Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Lemah



"Kenapa mukamu?"


Atmanegara mengrenyit menatap penampilan Rion pagi ini.


Rambutnya masih klimis seperti biasa, suit nya juga masih licin, apalagi sepatu masih tetap mengkilat.


Hanya raut muka itu benar-benar mengganggu mata Atmanegara.


Kemana wajah songong nun percaya diri itu? Ini seperti bukan Rion.


"Silahkan, Pak." Alih-alih menanggapi pertanyaan bos-nya, Rion memilih membukakan pintu mobil.


Setelah memastikan Atmanegara duduk dengan tenang dan aman, Rion menyusul disebelahnya.


Perlahan mobil berjalan meninggalkan istana Atmanegara.


"Pagi ini ada meeting perwakilan Marina steel, sebelum makan siang bapak ada janji dengan Mr. Antonio. Jam dua siang kita akan sidak ke Marina Hotel yang di bilangan jak... "


"Stop!"


Atmanegara mengangkat sebelah tangannya memotong ucapan Rion.


Seperti biasa setiap pagi Rion akan memberi tahu apa saja agenda Atmanegara hari ini. Meski sejak malam jadwal hariannya sudah di email kan langsung.


"Saya tidak suka urusan pribadi kamu bawa ke pekerjaan. Urus itu, baru temui saya!"


Rion mendengus.


Wajahnya tambah kusut, ia hampir frustasi.


"Ribet dah." Gerutunya.


"Lemah kamu, kalah kok sama perempuan." cibir Atmanegara sinis.


"Kayak yang ngomong nggak aja." Balas Rion.


"Cih, sok tahu kamu."


"Bapak juga sok tahu, saya baik-baik saja. Masalah apa sih?"


"Oh, baik-baik saja? Jadi semalam yang banting meja di restoran sampai hancur itu siapa? Itu rincian ganti rugi sudah ada di meja kamu ya. Stefani yang share ke saya."


"Loh semalam sudah tak ganti semua, kenapa bisa ada tagihan lagi sih?" Rion mengrenyit, mencoba mengingat-ingat apa yang terlewat.


Meja, mangkok, cangkir, vas sampai sumpit yang nggak patah pun dia ganti semuanya. Malah dia kasih tip lebih untuk yang beresin kekacauan yang ia buat semalam.


"Bukan tagihan, itu rincian. Bukti pembayaran. Ck, gimana sih kamu?"


"Ck, dibilang nggak usah di kirim. Malu-maluin aja." Gerutu Rion, dongkol juga aibnya jadi ketahuan Atmanegara.


"Itu namanya profesional."


"Iya, biar seluruh gedung tahu, gitu kan maksud bapak?"


"Lah kok keselnya ke saya?"


"Iya sementara adanya bapak, nanti kalau ketemunya pohon juga bakal saya marahin."


"Makanya kalau punya masalah itu di selesaikan, bukannya menghindar. Kamu sudah nggak punya duit sampai nggak mampu nyewa perempuan liar lagi?"


"Mereka nggak liar, Pak. Sudah di vaksin dan terdaftar di kementerian kesehatan."


"Kurang kerjaan amat kementrian kesehatan ngurusin begituan. Eh tapi masuk akal juga sih kalau ngasilin cuan. Otak orang mana tau, kan?"


"Nggak usah gibah, Pak. Masih pagi. Kurang bagus untuk kesehatan otak anda."


"Cih, kayak otakmu sehat aja. Lihat se la kang an murah dikit aja langsung oleng."


"Pamela nggak murah, dia..." Rion melirik Atmanegara lalu mendengus kesal sendiri. Kepancing kan dia.


Atmanegara menyeringai.


"Wanita baik akan mencari kejelasan, bukan hanya mau-mau aja di buka tutup. Memangnya jalan tok? Jalan tol aja bayar, ada aturannya. Atau kamu nyari yang gratisan?"


"Paakk..." Rion mengerang.


"Nikah sana, kawin mulu kerjaannya."


"Nggak usah di perjelas kaliiikk..."


