Secret of the Heart

Secret of the Heart
Dilema



Setelah perdebatan mereka waktu itu, Dion lebih sering menghabiskan waktu bersama Melly dan Hani. Walaupun sering mendapat penolakan dari Melly, tetapi itu tidak membuat dia mundur dan ada saja cara yang Dion lakukan sehingga Melly agar tidak di Usir keluar.


Dion berharap, perhatian serta kehadirannya dapat mengusir kebosanan putrinya. Andai saja akta cerai bisa di keluarkan dalam kurung waktu satu hari, mungkin saat ini ia sudah menikahi Melly agar putrinya itu bisa bersekolah tanpa takut harus di bully.


Sayangnya, segala sesuatu harus ada prosesnya! Karena pada dasarnya sesuatu yang di paksaan tanpa berpikir kedepannya, pasti ada konsekuensi yang harus di tanggung dan Dion tidak akan membuat orang orang tersayang menanggung hal itu, terlebih Hani.


Keberadaan Dion di sekitar Melly beberapa hari ini membuat Ria tidak dapat mendekati mereka. Sebab wanita itu selalu mendatangi apartemen Dion sejak mengetahui keberadaan Melly dan anaknya.


Seperti siang ini, Wanita itu kembali duduk menunggu Melly di lobby apartment untuk kesekian kalinya.


Setelah tiga jam menunggu akhirnya ia melihat Melly keluar dari dalam lift seorang diri tanpa Hani mau pun Dion.


Kesempatan itu di manfaatkan ria dengan baik, ia segera Menghampiri Melly. " Hai mbak Melly kan." Tanya Ria setelah menepuk pundak wanita itu.


" HI juga." Sahut Melly sambil menelisik wajah wanita yang berdiri di hadapannya. Terkesan familiar tetapi Melly lupa pernah bertemu di mana. " Siapa ya?" Tanya Melly pada Akhirnya.


Ria tersenyum, Seraya berkata. " Aku Ria mbak istrinya Dion."


Deg.


Jantung Melly seakan lepas saat itu, terlalu terbuai dan senang Melihat kebahagiaan putrinya membuat dia lupa akan status Dion.


" Mbak ada waktu?" Tanya Ria.


" Ya! Sebaiknya kita bicara di cafe depan sana." Sahut Melly sambil nunjuk ke arah Cafe itu, Melly tentu mengerti kedatangan Ria dan dia bukanlah wanita yang suka basa basi. " Ayo." Melly melangkah lebih dulu, di ikut Ria.


Setibanya di cafe, Melly memilih tempat duduk yang berada di pojok sedikit jauh dari pengunjung yang lain. Dia dan ria duduk berhadapan.


Cukup lama mereka terdiam satu sama lain, sampai ria yang lebih dulu menyudahi keheningan di antara mereka dengan bertanya. " Mbak Melly apa kabar?"


" Aku baik." Melly tersenyum menutupi kecemasannya. " Langsung saja, aku yakin kamu menemui aku, bukan hanya untuk bertanya tentang kabarku saja kan."


" Ternyata mbak Melly orang peka ya." Ria tertawa seakan mengejek diri sendiri." Aku boleh minta tolong sama mbak." Melly menautkan kedua alisnya sehingga kerutan terlihat jelas di dahi nya.


" Minta tolong apa? " Tanya Melly.


" Tolong Tinggalin suami ku mbak. " Ria meraih salah satu tangan Melly yang berada di atas meja dan menggenggam nya. Untuk sesaat wanita itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskan nya." Mbak Melly tentu tahu kan kalau mas Dion sudah punya anak dan istri." Sambung ria di iringi air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.


Mendengar permintaan yang begitu sederhana itu, entah kenapa membuat Melly merasakan sakit di dadanya, tetapi sebisa mungkin ia menutupi hal itu dan tersenyum seolah Dia baik baik saja.


Melly bukanlah wanita munafik, karena sampai saat ini pun, perasaannya untuk Dion masih sama tidak berkurang sedikit pun justru semakin bertambah, apalagi ada Hani yang membutuhkan sosok Dion. Jika ia menolak dan bersikap acuh tak acuh, itu hanya bentuk pertahanannya saja, agar tidak hancur hanya karena cinta. Sebab pada kenyataannya wanita sering berkata tidak tapi hatinya iya.


