
Begitu melihat, anak perempuannya pulang wanita paruh bayah itu, langsung memeluk dan mencium seluruh wajah Melly. Mungkin di luar sana orang masih berpikir jika ibu tiri adalah sosok yang kejam dan penuh iri hati, tetapi hal itu tidak berlaku untuk wanita satu ini, sebab perasaannya untuk Melly begitu tulus. " Akhirnya kamu pulang sayang. Mami kangen. Sekali dengan Melly."
Melly tersenyum hangat, seraya berkata. " Melly juga kangen sama Mami. Tapi ngomong ngomong Hani nya dimana?" Ia tidak menemukan keberadaan peri kecilnya.
Ada perasaan cemburu ketika melly lebih peduli kepada Hani, ketimbang perasaan mereka. Tetapi wanita itu bisa apa! Namanya juga seorang ibu pasti anak yang lebih penting dari apapun.
" Dia ada di atas! Di kamar kamu." Ucap Wanita itu sambil melihat ke lantai dua. Dimana kamar anak anaknya berada. " Mel, kita harus bicara."
" Iya MI, Melly tahu! Tapi Nanti ya, untuk sekarang Melly harus ketemu Hani dulu." Sejak Tadi hatinya tidak tenang, itulah sebabnya dia ingin segera bertemu dengan HANI.
" Hani, baik baik aja! Mungkin dia lagi tidur, soalnya dari pagi di ngambek! Karena pengen ketemu kamu. " Jelas Farrell, berharap adiknya tenang dan mau meluangkan waktunya terlebih dulu bersama mereka. " Duduk dulu mel." Pintah Farrell.
" Nanti aja kak, aku mau lihat Hani Dulu. " Melly menaiki anak tangga menuju kamarnya, tanpa menunggu persetujuan dari kakak dan mami nya.
Setibanya di depan pintu kamar, ia memutar Handel itu dengan perlahan, menengok terlebih dulu sebelum melangkah masuk kedalam kamarnya." Hani, sayang kamu dimana." Panggil Melly. Ia mendekati ranjang dan menyibakkan Selimut yang menutupi tubuh Hani, Melly hafal betul kebiasaan HANI. Dan benar saja Hani kini sedang Meringkuk kedua matanya terpejam tetapi Melly dapat melihat jejak basah di kedua sudut matanya, Melly tahu jika Hani, habis menangis. " Sayang, astaga." Dia tersentak, soal ada aliran listrik yang mengenai kulit tangannya begitu bersentuhan langsung dengan kulit putrinya. Suhu panas di tubuhnya begitu tinggi.
Membuat kedua iris teduh itu berkaca kaca, baru dua hari ia tidak bertemu dengan HANI, tetapi lihat lah Hani nya langsung sakit dan tadi apa yang mereka katakan! Haah Dia baik baik saja. " Pembohong semua."
Dengan perasaan marah sekaligus kecewa, Melly mengangkat tubuh Hani kedalam gendongnya. Ia melangkah keluar dari kamar itu. Saat melangkah melewati Mami dan Farrell, mereka tersentak kaget, melihat wajah panik Melly. Tetapi sebisa mungkin ia tetap tenang. " Sayang, kamu mau membawanya kemana?" Tanya wanita paruh baya itu dan tidak di hiraukan oleh Melly, sebab wanita itu terus saja berlalu.
Sekali pun Melly adalah seorang dokter, tetapi ketika anaknya sakit, ia tidak bisa tenang, setenang ia menangani pasien pasiennya." Pak, tolong antara kita ke rumah sakit." Pintah Melly kepada supir keluarganya.
Lelaki yang sudah mengabdi kepada keluar Melly sejak dulu itu hanya mengangguk, seraya membukakan pintu untuk Melly dan Hani. Sebelum membela jalan raya menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Hani langsung di tangani oleh tim medis. " Anda tidak perlu khawatir, dia hanya Demam! Saya sarankan agar putri Anda di rawat untuk sementara waktu. Agar kami bisa mengontrol kondisinya dengan Intens." Ucap Dokter, setelah memeriksa kondisi HANI.
