Secret of the Heart

Secret of the Heart
Sekali ini saja



Di dalam mini market Melly berjalan sambil mendorong troli di ikut Dion dan Hani yang berada dalam gendong DION. Ketiganya terlihat seperti keluarga bahagia. Membuat mata pengunjung mini Market lain menatap penuh kekaguman kepada mereka bahkan mereka tidak segan segan memuji mereka bertiga.


" Anaknya cantik ya."


" Wajar dong, Ayah nya ganteng dan ibunya saja cantik."


" Suaminya penyayang banget ya."


" Iya, di waktu sibuk aja masih sempat temani istrinya belanja."


Begitulah bisik bisik mereka dan masih banyak lagi, Melly yang samar samar mendengar hal itu, tidak menghiraukan, mungkin dari sebagian ucapan mereka ada yang benar tetapi sayangnya Dion dan Melly bukan pasang suami istri seperti yang ada dipikiran mereka, karena baik Dia maupun Dion memiliki jurang yang sangat besar untuk kembali bersatu ada pun Hani hanya bisa di ibaratkan sebagai seutas tali penghubung.


Setelah troli itu terisi penuh, Dion mendorongnya ke arah kasir untuk mengantar dan membayar semua belanjaan mereka hari ini sementara Melly Dan Hani menunggunya di mobil sesuai permintaan Dion.


Tak sampai sepuluh Menit, Dion menyusul mereka sambil menentang tiga kantung lalu meletakkan di bagasi mobil.


" Sudah Beres, mau kemana lagi kita." Tanya Dion, ia kini telah duduk di balik kemudian dan melirik kepada Melly dan Hani melalui kaca spion di depannya.


" Langsung pulang saja, Hani butuh istirahat." Sahut Melly dari kursi belakang.


" Baiklah! Apa kalian tidak ingin menemani ku di depan." Tanya Dion lagi sambil melirik tempat kosong tepat disampingnya.


" Sayang Duduklah di depan bersama daddy." Pintah Melly kepada putrinya. Hani mengangguk dan berpindah ke depan.


Dion menarik nafasnya, sesaat setelah memasang sabuk pengaman untuk HANI, ia tahu begitu sulit merebut Hati Melly lagi, tetapi Dion tidak akan menyerah sampai ia mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya. Itulah yang tengah ia perjuangan kan saat ini walaupun sulit bukan berarti tidak bisa.


Begitulah salah satu cara di memotivasi dirinya sendiri. Sebelum dia melajukan mobilnya meninggal parkiran mini market itu.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Di sisi lain ria menghampiri ibunya yang Berada di area dapur. " Bu." Panggilnya kepada wanita paruh bayah yang sudah mengabdi puluhan tahun kepada keluarga suaminya itu.


Wanita paruh bayah itu menengok kearah ria sebelum melangkah lebih dekat dengannya. " Ada apa nak! Tumben kamu menemui ibu, di dapur, biasanya juga kamu meminta pelayan lain untuk memanggil ibu." Ucap wanita itu seakan ia tengah mengeluhkan sikap anaknya selama ini.


" Ibu bisa nggak, nggak usah banyak ngomong! Mending ibu, lakukan sesuatu yang berarti buat aku." Sahut Ria setelah memastikan tidak ada yang mendengar pembicara mereka di rumah itu.


". Kamu ingin ibu melakukan apa Nak?" Tanya wanita paruh bayah itu.


" Malam nanti Dion akan pulang untuk makan malam, aku mau ibu campurkan ini ke minuman dia dan Ibu harus pastikan minuman itu, di minum olehnya." Ria meletakkan botol berukuran kecil ke telapak tangan sang ibu dan mengepalkan tangannya.


" Ini apa Nak, apa yang coba kamu lakukan! Maaf Nak, ibu tidak bisa melakukannya. " Wanita paruh bayah itu mencoba mengembalikan botol kecil itu ke tangan ria sambil menggeleng kepalanya.


