
" Aku nggak mau pulang, kamu pembohong, kamu bilang akan bercerai, tapi kenapa istrimu menemui aku. Dia bahkan memintaku meninggalkan kamu demi anak kalian, lalu bagaimana mana dengan anakku? Haniku juga butuh ayah, padahal aku sudah memberikan semua yang dia butuhkan. Kamu jahat, kamu pembohong. " Teriak Melly sambil memukul punggung Dion, kepalanya yang penting semakin pening saja! Dalam posisi kepala menggantung.
Sementara Dion, Lelaki itu tidak menghiraukan ocehan Melly sedikit pun, bahkan pukulan ya seakan tidak ada apa apanya untuk Dion rasakan.
" Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, aku takut sendirian di sana, aku takut tuhan akan mencabut nyawaku dan meninggalkan bayi itu sendiri di sana, sementara disini dia memiliki keluarga yang tidak tahu kehadirannya." Melly bercerita tentang ketakutannya saat menjelang waktu bersalin nya dulu." Aku selalu berdoa setiap saat, agar hatiku lebih kuat dan di beri kesehatan menjaganya. Ternyata benar doa orang yang tersakiti itu di jawab sama tuhan." Sambungnya di iringi tawa lepas.
Entah Dion harus marah atau bersyukur atas kebodohan Melly yang satu ini, Dia marah karena Melly lari ke minuman beralkohol yang bisa merusak tubuhnya! Tetapi Dia bersyukur mendengar Melly berbicara jujur seperti sekarang ini. Kapan lagi coba.
Melly memutar tubuh, menghadap langsung pada Dion yang sedang fokus menyetir setelah meredakan tawanya. " Mau apa lagi dia." Gumam Dion sambil melirik sekilas ke arah Melly setelah itu ia kembali fokus melihat ke depan.
" Hai kamu! Aku kasih tahu satu hal sama kamu! Bilang sama lelaki brengsek itu! Aku benci sekaligus cinta sama Dia." Dion tersenyum menggeleng kepalanya. " Aku mau cerita, Sama kamu, kamu harus mendengarkan. " Desak Melly sambil mengguncang pelan lengan Dion.
" Iya, aku pasti dengar kok. Cerita aja." Ucapa Dion, seketika itu Melly kembali memperbaiki posisi duduknya ke tempat semula. Ia menyadarkan.
" Hmmm.... " Melly pun mulai bercerita par jalanan dari Manhattan dan berakhir menjadi dokter spesialis di Canberra. Semua ceritakan tanpa ia menyadari hal itu. Tetapi Melly merasa begitu lega, seolah batu yang menindih dadanya baru saja di angkat.
" Bilangin sama istri kamu, jangan menemui aku lagi, aku tidak mau di cap perusak karena kalian." Setelah mengatakan hal itu. Melly pun tertidur dengan kepala bersandar pada kaca mobil.
" Tidurlah Honey, besok begitu kamu bangun aku akan menjelaskan semuanya. Semoga dengan begitu kamu mau menerima dan memaafkan aku. " Ucap Dion. " Aku juga akan mengurus wanita tidak tahu malu itu." Lanjutnya. Sisa perjalanan pulang mereka Hening setelah Melly tertidur.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Disisi lain, mamanya Dion enggan menutup kedua matanya lagi, ia terus saja menatap wajah Hani antara percaya dan tidak dengan wajah mungil itu.
Kepala wanita paruh baya itu, di penuhi berbagai pertanyaan tetapi ia bingung harus bertanya kepada siapa. Pada akhirnya ia membiarkan pertanyaan itu tetap mengusik Pikirannya sampai Dion datang dan menjelaskan semuanya.
Begitu sang surya kembali menjalankan tugas, Hani terbangun dan mencari keberadaan Melly. " Mommy, Mommy." Panggil Hani.
" Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Dian, kakaknya Dion. Satu jam yang lalu! Wanita itu baru saja datang, karena mamanya menelepon dan mendesak nya untuk datang.
" Tante Siapa." Tanya Hani. " Hani dimana? Mommy sama Daddy mana? " Sambungnya lagi. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
" Nama tante Dian, semalam adik tante yang bawa kamu kesini sayang." Jelas Dian. " Itu papa sama mama tante." Lanjutnya, saat tatapan mata Hani tertuju kepada pasang paruh bayah yang berdiri beberapa Langkah dari ranjang.
