
Rion membolak-balikkan map didepan Atmanegara. Siang ini ia menemui bosnya itu di rumahnya yang besar bak istana Buckingham.
Ia selalu mengejek bangunan ini, yang berdiri congkak khas pemiliknya. Percuma dibangun sedemikian megahnya, isinya toh hanya Atmanegara dan istrinya. Selebihnya pelayan yang tinggal di paviliun belakang.
Kalau ia punya rumah sebesar ini paling tidak istrinya akan ia bikin hamil paling sedikit sebelas kali. Mayan kan bisa bikin klub bola sendiri. Hehehe...
Sayangnya ia jomblo dan sama sekali tidak tertarik untuk menikah.
Kalau menikah hanya untuk kebutuhan biologisnya, banyak wanita diluar sana yang siap melayaninya.
Yang mencuci bajunya ada tukang laundry yang siap membuat pakainya jadi bersih dan wangi.
Urusan perut, bertebaran penjual online dan offline dengan bermacam-macam menu dan rasa. Tinggal tunjuk, perut aman.
Yang jelas ia malas mengurusi keribetan rumah tangga. Rumah tangga bosnya saja sudah cukup membuat Rion ikut gila, apalagi harus mengurusi rumah tangganya sendiri.
"Tidak ada kendala yang berarti kan?" Tanya Atmanegara sambil membubuhkan tanda tangannya diatas kertas.
"Sementara aman terkendali, Pak."
"Bagus, pastikan semua berjalan stabil." Pak Atma mencopot kacamata bacanya setelah selesai dengan map terakhir yang disodorkan Rion.
"Jadi, kabar apa yang ingin kamu sampaikan?" Atmanegara menyilangkan kakinya, ia menautkan tangannya didepan dada.
Rion menyeringai mendengar pertanyaan Atmanegara. Lebih tepatnya perintah yang berbalut pertanyaan. Dasar licik, umpat Rion dalam hati.
"Jangan terlalu sering menahan umpatan di dalam hati, Rion. Bikin penyakit aja kamu. Lanjutkan!" sindir Atmanegara.
"Ck!" Rion berdecak sebal, belum juga ngomong dah main lanjut-lanjut aja.
"Namanya Jeffry Mahesa. Ia dilahirkan dua puluh tahun lalu di sebuah klinik persalinan di pinggiran kota Lombok. Ibunya bernama Isabella Swan dan bapaknya Edward Cullen." Rion menjeda ucapannya, menunggu reaksi Atmanegara.
"Yang bener, Semprul!" Atmanegara melotot, "Film itu sudah Rani tonton berulang-ulang sampai aku hafal luar kepala. Bahkan setelahnya dia panggil aku Mas Edward! Yang bener aja!"
Rion menahan tawanya susah payah, sampai hanya kekehan aneh yang keluar dari mulutnya itu
"Jadi gini Pak..." lanjut Rion.
Atmanegara mengangkat tangan kirinya, memberi tanda agar Rion berhenti bicara.
"Pelankan suaramu, ada kuping lain disini yang mendengar selain kita." Ucap Atmanegara sengaja keras agar orang yang dimaksud dengar.
Lalu terdengar deheman kecil dari balik pintu ruang kerja Atmanegara.
Kepala Maharani muncul, ia tersenyum dengan kikuk. Ketangkap basah sedang menguping membuatnya kepalang tanggung, akhirnya daripada lari, ia memilih berjalan mendekati suaminya.
"Hai Rion." Sapa Maharani.
Rion menunduk sedikit, "selamat siang, Ibu." jawabnya.
Rani langsung duduk di pangkuan Atmanegara, ia mengalungkan tangan di leher suaminya dan mengecup bibirnya sekilas. "Hai suamiku. Hehehe..."
Atmanegara acuh, tapi ia tetap menahan tubuh kecil Rani dipangkuannya dengan memeluk pinggang istrinya itu dengan posesif.
Tentu saja Rion terganggu, ia seperti obat nyamuk disini.
"Ehem..." tenggorokan Rion tiba-tiba kering. Ia ingin cepat-cepat berlalu dari sini.
"Lanjutkan!" Titah Atmanegara.
"Intinya, benar anak itu adalah bibit yang ditanam Pak Mahendra. Saya permisi." Pamit Rion. Dia membungkuk sedikit dan berjalan keluar dari ruang kerja Atmanegara.
"Ck, dasar ciken, iri bilang." Ucap Atmanegara sambil mengecupi leher istrinya. Maharani cekikikan menahan geli.
