Secret of the Heart

Secret of the Heart
Berdebat lagi



Tidak ada yang mengetahui perasaan Dian lebih baik dari dirinya sendiri selama ini, entah dia bahagia atau tidak menjalani hari harinya.


Wanita itu hampir tak pernah senyum dan jarang bicara, semenjak dokter memvonis, sangat kecil kemungkinan untuk dia memiliki seorang anak.


Hal itu tentu merubah banyak sekali pada diri wanita yang telah berusia kepala tiga itu. Tetapi untuk hari ini, senyuman yang dulu nya Hilang bersinar kembali hanya karena anak perempuan yang ada dalam pangkuannya. Gadis kecil itu mampu menghidupkan hari Dian lagi dengan mengaku sebagai anak Melly dan Dion. Ternyata bukan hanya sang nenek yang begitu merindukan sosok seorang cucu. Nyatanya dian pun, merindukan hal yang sama dan anehnya Hani mampu mengobati rasa rindu itu, sementara anak anak dari suami dan madunya tidak dapat melakukannya.


Dian mengurus Hani layaknya anak sendiri! Mulai dari memandikan, menyuapinya saat makan sampai menemani Hani bersepeda di Halaman rumah. Hani yang tadinya mencari Dion dan Melly, kini tidak lagi melakukan hal itu.


Sementara di tempat lain.


Melly mulai membuka kedua matanya, rasa sakit akibat terlalu banyak minum, membuat ia kembali, memejamkan matanya. " Minum Lah." Ucap Dion, sambil menyerahkan air Dingin yang di kasih sedikit perasan lemon.


Melly kembali membuka kedua matanya. " Siapa yang mengantar ku pulang." Tanya Melly, ia menjambak rambutnya sendiri, berharap dapat mengurangi sakit kepalanya.


" Aku." Dion meletakkan gelas yang tak urung di ambil Melly, di atas Nakas. " Sejak kapan kamu seperti ini." Lanjut Dion sembari mendarat kan bokongnya di bibir ranjang tepat di samping Melly. Ia menghentikan tangan Melly.


" Jangan Ditarik seperti itu! Yang ada kepala kamu semakin sakit nantinya." Ucapnya lagi.


" Hani mana." Tanya Melly, ia terus mengabaikan perkataan Dion.


" Hani di rumah mama! Ini minum dulu." Desaknya.


" Apa! Di rumah mama?" Dion mengangguk, membuat Melly seakan mendapatkan kesadarannya saat itu juga." Kepada kamu bawah dia ke sana sih, apa kata mama dan papa nanti." Melly mulai panik sendiri, ia menyibakkan Selimut yang nutupi tubuhnya, turun dengan tergesa gesa dari tempat tidur dan langsung melesat ke kamar mandi.


" Aku tidak punya pilihan! Dan aku yakin mama dan papa pasti senang dengan kehadiran Hani, cucu mereka." Jawab Dion sedikit berteriak.


" Tapi harusnya kamu ngomong dulu sama aku, bukan langsung membawanya begitu aja." Balas Melly dari dalam sana dengan suara yang tidak kalah meningginya dari Dion.


" Mau berapa kali aku katakan, aku nggak punya pilihan! Hani akan aman bersama mama dan papa, jika aku tetap bersama dengan nya! Bagaimana dengan kamu! Kehormatan kamu? Aku nggak mau wanita yang aku cintai berakhir di tangan pria pria brengsek di luar sana." Jelas Dion, tetapi ia tidak mendengar Sahutan dari Melly lagi, hanya percikkan air yang terdengar.


Cukup lama ruang itu Hening, sampai pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Melly yang hanya mengunakan handuk yang menutupi bagian dada sampai setengah pahanya.


" Jangan suka menilai orang lain, kamu saja belum tentu lebih baik dari mereka." Ucap Melly sambil melintas di hadapan Dion dan masuk kedalam walk in closed.


Dion mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia sempat berpikir apa Melly yang ini dan Melly yang semalam bersamanya masih orang yang sama.


