Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Rahasia Merry Part 1



"Siang ini aku ke rumah Vio, ya Mas." Bisik Pam tepat di telinga kiri suaminya, extra sedikit mendesah membuat Panji kegelian. Ia menciumi leher Pamela.


Pagi ini mereka masih di hotel. Sebentar lagi Panji bersiap akan berangkat kerja. Tapi Pam masih mendesaknya di teras balkon. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Panji dengan manja.


"Jangan mulai, kamu tau kan aku nggak bakal tahan kamu goda?" Desis Panji. Ia memeluk pinggang Pam erat.


Panji yang sudah memakai stelan suit lengkap jadi was-was.


Pam terkikik, "masih kurang aja siihh." Kali ini Pam mengecup dagu Panji.


"Aku nggak bakal puas kalau denganmu." Diremasnya bok*ng Pam gemas.


"Anterin ya." Pam mulai merayu. Ia merapikan dasi Panji dengan tangan lentiknya yang bercat magenta. Padahal dasinya udah rapi, ia hanya sengaja menggoda dada bidang milik Panji.


"Nggak bisa, Sayang. Aku buru-buru banget loh, pesawatnya bentar lagi." Tolak Panji. Pagi ini ia harus meninjau proyek pembangunan cluster di Banjarmasin. Mungkin membutuhkan waktu beberapa hari. Selama Panji pergi, Pam pamit nginep dirumah Vio.


Pam cemberut, "Searah lho, Maaass."


"Iya tapi harus masuk perumahan dulu, makan waktu."


Pam melepaskan pelukannya, ia kesal. Panji memang jarang sekali mau tau urusanya. Panji juga tidak begitu dekat dengan teman-teman Pam. Tapi ini kan cuma nganterin doang, searah lagi. Nggak harus bertemu temannya, nggak harus tau urusanya.


Akhirnya Pam meraih tasnya, lalu bersungut-sungut meninggalkan Panji. Ia menutup pintu kamar hotel dengan kasar.


Lalu saat ia menunggu lift terbuka, terlihat Panji menyusulnya lalu menggenggam tangannya erat. Pam diam saja.


Mereka menuju lobi, sudah ada supir Panji yang menunggunya. Begitu sopir membukakan pintu, Panji segera membawa masuk Pam kedalam lalu menutup pembatas antara supir dan penumpang.


Pam bersedekap acuh. Mereka diam saja sampai didepan rumah Violin.


Lalu saat Pam mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, dengan sigap Panji menarik lengannya sampai Pam terjerembab di dadanya. Panji ******* bibir Pam dengan posesif.


"Nggak usah ngambek, atau aku akan memakanmu disini." Bisik Panji.


Pam melirik, "Oya? kenapa nggak kita coba?" ia menegakkan dagunya, menantang Panji. Pam menyibak dress-nya sampai paha mulusnya terlihat, ia tidak memakai panty. Jelas terlihat belahan menggiurkan diantara pahanya.


Panji menelan ludah, "Sudahlah jangan menggodaku, sana masuk!" Panji menutup kembali dress itu. Kalau saja tidak sedang terburu-buru, habislah Pam.


Pam tertawa puas, "dasar ciken!" Ejeknya. Sebelum membuka pintu mobil, ia meremas resleting Panji yang mengeras. Panji mengerang frustasi.


"Jalan, Tok!" ucap Panji kepada Totok supirnya saat pembatas telah dibuka.


"Siap Pak." sahut Totok.


Panji menoleh, ia melihat Pam berbincang dengan seorang wanita yang sedang menaiki sepeda motor, sepertinya akan keluar dari rumah Vio. Mereka terlihat akrab.


Panji tersenyum lalu kembali acuh, ia memeriksa ponselnya. Kemudian otaknya mengirimkan sinyal bahwa ia mengenal wanita itu. Refleks Panji menoleh, matanya langsung membola.


"Lina!" Desisnya.


*****


"Ya kan tinggal belok kesini, ribet amat." Vio merepet dengan ponsel yang ia jepit diantara bahu dan telinganya. Kedua tangannya sedang sibuk mengaitkan bra rendanya. Ia sedang bersiap-siap ke kantor pagi ini.


"Nggak bisalah, aku harus mampir beli bensin dulu. Ntar kelamaan." Jawab suara di seberang.


"Kesini atau elo-gue end!" sahut Vio.


"Ck! Masalah kita belum selesai, ya!" Juno nggak mau kalah, ia masih kesal kemarin Vio melimpahkan semua kerjaan padanya tanpa berdiskusi lebih dulu.


"Lah kok masalah? Kan itu tugas kamu!"


"Nggak gitu konsepnya, main tinggal-tinggal aja!"