"Mas, bibit Mahendra yang mana yang dibilang Rion?" Tanya Maharani.
Atmanegara acuh, ia malah asyik membuat tanda di punggung istrinya.
Rion mempercepat langkahnya, harus cepat, hawa di dalam sudah semakin panas atau ia akan ikut terbakar.
Mungkin pulang dari sini ia bisa mampir sebentar ke hotel. Lalu Rion menekan nomor seseorang.
"Hotel xxx nomor xxx sekarang!" Desis Rion. Ia membuka pintu mobilnya dengan asal.
Rion semakin tegang.
*****
Panji menatap tubuh yang tergolek tak sadarkan diri di ranjang hotel. Wanita yang ia ikat agar tidak bisa lari lagi darinya.
Dari segi tampilan, wanita ini kalah jauh dari Pamela, istrinya.
Lina tidak bersolek berlebihan, kulitnya bersih alami dan tidak ada barang branded yang menempel ditubuhnya. Juga pakaiannya sangat sopan.
Tapi sejak pertama kali melihat Lina, Panji langsung tertarik.
Bagian bawah tubuhnya langsung mengeras hanya dengan satu kali kedipan mata Lina.
Ia hipers*ks?
Jawabannya adalah iya.
Ia bisa tidur dengan wanita mana saja, tapi sejak melihat Lina di restoran, ia hanya menginginkan wanita ini.
Awalnya Panji pikir ia hanya kurang belaian, tapi semakin ia mencoba dengan yang lain yang lebih s*xy, lebih s*mok, lebih berpengalaman, ia semakin mengingat Lina. Sangat sangat menginginkannya.
Sampai suatu hari Lina menolaknya. Tidak kasar sebenarnya, tapi Panji terlanjur sakit hati. Ia yang terlanjur berexpetasi tinggi, kemudian dihempasan dengan satu kalimat penolakan dari mulut Lina.
"Maaf, aku tidak bisa. Mari kita berteman saja."
Panji tidak biasa dengan penolakan, baginya ditolak berarti menantang harga dirinya.
Lalu malam itu ia sengaja menunggu Lina saat pulang kerja.
Dua anak buahnya cukup untuk membawa Lina hidup-hidup kehadapannya.
Dengan paksa Panji memperk*sa Lina di apartemennya. Lina yang masih perawan membuat candu tersendiri untuk Panji. Ia tidak bisa lepas. Bahkan mengurung Lina beberapa hari di apartemennya hanya untuk melayani nafsu binatangnya.
Lina yang masih polos begitu syok dan terpukul dengan keadaannya. Setiap hari ia hanya bisa meraung sampai rasanya hanya ingin mati saja. Jiwanya mulai terganggu.
Ia depresi berat, tak tahan dengan keadaan ini, Lina menyayat pergelangan tangannya. Berharap ajal segera menjemputnya.
Panji yang meletakkan CCTV di setiap sudut apartemennya kelabakan saat melihat tayangan di ponselnya saat Lina tergolek di pantry tak sadarkan diri.
Lalu saat menjalani perawatan di rumah sakit, Lina menghilang.
Panji seperti kesetanan, ia kesana kemari mencari wanita ini. Sampai akhirnya ia menemukan Pamela.
Ia mulai menyembuhkan diri dengan Pam disisinya. Pam mampu mengimbangi nafsunya, berkat Pam juga Panji tidak lagi celup sana sini.
Bahkan Panji mulai posesif dengan Pam, ia takut Pam akan pergi meninggalkannya seperti Lina.
Tapi kemarin saat melihat Lina lagi, hasrat yang terpendam itu mulai tumbuh kembali. Panji mulai gelisah, ia gagal fokus.
Ia sampai membatalkan pesawatnya hanya untuk menemui Lina lagi, meski dengan paksaan.
Sebenarnya ia tidak akan melakukan ini jika saja Lina menyambut pelukannya. Dari hatinya yang paling dalam, ia mencintai wanita ini.
Terlihat gerakan tangan Lina, ia mulai sadar. Dan lenguhan yang keluar dari mulutnya menyadarkan Panji dari lamunan.
Lina mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Ragu-ragu Panji meraih tangan Lina, ia mengelus bekas sayatan itu.
Lina tersentak, refleks ia menarik tanggannya.
Panji tersenyum masam, ia baru saja ditolak lagi.
Perlahan ia mendekatkan kepalanya di dekat telinga Lina.
"Hai, sayang." desis Panji mesra, tapi terdengar menjijikkan ditelinga Lina.
******