Secret of the Heart

Secret of the Heart
HAANIYA DIANLY HANZIE



Jauh Dari Keluarga membuat setiap Detik dan tetasan air mata serta keringat, ia tanggung dan lalui seorang diri.


Terkadang ia menyesali keputusan yang dia ambil saat ini, tetapi tidak mungkin untuknya kembali. Mengingat keadaannya saat ini, Melly hanya bisa menguatkan diri sendiri demi calon anaknya.


Dalam keadaan hamil besar seperti sekarang ini, tidur Melly tidak senyaman dulu, ia kerap kali terbangun ditengah malam dan lebih sering mengunakan toilet, selain itu, ia mulai terusik dengan kontraksi palsu, yang lebih sering ia rasakan.


Seperti sekarang ini, ketika rasa sakit itu datang, ia hanya bisa menahan ujung bantal, berharap rasa itu akan berkurang!


Begitu rasa itu redah, Melly langsung beranjak dari tempat tidur, ia melihat jam beker yang berada di atas Nakas, waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Udara di manhattan, tengah berada pada titik beku! Melly menatap dari balik jendela, Jalan jalan di luar an sana mulai di selimut salju.


Melly kembali merasakan kontraksi, seperti orang yang sudah berpengalaman Melly begitu tenang, ia berpegangan pada tralis dan mengatur nafasnya.


Begitu rasa sakit itu redah, Melly melirik kearah jam lagi. Sudah satu jam setelah kontraksi yang pertama ia rasakan.


Tanpa membuang buang waktu, ia langsung menyiapkan keperluan dia dan calon anaknya. Melly telah membeli baju dan keperluan calon anaknya, sejak kehamilan telah memasuki bulan ke tujuh, sekali pun ia tinggal di kota yang jauh dari kata pamali dan lain lainnya, Melly tetapi mengikuti aturan yang ada, mengingat dulu! Waktu ia bersama luna, ibu kos dan tetangga kosan mereka sering melarang Luna ini itu. Tentu saja hal cukup membantu Melly di kehamilannya.


Tepat jam Delapan Melly pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter karena rasa sakit yang ia rasakan semakin sering, sementara ia belum mendapatkan tanda sama sekali.


Sampai di rumah sakit, dokter meminta Melly untuk tetap di rumah sakit sebab ia sudah pembukaan Dua. Waktu perkiraan persalinan masih seminggu lagi, tetapi siapa yang dapat menduga kalau akan secepat ini.


Di atas ranjang rumah sakit, ia berbaring seorang di sambil terus mengusap perut, semakin rasa sakit itu datang, perasaan Melly semakin tidak tenang, walaupun ia mencoba bersikap tenang dan baik baik saja! Tetapi jauh di lubuk hatinya! Ia ingin menggenggam dia butuh tangan orang lain untuk dia genggam dia ingin ada yang mengusap punggungnya dan berkata semua akan baik baik saja, tetapi semua itu hanya khayalan semata karena pada dasarnya sekarang. Dia seorang diri dan hanya di bantu suster yang tidak ia kenal.


Dokter kembali masuk keruang Melly, ia mengecek pembukaan lagi. Dan proses pembukaan sedikit lama, akhirnya menyarankan agar Melly berjalan jalan kecil di kamarnya, agar mempercepat proses pembukaan. Melly pun mengikuti kata kata dokter, sekali pun frekuensi bulak balik toilet untuk buang kecil semakin sering.


Melly berjalan di lorong rumah sakit sambil berpegangan pada besi yang di tempelkan di dinding sebagai pegangan.


Di lorong itu juga ada seorang wanita yang akan melahirkan sama seperti Melly, sayang dia sedikit beruntung karena di temani suami dan keluarganya, sementara Melly hanya seorang diri. Tiba tiba, Melly merasakan anaknya bergerak membuat perutnya nyungsep ke bawah seolah olah perutnya akan jatuh.