" Aku tidak bermaksud, menyalahkan atau menuduh mbak Melly! Karena aku tahu, mbak Melly wanita baik, aku pun percaya mbak Melly tidak akan menyakiti hati sesama perempuan." Ria kembali berbicara, saat Bibir Melly tetap tertutup rapat. " Selama ini hubungan kita baik baik saja, walaupun cinta Dion ke aku tidak sebesar cintanya pada mbak Melly! Tapi kami bisa bertahan sampai saat ini. Mbak tahu, Jika aku meminta hal ini kepada Mas Dion, dia tentunya tidak akan pernah mau meninggalkan mbak. Untuk itu mbak yang harus meninggalkan Mas Dion! Tolong Mbak, anak aku masih butuh sosok ayahnya, sekali lagi aku mohon sama mbak. "


Melly mendengar dengan jelas ucapan Ria, hatinya pun, terasa sangat sakit! Pikirannya melayang jauh, ia ingat betul sikap Dion kepada wanita ini saat di klinik ibu dan anak waktu itu dan kata kata Dion waktu di rumah sakit." Aku calon duda. "


Melly menggeleng kepalanya. " Tidak, jangan lakukan itu. Maaf jika kehadiranku sudah menjadi duri dalam pernikahanmu! Aku tidak bermaksud untuk mengusik pernikahan kalian. Aku akan menjauh darinya demi anak kamu. Maaf tanpa sengaja aku telah menyakiti kalian. Kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan aku permisi. " Melly langsung meninggalkan Ria, tanpa menunggu jawaban wanita itu.


Dia melangkah keluar Cafe untuk kembali ke apartemen, cuaca kota Jakarta yang mendung seakan menggambarkan suasana hatinya yang bimbang. Baru saja ia memberikan kehangatan keluarga untuk Hani, kini ia harus menyudahi semua itu.


" Haruskah aku bersikap egois dan menutup mata untuk Hani." pertanyaan itu terngiang giang di kepala Melly. Niatnya untuk ke mini Market ia urungkan dan memilih kembali pulang.


Setibanya di apartemen, Melly melihat Hani tertawa bersama Dion, pandangan itu sungguh menyejukkan Hani." Daddy, janji nggak akan ninggalin HANI lagi." Tanya Hani sambil mengarahkan jari kelincinya kepada Dion.


" Janji sayang." Dion menakutkan jarinya, dengan jari Hani seraya berkata. "Begitu pekerjaan Daddy selesai kita bujuk mommy, buat tinggal sama sama di rumah kita ya."


" Ini juga rumah kita kan Daddy." Dion mencolek ujung Hidung HANI, sambil mengangguk. " Hani sayang sama Daddy, jangan tinggalin Hani lagi, Hani dulu nggak suka berteman di sekolah daddy, semua teman teman Hani cerita soal Daddy mereka dan Hani nggak tahu mau cerita apa soal Daddy, Hani nggak pernah ketemu sama Daddy." Ucap gadis itu dengan polosnya, membuat, Melly yang sejak tadi berdiri di belakang mereka semakin merasa sakit di dadanya. Ia bingung! Perasaan siapa yang harus dia utamakan Hani atau wanita itu dan Anak.


" Kenapa, tidak tanya sama Mommy nak?" Hani menggeleng.


" Hani nggak mau buat mommy nangis." Ucap Hani sambil menunduk. " Hani pernah lihat Mommy Nangis tapi nggak tahu kenapa." Adu nya.


" Mulai Saat ini dan Seterusnya, kita nggak boleh buat Mommy Nangis lagi, harus Mommy tersenyum dan apa pun itu mommy harus tersenyum. Setuju. " Ucap Dion.


" Oke Daddy." Seru Hani sambil bertepuk tangan." Tapi Daddy sering di marahi sama mommy."


" Kata siapa mommy marah! Mommy nggak marah kok sama daddy! Mommy cuma lagi protes aja karena Daddy nggak pernah menengok kalian di sana. "


" Oh begitu."


" Hmmm, peluk Daddy sini." Hani pun memeluk Dion, tanpa keduanya sadari, ada hati yang di lemah melihat semua itu.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading.. πŸ’˜πŸ’˜...


...Kangen ya sama aku. 🀣🀣...


...Jangan lupa like, komen dan vote biar aku nggak malas😘😘...