. Besok? Seminggu lagi? Sebulan? Eh, tapi jangan lama-lama. Kita butuh cucu cepat soalnya."


Waduh, panjang kan urusan?


"Masak langsung kawin, Om? Nikah dulu, kan? Hehehe..."


"Nah, bener. Begini saya suka. Nikah dulu baru kawin. Hahaha..."


"Tapi Om, saya baru lulus sekolah loh..."


"Owh, nggak masalah. Untuk keturunan Mahendra, sudah tidak diragukan lagi. Kamu pasti jadi orang besar seperti kakakmu, Dion. Saya yakin itu."


"Tapi umur saya dan Tante Sofia jauh loh, Om..."


"Lah kenapa? Bagus dapat brondong daripada yang lebih tua tapi nggak tahu diri, kan? Jaman sekarang umur nggak jadi masalah."


Sofia menunduk.


Jeffry mengelus punggungnya sekilas. Niat hati menguatkan soal sindiran Antonio, malah disalah artikan oleh ibu Sofia. Ia asik kode-kodean pake mata sama suaminya.


"Harus ngomong empat mata ke Mahendra ini Ma, biar di percepat." Bisik Antonio di telinga istrinya. Anna manggut-manggut tanda setuju.


Jeffry dan Sofia saling pandang.


"Sofia, kamu antar Jeffry ke depan. Hati-hati ya Jeff, sampaikan salam saya untuk si Hendra dan ibumu."


"Siap, Om." Jeffry menyalami orang tua Sofia, extra kecup punggung tangan segala. Kan Antonio jadi tambah kesengsem sama Jeffry. Mantu idaman banget dah.


Bibit bebet bobotnya pas. Udah ganteng, kaya, attitude nya bagus. Komplit kan?


Apalagi ibunya Sofia, langsung sreg saat Jeffry dengan gagah berani menyalami Antoni saat pertama ketemu tadi.


Duh, cocok banget calon mantu yang ini. Bukannya lari ketakutan macam pecundang, malah maju bak pangeran.


Jeffry keluar dengan kikuk. Sofia mengekor di belakangnya sampai ke motor Jeffry.


"Thanks ya Jeff... Hati-hati dijalan." Ucap Sofia lembut.


"Iya, Tante juga. Tante masuk gih, disini dingin."


Jeffry kasihan melihat Sofia yang dari tadi melipat lengannya. Udara kota ini memang beda. Sampai terasa menembus jaket kulit yang Jeffry pakai.


"Iya, mau lihat kamu jalan dulu." Jawab Sofia. Ia menahan dingin demi rasa terimakasihnya untuk Jeffry yang baik hati ini.


Jeffry deg-degan.


"Oh iya, sorry ya, Papa Mama jadi ngiranya kita ada affair." Ucap Sofia tak enak hati. Pasti Jeffry keganggu banget soal banyolan Papanya tadi. Yang anehnya Jeffry juga tidak mencoba memberikan penjelasan.


Jeffry tersenyum jahil.


"Beneran juga nggak papa, Tan."


"Eh?"


Jeffry nyengir.


***


"Surpriseee..."


Rob merentangkan tangannya lebar-lebar di depan pintu rumah Violin. Tangan kanannya memegang buket mawar merah dan tangan kirinya menenteng paper bag coklat keemasan.


Hari ini weekend, Violin sedang asyik mengeringkan rambut saat bel rumahnya berbunyi.


Masih pagi sih untuk ukuran orang bertamu.


Ia kira Sofia atau Pamela yang pulang. Ternyata Robert.


Astaga, ia rindu pria ini. Violin langsung menghambur ke pelukan Rob. Mereka saling memeluk sambil tertawa-tawa bahagia.


"Gilaaa... kemana aja sih, kamu?" tanya Vio gemas. Ia mengetatkan lagi pelukannya ke leher Robert.


"Kamu yang kemana aja? Aku cari-cari pas selesai akad Pak Hendra, kamu dah ngilang aja."


Violin tertawa lebar. "Masuk yuk, ah." Ajak Vio sambil menyeret Rob masuk kedalam.


