Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sah!



Juno menyeret Violin di pojok ruangan, agak jauh dari Atmanegara.


Akad nikah baru saja selesai, Atmanegara sedang asyik ngobrol dengan kepala KUA. Entahlah apa yang sedang mereka diskusikan, tampak serius bak berembuk hutang negara.


Lina sudah ngacir ke toilet, dari tadi nahan grogi karena Juno sempat salah waktu latihan akad.


"Selamat menempuh hidup baru, Junet." Ucap Vio tulus. Ia membetulkan letak dasi Juno.


"Makasih Bu Bos." Juno membungkukkan badannya dihadapan Vio. Karena sedang dalam kondisi hati yang baik, Juno mengindahkan panggilan Junet itu.


"Cih, puas lo?"


"Puas banget, hahaha..."


"Anjay gigi lo!"


Juno merapatkan giginya.


"BTW itu bapak lo sehat, kan?" Juno melirik Atmanegara takut-takut. Violin mendekatkan mulutnya ke kuping Juno.


"Gue sih waspada. Nggak biasanya soalnya." bisik Vio lirih.


"Bukan yang depresi ditinggal nyokap, kan?" sahut Juno tak kalah lirih.


"Malah kayaknya doi yang lebih siap deh."


Juno manggut-manggut, "Kerjaan gimana?"


"Elo bisa-bisanya nanya kerjaan. Noh, di suruh ninggalin demi eluuu."


"Yak ampun, gue terharu. Thanks." Ucap Juno tulus sembari memeluk Violin.


"Thanks ama bapak yang ono, bukan ke gue."


"Entar lah sekalian minta hadiah gue." Juno merapikan jasnya.


"Berani apa lo? Ngucap akad aja salah." cibir Vio.


"Ini gara-gara bapak lo di samping gue."


"Apa hubungannya?"


"Sekali lirik langsung nge blank!"


"Hiperbola banget."


"Sumpah." Juno mengangkat dua jarinya. "Gue tau sekarang kenapa tender bapak lo nggak pernah gagal. Belum deal aja udah merinding. Auranya mirip astral, astaga!"


"Hahaha... "


Juno ikutan terkekeh, "tapi lumayan juga sih nggak perlu bayar saksi nikah gue. Anjay terhormat banget nggak? Saksi nikahnya doongg... Atmanegara. Wiiihhh... mimpi apa coba? Bakal cerita ke anak cucu gue kelak."


"Jangan lupa, amplopnya beda."


"Eh, serius bapak lo terima amplop?" Juno cengo.


"Lo belum tahu semboyan bapak gue? Time is money, brooo!"


"Ehem..." Atmanegara berdehem di belakang Juno dan Vio. Mereka kompak nyengir.


"Kamu mau honeymoon, Jun?"


Juno melirik ke arah Violin, "tergantung ijin Bu bos sih, Pak."


Violin mencibir. Muka si Juno dah kelihatan banget muka-muka pen-jilat.


"Seminggu cukup, kan? Royal yatch Marina Group pilih tujuan yang kamu sukai. Rion yang urus."


Refleks Juno langsung sungkem ke pak Atmanegara.


Violin mendelik, "Pa, Juno masih karyawaku loh, nggak bisa sepihak gini dong!" Protesnya.


"Anggap aja reward. Juno sudah ikut kamu sejak Barbara berdiri, kan?"


"Tapi dia baru aja ambil cuti dua minggu."


"Tambah seminggu lagi Barbara nggak akan rugi."


Violin memiringkan kepalanya heran, "Nggak biasanya Papa seroyal ini? Apa timbal balik yang Papa inginkan dari Juno?" tembak Vio langsung tepat sasaran.


Juno yang tadinya semringah langsung mengkeret mendengar kata 'timbal balik'. Ini bukannya lagi bahas hadiah pernikahan yah? Kok jadi timbal balik, sih?


Atmanegara menyeringai lebar sembari menepuk bahu Violin, "kamu benar-benar anak Papa. Hahaha..."


***


Niat hati hanya ingin mengambil raket tenis yang ia simpan di gudang jadi kepo melihat bapaknya yang sudah rapi sepagi ini.


"Dion, breakfast?" Mahendra menawarkan Oat sarapannya.


