
Pukul 14.47
Matahari mulai condong ke barat. Namun sinarnya masih terasa panas. Efek seharian ini cuaca cerah tanpa awan.
Langit pun berwarna biru bersih tanpa terhalang. Burung-burung tampak bergerombol bersama kawanannya, beterbangan seolah mengejek Violin dengan sengaja.
Sepanjang jalan menuju pantai, udara terasa semakin sejuk. Dikiri kanan terlihat banyak pohon cemara (nggak usah nyanyi).
Violin memandang kagum pemandangan yang tersaji disepanjang jalan ini. Tangannya terbuka lebar, seolah ingin mengganti seluruh nafas didalam dadanya yang sesak dengan nafas baru yang ia dapatkan dari angin laut.
Sedikit bau amis dan air laut yang bercampur menyapa hidung mereka. Jeffry memarkirkan motor maticnya dan menggandeng Violin dengan mesra. Mereka nampak seperti sepasang anak muda yang sedang merajut asmara. Sama sekali tak terlihat jika Vio adalah seorang janda dan Jeffry bocah ingusan.
Jeffry membimbing Vio lebih dekat kearah bibir pantai. Vio langsung jingkrak-jingkrak kegirangan. Ia melepas sepatu dan melemparnya sembarangan. Et dah, barang mahal itu, kayak ngelempar kacang aja. Jeffry menelan ludah.
"Bagus banget Jeeeffff!" Pekik Vio, ia sudah bertelanjang kaki menunggu ombak datang menjilati jari-jari mulusnya.
Jeffry hanya tersenyum melihat polah Vio yang mirip bocah. Ia tidak ikut menyambut ombak. Hanya berdiri menyimpan kedua tangannya didalam saku celana sambil mengamati Violin yang berteriak-teriak karena ombak membasahi setengah badannya.
Segirang ini hanya diajak kepantai? Apakah segitu beratnya hidup seorang Violin? Bagaimana bisa wajah yang terlihat lembut itu menyimpan begitu banyak kepahitan? Siapa sebenarnya wanita ini? Manusia atau Dewi?
Siang tadi saat Jeffry selesai makan siang, Bang Roni memanggilnya. Ada yang nyari, katanya. Jeffry mengrenyit, cewek mana lagi nih? Pikirnya waktu itu.
Bukannya apa-apa, fans Jeffry termasuk berjubel. Apalagi kalau siang, pada rebutan nganterin makanan ke bengkel.
Dan beneran cewek dong. Eh salah, bidadari dong. Hehehe...
Vio bilang mau dijemput di kantor sekarang juga. Hanya begitu sudah membuat Jeffry grecep bersih-bersih, ganti baju, nyamber asal parfumnya Bang Roni, lalu minggat.
Bang Roni sampai geleng-geleng kepala. Untung kerjanya beres, kalau nggak udah di depak kali karyawan seenak jidat model Jeffry.
Percikan air membuyarkan lamunan Jeffry. Violin sengaja menggodanya agar Jeffry ikut gabung mainan air. Nggak asyik juga basah sendirian.
Jeffry mengejar Violin yang berlari menjauh. Mereka menyusuri bibir pantai dengan riang. Sesekali bergantian saling menggelitik dan berguling-guling diatas pasir.
Kadang juga tangan mereka bergandengan, atau Jeffry dengan senang hati menggendong Violin di punggungnya lalu membawanya berlari.
Tawa Violin terdengar lepas. Ia juga menjerit dan menangis bersamaan. Entah karena iba atau euforia pantai yang syahdu, Jeffry bahkan mendekap tubuh Violin, menenangkan.
Seberat apa beban Violin, Jeffry tak tahu. Yang ia tahu, ia hanya ingin Violin membagi duka dengannya. Ia sadar ia hanya punya bahu dan dada. Violin bisa memilih ingin menangis disebelah mana.
Kali ini Jeffry membenamkan kepala Violin di dadanya. Kenapa rasanya pas sekali tubuh ini menempel di badan Jeffry? Seolah memang diciptakan untuk saling melengkapi.
Tinggi Violin hanya sebatas dagu Jeffry. Memudahkan Jeffry mengecup kepala Violin diam-diam.
Wajah Vio sudah sembab, matanya merah, entah karena menangis atau kemasukan pasir. Ia juga sudah agak lebih tenang. Jeffry membimbingnya duduk diatas akar pohon besar yang sepertinya hanyut terbawa ombak.