"Rumahnya cukup nyaman." Puji Rob sambil menghempaskan pantatnya di sofa. Pandangannya berkeliling mengamati sudut-sudut rumah ini. "Sofanya juga empuk. Apa nih? Kulit lembu ya?"


"Ngawur, kulit kadal kaliiikk..." Sambar Violin.


"Kasihan amat kadalnya ya?"


"Hahaha..."


"Thanks Rob." Ucapnya tulus. Ia mencium bunga itu berkali-kali.


"Oh iya, tas itu apa isinya?" Tanya Violin sambil melirik paper bag yang tadi di tenteng Robert.


Dilihat dari bungkusnya sih sepertinya barang mewah.


"Ini juga buat kamu, bukalah."


Violin menerima bag itu. "Astaga! Seblak dooonngg..."


Robert mencibir, baru kali ini wanita di bawakan bunga sama seblak aja udah segirang ini. Pake jingkrak-jingkrak pula.


"Ini kenapa bag nya Louis Vuitton, sih? Emang sekarang mereka buka kedai seblak juga?" Tanya Violin salfok sama tas karton berlogo merk terkenal itu.


"Asal ambil itu tadi. Ngarep yaa?" Goda Robert.


"Dih, ini tas lama. Yang keluaran terbaru udah ganti design kaliiiikk..." Balas Vio sambil ngeloyor pergi ke dapur.


Ia mengambil mangkok dan sendok, juga sekalian meraih vas dan meletakkan bunga itu lalu menatanya di atas meja.


Selagi Vio sibuk dengan bunganya, Rob menuang seblak kedalam mangkok lalu mereka duduk dan menikmati seblak dalam diam.


"Hari ini kamu ada acara?" Tanya Rob memecah keheningan. Ia hampir selesai dengan seblaknya.


"Umm, sampai jam makan siang aku free."


"Yah, padahal pingin banget ngajakin lunch." Keluh Rob sedih.


"Lah ini kita udah breakfast bareng. Kamu tahu nggak, ini first time aku breakfast pakai seblak loh. Hahaha..." Violin ngakak geli.


Biasanya seblak tuh enaknya dimakan malam-malam waktu hujan atau cuaca dingin. Tapi ternyata untuk sarapan pun masih oke kok. Hehehe... (bukan otor lho yaa)


"Lagian kamu dapat seblak dimana sih sepagi ini?" tanya Vio penasaran.


"Tebak dimana?!" kerling Rob jahil.


"Kalau nggak pesanan khusus nggak mungkin dooonggg..."


"Hmmm, tebak dong."


"Udah ah, nyerah." Violin mengangkat sendoknya.


"Ah nggak seru." Robert merajuk.


"Kamu nggak bikin sendiri kan yang pasti?"


Hening.


Violin melotot. "Jangan bilang ini kamu yang masak!?"


Robert mengedikkan bahunya.


"Masak sih? Ini enak loh."


"Jadi maksudnya kalau aku yang masak bakal nggak enak, gituu?"


"Hehehe... nggak sih, ragu aja gitu. Hahaha..."


"Eh, nggak sopan banget ya..."


Robert menghampiri Violin, bersiap menggelitik pinggangnya.


Vio berkelit lalu lari menjauh dari jangkauan Robert sambil tertawa-tawa.


Mereka mengelilingi taman belakang lalu masuk kembali ke dapur. Vio hampir ketangkap, untung langsung lompat dan lari kedepan.


Saat pintu depan berhasil terbuka, Vio bersiap lari ke halaman depan, saat itu Rob menangkap tangannya dan menarik Violin. Alhasil tubuh Vio terhempas membentur dada Robert.


Violin berontak, ia tidak bisa lari lagi, Rob berhasil memitingnya.


"Ayok bilang apa?" Ujar Rob berlagak marah.


"Hahah, aduuuhh ampuuuunnnn... Hahaha..."


"Apa nggak denger, yang keras doongg..."


"Iya, ampuunn Roobbb... hahaha..."


"Ampun apa?"


"CUKUP!"


Bentakan itu cukup keras sampai Violin dan Rob terlonjak kaget. Refleks Violin memeluk Rob erat-erat.


Dion menatap Vio dan Rob dengan muka merah dan tangan mengepal kuat.


"APA-APAAN INI?"


***