"Harus jelas, biar kamu tahu menjalin hubungan serius nggak semenakutkan itu. Belum-belum sudah keder, mlempem. Dasar ciken."


"Bisa nggak saya turun sini aja?" kuping Rion mulai panas, mungkin sebentar lagi berasap saking pedesnya mulut Atmanegara.


Untung Atmanegara, andai orang lain yang ngomong mungkin dah habis dihajarnya.


"Nggak. Kamu sampai kantor habis itu pergi sana. Jangan berani balik lagi kalau masih belum kelar."


"Kenapa sih Pak? Saya fokus kerja lho ini."


"Nggak! Kamu mulai nggak kompeten, saya nggak suka. Ganggu kerjaan aja!"


Atmanegara tak mengindahkan rengekan Rion. Ia diam dan sibuk dengan tabletnya. Fiks berarti final.


Sial!


Rion tambah frustasi.


****


Adzan subuh selesai berkumandang saat Mahendra terjaga dari tidurnya.


Meski jam tiga dini hari ia baru bisa terlelap, tapi pagi ini ia bangun dengan keadaan terbaiknya.


Tubuhnya terasa bugar dan perasaan bahagia luar biasa yang sulit dilukiskan memenuhi dadanya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari indah disekelilingnya.


Mahendra menatap wajah ayu istrinya yang masih terlelap di atas ranjang. Ia menyingkirkan anak rambut yang terjuntai di pelipis Bella.


Ditariknya selimut sampai sebatas leher agar Bella tak kedinginan. Pasalnya didalam selimut itu tak ada sehelai kain pun yang membalut tubuh mereka.


Cantik sekali, gumam Mahendra sambil mesam mesem.


Semalaman ia tak henti-hentinya menelisik setiap inci tubuh Bella. Wajah yang di rindunya, tubuh yang kini seutuhnya menjadi miliknya.


Ia amat bersyukur akan hal ini. Tuhan masih memberinya waktu untuk menikmati indahnya pernikahan dengan orang terkasihnya.


Wanita yang ia kira hanya akan menjadi angan, sekarang ada di dekapannya. Dan ini nyata, bukan mimpi belaka.


Mahendra mengetatkan pelukannya. Ia mengecup pelipis Bella dengan penuh rasa syukur.


"Ma-Maass..." Bella menggeliat, ia kesulitan bernafas.


"Selamat pagi, istriku." Bisik Mahendra tepat di telinga Bella.


Bella tersipu malu. Pipinya memerah, ia menyembunyikan wajahnya di dada Mahendra.


Mahendra terkekeh. Ia memeluk istrinya kembali dengan sayang. Sesekali diciuminya puncak kepala Bella.


"Eh, yak ampuun jam berapa ini? Belum sholat subuh. Mas, bangun ayo sholat!"


Bella panik, ia mengikat rambutnya asal lalu menyingkirkan selimut dan terpekik kaget mendapati tubuh polosnya tanpa penutup sehelai pun.


"Astaghfirullah..." Bella menutupi dada dengan tangan. Ia malu Mahendra menatapnya dalam keadaan te lan jang seperti ini.


"Aku sudah lihat semua, kenapa ditutup?" Mahendra menggoda Bella.


"Aku malu, Mas." Bella menunduk. Ia kembali masuk dan bergelung di dalam selimut.


Mahendra menghampiri Bella dan mendekapnya erat.


"Madi yuk." ajak Mahendra.


"Mas duluan, nanti aku nyusul." Jawab Bella dari dalam selimut.


"Maunya bareng."


"Nggaaakkk..."


Yak ampuun gemasnya.


Mahendra menyingkap selimut dan membopong tubuh Bella dengan mudah.


"Aaaawww...."


Mahendra tertawa lebar sambil berlari menuju kamar mandi dan mengunci Bella di dalam sampai...


A few moments later...


.


.


.


.


.


.


.


Krik... Kriiiikk... Kriiiikk...


Jomblo dilarang menghayal. Otor nak cari paksu kejab yeee...


Hihihihi...


****