" Nama kamu siapa?" Tanya Dian lagi, sambil mengusap surai hitam milik Hani.
" Hani tante. "
" Nama lengkap Hani. "
" Haaniya Dianly Hanzie."
Deg.
Jantung Dian, langsung berdecak tak menentu! Pertama, wajah anak ini mirip sekali dengan Adiknya. Kedua kenapa dia pakai nama Hanzie, nama ayahnya Melly.
Dian menatap kedua orang tuanya secara bergantian, dari tatapannya mengisyaratkan pertanyaan. ' ada apa ini?'
Kedua orang tuanya, hanya menaikkan bahu mereka! Sebab mereka memang tidak tahu sama seperti Dian.
" Semalam adik mu, yang membawanya kemari." Ucap mamanya Dion.
" Tante, mana Mommy dan daddy." Tanya Hani saat ketiga orang itu terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing masing.
" Tunggu sebentar ya, tante telpon Mommy dan daddy kamu dulu." Dian langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas, bersiap untuk menghubungi Dion.
" Sayang jangan nangis ya! Nanti tante ikut ikutan nangis loh." Bujuk Dian. Ia mencoba untuk mengendong Hani, tetapi Hani terus menepis tangan Dion dan tangisannya semakin menjadi jadi.
" Hani mau ketemu Mommy." Tanya Dian. Gadis kecil itu mengangguk dengan cepat." Kasih tahu tante, siapa nama Mommy kamu, biar tante antar keempat Mommy kamu." Bujuknya lagi.
" Nama mommy, Melly tante." Ucap Hani sedikit sesegukkan.
" Ikut Tante sebentar ya! Sebelum ketemu Mommy. " Pintah Dian. Di angguki Hani.
Dian langsung mengendong Hani keluar dari kamar orang tuanya.
" Kamu mau bawa dia kemana nak?" Tanya papanya Dion.
" Iya Nak. "
" MA, PA! Dian cuma ingin membuktikan kalau tebakkan dian salah. " Akunya.
" Apa maksud kamu nak! Kalau ngomong yang jelas."
" Apa papa tidak dengar tadi, dia menyebut nama Melly! Bisa jadikan kalau dia ini anaknya Dion Dan Melly."
" Itu tidak mungkin Nak! Melly dan Dion sudah bercerai enam atau tujuh tahun yang lalu, sedangkan anak ini. Papa yakin usianya belum genap lima tahun. " Bantah sang papa.
" Untuk itu sebaiknya kita buktikan semuanya." Sahut Dian." Ia tahu betul perasaan Dion untuk Melly dan seberapa nekat adiknya itu.
" Tante kenapa berantem." Tanya Hani.
" Tante, nggak berantem kok sayang! Kita cuma lagi ngobrol aja. Ayo kita keatas ya." Ucap Dian. Hani hanya mengangguk.
Dian pun, membawa Hani ke kamar! Yang pertama di tempati Melly dan Dion. Sekali pun Dion telah menikahi Ria, tetapi semua barang dan foto foto Melly tidak pernah keluar dari rumah itu, semuanya tersimpan rapi di dalam ruangan ini dan selalu di bersihkan.
Begitu pintu kamar di dorongan kedalam dan perlahan lahan terbuka, mata Hani langsung di sambut bingkai foto berukuran besar, sama persis seperti di apartemen mereka.
" Itu foto mommy dan Daddy tante." Ucap Hani sambil menunjuk bingkai foto berukuran besar itu. Gadis itu tidak melihat wajah bahagia dari ketiga dan air mata haru dari ketiga orang itu.
Ia hanya memandang foto orang tuanya dengan wajah cemberut. " Tuh kan, Mommy dan daddy curang lagi! Nggak ada fotonya." Mendengar keluhan Hani, Dian langsung memeluk erat tubuh Hani seraya berkata.
" Mulai detik ini tante akan pasang foto Hani di setiap sudut rumah ini, bahkan lebih besar dari punya Mommy dan Daddy. "
" Janji. "
" Iya sayang, tante Janji. " Balas Dian. Ia semakin mengeratkan peluknya pada tubuh Hani, sedangkan papa dan mamanya mencium seluruh wajah Hani dengan perasaan haru.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...