Violin hanya diam saja. Jeffry juga tidak bermaksud bertanya lebih dulu. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Lembayung orange perlahan mulai muncul. Melukis guratan alam yang indah. Vio terpekur menatapnya. Hatinya mulai plong, sedikit lega dan terasa ringan. Lalu terukir senyum tipis dibibinya yang sudah mulai membiru karena kedinginan.
Tubuhnya mulai menggigil karena basah dari atas sampai bawah. Jaketnya ia tinggal dimotor, begitu juga jaket Jeffry. Ia merapatkan badannya ke tubuh Jeffry, mencari kehangatan.
"Ehem Tante... sebaiknya kita pulang. Langitnya berubah mendung, takutnya kehujanan. Aku nggak bawa mantol." Ajak Jeffry, ia takut khilaf lama-lama dekat Vio yang basah kuyup, mencetak bentuk badanya yang terlihat jelas.
Violin menatap Jeffry dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jeffry. Jeffry terpaku, saking kagetnya. Dadanya langsung berdegup kencang.
Saat hidung mereka hampir bersentuhan, Violin mendesis pelan.
"Terima kasih." Ucapnya tepat saat hidung mereka menempel satu sama lain. Lalu Violin tersenyum cantik sekali.
Jeffry yang tidak ingin mensia-siakan kesempatan ini segera meraih tengkuk Vio dan menahan dengan tangannya yang besar.
Jeffry yang merasa Violin tidak berusaha melepaskan diri, mulai berani menyapu bibir mungil itu dengan lidahnya. Violin masih terdiam, ia bahkan memejamkan matanya.
Lalu saat lidah Jeffry berusaha membuka bibir Vio, saat itulah kesadaran Violin kembali. Ia mendorong dada Jeffry sekuat tenaga. Refleks badannya menjauh dari Jeffry, otaknya mengirimkan sinyal bahaya.
Nafas Vio tersengal-sengal seolah habis berlari puluhan kilometer. Ia sampai menunduk dan terbatuk-batuk.
Jeffry yang terkapar perlahan merangkak diatas pasir, menghampiri Violin.
"Stop it!" Pekik Vio disela-sela batuknya.
"Sorry Tan, please!" Mohon Jeffry. Wajahnya penuh rasa bersalah. Sekarang ia nampak seperti laki-laki pengecut yang dengan senang hati memanfaatkan situasi.
Violin sedang terpuruk, tapi ia malah berbuat lancang dengan menciumnya.
Violin menutup wajah dengan kedua tangannya, ia tersedu. Ini bukan salah Jeffry. Violin sadar ini bukan salah Jeffry.
Vio yang begitu terlena saat mengecap bibir manis Jeffry yang ternyata memiliki rasa yang sama seperti bibir Dion, hingga Vio terlena. Saat ia sadar, itu bukan Dion. Ini orang yang berbeda.
"BRENGS*K!!! SIALAN KAMU DION!!!" Jerit Violin frustasi. Ia memaki Dion dengan histeris.
Jeffry lalu diam mencoba mencerna ucapan Vio, kenapa jadi Dion yang brengs*k? Ia memiringkan kepalanya.
******
Atmanegara menatap foto yang dikirimkan Rion melalui email diruang kerjanya.
Foto pertama, Violin dengan seorang pemuda sedang berlarian di pantai sambil tertawa lepas.
Foto kedua, anak muda itu menggendong Vio dipunggungnya.
Foto ketiga, mereka berciuman.
Rahang Atmanegara mengeras. Ia pikir anak muda itu hanya bocah iseng. Tapi ternyata ia cukup berani juga mendekati anaknya.
Lalu ia men-dial nomor Rion.
Tidak butuh waktu lama, didering pertama Rion langsung menjawab panggilannya diseberang sana.
"Yes, sir. Rion here."
"Cari tau siapa anak ini, jangan ada yang terlewat!" Desis Atmanegara.
"Tapi Pak, kemarin Vio sudah mengancam salah satu agen kita yang menguntitnya di swalayan untuk tidak mengganggu teman-temannya." Sahut Rion.
"Ya jangan sampai ketahuan, Bambang! Lagian kita tidak menggangu, hanya mencari informasi."
"Ehem, itu sama saja mengganggu privasi seseorang, Pak."
"Ck, lama-lama kamu lebih bawel dari saya."
"... "
"Tak tunggu secepatnya!"
"Sendiko dawuh Gusti."
Klik !