" Kenapa bengong! Baru sadar yang aku ngomongin itu benar?" Ejek Melly sambil duduk di depan meja rias, tentu setelah mengunakan pakai. Tangannya bergerak untuk mengering kan rambutnya menggunakan handuk.


Dion tidak menjawab, berdiri dari duduknya, melangkah mendekat kearah Melly dan mengambil handuk dari tangan wanita itu, lalu membantu mengerikan rambutnya Melly.


" Kenapa Diam? Marah! Nggak suka sama kata kata aku."


" Terus! Kenapa kamu marah."


" Karena aku nggak suka kamu merusak diri kamu sendiri. Kamu itu berharga, bukan hanya untuk aku tetapi untuk orang lain yang kamu tolong dan kamu sembuhkan." Dion memutar kursi yang di duduki Melly, ia berlutut di hadapan wanita itu, menggenggam kedua tangannya." Kamu kalau ada masalah atau ada yang ganggu kamu ngomong sama aku, jangan apa apa di pendam sendiri, mikirin sendiri, ambil kesimpulan sendiri, pada akhirnya kamu capek sendiri dan berakhir menyakiti diri kamu."


" Apaan sih, jangan berlebihan deh." Melly menghempaskan tangan Dion.


" Aku nggak berlebihan, kamu sendiri yang mengatakan semuanya sama aku semalam. " Melly tertawa.


" Dan kamu percaya sama orang yang lagi mabuk."


" Ya! Karena pada saat logika tidak berjalan dengan semestinya, Hati lah yang menentukan jalan." Dion kembali meraih tangan Melly dan mengecupnya sekilas." Aku tidak akan menuntut kamu untuk mengulang kata kata kamu semalam. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, anaknya Ria, bukan Anak aku! aku bahkan tidak pernah menyentuh wanita itu, Sedikit pun. " Dion mengambil amplop berwarna coklat lalu menyerahkan kepada Melly." Aku tahu kamu tidak akan mempercayai aku begitu saja! Dan akan berpikir jika ini cara aku untuk mendapatkan kamu lagi. Semua kebenaran ada di dalam situ! Bahkan bukti Surat pengajuan cerai aku juga ada di dalam, Aku menggugat cerai nya satu minggu sebelum bertemu kamu. " kata kata Dion yang terakhir memang bohong, karena pada kenyataannya ia menggugat Ria satu hari setelah bertemu Melly. Kalau di tanya kenapa tanggalnya di majukan satu minggu lebih cepat, jawabannya tentu saja karena, uang yang bekerja apa lagi?


" Terus kenapa kamu nikahi dia?"


" Aku hanya membantu menutup aibnya! Agar kedua orang tuanya tidak malu." Akunya,


" Kenapa begitu? Memang nya dia siapa sampai kamu berkorban sejauh ini."


" Dia, anak kepala pelayan di rumah mama."


" Kenapa selama aku menjadi istri kamu? Aku tidak pernah melihatnya. " Melly tidak sadar, kini dia sedang mengintrogasi Dion.


" Karena salaman ini dia tinggal di jogja bersama kakek dan neneknya, dia juga kuliah di sana, tapi tidak selesai karena begitu lah... " Dion tidak meneruskan kata katanya. Ia yakin, seperti itu saja! Melly sudah mengerti.


" Terus kenapa kamu bersikap romantis, sampai tidak melihat aku yang tengah duduk di hadapan kalian. " Dion pikir pembicaraan mereka telah berakhir, ternyata Melly masih punya stok pertanyaan untuk dirinya.


" Siapa bilang aku tidak melihat kamu! Justru karena aku menyadari kehadiran kamu! Maka dari itu, aku bersikap baik kepada dirinya. Walaupun aku sempat Naif dengan berkata kalau anaknya bisa mengantikan posisi kamu! Tetapi waktu mengajarkan semuanya, nama boleh sama dan mata boleh keliru saat melihat tetapi hati tidak pernah salah mengenali pemiliknya. "


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading. 💘💘...