
Begitu selesai makan siang bersama Dion mengajak Melly, Lisa dan Hani kembali ke perusahan Dion. Tetapi wanita itu menolak, Sebab Melly akan mengajak Lisa untuk bertemu dengan Ria, sementara ia menitipkan Hani pada Dion dan lelaki itu pun tidak keberatan dengan kehadiran Hani di perusahaannya, hanya saja ia sedikit keberatan dengan keinginan istrinya, Yang akan mengunjungi Ria.
Karena Dion ingat betul, Dulu bukannya ia yang menginginkan ria untuk tidak bertemu dengan Lisa, terus kenapa sekarang dirinya yang ingin mempertemukan Lisa dengan wanita tidak tahu malu itu. Benar kata orang jika wanita itu, kadang kadang sulit untuk di mengerti.
Setelah keluar dari restoran tadi, Melly memutuskan untuk membagi jalan, ia dan Lisa! Mengunjungi Ria sementara Dion dan Hani kembali ke perusahaan sesuai rencana sang istri tercinta.
" Daddy, minggu depan kita ada lomba menari dan bernyanyi antar TK loh! Ibu guru Hani juga Meminta Hani untuk ikut lomba itu, apa Hani boleh ikut?" Tanya Hani begitu mereka sampai di ruangan Dion.
" Boleh dong sayang, apapun selama itu buat Hani nyaman dan senang tentu saja Hani boleh melakukannya." Ucap Dion, ia duduk pada kursi kebesarannya sementara. Putrinya itu ia letakkan di atas meja kerja. Tepat di samping laptop dan tumpukan berkas yang harus ia periksa.
Sayangnya lelaki itu sepertinya tidak tertarik pada pekerjaannya, sebab kata kata yang keluar dari bibir mungil putrinya itu lebih menyenangkan ketimbang berkas berkas yang menambahkan pundi pundi kekayaannya.
" Kamu sudah mengatakan Hal ini kepada Mommy." Tanya Dion, sembari memainkan rambut Hani .
" Ooopss, aku lupa daddy." Ucapnya sambil menepuk pelan bibirnya dengan mata yang membulat, seakan ia telah melakukan kesalahan pada Melly. Melihat sikap Hani yang seperti itu membuat Dion semakin gemas kepada putrinya.
" Kamu ini semakin mengemaskan saja." Ia pun mengecup wajah Hani sembari menggelitik perutnya membuat, Gadis kecil itu tertawa terbahak bahak.
" Daddy ampun daddy." Teriaknya ia bahkan mencoba menghindari Dion, sehingga tumpukan berkas yang telah tersusun rapi di atas meja itu jatuh berserakan di lantai. Tidak sengaja ia tersenggol karena mencoba, menghindari aksi sang daddy.
Dion menghentikan aksinya begitu melihat, Kedua sudut mata Hani basah sebab gadis kecil itu terlalu banyak tertawa. " Begitu Mommy datang, kamu harus langsung mengatakannya kepada Mommy ya." Ucap Dion seraya memindahkan tubuh Hani ke pangkuannya.
" Oke daddy." Sahutnya dengan jari telunjuk dan Ibu jari di satukan membentuk huruf O.
" Pintar, anak siapa dulu dong." Tanya Dion.
" Anak mommy dan daddy dong. " Jawabannya. Membuat Dion tersenyum, ada perasaan bangga saat melihat putrinya itu bisa sebesar dan secerdas ini.
Padahal dulu membayangkan saja tidak, mengingat kata kata Melly yang tidak ingin mengandung anaknya. kembali lagi rencana tuhan tidak ada yang tahu kan, dia yang ingin sedikit menghukum Melly justru berbuah semanis ini. Entah dia harus mengutuk perbuatannya waktu itu atau mensyukurinya.
Dion menelepon sekretarisnya untuk merapikan berkas berkas yang berserakan di lantai, karena ulah mereka tadi, setelah itu ia membawa Hani kedalam ruang pribadinya yang ada di sudut kanan ruangan itu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Disisi lain, Melly kini tengah duduk di salah satu ruangan dengan Lisa yang tertidur di pangkuannya. Gadis kecil itu tertidur saat mereka dalam perjalanan. Menunju sebuah gedung tahanan dimana ria, wanita yang telah melahirkan Lisa itu berada. Mungkin karena efek dari kekenyangan membuat gadis kecil itu gampang tertidur.