Melly, menangis! Sebab kontraksi yang ia rasakan saat ini lebih lama dari sebelum sebelumnya. Ia bahkan menanamkan kedua lututnya ke lantai dan mencengkram erat besi pada dinding itu. " Ya Tuhan, sakit sekali." Melly menarik nafas dari hidung dan mengeluarkan melalui mulutnya. " Dokter, sepertinya aku tidak kuat, ini terlalu sakit." Ucap ya begitu, saking sakitnya ia sampai mengira Suster ada dokter.


" Tahan Bu, semua wanita yang ingin melahirkan normal pasti merasakan hal ini, ibu yang sabar ya." Ucap suster itu, sambil menatap Melly Dengan iba.


Saat rasa sakitnya kembali Redah, Melly dengan perlahan berdiri dan kembali keruang rawat nya, tetapi belum sempat ia duduk di ranjang, kontraksi itu kembali datang, rasanya bahkan jauh lebih sakit, seakan seluruh nadi dan tulang tulang nya terlepas saat itu. " Ayah, Melly tidak pernah mengeluh sesuai permintaan ayah, tapi maaf ini sakit sekali. Ibu Melly nggak kuat tolong rasa sakit ini! Melly nggak kuat." Ia menjerit didalam hatinya. Kedua pipinya basah.


" Sabar ya Bu, pembukaannya hampir sempurna. Ibu pasti bisa." Sahut Dokter, kata katanya bagai sugesti yang membuat Melly kembali tenang dan kembali menikmati proses persalinannya.


Tepat jam Sembilan malam, Melly di pindahkan ke ruangan bersalin. Para medis pun telah siap siap untuk membantu Melly. Setelah mengunakan sarung tangan dokter memberi sugesti agar Melly mengikutinya aba aba nya saat rasa kontraksi kembali datang.


Melly kembali merasakan sakit dan perih saat sesuatu akan keluar dari sana, Benar saja, beberapa detik kemudian air ketubannya pecah, dokter meminta Melly untuk mengatur nafas dengan baik sebelum mengejang, di percobaan pertama ia belum berhasil, percobaan kedua baru kepala bayi yang terlihat. Untuk ketiga kalinya, Melly mengunakan semua kekuatannya yang tersisa dan mendorong anaknya keluar dalam satu tarik Nafas, Saat tangis bayi itu terdengar, semua rasa lelah dan sakitnya langsung hilang seketika. Senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya, saat dokter mengangkat bayi mungil itu dan meletakkan di atas dadanya.


Bayi itu terus menangis, mulutnya terbuka dan menggeliat seakan mencari sesuatu. Air mata Melly menetes, ia mengusap pipi Anaknya. " Akhirnya mama bisa ketemu sama kamu nak." Ucap Melly di ikuti air mata bahagia yang menetes dari kedua sudut matanya.


Beberapa Jam kemudian, Melly dan anaknya di pindahkan ke ruang rawat Mereka. Sampai di ruang rawatnya, Melly tidak langsung beristirahat, ia memilih memandang wajah putrinya." Kamu adalah kebahagiaan mama, mulai sekarang mama akan melakukan apapun untuk kamu. HAANIYA DIANLY HANZIE."


Nama yang di berikan Melly untuk putrinya, ia berharap kebahagiaan akan senang tiasa menyertai mereka. Tidak peduli seperti apa kerasnya hidup di masa yang akan datang, untuk Saat ini, dia hanya ingin fokus untuk putrinya. Tidak apa jika mereka berdua hanya seorang diri.


Terlalu lama berpikir membuat tubuhnya semakin lelah, dan ia tidak bisa menahan kantuk yang datang.


.... ...


.......


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy Reading. ...


...Oke segini dulu ya, maaf sudah membuat kalian menunggu. ...


...Jangan lupa, like, komen ya....


...Followed IG aku juga. 😘😘😘...