" IBU, ibu sebenarnya sayang nggak sama aku." Ucap Ria, suaranya terdengar seperti membentak.


" IBU sayang sama kamu nak, kamu anak satu satunya ibu dan bapak! tapi ibu takut nak! Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan nak DION atau dia sampai tahu tentang ini." Sambung wanita paruh baya itu.


" Dion nggak akan kenapa napa bu, percaya sama ria, Ria nggak mungkin nyakitin suami ria sendiri. Ria melakukan semua ini hanya untuk mempertahankan posisi ria dan Lisa di rumah ini bu. Tolong bantu ria ya Bu dan Ibu nggak usah khawatir karena Dion tidak akan curiga sama ibu. Sebab obat ini akan bereaksi setelah tiga jam."


" Lepaskan saja nak DION, jangan menyiksa dirimu seperti ini. " Ucap wanita itu tetap pada pendiriannya.


" Baiklah ibu akan membantu kamu! Tapi ini terakhir kalinya kamu merendahkan dirimu seperti ini. " Ucap wanita paruh bayah itu penuh penekanan, setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan putrinya sambil membawa botol kecil pemberian putrinya.


" Makasih ya Bu. " Teriak ria, tetapi tidak membuat langkah ibunya berhenti.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Malam harinya, setelah puas bermain bersama Hani, Dion berpamitan untuk pulang, ia akan menepati janjinya kepada wanita itu, anggap saja dia sedang berbuat baik sekali lagi.


Dalam perjalanan pulangnya bibir Dion terus saja melengkung, ia tengah berpikir untuk mempertemukan Hani Dengan mamanya. " Setelah makan malam hari ini, aku akan aja mama untuk bertemu Hani, semoga dengan begitu mama mau merestui aku dan Melly lagi." Gumam Dion.


Mobilnya berhenti di depan pintu utama rumahnya, ia sengaja berhenti di situ, agar dia tidak perlu repot untuk mengeluarkan mobil dari garasi jika ada sesuatu yang mendesak dan memaksanya harus pergi.


" Syukurlah kamu sudah pulang, kata ria kamu ingin makan malam bersama ." Mamanya Dion menyambut kedatangan putranya itu. " Mama sudah menyiapkan semuanya, ganti baju kamu setelah itu kita akan makan bersama." Lanjutnya.


Dion mengangguk sembari terus melangkah kaki menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Beberapa menit kemudian ia kembali turun dan bergabung dengan yang lainnya di ruang makan. Lisa mencoba mencari perhatian Dion, tetapi sikap pria itu mulai terlihat berbeda kepada Lisa setelah bertemu Hani. Semua anggota keluarga menyadari hal itu tetapi mereka tidak tahu penyebab dari perubahan sikap Dion kepada Lisa.


" Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." Ucap Dion memulai makan malam mereka. Setengah jam kemudian makan malam itu berakhir, Ayah Dion mengajak mereka untuk mengobrol di ruang keluarga.


Entah berapa lama mereka bercerita, yang jelas Dion lebih dulu kembali ke kamarnya karena merasa tidak nyaman dengan tumbuh.


Rasa panas mulai menjalar di tubuh, wajahnya memerah ada keinginan yang mendesak memenuhi otaknya saat ini, Dion seakan kehilangan kendali atas dirinya.


Nafasnya memburu dengan begitu hebatnya, ia melangkah kedalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya, tetapi hal itu tidak terlalu bekerja banyak.


Sementara Ria tersenyum puas, ia begitu yakin obat itu telah bekerja dengan baik, mengingat Dion sejak tadi begitu gelisah.


" MA, PA! Ria mau membuat kopi untuk mas Dion dulu, biasanya mas Dion suka lembur." Ria meminta izin kepada mertuanya.


" Pergilah Nak." Sahut papanya Dion. Ria pun segera bergegas ke dapur, membuatkan secangkir kopi dan membawanya ke kamar Dion.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading.. 💘💘...


...Sebagai Author yang baik😊😊 aku mencoba mengikuti keinginan pembaca nya. 😚😚😚...