"No, thanks." tolak Dion. "Apa agenda Papa hari ini?"


"Habis ini Papa ke Marina Medika, check up rutin seperti biasanya." Jawab Mahendra sambil menyuapkan sesendok Oat ke dalam mulut.


"Setelah itu?" selidik Dion.


"Ummm... mungkin agak sedikit lama. Papa ada janji." Mahendra tersenyum tipis. Lalu melirik Dion, takut kelihatan happy nya.


Dion langsung mencibir, "sebelum Papa bawa Sus Bell ke hadapanku, jangan harap aku kasih restu ya. Lihat bagaimana nanti." Ucap Dion tegas.


Ia mau membantu Jeffry karena jelas Jeffry adiknya, kalau Mahendra dan Bella? Asyiknya sih dikerjain dikit kali ya orang tua ini. Hehehe...


Otak jahil Dion bekerja. Enak saja, saat dia menduda, Papanya malah udah mau nikah lagi aja. Nggak seru ah.


"Dengan atau tanpa restumu, Papa akan tetap menikahi Bella." Sahut Mahendra tak kalah tegas.


"Baiklah, kalau begitu Jeffry juga sepenuhnya tanggung jawab Papa. Aku nggak mau ikut campur." Dion tak mau kalah.


"Kamu cukup duduk tenang di kursimu, Jeffry sendiri yang akan bertindak." Seringai Mahendra. Dion mendadak waspada.


"Lalu info apa yang Papa dapat dari pemilik bengkel itu?" Cecar Dion. Ia ingin tahu trik apa yang Mahendra pakai kali ini.


Karena dari tempat mobil Dion parkir, ia hanya melihat bapaknya asyik ngobrol dengan Roni. Baru setelah itu Roni memanggil Jeffry lalu mereka bersalaman. Sebentar kemudian Mahendra berlalu pergi.


Sudah gitu aja.


Mahendra mengedikkan bahunya, "Aku hanya bertanya tentang mesin, biaya service dan profit yang dia dapat. Itu saja, sih."


Dion mendelik, benar-benar bapak nggak ada akhlak.


"Papa nggak ngurusin Jeffry dari orok sampai sebesar ini, masih aja di anggap main-main." Sindir Dion. Ia mulai tahu taktik bapaknya ini. Mahendra terkekeh.


"Aku hanya memfasilitasi jiwa mudanya. Sepertinya dia anak yang suka tantangan." Mahendra meminum jus melonnya.


Jeffry masih remaja, dalam tahap ingin tahu sekali, jiwa ke-kepo-annya sedang tinggi-tingginya dan Mahendra memanfaatkan itu. Cukup setor mukanya yang kebetulan mirip banget dengan Jeffry.


Nggak mungkin teman-teman bengkel Jeffry diam saja. Saat melihat Mahendra dari awal saja mereka sudah sibuk kasak kusuk berdiskusi dengan tangan penuh oli.


Apalagi yang punya bengkel, si Roni. Udah pasti nanya dari awal, apakah Mahendra saudaranya Jeffry?


Dan gara-gara saking miripnya, Roni sampai memanggil Jeffry ke ruangannya untuk memastikan. Lalu memperkenalkan mereka berdua.


Lihat bagaimana liciknya Mahendra, kan?


"Bagus deh, aku nggak perlu direpotkan dengan urusan Papa." Dion beranjak berdiri.


"Carilah pendamping baru, kalau kamu mau menikah lagi, Papa belakangan, it's oke." Seru Mahendra saat Dion bersiap pergi.


"Nggak semudah itu, Pa."


"Turunkan egomu, maka semua menjadi mudah."


"Papa juga, turunkan hasratnya biar nggak ngebet nikah mulu."


"Papa udah lama menduda, loh."


"Aku juga baru kemarin menduda, udah disuruh nikah aja."


"Ya bedaa, kamu masih muda. Masih semangat-semangatnya."


"Papa juga, inget dah tua. Masih aja pingin nikah."


"Yaa... Papa kan butuh teman menikmati masa tua."


"Ck, dah lah, terserah Papa, aku kerja dulu. Bye, Pa!" Dion melambaikan tangannya.


"Ucap salam, Dion!" Tegur Mahendra.


"Wa'alaikumsalam, Pa!"


"Semprul!"


****