" Aku pikir siapa yang mengunjungi ku, ternyata anakku dan Ibu barunya." Sindir ria begitu wanita itu duduk bersebelahan dengan Melly, dimana sebuah meja menjadi pembatas keduanya. " Sepertinya, kamu memerankan sosok ibu tiri yang baik. Sampai dia begitu damai berada dalam dekapanmu. " Sambungnya lagi. Kali ini sindiran itu tidak di tunjukkan untuk Melly, melainkan untuk dirinya sendiri.
Ada perasaan cemburu saat Lisa putrinya itu lebih nyaman bersama ibu lain, sementara gadis kecil itu, tidak pernah tertidur senyaman itu dalam pangkuannya.
Dan selama ini ia tidak pernah memperlakukan Lisa dengan selayaknya. Jika ia perhatian kepada gadis kecil itu, hanya di depan Dion dan kedua orang tua Dion. semata mata hanya untuk mempertahankan posisinya. Jika mereka berbalik ria, langsung menyerahkan Lisa kepada ibunya. Ia terlalu membenci anak tidak berdosa itu mengingatkan bagaimana ia di tinggal oleh Ivan tanpa kabar dan di permalukan teman teman sekampusnya karena hamil di luar nikah.
Padahal yang jelas bersalah adalah dia dan Ivan tetapi kenapa Lisa yang harus di hukum, seandainya gadis kecil itu bisa memilih siapa wanita yang akan melahirkannya ia pasti akan memilih melly atau wanita baik lainnya di luar sana bukan ria.
Tanpa ria sadari, sikapnya itu yang menyebabkan Lisa menjadi anak pendiam dan hanya menurut tanpa menjawab atau pun bertanya.
" Aku hanya mengikuti naluri ku sebagai seorang ibu. Tidak peduli Lisa lahir dari rahimku atau tidak. Tetapi naluri sebagai seorang ibu menuntut ku untuk mencintainya." Ujar Melly sambil mengusap kepala Lisa. " Aku sengaja mengunjungimu hanya ingin mengobati rasa rindunya untukmu, karena aku pikir dia akan merindukan kamu, mengingat kalian sudah sebulan tidak bertemu. Itu sebabnya aku mengajaknya kesini. Tapi sepertinya kamu tidak suka dengan kehadiran kita disini."
Ria menaikkan bahunya, ia tidak peduli dengan tanggapan Melly juga perasaan Lisa, di sakit berulang ulang karena kebodohannya sendiri, membuat wanita itu menjadi wanita tak berperasaan dari hari ke hari bahkan untuk anaknya Sendiri.
" Sebaiknya kamu membawanya pergi, kehadiran dia disini tidak akan merubah apapun dan hanya memperburuk suasana hatiku." Hampir saja kepulan asap keluar dari telinganya mendengar ucapan ria.
Apa wanita itu tidak merasakan sakit saat melahirkan Lisa, sehingga dengan gampang nya ia tidak peduli dengan kehadiran putrinya itu. Apa wanita itu tidak merasakan rindu dan debaran di hatinya saat melihat wajah polos putrinya ini. Apa tidak ada sedikit saja rasa sayang untuk gadis Malang ini, Melly saja bisa jatuh cinta kepadanya kenapa wanita ini tidak.
Pertanyaan pertanyaan itu memenuhi kepala Melly saat ia melihat sikap ria, ia tidak menyangka masih ada orang yang lebih egois dari dirinya. " Apa kamu seorang ibu! Hmm Sepertinya aku salah dengan membawanya ke sini." Melly berdiri dari duduknya . Ia memperbaiki posisi Lisa dengan meletakkan kepala Lisa di pundaknya. " Terima kasih sudah menunjukkan perasaanmu kepadanya di hadapan ku. Mulai sekarang Kamu tidak perlu khawatir soal dia, karena aku akan memberikan apa yang dia tidak dapat dari kamu. Dan semoga hidupmu bahagia." Setelah mengatakan hal itu Melly pun meninggalkan wanita itu tanpa menoleh kebelakang.
Beberapa hari ini ia di selimut perasaan bersalah karena telah memisahkan ibu dan anak, tetapi melihat sikap ria tadi, Melly merasa apa yang di lakukan sudah benar.