"Aku udah nitip pesen sama Nadia, lagian kamu kerja apa tidur?" Sindir Vio galak.


"Oke, tunggu aja pembalasanku."


Klik!


Juno menutup sambungan telepon. Vio berdecak, ia lemparkan ponsel ke sofa sudut ruangan. Lalu memilih stelan kerja.


"Mbak, tak kepasar dulu, ya." Merry melongokkan kepalanya di pintu geser walk in closet.


"Ono opo to Mbak?" Merry kepo melihat muka majikan ditekuk pagi-pagi.


"Ra popo!" jawab Vio.


" Yowes, pamit yo Mbak." Merry menggeser pintu dan menutupnya lagi.


"Hmm..."


Merry pikir mungkin Vio lagi sakit gigi, dari tadi ham hmm aja jawabnya.


Merry bergegas mengeluarkan motor dinasnya dari garasi. Saat ia membuka gerbang, terlihat sebuah mobil mahal terparkir di depan pintu gerbang, menghalangi jalannya untuk keluar.


Ia menunggu beberapa saat, sampai ia melihat Pam yang keluar dari pintu penumpang dengan senyum khasnya.


"Walah, Mbak Pam to? Tak kirain sopo kok parkir lama disitu?!" Merry cengengesan. Eh, emang mukanya full senyum sih. Hehehe...


Pam berhenti disamping motor Merry, "where are you going, Merr?" ia menunjuk motor matic warna putih yang ditunggangi Merry.


"Ai go tu tradisional market Mbak." Jawab Merry yakin.


Pam terkikik, ia suka sekali mendengar logat medok Merry saat berbahasa Inggris. Sebenarnya Merry fasih, hanya saja nuansa jawanya yang kental membuat unik kosa kata yang keluar dari bibirnya itu.


"Oke, take care, ya!" Pam melambaikan tangannya sambil melenggang masuk rumah.


Merry membalas dengan lambaian tangan juga. Ia mengendarai motor menuju pasar dengan santai.


Sampai di perempatan setelah ia berbelok ke kanan sebuah mobil menghalangi jalannya. Merry terpaksa berhenti, ia mengamati mobil mewah itu. Mobil yang sama seperti yang di pakai Pamela tadi.


Lalu sejurus kemudian seorang pria tampan tampak turun menghampiri Merry.


Pria itu tampak tidak asing di mata Merry, perawakannya tinggi menjulang dengan dada bidang yang terbalut suit mahal nampak gagah ditubuhnya.


Pria itu melepas kacamata hitamnya setelah sampai dihadapan Merry lalu tersenyum lebar.


"Long time no see, hunny!"


Merry menegang.


*****


Juno membelokkan mobilnya di simpang arah rumah Violin. Meski kesal dengan bos-nya itu, tapi ia samperin juga.


"Percuma punya mobil mahal-mahal, ujung-ujungnya numpang juga!" Gerutu Juno.


Ia baru sekali ke rumah Vio, itupun waktu malam saat rumah ini di renovasi. Nggak terlalu kedalam sih, yang paling mencolok ya pager rumahnya dong, ngalah-ngalahin pager rumah presiden. Punya presiden aja nggak gitu amat.


Dari jauh Juno melihat mobil parkir ditengah jalan pas sebelum perempatan.


"Wiihh, boleh juga nih perumahan. Ternyata nggak cuma mobil Vio yang mencolok di area ini. Ada juga yang lebih mehong." Juno ngomong sendiri.


Ia berhenti sejenak menunggu sopir menepikan mobil itu. Setelah jalan terbuka, Juno menekan klaksonnya dan berjalan perlahan.


Lalu pandangannya terpaku saat melewati belakang mobil tadi.


Tampak seorang pria memeluk wanita yang masih duduk di bangku motor. Pria itu membelakangi Juno, sedang wajah sang wanita terbenam sempurna di dadanya.


Yang membuat Juno curiga, si wanita seperti meronta mencoba melepaskan diri.


Merasa ada yang tidak beres, Juno menghentikan mobilnya. Ia bergegas melompat turun menghampiri mereka.


Terdengar teriakan minta tolong dari wanita itu. Lalu dengan sekali hentakan Juno membalikkan tubuh laki-laki itu. Tangannya sudah mengepal keras, tapi detik kemudian ia terkejut mengetahui itu adalah Panji suami Pamela, sahabatnya Violin.


"Panji..." Desis Juno.


Dan lebih terkejut lagi saat tahu wanita itu adalah Lina. Orang yang selama ini ia cari-cari sampai hampir gila.


Lina menatapnya ketakutan, bibirnya bergetar.


"Mas Arjuno, tolong aku." Ucap Lina lirih.


******