" Lakukan ya terbaik untuk putri saya Dok." Melly merasa Dejavu dengan kata katanya sendiri, biasanya keluarga pasien yang selalu meminta hal seperti ini kenapa nya, kini giliran Melly yang mengatakannya dengan penuh permohonan.
" Kami pasti akan melakukannya dan Sebentar lagi putri anda akan kami pindahkan ke ruang rawatnya.
" Iya terima kasih. "
" Sama sama, saya permisi." Dokter itu, meninggalkan Melly setelah mendapat anggukan darinya.
Satu jam berlalu, Hani kini telah di pindahkan ke ruang rawat nya. Melly duduk di samping Hani, salah satu tangannya menggenggam tangan Hani, sementara tangan yang lain mengusap dengan sayang puncak kepala putrinya.
...\=\=\=\=\=\=...
Disisi lain, Dion yang baru selesai meeting langsung bergegas ke rumah sakit, untuk menjenguk anaknya Reval.
Setibanya di ruang rawat anaknya Reval Dion menyapa Reval dan Luna terlebih dulu, sebelum menghampiri gadis kecil yang tengah berbaring dengan jarum infus menembus kulitnya punggung tangannya. " Sayang om Dion punya Hadiah buat kamu! Cepat sembuh ya.." Ucap Dion begitu tulus, ia memberikan Naina boneka teddy bear. Naina tersenyum seraya mengangguk kan kepalanya. Cukup lama Dion berbicara dengan Naina, setelah itu ia berpindah duduk di sofa bergabung bersama Luna dan Reval ketika Naina tertidur.
" Astaga aku lupa. " Ucap Reval.
" Kenapa?" Tanya Dion dan Luna bersamaan.
Revel tersenyum seraya berkata. " Tadi aku di suruh keruang Dokter."
" Emangnya kamu nggak balik ke kantor. " Reval menatap lekat wajah sahabatnya.
" Nanti aja! Kalau kamu udah balik kesini lagi."
" Baiklah. " Reval pun meninggalkan Dion dan luna.
Setengah Jam kemudian Ia kembali dari Ruang dokter dan menghampiri Luna. " Sayang, tadi aku lihat Melly. " Akunya kepada Luna. Ia lupa jika Dion masih berada disitu.
" Benarkah!? Kamu lihat Dia mana. " Tanya luna sedikit tidak sabaran.
" Dia masuk di ruang yang berada di ujung koridor. Mungkin aja dia kerja disini." Tebak Reval.
" Rajin banget, baru juga datang! Udah langsung kerja, harusnya kan dia istirahat dulu."
" Entahlah, kan aku cuma menebak aja." Ucap Reval sembari menaikkan kedua bahunya.
" Kamu jagain Naina, biar aku yang masti in itu Benar an Melly atau bukan." Begitu mendapatkan persetujuan dari sang suami, Luna pun melangkah keluar ruangan putrinya.
" Aku ikut. " Suara intrupsi dari Dion membuat Luna kembali menengok kebelakang.
" Dion, kamu masih disini?" Tanya Luna dengan tampang polosnya.
" Seperti yang kamu lihat dan aku yakin, Melly yang kamu bicarakan pasti Melly yang sama bukan."
" Yeeh! kalau memang benar dia Melly yang sama terus kamu mau apa! Aku berani bertaruh sama kamu, kalau dia tidak akan pernah mau balik sama kamu karena, Mellyku wanita terhormat." Kening Dion berkerut.
" Maksudnya."
" Nggak sadar bang, status situ masih suami orang. " Tanpa menunggu balasan dari Dion Luna kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan yang di bilang Reval.
Setibanya di sana, tangan luna terangkat untuk menggenggam Handal pintu, tetapi sebelum ia meraih nya, pintu itu lebih dulu terbuka. Kini wanita yang baru saja mereka bicarakan tengah berdiri di hadapan luna. " Me Melly." Ucap Luna Dengan suara bergetar. Setelah sekian lama menghilang. Melly berada tepat di hadapannya lagi. " Kamu kemana saja! Aku terus mencari kamu." Luna kembali berbicara, ketika Melly hanya terdiam. Ia mengikis jarak di antara mereka, sebelum berakhir memeluk wanita itu.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...